
Alexander Smith menurunkan stroller milik Danil dari bagasi mobil yang sedang mereka tumpangi. Sedangkan Aisyah langsung menaruh putranya di sana dan siap didorong oleh Nikita ke dalam rumah.
"Assalamualaikum Ayah, bibi..." salam Aisyah dengan suara nyaring ketika tiba di depan pintu rumahnya. Tak ada jawaban, hingga ia membuka sendiri pintu rumah itu dan mendorongnya pelan.
"Ayah!" panggil Aisyah ketika memasuki kamar sang Mohammad Yusuf dan mendapati pria tua itu sedang tertidur di atas kursi malasnya.
Sebuah kitab berada ditangannya menandakan ia mungkin sedang membaca kitab tetapi kemudian jatuh tertidur.
"Ayah, aku datang..." ujar Aisyah dengan suara pelan takut ayahnya terkejut. Perlahan pria tua itu membuka matanya dan memandang sosok perempuan cantik berhijab yang sedang berdiri dihadapannya.
"Aisyah, apakah ayah sedang bermimpi nak?" tanya Mohammad Yusuf sembari menyentuh wajah putrinya yang sangat ia rindukan.
"Tidak ayah, ini nyata. Aku ada disini mengunjungimu." jawab Aisyah sembari mencium tangan sang ayah yang sudah sangat keriput dan tua itu.
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau mengabulkan permohonanku." ujar Pria itu dengan penuh rasa syukur. Dengan cepat ia meraih tubuh putrinya itu dan memeluknya penuh kerinduan.
"Dimana cucuku? kamu datang bersamanya kan?"
"Iya ayah, kami semua datang untuk menemuimu, baby Danil juga sangat merindukan kakeknya," jawab Alex yang sedang berdiri di depan pintu. Pria itu langsung meraih tangan sang ayah mertua dan mencium punggung tangannya.
"Alex? apa kalian datang bersama?" Mohammad Yusuf melepaskan pelukannya pada putrinya kemudian memandang kedua orang itu secara bergantian.
"Iya ayah, kami datang bersama dan aku memenuhi janjiku membawa putri dan cucumu kemari," jawab Alex dengan wajah gembira. Mohammad Yusuf terdiam. Ia kembali mengamati putrinya dengan wajah tanya.
"Apa hubungan kalian sudah tidak bermasalah lagi? dan dimana kamu selama ini nak? ayah sangat khawatir."
"Alhamdulillah kami sudah saling memaafkan ayah, aku hanya mencari tempat yang agak jauh agar tidak ditemukan oleh menantumu ini." jawab Aisyah sembari melirik suaminya yang masih duduk bersimpuh dibawah kaki sang ayah.
"Aisyah, kamu jangan sekali-kali meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu nak. Meskipun itu hanya sebuah niat. Aku takut murka Allah akan jatuh padamu." ujar Mohammad Yusuf tegas.
"Iya ayah, aku hanya berniat karena kesal dengan Alex tetapi kemudian dibantu oleh seorang penculik."
"Astagfirullah, semoga Allah mengampunimu nak. Kamu tahu bagaimana susahnya semua orang mencarimu. Omar setiap saat selalu memberi ayah kabar kalau suamimu selalu berusaha mencari keberadaanmu."
"Iya ayah, jangan salahkan putrimu sendiri karena yang paling salah dalam hal ini adalah aku, yang tidak bisa menjadi suami yang baik baginya."
"Kumohon jangan pisahkan kami ayah, aku berjanji akan selalu membahagiakannya." ujar Alex dengan penuh pengharapan. Mohammad Yusuf tersenyum kemudian berucap.
"Siapa yang akan memisahkan kalian yang nampak saling mencintai ini, kamu pikir ayah tidak akan malu kepada Tuhan jika melakukan hal buruk seperti itu?" Mohammad Yusuf memukul kepala Alex pelan. Suami dari Aisyah itu langsung tersenyum lebar kemudahan bangkit dan memeluk ayah mertuanya.
"Terimakasih ayah, terimakasih. Dan yah bagaimana kesehatanmu sekarang?"
"Penyakitku langsung pergi saat melihat kalian berbahagia di sini."
"Alhamdulillah ayah, kami sangat senang mendengarnya."
"Kakek, kami rindu padamu..." Nikita muncul di depan pintu kamar sembari mendorong stroller adik Danil. Ketiga orang itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar.
"Nikita? Danil? kemarilah sayang, kakek juga sama merindukan kalian." Nikita segera menghampiri Mohammad Yusuf dan memeluknya.
"Kata uncle Omar, kakek sakit ya?" tanya Nikita sembari meraba dahi pria tua itu.
"Alhamdulillah, kakek sudah sembuh setelah melihat kalian semua datang menemuiku."
"Wah, kakek cepat sekali sembuhnya, kita bisa bermain dengan adek Danil dong." seru Nikita bahagia.
"Bawa adikmu kemari sayang, kakek sangat merindukannya." ujar Mohammad Yusuf sembari melihat ke arah stroller dimana cucu pertamanya ada disana sedang menggapai-gapaikan tangannya di udara.
"Daddy..." panggilnya dengan suara nyaring.
"Aamiin ya rabbal alamiin," jawab semuanya dengan wajah penuh pengharapan.
"Ayah sebentar lagi akan mempunyai cucu lagi," ujar Alex tersenyum.
"Iya ayah tahu,"
"Hah? ayah sudah tahu?" Aisyah melongo tak percaya. Ia sudah menduga kalau Omarlah yang telah membocorkan informasi ini.
"Iya, aku sudah lama tahu kalau Anna dan Omar akan segera menjadi ibu dan ayah seperti kalian, jadi otomatis cucuku akan segera bertambah." Alex dan Aisyah saling berpandangan kemudian tersenyum.
"Aisyah ayah, yang sedang mengandung cucumu yang ketiga," ujar Alex dengan tangan memeluk istrinya dari samping.
"MasyaAllah, Allahu Akbar, begitu banyak nikmat yang Allah berikan padaku. Selamat nak, aku sangat bahagia mendengarnya." Mohammad Yusuf mencium dahi putrinya dengan wajah gembira.
"Berapa usia kandunganmu nak?" lanjutnya dalam sebuah pertanyaan.
"Usianya sekitar lima bulan ayah, ia sudah mulai kurasakan bergerak di dalam sini." jawab Aisyah sembari menunjuk perutnya.
"Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah. Dia banyak memberi kalian nikmat setelah kesedihan yang kalian rasakan selama ini."
"Sekarang kita harus memberikan sedekah kepada semua warga di desa ini, semoga keluargamu selalu rukun dan bahagia serta diberikan anak-anak yang soleh dan solehah, aamiin."
"Aamiin ya Allah," jawab Alex dan Aisyah bersamaan.
"Sekarang temui bibimu, ia juga sangat merindukanmu," lanjut Mohammad Yusuf dengan senyum cerah diwajahnya yang tiba-tiba berubah karena kedatangan putri dan cucu yang sangat dirindukannya itu.
Beberapa hari ini kondisinya begitu menurun karena penyakit jantung yang dideritanya.
Ia terlalu banyak memikirkan keadaan Aisyah dan cucunya yang berjarak sangat jauh darinya.
Kekhawatirannya yang terlalu berlebihan membuat kondisi tubuhnya drop.
Tetapi sekarang, ketika ia bertemu dengan orang yang dirindukannya ia merasa ia akan hidup lebih lama lagi.
"Bibi, aku merindukanmu," ujar Aisyah sembari memeluk bibi Sarah yang selama ini menjaganya dari kecil.
"Aku juga merindukanmu sayang, Alhamdulillah kamu tampak sehat dan semakin cantik." jawab Sarah setelah pelukan mereka berdua terlepas.
"Karena mommy sedang membawa adik kecil di dalam perutnya nenek," timpal Nikita yang langsung menubruk tubuh perempuan tua itu dengan wajah gembira.
"Wahh selamat, itu artinya Nikita akan mempunyai banyak Adik,"
"Iya nenek, dan aku akan memarahi semuanya kalau mereka nakal dan tidak mau belajar," jawab Nikita bersungut-sungut.
"Hahahaha..." semua orang yang ada ruangan itu tertawa lucu dengan ekspresi gadis kecil berambut pirang itu.
"Nah sekarang kalian istirahat dulu, aku akan membuat makanan yang istimewa untuk kalian semua."
"Horee aku selalu rindu masakan nenek Sarah." Nikita berjingkrak senang.
"Kami akan membagi sedekah ke semua warga di desa ini dulu Bibi." ujar Alex dengan senyum bahagia diwajahnya. Untungnya ia membawa banyak uang cash, jadi ia kan membagi-bagikan uang kepada semua orang atas nikmat yang begitu banyak yang diberikan oleh Tuhan padanya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍