
Elif memeluk ibu dan ayahnya bergantian sembari menangis dengan tersedu-sedu. Tubuhnya bagaikan lem yang rasanya tidak bisa dipisahkan dari kedua orang yang telah melahirkan dan juga merawatnya sampai menikah itu.
"Ibu, aku tidak mau pergi. Aku mau disini saja bersama kalian hiks,"
"Jangan seperti itu Elif, semua perempuan yang sudah menikah haruslah ikut sama suaminya sayang," bujuk ibunya dengan tangan mengelus lembut pinggang putrinya.
"Kami akan ke Kazhakstan ketika pesta pernikahanmu dilaksanakan disana sayang, jadi kamu tidak perlu bersedih."
"Betulkah ibu?" tanya Elif sembari menyusut airmata yang tak berhenti menggenangi pipinya yang putih.
"Iya nak. Kami akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah dan ramai di sana sekitar satu bulan ke depan. Kamu kan yang tidak memberi kami waktu yang banyak sayangku, jadi semua serba dadakan."
"Ah iya Mama, maafkan aku."
"Ah tidak apa, ayo sekarang kita berangkat," ujar Razia dengan tangan menarik gadis itu agar segera berangkat ke bandara.
Kalau ia harus mendengarkan menantunya itu menangis dan tidak mau berpisah dengan kedua orangtuanya maka kemungkinannya mereka semua tidak akan pulang ke Kazhakstan.
"Ibu, ayah, aku menunggu kalian di Kazakhstan ya?" teriak Elif saat ia sudah duduk di dalam mobil di samping suaminya.
"Iya sayang, kami pasti datang," jawab ibunya dengan wajah yang masih tampak sedih.
"Sudahlah sayang, katanya kamu ikhlas tapi kenapa masih bersedih," tegur Emir Moeis pada istrinya.
"Siapa yang tidak akan bersedih kalau anak kita pergi jauh sayang."
"Elif kan pergi bersama dengan suaminya. Pria yang sudah menikahinya. Halal dia pergi jauh karena bersama dengan mahramnya sayang," istrinya pun mengangguk dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
🍁
Kazakhstan
Razia menggandeng tangan Elif ke dalam rumahnya yang sangat luas bagaikan istana. Perempuan itu sejak turun dari mobil sudah tidak membiarkan gadis itu untuk jauh darinya.
Ia seperti baru saja bertemu dengan putrinya yang hilang selama bertahun-tahun.
"Elif sayangku, sejak Roman menyatakan akan menikahimu, aku sudah menyiapkan kamar yang sangat bagus untukmu," ujar Razia sembari membukakan sebuah kamar yang sangat luas dan juga cantik khas kamar anak gadis yang dipenuhi oleh boneka dan segala perintilannya.
"Masuklah Elf," ujar Razia mempersilahkan dengan wajah gembira. Elif hanya bisa tersenyum canggung dengan segala kebaikan ibu mertuanya.
Gadis itu mulai menatap dengan takjub keadaan kamar yang sangat mewah itu. Di Rumahnya sendiri kamarnya tidaklah seluas in tetapi sangat ia suka karena merupakan cerminan dari dirinya sendiri.
"Mama, apakah aku akan tidur disini" tanya Elif pada Razia yang masih menggenggam tangannya.
"Iya sayang, ini kan kamarmu," jawab Razia lagi sembari membawa gadis itu untuk duduk di atas ranjang yang bernuansa merah muda itu.
"Kak Roman tidur dimana?" tanya Elif setelah lama memperhatikan kalau tidak ada tanda-tanda kepemilikan pria itu disini. Tidak ada gambar atau apapun yang berhubungan dengan suaminya di kamar itu.
"Roman punya kamar sendiri. Dan kamu akan tidur di sini, di samping kamar mama dan papa, kamu mengerti sayang?"
"Iya mama, aku mengerti." jawab Elif mencoba untuk tersenyum.
"Nah, karena ini sudah sangat larut, kamu bisa istirahat sayang," ujar Razia sembari membuka sebuah lemari besar yang ada di dalam kamar itu dan mengeluarkan pakaian tidur. Perempuan itu menyerahkannya pada Elif,
"Pakailah, ini sangat cocok untukmu," ujar Razia tersenyum.
"Terimakasih mama, aku akan mandi terlebih dahulu kemudian memakainya," Elif kemudian melangkah ke kamar mandi dengan membawa pakaian tidur itu.
Razia tersenyum dengan sangat bahagia kemudian meninggalkan kamar itu.
"Mama dimana Elif?" tanyanya dengan wajah bingung. Razia tersenyum penuh makna lalu berucap.
"Jangan ganggu putriku. Elif akan istirahat malam ini."
"Tapi aku ingin melihatnya mama. Aku ingin bertemu dengan istriku," ujar Roman dengan wajah kesal. Pasalnya sejak tadi ibunya tidak membiarkannya dekat-dekat dengan istrinya itu.
"Tidurlah di kamarmu sendiri dan biarkan putri beristirahat." Razia meninggalkan putranya itu dengan senyum diwajahnya.
Pria itu menyugar rambutnya dan segera membuka pintu kamar yang baru saja didatangi oleh mamanya. Ia yakin sekali kalau Elif pasti dibawa ke kamar ini.
"Elif? kamu dimana sayang?" panggil Roman sembari menyusuri kamar yang sangat luas itu. Ia sendiri baru tahu ada kamar seperti ini di dalam rumahnya yang sangat luas itu.
Roman tersenyum karena melihat ada hijab yang dipakai oleh istrinya itu berada di atas tempat tidur. Itu artinya Elif ada di dalam kamar itu.
Roman membaringkan tubuhnya yang agak lelah setelah perjalanan panjangnya pulang pergi dari Kazakhstan ke Moskow. Pria itu merasakan kantuk yang teramat sangat hingga ia tertidur di sana.
Elif menatap pria yang sedang tertidur itu sembari tersenyum. Hatinya menghangat karena bahagia.
Ia pun mencari kopernya yang baru diantar oleh pelayan di rumah itu.
"Elif sayangku," gadis itu tersentak kaget saat merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh tangan besar suaminya.
"Kak Roman? kamu sudah bangun?" tanya Elif tersenyum.
"Hum, iya. Aku sangat lelah Elif." jawab Roman kemudian membawa istrinya untuk ikut berbaring di atas ranjang.
"Lanjutkan tidurmu kak, aku ingin menyimpan pakaian dan perlengkapanku di dalam lemari terlebih dahulu." ujar Elif sembari melepaskan dirinya dari rengkuhan tangan suaminya.
Roman tidak menolak. Rupanya pria itu sedang berada diantara dua dunia. Elif maklum pasti suaminya itu sangat lelah karena ia hanya diberi waktu olehnya mempersiapkan pernikahan cuma sehari.
Setelah membereskan semua barang bawaannya, Elif pun ikut naik ke atas ranjang dan ikut tertidur.
Seluruh tubuhnya juga sangat lelah dengan resepsi sehari yang kemudian dilanjutkan dengan berangkat ke Kazhakstan saat itu juga.
Pagi pun menjelang. Matahari sudah nampak dari ufuk timur menandakan aktifitas makhluk yang bernama manusia akan kemana terlaksana. Semua pelayan sudah mulai bekerja melaksanakan tugas mereka di rumah besar itu.
Roman dan Elif tak kalah dengan para pelayan di luar sana. Setelah mengistirahatkan raga mereka semalaman kini waktunya mereka berolahraga pagi dengan saling menyapa dengan begitu indah.
"Elif, kamu cantik sekali sayangku," bisik Roman setelah melabuhkan bibirnya pada bibir merah merekah perempuan yang sudah halal ia sentuh itu. Elif tidak menjawab, hatinya sibuk meredam debaran di dadanya yang menggila karena sentuhan yang amat lembut dari suaminya tercinta.
"Elif, tatap mataku sayang," bisik Roman sembari meraih dagu istrinya dan mengarahkannya padanya. Elif mengikuti kemauan suaminya. Ia menatap meta hitam berkilat itu dengan dada semakin berdebar.
"Aku mencintaimu Elif, bolehkan aku,..." Roman tidak melanjutkan kata-katanya karena Elif sudah berhasil membungkam bibirnya dengan malu-malu. Tangannya segera menekan tengkuk perempuan cantik itu agar ia bisa mengeksplorasinya lebih dalam.
Tubuh Elif ia rasakan menegang hingga tangan satunya segera masuk ke dalam pakaian istrinya. Ia mengelus lembut seluruh permukaan kulitnya agar lebih rileks dan menikmati apa yang akan ia persembahkan pada istrinya itu.
"Santai sayangku, aku akan melakukannya pelan-pelan okey?" Roman mulai menelusuri setiap inci dari kulit putih istrinya yang sudah nampak terbuka semuanya.
Mereka berdua tidak ingat siapa yang mulai membuka penghalang dari tubuh mereka berdua hingga mereka sudah sangat siap untuk melanjutkan perjalanan ke Nirwana.
---Bersambung--
Segitu aja ya, udah pasti tahu kan endingnya kayak gimana, hehehe.
Hai kamu readers tersayangnya othor, jangan lupa like dan komentar ya. Ada hadiah bunga, kopi, bolehlah jadi penyemangat.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍