
Roman Subkhan memandang istrinya dengan tatapan penuh cinta. Elif Kaya yang sudah dinikahinya beberapa jam yang lalu begitu sangat cantik dimatanya hingga rasanya ia tidak mampu untuk berkedip.
Ia lalu mengikis jarak dengan perempuan cantik itu. Meraih tangannya yang sangat lembut dan dingin itu lalu membawanya ke bibirnya. Menciumnya dengan penuh cinta dan rindu.
"Elif, sekarang engkau sudah jadi milikku dan akupun milikmu. Kewajibanku adalah menafkahimu lahir dan batin. Dan hak ku adalah mendapatkan cinta dan sayangmu." Elif tersenyum kemudian memandang pria asal Kazhakstan yang juga sangat dicintainya.
"Terimakasih karena bersedia memperistrikan diriku kak. Aku sekarang istrimu, dan engkau berhak atas diriku dan kehidupanku seperti itu pula aku berhak atas dirimu," jawab Elif kemudian menutup matanya meresapi semua perkataan suaminya dan berjanji menjadi istri yang taat dan patuh pada suaminya.
Roman meraih perempuan cantik itu kedalam pelukannya dan mencium keningnya. Kemudian turun ke kedua kelopak matanya. Dan bibirnya ingin menyapu lembut bibir istrinya, Razia Nurzhan Subkhan dan beberapa perempuan lainnya menegurnya.
"Roman anakku, sekarang waktunya kalian menyambut tamu diluar sana. Semua keluarga dari pihak tuan Emir Moeis Kaya sedang menunggu kalian," ujar Razia sang ibu dan berhasil membuat pasangan pengantin baru itu tersentak kaget. Mereka baru menyadari kalau sedang berada diantara ditengah-tengah orang banyak.
"Maafkan aku mama. Aku lupa diri. Aku pikir dunia ini hanya milik kami berdua," ujar Roman tersenyum malu kemudian melepaskan rengkuhannya pada istrinya.
"Enak saja kamu, Elif juga milik kami, kamu tidak bisa menguasainya sendiri," ujar Razia Nurzhan Subkhan kemudian menghampiri mereka berdua.
"Ayo nak, mama antar kamu keluar dari sini." ujar Razia sembari meraih tangan Elif sang menantu. Mereka pun keluar dari kamar itu untuk menyambut dan menjamu tamu-tamu dari kedua keluarga yang hadir di tempat itu.
Pesta pernikahan itu cukup ramai dan juga mewah meskipun persiapannya sangat singkat. Keluarga besar Smith dan juga Omar Yusuf semuanya ada disana.
Dari yang tua sampai yang kanak-kanak. Mereka semua sangat akrab dengan Elif sang pengantin. Semua anggota keluarga itu sangat bahagia dengan pernikahan Elif tetapi tidak bagi Danil Smith, anak berusia 11 tahun itu sendiri tadi tampak tidak bersemangat.
"Ada apa Danil? kamu sedang mengulum permen di mulutmu ya?" tanya Aisyah sang mommy. Putra pertamanya itu hanya tersenyum tipis kemudian kembali nampak cemberut.
"Ayo bermainlah dengan teman-temanmu sayang, nikmati pesta ini." ujar Aisyah lagi sembari menyentuh lengan putranya. Danil mengikuti perintah mommynya dan ikut duduk bersama dengan para sepupunya. Tetapi sekali lagi ia hanya duduk di sana dengan murung.
"Nikita, lihatlah Danil. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya sayang. Sejak tadi ia tidak mencicipi makanan dan minuman di sini. Ia tampak sangat murung." ujar Aisyah dengan perasaan tidak nyaman. "Jangan khawatir mom, aku akan menemanimya." jawab Nikita kemudian meraih tangan suaminya agar mengikutinya untuk menghampiri adik laki-lakinya itu.
"Hai Danil, semua orang sangat berbahagia hari ini, kenapa kamu malah bersediih adikku," ujar Nikita sembari duduk disamping anak itu. Crisstoffer ikut duduk disisi yang lainnya.
"Ada apa? apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman sayang?" Danil menggeleng. Pandangan matanya hanya tertuju pada pasangan pengantin yang sedang menyambut tamu di pelaminan itu.
Nikita langsung paham apa yang terjadi. Adiknya itu pasti kecewa karena Elif menikah dengan orang lain.
"Danil adikku, kamu pasti akan bertemu dengan gadis yang sangat cantik melebihi Elif, aku yakin itu." ujar Nikita yang sudah mengerti duduk permasalahannya.
Sejak dulu adik laki-lakinya itu sangat menyukai Elif dan selalu berkata akan menikahinya suatu saat nanti. Danil yang nakal sangat menyukai sosok Elif yang lembut dan manis.
"Tapi aku tidak suka pria itu kak Niki. Lihatlah dia selalu memandang Elif dengan tatapan ya ueeeekkk menjijikkan," ujar Danil setelah lama terdiam.
"Pria itu adalah suaminya Elif sekarang. Jadi wajar kalau ia memandang istrinya seperti itu."
"Tapi aku tidak suka. Aku ingin akulah yang menikahi Elif, titik." wajah Danil tampak memerah karena kesal.
"Danil, Elif hanya menganggapmu sebagai saudara dan juga adik. Jadi kalian tidak bisa menikah. Suatu saat nanti, ketika kamu sudah dewasa seperti kami, kamu pasti akan mendapatkan seorang gadis yang akan kamu jaga dengan sepenuh hati," timpal Crisstoffer Anderson sembari menepuk bahu anak berusia 11 tahun itu.
"Tapi aku suka sama Elif kak, aku tidak mau yang lain." Nikita dan Crisstoffer saling berpandangan. Mereka berdua perlu menjelaskan lagi dengan cara yang lain agar Danil paham tentang apa yang ia rasakan pada gadis itu.
Setelah pesta usai, mereka semua pulang ke rumah kediaman Smith dengan satu orang yang masih sangat cemberut. Danil lah orangnya.
"Alex, ajaklah bicara putramu sayang, ia butuh seseorang untuk mengobati rasa kecewanya pada Elif," ujar Aisyah pada suaminya ketika mereka semua sudah sampai di rumah.
"Baiklah. Aku akan mengunjunginya di kamarnya," ujar Alex kemudian segera menyusul putranya itu ke kamar.
"Bisakah Daddy mengganggumu nak?" tanya Alex saat melihat putranya itu sedang berdiri di depan jendela besar di dalam kamarnya sendiri. Danil tidak menjawab. Anak itu bahkan tidak bergerak samasekali dari posisinya.
"Danil, kamu tahu berapa usiamu sekarang boy?" tanya Alex sembari menghampiri putranya. Ia juga ikut berdiri di sana dengan posisi yang sama.
"11 tahun itu waktunya untuk bersenang-senang tanpa memikirkan anak gadis boy. Usia seperti dirimu saat ini paling bagus adalah belajar dan bermain bersama dengan anak seusiamu sendiri nak,"
"Daddy ingat, kalau kamu ingin seperti Daddy kan? nah kamu harus rajin berlatih, belajar dan disiplin. Setelah besar nanti akan ada gadis yang sangat cantik dan juga baik akan kamu temui." Danil masih tidak bereaksi. Sepertinya ia merenungi kata-kata Alex sang Daddy.
"Biarkan Elif bersama teman hidupnya sendiri nak. Karena kamu menyukainya hanya sebagai kakak dan teman."
"Perasaan itu pasti akan hilang seiring berjalannya waktu. Kamu bisa mengerti kan apa yang Daddy maksud?" Danil memandang Alex dan memeluk pria itu.
"Kamu benar Dad, aku ingin seperti dirimu dan nanti akan menikah dengan perempuan cantik seperti mommy yang baik hati dan juga cantik."
"Good boy. Sekarang istirahat lah. Life must go on, right?"
"Right dad!" jawab Danil kemudian mengepalkan tangannya di udara. Alex tersenyum bahagia. Hatinya sekarang lega karena putranya sudah mulai bisa menerima kenyataan.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍