
"Bibi.." Aisyah memeluk tubuh bibi Sarah setelah kepergian Alex.
"Dimana Alex bibi..." tangis Aisyah pecah di dalam pelukan perempuan pengganti ibunya itu.
"Aku melihat mobilnya keluar dari halaman ini sekitar 5 menit yang lalu, nak." jawab Bibi Sarah sembari mengelus lembut rambut keponakannya yang tidak tertutup hijab itu.
"Apa ia membawa Nikita bersamanya?" tanya Aisyah kemudian menghapus air matanya yang terus saja mengalir.
Beberapa menit yang lalu ia berusaha memburu Alex dan ingin menahannya agar tidak pergi meninggalkannya.
Ia juga ingin meminta maaf pada suaminya itu karena telah mengabaikannya selama ini.
Ia hanya ingin mengambil waktu sebentar saja untuk membujuk hatinya agar bisa lapang menerima pengakuan suaminya itu tetapi saat keluar dari kamar ia sudah tidak menemukan Alex, sang suami.
"Nikita tidak ikut bersama daddynya sayang. Kata Omar, putri kecilmu itu sedang bersama dengan Maksim." jawab bibi Sarah dengan sabar. Ia merasa sedih dengan permasalahan yang menimpa keluarga keponakannya itu.
"Syukurlah bibi, itu artinya Alex tak akan meninggalkanku kan?" Aisyah menatap wajah bibinya dengan pandangan sedih.
"Apa yang kamu bicarakan sayang? tidak mungkin Alex meninggalkanmu ia sangat mencintaimu." ujar bibi Sarah memberikan penghiburan pada keponakannya.
"Tidak bibi. Alex sudah bosan menunggu kerasnya hatiku. Ia bilang akan berangkat ke Moskow hari ini juga membawa Nikita. Ia ingin meninggalkanku bibi. Aaaaaaah." Aisyah menangis sejadi-jadinya. Ia sampai memukul dadanya karena tak sanggup membayangkan kalau Alex benar-benar pergi meninggalkannya.
"Aisyah, tenanglah sayang." Bibi Sarah menangkap tangan kanan keponakannya itu agar berhenti menyakiti dirinya sendiri.
"Itu tidak mungkin terjadi, putriku. Aku akan meminta Omar mencarinya. Kalau perlu aku akan menyuruhnya mengikat kaki suamimu di tiang itu, agar tidak meninggalkanmu sedetik pun." Bibi Sarah terus berusaha menghibur calon mama itu.
"Kamu tenang saja di sini. Ingat jangan terlalu banyak bersedih sayang. Keadaan bayi dalam kandunganmu bisa saja terganggu." ujar Bibi Sarah kemudian segera meninggalkan perempuan cantik itu untuk mencari informasi dimana Alex berada. Sedangkan Aisyah masih terus menangis menyesali kesalahannya pada suaminya.
🍁
Maksim dan Nikita baru saja tiba dari rumah Maryam dengan wajah gembira.
Lamarannya pada Maryam sudah diterima oleh orang tua gadis itu. Meskipun begitu hatinya sedikit terganggu karena Ia tak menyangka kalau ternyata gadis yang ia sukai selama ini sudah pernah menikah dengan orang lain, itu artinya adalah ia adalah seorang janda mati.
Suami Maryam meninggal beberapa hari setelah pernikahannya karena sebuah penyakit kronis yang dideritanya.
Keluarga Maryam sangat gembira akan lamaran Maksim dan berharap pernikahan itu segera dilaksanakan. Mereka ingin segera melepaskan status janda yang selama 3 tahun ini selalu menyertai putrinya.
Maksim dengan langkah cepat memasuki rumah untuk mencari Alex agar segera membantunya menyiapkan pernikahannya dengan Maryam. Ia yakin permasalahan suami istri itu sudah menemukan jalan keluar.
"Maksim!" panggil bibi Sarah dengan wajah khawatir.
"Ada apa bibi?" Maksim segera menghentikan langkahnya di beranda. Ia menunggu perempuan paruh baya itu mendekat.
"Alex pergi dari rumah ini nak. Ia mengancam Aisyah akan pergi ke Moskow hari ini juga bersamamu dan Nikita."
"Kenapa bisa bibi? aku kira mereka sudah berbaikan." Maksim tampak heran dengan berita yang baru saja ia dengar.
"Ada apa dengan daddy, nenek?" tanya Nikita yang baru saja ikut bergabung di beranda depan rumah itu.
"Daddy katanya mau mengajakmu ke Moskow hari ini, sayang." jawab Bibi Sarah sembari meraih Nikita ke dalam pelukannya.
"Apa mungkin Alex memakai mobil Van tua itu, bibi?" tanya Maksim yang berubah khawatir setelah mengedarkan pandangannya ke arah garasi di Sampit rumah.
"Iya nak aku melihatnya memakai mobilnya itu pergi dari rumah. Sepertinya ia sedang marah pada Aisyah karena belum juga mau menerimanya."
"Ya Allah, mobil itu remnya blong. Aku pernah mencobanya kemarin." ujar Maksim dengan wajah berubah pucat.
"Aku akan mencarinya bibi." ujar Maksim kemudian berlari ke arah Chevrolet Suburban miliknya.
"Tunggu Max, aku ikut bersamamu!" teriak Omar dan langsung membuka pintu mobil bagian depan. Maksim langsung menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya ke arah timur desa itu.
"Kenapa kita ke arah gunung Kaukasus Max, bukannya Alex akan menuju ke Moskow?" tanya Omar dengan wajah bingung.
"Tidak mungkin Alex pergi ke Moskow tanpaku dan Nikita." jawab Maksim sembari memperhatikan jalan-jalan curam yang mereka lewati.
"Apa kamu yakin Max?" tanya Omar lagi dengan tatapan serius ke wajah Maksim.
"Aku dan Alex sudah seperti pakaian. Kami saling mengenal watak kami masing-masing. Aku sangat mengenal pribadinya. Ia tipe orang yang sangat setia kepada sesuatu jika ia sudah mencintainya."
"Seharusnya kamu tidak membuat masalah ini lebih runyam dengan menyembunyikan Aisyah darinya sedari dulu. Ia sangat mencintai adikmu itu. Dan bahkan rela mati untuknya."
"Maafkan aku Max. Waktu itu aku terlalu shock mendengar dan melihat sendiri berita itu. Aku saja terguncang apalagi Aisyah sebagai istrinya." Omar meraup wajahnya kemudian menarik nafas panjang.
Ia kini semakin bersalah pada keluarga adiknya itu. Ia tidak tega melihat Aisyah menangis sampai pingsan berkali-kali. Ini bahkan lebih buruk dari perpisahannya waktu itu.
"Kamu belum mengenal Alex. Gara-gara menolongmu dulu makanya Kremlin membalasnya dengan membuat berita tentang skandalnya ini. Tapi sudahlah. Aku tahu Alex akan baik-baik saja." Maksim tiba-tiba menghentikan mobilnya karena melihat beberapa orang sedang berkerumun di sekitar pohon besar di pinggir lembah terjal itu.
"Ada apa Max? kenapa berhenti?" tanya Omar penasaran. Ia melongokkan kepalanya keluar jendela.
"Ada apa di sana pak?" tanya Maksim pada seorang petani yang baru saja dari kebunnya.
"Ada kecelakaan. Sebuah mobil menabrak pohon besar itu." Maksim segera turun dari mobilnya dan mencoba melihat apa yang terjadi.
"Alex! Omar cepat kemari!" teriaknya karena melihat korban kecelakaan yang masih berada di dalam mobil itu adalah Alex yang sedang mereka cari.
Omar segera mendekat dan ikut membantu para warga mengeluarkan tubuh besar Alex yang terjepit di dalam mobil Van yang sudah hancur bagian depannya itu. Ada banyak darah di kepala dan kakinya.
"Tolong bantu kami membawanya ke mobil itu." pinta Maksim kepada warga yang masih berada di sana. Mereka pun ikut mengangkat tubuh Alex ke atas Chevrolet Suburban itu yang akan segera dibawa ke Rumah Sakit.
"Ayo Omar, kita berangkat." ujar Maksim dengan wajah sangat khawatir. Ia terus merapalkan doa di dalam hatinya semoga Alex baik-baik saja.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara seperti biasa. Like dan Komentar. Ada bunga bolehlah kalau masih ada sisa vote dengan senang hati othor terima.
Mohon doanya semoga babang Alex baik-baik saja.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍