Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 95 EMHD



Anna Peminov memeluk ibunya dengan penuh kerinduan. Ia membawa banyak makanan ke apartemen sang ibu untuk merayakan ulang tahun perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Terima kasih sayang, kamu mau menjenguk ibumu ini." ujar Jenny Peminov dengan air mata berderai bahagia. Ia tak menyangka putrinya masih mau mengunjunginya setelah begitu banyak perlakuan buruk sang ayah padanya.


"Aku rindu ibu, selamat ulang tahun." ujar Anna sembari memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tidak membenci kami?" tanya Jenny dengan hati-hati. Sungguh ia merasa malu dan tak layak dikunjungi oleh putri sebaik Anna.


"Apakah kamu sudah meminta izin pada tuan Alexander Smith?" sang ibu bertanya lagi karena Anna belum menjawab pertanyaannya. Anna hanya tersenyum dan menatap ibunya intens.


"Kenapa ibu bertanya seperti itu? aku tidak perlu meminta izin pada siapapun untuk mengunjungi ibuku sendiri. Ibu yang sudah susah payah membawaku dalam kandungan dan juga melahirkan aku ke dunia ini."


"Anna, ibu minta maaf karena selama ini belum pernah membuatmu bahagia, hanya kesedihan dan penderitaan yang kami berikan padamu." Jenny menghapus air matanya dengan jari-jarinya.


"Maafkan ayahmu Anna, ia bahkan selalu menjual dan menggadaikanmu setiap ia mabuk dan memiliki utang." lanjutnya lagi tanpa bisa menahan air mata yang masih terus mengalir.


"Ibu sudahlah, jangan dibahas lagi. Bagaimana pun suamimu itu pernah juga jadi ayah yang baik. Ia sangat rajin mengantarku ke sekolah dan juga pernah membelaku saat teman-teman kelas ku melakukan perundungan padaku."


"Terima kasih Anna. Kamu anak yang sangat baik. Kamu masih mengingat kebaikan pria brengsek itu padamu."


"Jangan bilang seperti itu ibu. Semua itu kulakukan karena ibu selalu memberiku kasih sayang yang banyak, aku ingin membuat ibu senang." timpal Anna tersenyum. ia mengelus lengan ibunya lembut.


"Aku pernah mendengar ibu, kalau kita harus lebih banyak mengingat kebaikan orang pada kita supaya hati kita lebih lembut dan juga lapang." Jenny tak percaya putrinya yang nakal itu bisa mengucapkan kata-kata yang sangat menyentuh seperti itu.


"Anna, kamu nampak berbeda sayang, apa ada yang sudah mencuci otakmu selama kamu pergi meninggalkan ibu?" tanya Jenny sembari menatap kembali wajah putrinya yang semakin cantik.


"Berbeda bagaimana ibu. Aku tetaplah anakmu yang sama yang selalu nakal dan jarang pulang."


"Tidak sayang, kamu lebih sopan dan beradab sekarang."


"Hahahaha, ibu sedang bercanda kan? siapa yang pernah bilang kalau aku sopan. Cuma ibu seorang. Jangan membuatku sakit perut karena leluconmu itu ibu." Anna terus tertawa merasa lucu dengan kata BERADAB dari ibunya.


"Anna, lihat ibu. Apa kamu menyembunyikan sesuatu padaku? dan darimana saja kamu selama ini meninggalkan ibu begitu lama." ujar Jenny dengan wajah dibuat nampak kesal.


"Selama ini aku hidup bersama satu keluarga yang sangat hebat. Aku sangat merasa nyaman dan kagum pada sosok ayah yang sangat bijaksana pada anggota keluarganya. Mohammad Yusuf namanya ibu."


"Apakah kamu mencintainya nak dan ingin menikah dengannya?" tanya Jenny curiga karena mata Anna nampak berbinar bahagia saat menceritakan sosok yang sangat dikaguminya.


"Ah, ibu ia sudah sangat tua untukku. Aku hanya ingin menjadi putrinya saja." jawab Anna tersenyum samar kemudian melanjutkan,


"Ibu tahu? aku bahkan belajar banyak pada paman Yusuf. Dia mengajarku mengenal Tuhan. Suatu hal yang tidak pernah aku ketahui dari siapapun. Darimu maupun dari ayah." Jenny merasa tertohok dengan kata-kata putrinya. Anna benar sekali. Mereka hidup tak pernah mengenal Tuhan apalagi yang namanya beribadah.


"Ah, sudahlah ibu. Yang terpenting sekarang adalah aku sudah percaya kalau Tuhan itu ada yang telah melimpahkan banyak cinta dan kasih pada semua ciptaanNya. Aku hanya ingin lebih mensyukuri apa yang Tuhan berikan padaku. Bersyukur karena kalian mau melahirkan aku kedunia ini." jelas Anna dengan suara tenang. Jenny merinding dengan kata-kata putrinya.


"Lihat, aku membawa kue kesukaanmu ibu." Anna membuka satu kotak besar kue ulangtahun yang dipenuhi oleh keju dan juga lelehan coklat didalamnya.


"Terima kasih Anna. Ibu sayang padamu." ujar Jenny kemudian mencium wajah putrinya lembut.


Mereka mulai menikmati potongan-potongan kue itu dengan wajah gembira. Mereka sambil bercanda mulai bercerita untuk mengenang masa-masa dimana mereka juga pernah bahagia.


Juan Peminov sang ayah pernah menjadi sosok ayah yang baik sebelum sebuah kejadian buruk menimpanya dan menjadikannya seorang yang berperilaku sangat buruk dengan mabuk dan berjudi.


Beberapa tahun yang lalu, ketika Anna masih berusia 12 tahun, sang ayah adalah karyawan di sebuah pabrik makanan kemasan. Sebuah musibah besar menimpa pabrik itu.


Ratusan orang keracunan setelah produk makanan kemasan itu diproduksi untuk pertama kalinya dan dilempar ke pasaran. Juan yang bertugas di bagian produksi menjadi tersangka utama karena dianggap teledor dan meloloskan produk tersebut tanpa menguji ulang terlebih dahulu.


Ia dipenjara dan dituntut untuk mengganti kerugian atas musibah itu. Sejak saat itu ia menjadi orang yang berprilaku buruk. Didalam penjara ia bertemu dengan orang-orang jahat dan mengajarkannya banyak kejahatan yang tidak pernah dilakukannya selama ini.


Juan keluar dari tahanan bukannya menjadi orang baik malah semakin buruk. Ia suka mabuk dan berjudi di sebuah Club dan berakhir menggadaikan semua hartanya dan juga anaknya.


Maksim yang sering bermain ke tempat-tempat kotor seperti itu berhasil menolong Anna dan menebusnya pada saat gadis itu digadaikan oleh ayahnya. Sejak saat itu ia mengenal Anna dan mengajaknya bergabung dalam gengster yang dipimpin oleh Alex. Ia mendidik gadis itu keahlian menembak dan juga bela diri untuk dijadikan agen dan mata-mata dalam setiap aksi kejahatan yang akan mereka lakukan dalam tubuh gengster itu.


Setelah lama berbincang dengan ibunya, Anna pun pamit.


"Ibu aku pulang." ujar Anna kemudian mencium wajah ibunya yang semakin nampak tua dan kurus.


"Iya sayang. Kamu hati-hati dan minta pada Tuhanmu agar memberimu calon suami yang baik." ujar Jenny sembari memandang putrinya yang sudah mencangklong tas ranselnya di pundaknya.


"Kata Paman Yusuf, kalau mau mendapatkan suami yang baik aku harus memantaskan diriku dulu ibu." jawab Anna sembari tersenyum. Jenny hanya tersenyum dengan ucapan putrinya. Ia semakin yakin kalau putrinya ini sudah memiliki keyakinan tidak seperti dirinya dan suaminya.


"Salam untuk ayah."


Jenny menutup pintu apartemen itu setelah Anna benar-benar pergi dari hadapannya. Ia bersandar di belakang pintu dengan air mata haru.


"Semoga kamu bahagia Anna."


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍