
"Mommy!, lihat hasil lukisanku," Nikita menarik tangan Aisyah yang baru saja tiba di halaman luas itu.
Gadis kecil itu menunjukkan kanvas yang berisikan lukisan sebuah keluarga bahagia, ada Daddy, Mommy, dan juga dua anak yang sedang dipegang tangannya oleh kedua orang dewasa itu.
"Wahh, ini cantik sekali sayang, ini pasti Daddy sama mommy ya?" Nikita mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya.
"Kalau ini siapa?" tunjuk Aisyah pada gambar 2 anak kecil yang sedang berdiri diantara dua orang dewasa itu.
"Ini aku, mom. Dan ini adek Danil."
"Kamu hebat Niki, nanti Daddy akan membuatkanmu studio untuk menyimpan semua hasil lukisanmu dan juga kamu bisa melukis dengan bebas di sana, sayang." ujar Alex sembari mencium pucuk kepala putri pertamanya itu.
"Terimakasih Dad, aku sayang padamu." ujar Nikita kemudian mencium keseluruhan wajah Alex sampai berbunyi.
Aisyah sampai tertawa dibuatnya. Albert mendekati Nikita dan berucap,
"Niki, uncle mau juga dicium sampai berbunyi seperti itu."
"Baiklah uncle Al," jawab Nikita kemudian mencium pipi Albert sekali dengan bunyi yang cukup besar.
Mmmuah
"Kok cuma sekali?" tanya Albert berpura-pura kecewa. Nikita menggelengkan kepalanya dengan dramatis.
"Uncle Al, cuma bisa dapat satu kali, besok ketika aku sudah besar, aku sudah tidak bisa menciummu seperti tadi meskipun cuma sekali."
"Hey, kenapa bisa begitu?" tanya Albert dengan dahi mengkerut ingin tahu.
"Karena uncle Al, you are not my first daddy. Kamu bukan daddy pertamaku uncle," jawab Nikita tersenyum kemudian naik kegendongan Alex.
"Hanya Daddy Alex yang bisa uncle." ujar Nikita sembari memeluk leher Alex sang daddy dan kembali menciumnya dengan sayang.
"Hmm, aku jadi cemburu Niki, siapa yang mengatakan itu sayang?" tanya Albert dengan wajan sedikit kecewa.
"Kakek Yusuf, katanya kalau aku sudah besar, aku tak boleh mencium sembarang orang." Alex tersenyum dengan ucapan sang putri.
"Kamu benar sayang, Cuma daddy yang bisa dekat denganmu, Okey?"
"Iya dad, kata kakek Yusuf lagi, akan berbahaya berdekatan degan laki-laki besar yang bukan keluarga kita," Alex mencium pipi Nikita lembut, ia berjanji akan terus mengawasi sang putri sampai pada akhirnya ada laki-laki yang nanti akan menjadi suaminya kelak.
"Ayok kita lihat lukisan nenek Sarah." ajak Aisyah ke arah lain tempat itu. Karena jarak tenda yang ditempati Bibi Sarah agak jauh jadi mereka berempat menyusuri setiap tenda untuk melihat lukisan-lukisan dari orang -orang.
"Hey? kamu juga ada disini nona?" tanya Albert saat melihat seorang gadis berkupluk sedang menghadapi kanvas dan tangannya dengan lincah melukis keadaan kota Moskow. Gadis itu menoleh dan memandang Albert kemudian tersenyum.
"Seperti yang kamu lihat tuan. Aku akan datang ke tempat yang bisa memberiku makan dengan gratis." ujar Elena kemudian kembali menatap kanvasnya dan menorehkan cat dengan menggunakan kuas. Albert hanya tersenyum mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan gadis ini dulu.
"Siapa dia Albert, apa kamu mengenalnya?" bisik Alex pada Albert yang matanya betah memperhatikan tangan gadis itu menari diatas kanvas. Albert sekali lagi tersenyum pada Alex, ia tidak berminat menjelaskan siapa gadis asing itu, karena ia juga baru 2 kali ini bertemu.
"Onty lukisanmu cantik sekali," puji Nikita pada lukisan nona berkupluk itu.
"Terimakasih sayang, kamu orang yang ke 1000 yang mengatakannya." jawab Elena dengan santai.
"Tapi, disini tidak ada orang sampai 1000 onty, hihii." ujar Nikita sembari menutup mulutnya tertawa cekikikan.
"Anggap saja sayang, 1 dikali 1000 akan jadi 1000 kan." Elena terus memainkan kuasnya dengan lincah hingga hanya dengan hitungan menit, lukisan itu jadi dan sangat memukau.
Albert tanpa sadar bertepuk tangan karena bangga dan juga suka hingga membuat Aisyah dan Alex saling berpandangan.
"Aturan acara ini adalah, setiap peserta bisa membawa pulang hasil lukisannya, tetapi bagiku yang sedang membutuhkan uang, aku ingin menjualnya padamu tuan," jelas Gadis itu tanpa rasa canggung sama sekali membicarakan kesusahannya.
"Aku akan membelinya nona, berapa harga yang kamu pasang?" tanya Albert antusias dan membuat Aisyah dan Alex sekali lagi berpandangan.
"Aku hanya ingin 100 Rubel, tuan." jawab Elena dengan senyum diwajahnya.
"Tunggu di sini, aku akan memberimu ceknya." ujar Albert kemudian segera berlari ke dalam rumah.
"Nona, kamu pelukis hebat, mungkin suatu waktu kamu akan kami panggil untuk mengajari putri kami ini." ujar Aisyah berusaha berkenalan.
"Perkenalkan aku Elena Ivanov." gadis itu menjabat tangan Aisyah.
"Aku Aisyah Smith dan ini adalah suamiku, Alexander Smith." balas perempuan berhijab itu sembari menunjuk suaminya kemudian melanjutkan, " Dan putri kecil yang cantik ini adalah Nikita Smith putri kami."
"Hai Niki, senang berjumpa denganmu sayang," sapa Elena dengan wajah yang ramah.
"Senang juga berjumpa denganmu nona Elena, mohon maaf aku bersama mom dan dad akan melihat lukisan yang lainnya." ujar Nikita berbungkuk dengan sopan.
"Ya, silahkan. Aku hanya akan menunggu tuan Albert membayar lukisan ini baru setelahnya aku akan pulang."
"Baiklah Elena, nikmati bersenang-senanglah dan nikmati pestanya." ujar Aisyah kemudian mereka bertiga melanjutkan langkah ke arah tempat bibi Sarah yang sudah nampak di depan mata.
"Albert baik sekali ya, " ujar Aisyah pada suaminya Alex.
"Iya, Albert suka membantu orang yang kesusahan termasuk pada gadis yang cukup menarik."
"Alex? jangan membuatku takut sayang, Albert kan sudah melamar Reisya, ia tak boleh lagi bermain-main dengan gadis lain." ujar Aisyah sembari menatap mata Alex tajam. Pria tampan itu hanya tersenyum kemudian merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Insyaallah Albert bisa menjaga hatinya tetapi kita tetap harus mempercepat pernikahannya, kau tahu sayang sangat susah menahan melakukan sesuatu yang pernah kita rasakan sebelumnya. Itu bisa membuat kita gila."
"Kalau begitu segera atur perjalanan kita ke Indonesia untuk menikahkannya dengan Reisya. Aku takut gadis bernama Elena itu akan membuatnya ragu."
"Ah, ya siapkan baby Danil saja sayang, semoga ia sudah kuat melakukan perjalanan ini yang jauh ini." Mereka terus mengobrol sampai tak sadar sudah berada di tenda bibi Sarah.
"Nenek, lukisanmu sangat cantik dan lucu." ujar Nikita dengan senyum diwajahnya.
"Iya, sayang. Ini sudah membuatku berkeringat hanya dengan memikirkan lukisan ini," jawab Bibi Sarah yang membuat Alex dan Aisyah tersenyum. Mereka berdua bisa merasakan bagaimana stressnya sang bibi melakukan sesuatu yang tidak pernah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelumnya.
"Tunggu nenek, aku akan memanggil uncle Omar dan onty Anna untuk melihat lukisanmu yang cantik ini," ujar Nikita kemudian berlari ke dalam rumah sang pengantin. Dimana Omar dan Anna sedang melanjutkan kegiatan suntik menyuntik lagi di siang hari itu.
Mendengar dessahan sang istri tercinta, Omar langsung membuka penghalang dari tubuhnya sendiri.
Ia tak ingin membiarkan Anna berlama-lama menikmati sendiri apa yang ia lakukan pada istrinya itu.
Omar membawa tangan sang istri untuk menyentuh bagian dari dirinya yang sudah sangat tegang dan ingin melakukan penyatuan secepatnya.
Mata Anna melotot tak percaya melihat langsung apa yang sedang ada ditangannya, ini terlalu indah dan ...ia tak bisa berkata-kata. Ia hanya mengikuti nalurinya saja bagaimana cara membuat sang suami juga mengerang nikmat.
"Onty Anna buka pintunya!" teriak Nikita dari luar hingga membuat dua orang yang sedang bercumbu itu tersentak kaget.
"Omar, Nikita ada di luar." ujar Anna diantara ******* nya. Omar tak peduli ia terus memacu dirinya di dalam tubuh sang istri.
"Uncle Omar, kamu harus lihat lukisan nenek Sarah!" teriak Nikita lagi sembari menggedor pintu dengan keras.
"Omar hentikan, ini aaaakh, Omar, aaaah." Anna ingin berhenti tetapi apa yang dilakukan suaminya membuatnya melayang dan tak sadar malah mengeluarkan suara-suara lucknut dari bibirnya. Dan itu membuat sang dominan semakin berada pada titik tertinggi dari gairah yang ia rasakan.
"Aku sebentar lagi sampai sayangku," bisik Omar dengan suara parau dan tak menggubris teriakan Nikita diluar sana. Ia tak bisa berhenti kecuali ia sudah meledakkan laharnya di dalam tubuh sang istri.
"Aaaaakh!"
"Uncle Onty!" Mereka bertiga bersamaan berteriak dengan maksud yang berbeda
---Bersambung--
Untuk Nikita yang selalu mengganggu kesenangan orang dewasa, othor biarkan ia kering di depan pintu, hihihihi.
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Like dan komentar dong supaya othor tetap semangat updatenya, okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Mampir yuks dikarya teman aku sembari menunggu uncle Omar membersihkan dirinya dari akhhh uhhhnya, hihihi.