Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 35 EMHD



Flashback on


Setelah kepergian Alexander Smith malam itu dari rumah kediaman Mohammad Yusuf, Aisyah membawa Nikita masuk ke kamarnya untuk tidur. Tetapi ternyata gadis kecil itu sudah tidak bisa lagi memejamkan matanya. Rasa kantuknya hilang entah kemana.


"Ibu, maafkan Daddy." ujar Nikita dengan suara pelan. Selimut yang sudah menutupi tubuhnya ia buka kembali kemudian bangun dan duduk.


"Kenapa sayang?" tanya Aisyah yang sedang sibuk membuka hijab dan gaun yang dipakainya tadi makan malam.


"Gara-gara aku daddy berlaku tidak sopan di depan semua orang, padahal Daddy sebenarnya baik." Aisyah menghentikan kegiatannya dan memandang Nikita dengan perasan haru. Sungguh hubungan anak dan bapak ini sangat dekat dan saling menyayangi.


"Daddy tidak salah, sayang. Mungkin ia cuma sedang pusing karena Niki tak berhenti menangis." jawab Aisyah kemudian mengelus lembut rambut pirang gadis kecil itu.


"Niki badanmu panas sayang." lanjutnya dengan suara panik sembari meraba leher dan telapak tangan putri Alex itu.


"Kamu minum obat ya?" Nikita menggeleng ia kemudian menangis lagi.


"Aku sayang Daddy Bu. Aku mau minta maaf karena sudah kasar padanya. Ia pasti sangat sedih sekarang." Air mata gadis itu tumpah ruah di pipinya yang kemerahan.


"Niki, daddy tidak marah sayang, ia pasti memaafkan kamu. Sekarang kita tidur ya, besok kita sama-sama menemui Daddy okey?"


"Tapi Daday kalau sedih dia pasti tak bisa tidur, Bu huaaaa... Daddy pasti sedih sekarang." Nikita terus menangis hingga membuat putri paman Yusuf itu semakin bingung dengan kemauan anak ini. Aisyah bisa membayangkan bagaimana perasaan Alex saat Nikita bertingkah seperti ini. Ia pasti kewalahan dan jadi gampang emosi.


Aisyah memanggil bibi Sarah dan meminta bantuan bagaimana menangani anak yang sedang rewel apalagi suhu tubuhnya semakin tinggi. Bibi Sarah datang dengan membawa segelas air putih dan selembar kain untuk mengompres kepala Nikita.


"Apa kita harus memanggil Daddy by bibi?" tanya Aisyah khawatir. Bibi Sarah menggeleng. Tidak perlu ini sudah sangat larut. Mungkin tuan Alex sudah beristirahat, kasihan dia. Aisyah mengangguk setuju. Beberapa saat kemudian Aisyah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Suhu tubuh Nikita yang sudah mencapai 39 derajat Celsius itu membuatnya panik, apalagi gadis kecil itu terus mengigau dengan kalimat yang sangat menyedihkan.


Daddy, maafkan Niki..aku tidak akan minta mommy lagi... huaaaa...


Daddy plis bilang sama ibu Aisyah...


Daddy jangan marah sama Niki, aku cuma mau mommy...hiks huaaa


Setelah meminumkan obat penurun panas. Dan membuat gadis itu tertidur, Ia segera mendatangi ayahnya di kamarnya.


"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu." ujar Aisyah tanpa basa-basi. Ayahnya yang sedang membaca kitab Al Hikam karya Ibn Atho'illah Assakandari itu langsung menatapnya kemudian beralih ke kitab itu dan menyimpannya di atas nakas.


"Ada apa nak. Bicaralah." ujar Mohammad Yusuf mempersilahkan sembari menepuk sisi kosong di sampingnya. Aisyah pun duduk di sana dengan perasaan gundah.


"Ayah..."


"Aku mendengarkan..."


"Aku ingin jadi mommy nya Nikita, ayah. Aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri." Mohammad Yusuf langsung menatapnya tajam.


"Kamu tahu apa yang kamu bicarakan nak?" tanya Mohammad Yusuf memastikan ucapan putrinya. Aisyah mengangguk mantap.


"Apakah kamu sudah meminta kepada Tuhan? pilihan mana yang terbaik untukmu?" sekali lagi Aisyah mengangguk.


"Meskipun tuan Alex tidak menginginkanmu?" Aisyah tidak menjawab ia hanya diam membeku kemudian menatap wajah ayahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Insyaallah Ayah." jawabnya dengan suara bergetar. Ada sedikit keraguan dalam hatinya tetapi mengingat Nikita yang sangat mengharapkannya ia akan tetap melanjutkan rencananya bahkan jika dikemungkinan terburuk jika Alex menolaknya, ia mungkin akan menawarkan dirinya demi putri kecil itu.


"Mintalah selalu petunjuk pada Allah nak, niatkan semuanya karenaNya insyaallah semua akan baik." Mohammad Yusuf memeluk tubuh putrinya dengan perasaan haru. Ia tetap berprasangka baik akan ketentuan Allah pada putrinya.


"Kak Omar?" ujar Aisyah sembari menyusut air matanya yang belum kering.


"Apa yang aku dengar itu benar?" tanya Omar dengan pandangan tajam. Aisyah mengangguk sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu tahu siapa orang itu, Aisyah?" lanjut Omar sembari mengguncang bahu adiknya. Aisyah mengangguk pelan.


"Apa yang kamu tahu hah? dia itu bos mafia terbesar dan paling berbahaya di Rusia. Sudah banyak nyawa yang melayang di tangannya! sampai kapan pun aku tidak setuju!" teriak Omar dengan wajah menegang marah.


"Malam ini juga kamu akan menikah dengan Sergey Abdullah!" Omar meninggalkan kamar itu sambil membanting pintu. Mohammad Yusuf yang masih berada di sana menyaksikan apa yang terjadi hanya bisa menarik nafas berat.


"Ayah..." Aisyah kembali memeluk ayahnya sambil menangis.


"Aku akan bicara pada Omar." ujar ayahnya sembari melepaskan pelukan putrinya.


🍁


"Kesempurnaan hanya milik Allah, Omar." ujar Mohammad Yusuf ketika putranya itu membeberkan kejahatan Alexander Smith selama menjadi bos Mafia.


Rupanya ia sudah mencari tahu tentang pria beranak satu itu sewaktu mereka bertemu di Rumah Sakit tempatnya bekerja. Untuk itulah ia segera mempercepat rencananya menikahkan adik perempuannya dengan dr. Sergey Abdullah karena ia tahu sepak terjang seorang Alexander jika berhubungan dengan yang namanya perempuan.


"Ia seorang Don Juan ayah!" Omar masih belum mau mengalah dan membatalkan niatnya.


"Ia tak punya cinta, ia tak mencintai Aisyah, ia hanya akan menyia-nyiakan putrimu itu."


"Omar, hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Buang pikiran negatif mu itu." Perdebatan itu tidak berakhir dengan baik. Karena esok paginya Omar dan Sergey Abdullah meninggalkan rumah itu dalam keadaan marah. Mereka tetap menolak keputusan Aisyah dan ayahnya.


🍁


Bibi Sarah hanya bisa membelai rambut keponakannya sambil menyusut air matanya. Perdebatan antara ayah dan putranya di depan dr. Sergey Abdullah calon suami Aisyah menyisakan sakit tersendiri di sudut hatinya.


"Tidak bisakah kamu melupakan tuan Alex itu nak? lupakan niat baikmu pada Putrinya."


"Oh, bibi...jangan mengatakan itu." ujar Aisyah disela Isak tangisnya. "Andai aku bisa bibi, sejak dulu sudah kulakukan." lanjut Aisyah sembari memeluk Sarah yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


"Apakah aku akan terlihat murahan jika aku menawarkan diriku, bibi?"


"Astagfirullah. Jangan nak. Biar aku yang akan mendatangi tuan Alex besok pagi. Kamu istirahatlah . Mintalah yang terbaik untukmu dan keluargamu nak."


Flashback off


"Ibu, aku rindu Daddy, aku mau kembali ke rumah. Daddy pasti sudah menyiapkan sarapan yang enak untukku." ucapan Nikita itu membuyarkan lamunan Aisyah.


"Ah iya sayang, sebentar lagi Daddy pasti menjemputmu." ujar Aisyah gugup. Ia berharap Alexander datang ke rumah itu dengan membawa kabar gembira untuknya.


---Bersambung---


Mana nih dukungannya untuk othor. Like dan komentar nya dong.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍