
Maksim dan Albert tiba di rumah paman Yusuf pada saat acara makan malam segera dimulai. Semua orang menatapnya dengan wajah berbinar senang. Mereka tampil begitu rapih dan keren. Tidak tampak sebagai pemuda desa dari kalangan petani atau peternak lainnya. Mereka tampil maksimal layaknya akan makan malam di sebuah hotel bintang lima.
"Max, kenapa mereka menatap kita seperti itu? apakah kita salah kostum?" bisik Albert di telinga Maksim.
"Sepertinya sih begitu." jawab Maksim dengan berbisik juga. Mereka berdua mengedarkan pandangannya ke segala arah dimana tampak banyak sekali orang memenuhi halaman luas paman Yusuf.
"Mari tuan. Silahkan duduk di sana." ujar seorang pria muda yang menyambut kedatangan mereka di pintu masuk.
"Terima kasih." jawab mereka berdua kompak kemudian mengikuti arah langkah sang pemuda menuju sebuah ruangan khusus untuk mereka. Sudah ada Nikita dan Alexander di sana.
"Hey, kalian berdua kenapa terlambat?" tanya Alex ketika kedua orang itu mulai menarik sebuah kursi dan duduk bergabung bersama mereka.
"Albert terlalu lama berdandan. Lihatlah pakaiannya seperti akan menghadiri perjamuan dengan presiden." gerutu Maksim karena kenyataannya memang seperti itu. Albert menanggapi perkataan Maksim dengan tersenyum cengengesan.
"Aku kira acara makan malam yang dimaksud adalah sesuatu yang sangat formal. Ternyata semua penduduk desa ada di sini. Dan kamu bisa lihat penampilan mereka kan." jawab Albert tak mau disalahkan sendiri.
"Ya sudah silahkan dicicipi makanannya." ujar Alex menjeda perdebatan mereka berdua.
"Aku suka uncle Max dan uncle Al malam ini sangat tampan." ujar Nikita dengan senyum diwajahnya.
"Kenapa kamu tidak memuji daddymu sayang?" tanya Alex berpura-pura kecewa dan sedih.
"Daddy setiap saat selalu yang paling tampan. I love you dad." jawab Nikita kemudian mencium seluruh permukaan wajah Alex dengan sayang.
"Silahkan diminum tuan, ini minuman untuk menghangatkan tubuh." ujar seorang gadis berjilbab yang sedang membawa nampan berisi minuman. kepulan uap dari gelas itu menandakan minuman itu pasti masih panas.
"Terima kasih, aww." ujar Maksim dan langsung berteriak kepanasan karena isi dari gelas yang dipegangnya sedikit tumpah ke tangannya.
"Maaf, hati-hati tuan, ini masih sangat panas. " ujar gadis manis itu kemudian mengambil kain yang ada di atas meja untuk memberikannya pada Max.
"Kain ini untuk apa?" tanya Maksim polos. Ia menatap gadis yang terlihat khawatir itu dalam. Dalam hati ia memuji kecantikan alami yang dimiliki gadis itu, mata bulat dengan bulu mata yang sangat lentik dan juga bibirnya yang merekah berwarna pink sangat menarik perhatiannya.
"Untuk ini." ujar gadis itu lagi sembari menempelkan kain itu pada tangan Maksim yang sedikit melepuh karena kepanasan.
"Ehem." suara deheman Alex menghentikan aksi tatap menatap antara Maksim dan gadis manis suku Avar itu.
"Maafkan saya tuan. Permisi." ujar gadis itu kemudian berlalu dari sana dengan wajah merona karena sudah tak tahu malu menatap wajah pria itu lama. Ia juga sangat terkesan dengan uncle Nikita itu.
"Uncle Max, kau membuat ibu Maryam malu, hihihi." ujar Nikita sambil cekikikan. Ternyata anak kecil itu juga memperhatikan kejadian beberapa menit itu.
"Hah? apa dia gurumu juga Niki?" tanya Maksim berusaha menutupi rona diwajahnya.
"Iya uncle, tapi ibu Maryam hanya mengajar Niki menggambar dan mewarnai saja." jawab Nikita sambil memasukkan potongan buah apel ke dalam mulutnya.
"Kami harap kalian menikmati acara ini tuan." ujar Aisyah yang baru tiba dengan membawa senampan lagi makanan khas desa itu.
"Mari silahkan, kalian bisa juga mencicipi ini." ujar Aisyah menawarkan dengan meletakkan beberapa wadah kecil di depan tamunya masing-masing.
"Ibu Aisyah, Daddy ingin mengatakan sesuatu." ujar Nikita ketika Aisyah pas berada disampingnya.
"Tuan mau mengatakan apa?" tanya Aisyah sambil mengalihkan pandangannya ke arah Alex yang sedang memperhatikan semua orang yang berlalu lalang di halaman luas itu.
"Tidak, Nikita hanya bercanda." jawab Alex masih dengan posisi yang sama belum mau melihat orang yang sedang bercakap dengannya.
"Hum, daddy tidak sopan." ujar Nikita merajuk. Aisyah langsung tersenyum dengan tenang.
"Tak apa Nikita. Silahkan sayang dimakan makanannya. Ini hari spesial kita berdua."
"Iya, Hari ini juga hari lahir ibu, dan ini kita rayakan bersama semua orang di sini sebagai rasa syukur karena kita semua selamat dan sehat dari orang-orang jahat itu sayang." jawab Aisyah sambil mencium pipi Nikita.
"Hah? tapi Nikita tidak bawa kado untuk ibu." jawab Nikita dengan wajah tiba-tiba murung.
"Nikita bisa berjalan itu sudah jadi kado buat Ibu." jawab Aisyah lagi dengan wajah penuh syukur.
"Nah, lanjutkan lagi yah makannya. Tuan Alex, tuan Maksim dan tuan Albert silahkan. Saya ke dalam dulu sepertinya ayah sedang mencariku." tubuh Aisyah pun semakin menjauh dari pandangan keempat orang itu.
"Wah boss. Seharusnya kita membawa kado ke sini karena ternyata putri cantik paman Yusuf sedang berulang tahun juga." ujar Albert yang hanya melihat Alex diam dan bahkan tak menyentuh makanannya sama sekali.
"Iya betul dad. Dan juga harusnya daddy mengabulkan permohonanku." ujar Nikita sembari menggoyang tangan Daddynya pelan.
"Kalian Nikmati saja makan malamnya. Besok kado kita akan menyusul." jawab Alex datar. Maksim dan Albert saling berpandangan, sepertinya Alex sedang banyak pikiran.
Sementara itu Aisyah menghampiri ayahnya yang sedang duduk sendiri di dalam kamarnya. Setelah menyapa semua tamu yang datang pahanya yang pernah kena tembak anggota black Shadow itu ia rasakan masih sedikit nyeri dan akhirnya ia putuskan untuk kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Apa ayah baik-baik saja?" tanya Aisyah khawatir. Usia ayahnya yang sudah melewati seperdua abad itu sudah seharusnya banyak istrirahat dan tidak memikirkan yang berat-berat.
"Ayah baik-baik saja sayang, ayah cuma ingin memberikan ini padamu." ujar Mohammad Yusuf sambil menyerahkan sebuah amplop yang tadi pagi disampaikan oleh Maksim sebagai titipan dari saudara laki-laki nya di Moskow yaitu Omar.
"Ayah yakin ini untuk aku?" tanya Aisyah mengernyit bingung.
"Baca sampulnya nak. Kakakmu menulisnya sebagai kado ulang tahunmu." ujar ayahnya dengan tersenyum.
"Oh, ternyata kakak ingat kalau hari ini ulang tahunku." ujar Aisyah tersenyum bahagia kemudian merobek amplop itu dengan wajah penasaran.
"Ayah ini maksudnya apa?" tanya Aisyah sambil menyerahkan kembali isi surat itu kepada ayahnya setelah ia membacanya sekilas. Mohammad Yusuf menerima kertas itu dan mulai membacanya dengan seksama. Kemudian ia menatap putrinya dengan senyum diwajahnya yang sudah mulai mengeriput.
"Kakakmu minta maaf karena tidak bisa datang hari ini karena kesibukan pekerjaannya. Ia akan datang beberapa hari lagi bersama dr. Sergey Abdullah yang akan datang melamarmu menjadi istrinya." ujar Mohammad Yusuf sambil pandangan tak lepas dari wajah putrinya untuk melihat ekspresi di wajah gadis berusia 19 tahun itu.
"Ayah," suara Aisyah tercekat di tenggorokan. Air matanya tiba-tiba ingin keluar saat itu juga.
"Aku belum siap." akhirnya keluar juga kalimat itu setelah lama terdiam.
"Jangan mengharapkan yang tidak mengharapkanmu nak. Sesungguhnya lebih baik dicintai daripada mencintai." ujar Ayahnya yang seakan tahu isi hati putrinya itu.
"Ayah tahu, kakakmu ingin yang terbaik untukmu." lanjut Mohammad Yusuf sambil menyentuh kepala putrinya yang menunduk.
"Tapi, ayah..."
"Sholatlah. Minta sama Allah keputusan yang terbaik." Aisyah mengangguk sambil menyusut air matanya.
---Bersambung---
🍁
Mana nih dukungannya untuk Babang Alex...
Like dan komentarnya dong...
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Yuks ah, jangan biarkan Aisyah bersedih...Mampir lah ke karya teman othor nih , pasti suka.