
Sementara Aisyah dan Gazeeta asyik menikmati salad buah yang dibuat oleh Omar, bunyi bel yang ditekan dengan tak sabar menandakan ada tamu di luar sana.
"Itu pasti Sergey. Aku akan buka pintunya." ujar Omar kemudian membuka celemeknya dan melangkah ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.
Dokter muda itu tak punya pelayan khusus di rumahnya. Ia hanya seorang pria single yang bebas dan tak ingin ada orang asing yang tinggal dan mengganggu privasinya di rumahnya sendiri. Sekali-kali pelayan akan datang untuk membersihkan rumah saja kemudian pulang dan besoknya akan datang lagi.
"Oh, Sergey, akhirnya kamu datang juga." ujar Omar dengan senyum cerahnya. Ia menyambut dr. Sergey Abdullah sang sahabat sembari memeluknya.
"Masuklah. Gezy sudah lama menunggumu." lanjut Omar kemudian mempersilahkan sahabatnya itu untuk melangkah terlebih dahulu sementara ia menutup dan mengunci pintunya.
"Hai semua." sapa Sergey dengan senyum menawan. Ia menatap aisyah dan Gazeeta bergantian. Kedua Perempuan beda status itu tersenyum sembari melambaikan tangannya.
"Sergey kemarilah, ini salad terbaik yang pernah aku cicipi." ujar Gazeeta sembari melirik Omar yang kembali duduk di tempatnya tadi. Sedangkan Sergey memilih duduk di samping Gazeeta.
"Kamu terlalu memujiku Gezy." ujar Omar sembari memakan salad hasil buatannya sendiri.
"Kamu pantas mendapatkan pujian itu Omar." ujar Gazeeta sembari tersenyum manis, ia lantas menatap wajah Sergey Abdullah yang juga sedang menatapnya.
"Cobalah Sergey, lidahmu pasti akan cocok." ujar Gazeeta sembari menyodorkan sebuah piring datar berisikan salad buah itu.
"Aku selalu cocok dengan buatan dan pilihan Omar." jawab Sergey tersenyum kemudian menatap Gezy dengan pandangan tak biasa sembari menyendok salad itu kedalam mulutnya. Perempuan cantik itu langsung tersipu malu. Pipinya nampak memerah. Aisyah yang sempat menyaksikan momen indah itu meskipun hanya beberapa detik itu langsung menyikut kakaknya.
"What's this?" ujar Aisyah dalam bahasa isyarat. Omar langsung tertawa dan kembali menyentil kepala adiknya.
"Mind your own business, okey?" ujar Omar dengan hanya gerakan bibir juga.
"Astaga kak Omar?" ujar Aisyah dengan suara berisik, ia gemas sendiri dengan tingkah Miss. Gazeeta dengan dr. Sergey Abdullah. Mereka saling lirik-lirikan dan hanya menggunakan bahasa isyarat seperti dirinya dan kakaknya.
"Lanjutkan kegiatan kalian, aku akan mengecek kesehatan Aisyah yang akhir-akhir tidak normal." ujar Omar yang dia peruntukkan untuk kedua tamunya agar lebih bebas jika berdua, ia takut akan menggangu permulaan hubungan di antara mereka berdua.
"Ya, terima kasih Omar." jawab Sergey dengan mengangkat jari jempolnya di atas kepalanya.
"Bisa kamu jelaskan apa maksud semua ini kak Omar?" tanya Aisyah setelah berhasil dibawa paksa ke kamarnya dulu sebelum ia bertemu kembali dengan Alex, suaminya.
"Apa yang harus aku jelaskan, Aisyah?" tanya Omar dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
"Aku pikir kakak dan Miss.Gazeeta sedang menjalin hubungan, tapi tadi?" ujar Aisyah sembari mempertemukan jari telunjuk kiri dan jari telunjuk kanannya.
"Hahaha, tanda apa itu Aisyah? sekarang kamu tambah pintar ya memakai kode seperti itu." Omar tertawa terbahak -bahak dengan perumpamaan yang Aisyah tunjukkan.
"Kakak dan dia tidak ada hubungan spesial?" tanya Aisyah lagi ingin memastikan dugaannya. Ia tak peduli kalau kakaknya akan tertawa lagi atau bahkan menyentilnya.
"Hubungan aku dan Gazeeta sangatlah baik. Ia sahabat yang paling mengerti diriku begitupun Sergey. Mereka berdua adalah sahabat terbaik yang aku punya di Kota besar ini." ujar Omar setelah menghentikan tawanya.
"Makanya aku sekarang mengatur pertemuan Gezy dan Sergey di Sini. Karena Sergey mulai tertarik kepada perempuan itu. Kamu bisa lihat interaksi mereka bukan?" Aisyah langsung tersenyum smirk.
"Oh, Anna rupanya kamu masih punya harapan, hihihi." gumamnya dalam hati.
Pletak
"Awwww." teriak Aisyah lagi setelah mendapat sentilan di keningnya.
"Apa yang kamu pikirkan, hah?" tanya Omar penasaran kenapa sang adik tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri.
"Oh, tidak Kak. Aku hanya teringat sesuatu. Ya aku ada janji dengan Anna." ujarnya tanpa mau menatap wajah kakaknya yang berubah waspada.
"Kamu tidak janjian dengan gadis itu di rumah ini kan?" tanya Omar memastikan. Sebab ia sedikit risih dengan gadis tomboi tetapi sangat pecicilan dan suka mencari perhatiannya.
"Tidak kak. Aku janji bertemu dengan gadis itu di depan pintu rumah ini." jawab Aisyah sekenanya. Ia ingin melihat reaksi kakaknya yang tiba-tiba aneh.
"Jangan! jangan biarkan gadis itu masuk ke rumah ini. Aku takut ia akan merusak semua barang-barangku dengan pisaunya." Omar menggelengkan kepalanya karena tak ingin bertemu kembali dengan Anna meskipun gadis itu sudah banyak membantunya pada kasus kemarin.
"Tidak kakakku, ia hanya akan menjemputku di depan pintu jika kamu tak mengijinkannya masuk ke rumah mu." ujar Aisyah tersenyum. Tiba-tiba ia merasa kasihan pada Anna. Gadis itu pasti akan kecewa sekali karena Omar sama sekali tak memperdulikannya dan bahkan tidak tertarik padanya sama sekali.
"Kak, sebaiknya kita keluar, jangan meninggalkan dua orang yang sedang berpacaran hanya berdua saja, nanti ada syetan kak diantara mereka berdua." ujar Aisyah baru mengingat kalau mereka berdua sedang meninggalkan dr.Sergey dan juga Miss.Gazeeta.
"Oh iya, ayo cepat kita keluar." ujar Omar kemudian menarik tangan adiknya keluar kamar. Dan benarlah dugaan mereka berdua. Kedua pasangan yang sedang mencoba memulai hubungan itu sudah hampir saja saling berciuman. Sisa berapa sentimeter saja bibir Sergey hampir sampai di bibir Gezy yang sangat seksih itu.
"Ekhem, maafkan kami karena membuat kalian menunggu." ujar Omar dengan nada datar dan berhasil menghentikan kegiatan mereka berdua. Aisyah langsung melempar pandangannya ke arah lain karena merasa malu dan tidak tega melihat mantan dekannya itu yang juga pasti merasa tidak nyaman.
Ia langsung berpura-pura membuka handphonenya dan meminta izin kembali ke kamarnya. Sedangkan di luar Omar langsung meminta kedua orang itu untuk bersikap santai.
"Sergey, aku tahu kamu sudah tertarik dengan Gezy. jadi bagaimana kalau kalian menikah saja?" ujar Omar dan menatap dalam mata Sergey yang sedang meremas tengkuknya tidak nyaman. Tangannya yang satu menggenggam tangan Gezy lembut.
"Hem ya, kurasa itu ide yang bagus. Bagaimana Gezy, Maukah kamu menikah denganku?" tanya Sergey kemudian mengecup lembut punggung tangan perempuan cantik itu. Gezy mengangguk setuju. "Yes, I Will, Sergey." jawabnya sembari tersenyum. Baginya ia sudah mengenal karakter Sergey, jadi untuk apa ditunda lagi. Mereka semua tersenyum bahagia dan melanjutkan rencana waktu pernikahannya.
Sementara itu di dalam sana, Aisyah tak bisa menahan kesedihannya karena telah membuka laman berita yang memuat tentang kabar yang sangat buruk tentang suaminya, Alexander Smith.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya ,okey ???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍