Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 70 EMHD



Albert masih belum menyerah mendapatkan hati Reisya. Ia terus mengambil perhatian orang tua gadis itu dengan mengajaknya jalan-jalan keliling Moskow. Ia berharap sebelum pulang ke Indonesia, Albert sudah mendapatkan jawaban.


Hari ini ia mengajak Reisya dan orang tuanya untuk mengunjungi beberapa tempat di kota itu untuk berlibur dan membeli oleh-oleh.


"Berwisata ke suatu tempat kurang lengkap tanpa berburu suvenir khas daerah ini, pak." ujarnya pada Abdul Rachman saat mereka sudah sampai di Old Arbat. "Biasanya suvenir dijual di pasar barang antik atau pusat oleh-oleh. Hal ini juga bisa kita lakukan saat berwisata ke ibu kota negara Rusia ini yakni di Moskow." lanjutnya lagi seperti seorang guide tour padahal memang ia. Hehehe.


Kawasan Old Arbat atau Stary Arbat adalah tempat hang out favorit warga sekitar dan wisatawan. Wujudnya berupa satu ruas jalan panjang yang kanan-kirinya dipenuhi toko suvenir dan kedai kuliner khas Rusia. Makanya banyak orang menyebut tempat ini sebagai Arbat Street. Lokasinya berada di Arbat ulitsa, hanya berjarak 3 kilometer dari pusat kota Moskow.



Di akhir pekan Old Arbat makin ramai karena warga lokal berdatangan untuk menghabiskan waktu luang. Biasanya ada pementasan musik atau kesenian lainnya, jadi pengunjung bisa menikmati hiburan sambil berburu kuliner.


Belanja di Old Arbat sangat memudahkan turis asing, karena bisa menggunakan jenis mata uang lain jika belum mempunyai Rubel (dolar Rusia). Harga barang di sini pun masih bisa ditawar. Banyak pedagang yang bisa berbahasa Inggris jadi kita bisa menawar dengan nyaman dan tidak perlu takut kantong jebol untuk bisa memborong suvenir.


"Selanjutnya kita kemana lagi Mr. Albert?" tanya Reisya dengan senyum manisnya, pria muda adik Alexander Smith itu langsung terpaku, sampai ia tak berhenti berkedip.


"Hello? Are you here?" tanya Reisya sembari melambaikan tangannya di depan wajah Albert. Seketika pria itu langsung tersentak.


"Kita akan ke Chumodan." jawab Albert sembari memandang wajah ayah dan ibu Reisya.


Berjarak sekitar 17 menit perjalanan dari pusat kota Moskow, wisatawan bisa berburu suvenir dan barang antik di Chumodan. Lokasinya ada di Volgogradsky Prospek, berbeda dengan kota Volgograd ya! Kawasan ini masih masuk area Moskow, jaraknya kurang lebih 9 kilometer dari Lapangan Merah yang ikonik yaitu Red Square.



Chumodan adalah sebuah pasar loak besar, tapi tidak semua dagangannya adalah barang bekas. Di sini banyak pernak-pernik kuno khas Rusia, buku, pakaian, sampai piringan hitam. Harganya pun relatif murah sehingga diminati wisatawan. Tapi, Chumodan hanya buka 2 kali dalam sepekan yaitu pada hari Rabu dan sabtu dari pukul 12 siang.


"Nah, kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, jadi kita akan kesana ya Miss. Reisya yang manis." ujar Albert sembari menarik tangan gadis itu yang kemudian diikuti oleh kedua orang tua Reisya.


Mereka banyak berbelanja di sana untuk oleh-oleh pulang ke Indonesia. Dan karena hari sudah sore akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke hotel tempat orang tua Reisya menginap.


"Besok kita akan lanjut jalan-jalannya bersama Aisyah dan Nikita." ujar Albert saat mengucapkan selamat malam untuk Reisya.


"Terima kasih Al." ujar Reisya pelan.


"Hey, jangan berterimakasih dulu. Besok saja supaya kamu bisa menabungnya malam ini." jawab Albert kemudian berlalu dari hadapan Reisya. Ia melajukan mobilnya dengan hati senang. Berharap besok akan segera tiba dan ia punya waktu lagi untuk bertemu dengan Reisya.


๐Ÿ


"Ayo mommy, segera bersiap kita akan jalan-jalan keliling kota bersama aunty Reisya." seru Nikita dengan penuh semangat. Ia sudah siap dengan pakaian kasual dan juga topi lebar di kepalanya.


"Iyya sabar sayang." jawab Aisyah sembari memperbaiki letak hijabnya. Hari ini ia akan menikmati weekend tanpa Alex, suaminya.


"Yey kita berangkat." teriak Nikita sembari naik ke atas mobil yang diikuti oleh Aisyah.


Albert menjemput Reisya.dan orang tuanya dulu di hotel baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Svoya Polka


Buat pecinta barang antik dan bernuansa vintage, Svoya Polka wajib banget dikunjungi. Lokasinya berada di Nizhnyaya Syromyatnicheskaya street, hanya 600 meter dari Stasiun Chkalovskaya. Bisa ditempuh dengan waktu 26 menit saja dengan kereta Metro bawah tanah dari stasiun di dekat Lapangan Merah.


Svoya Polka dari luar nampak seperti toko barang loak, namun di dalamnya banyak barang antik yang menarik. Mulai dari kartu pos di era Soviet, boneka kayu, parfum Arab, hingga perlengkapan kamera lawas.


Setelah dari sana dan memborong oleh-oleh mereka lanjut ke Svalka


Buka setiap hari dari pukul 9 pagi hingga malam, pasar Svalka menyediakan baju, buku, hingga suvenir dengan harga miring. Sebagian besar baju yang dijual adalah barang bekas, namun koleksinya lengkap sampai gaun pengantin pun ada. Gak heran banyak warga lokal yang betah menghabiskan waktu di tempat ini.


Svalka berlokasi di Vernissage, kawasan Yakimanka Moskow. Stasiun Metro terdekat yang bisa dijangkau berjarak 500 meter yaitu Partizanskaya. Uniknya, di Svalka ada โ€˜ruanganโ€™ khusus Soviet. Ruang ini berisi barang-barang antik peninggalan era Soviet seperti miniatur kereta api bawah tanah, patung Lenin, poster suasana kota Moskow tempo dulu, hingga boneka Matryoshka.


Dan tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah Izmailovsky Market


Meski berjarak cukup jauh dari pusat kota Moskow, Izmailovsky Market sangat direkomendasikan untuk wisatawan asing yang ingin berburu suvenir dan oleh-oleh murah. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari Lapangan Merah, butuh waktu setengah jam perjalanan menggunakan bus.


Pengunjung bisa menyingkat waktu tempuh dengan menaiki Metro lalu turun di Stasiun Partizanskaya. Begitu keluar stasiun, perhatikan bangunan tinggi megah mirip istana di sisi kiri. Itu adalah kremlin Izmailovo, yang berlokasi tepat di sebelah Izmailovsky Market.


Banyak wisatawan asing yang lebih memilih berbelanja di Old Arbat. Padahal Izmailovsky Market menawarkan lebih banyak pilihan suvenir, ada Matryoshka berbagai ukuran, kaos oblong, gantungan kunci, hingga hiasan meja. Pedagangnya pun mayoritas memahami Bahasa Inggris, jadi pengunjung bisa menawar dengan lebih leluasa.


Hari yang cukup melelehkan, mereka semua terkapar di dalam ruangan luas milik Alexander Smith. Karena hari ini adalah hari terakhir Reisya dan keluarganya ada di Moskow, maka Aisyah meminta agar semuanya menginap di rumah besarnya. Dan besok akan diantar ke Bandara oleh Albert.


Abdul Rachman memandang tumpukan oleh-oleh yang sudah dibelikan oleh Albert.


"Ini terlalu banyak nak Albert. Bagaimana kami membawanya ke Indonesia?" Albert tersenyum dengan pertanyaan ayah Reisya itu.


"Saya akan mengirimkannya lewat expedisi. Bapak tunggu saja di sana, insyaallah sampai dengan selamat." jawab Albert tanpa melepaskan senyum dari wajahnya.


Deg


Reisya baru merasakan dadanya tiba-tiba berdebar. Ia merasa akan merindukan pria itu nantinya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey???


Nikmati alurnya dan happy reading ๐Ÿ˜