Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 181 EMHD



Malam itu Albert dan Alex tanpa sengaja bertemu di dapur. Mereka cukup kelaparan di jam tidur seperti itu karena tak bisa memejamkan mata.


Alex menemukan roti dan dengan cepat membuat isiannya berupa daging yang sudah dimarinasi hingga sisa di panggang saja.


Albert hanya menunggu masakan instan itu jadi untuk ikut serta.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Alex sembari menyerahkan makanan siap saji itu ke depan Albert.


"Entahlah," jawab Albert sembari mengangkat kedua bahunya. Ia tak mungkin menceritakan masalahnya pada Alex atau pria itu akan menertawainya habis-habisan.


"Dan Kak Alex, kenapa belum tidur?" tanya Albert balik. Ia kemudian menggigit potongan roti isi daging itu dengan lahap. Alex hanya membuang muka kemudian ikut menggigit rotinya juga.


"Istrimu tertidur di kamarku Kak, dan aku..." akhirnya Albert mulai ingin mengungkapkan kegelisahannya pada Alex.


Pria itu ingin sekali mengunjungi istrinya dengan penuh cinta setelah sekian lama berpuasa. Sungguh ia sudah tak sanggup.


Rasanya ia akan meledak kalau tidak menyalurkannya malam ini dan itu ia sudah bertekad untuk memaksa Reisya apapun yang terjadi, tetapi ketika ia memasuki kamarnya sendiri.


Ternyata ada Aisyah dan juga dua bocah milik Alex sudah tertidur di sana, di atas ranjangnya. Dan ia yakin ini pasti karena ulah Reisya yang memaksa keluarga kecil itu untuk tidur bersamanya.


"Tolonglah kak, pindahkan istri dan anak-anakmu dari kamarku atau aku benar-benar tak bisa tidur malam ini." pinta Albert yang nampak sangat menderita sekali. Alex hanya tersenyum samar, karena ia juga merasakan hal yang sama. Hampir 6 bulan ia berpisah dengan Aisyah.


Dan sekarang ini ia juga sangat ingin meledakkan dirinya di dalam tubuh istrinya itu. Tetapi sayangnya kondisi lagi-lagi mempermainkan mereka. 2 kali ia sudah hampir di puncak tapi tak pernah berhasil sampai dan kini oh ya ampun, ia bisa gila.


"Bawa istrimu ke kamar tamu saja," usul Alex memberi ide.


"Dan aku akan membawa Aisyah ke kamarku, biarkan Danil dan Nikita tidur di kamarmu sampai pagi." Albert tersenyum dengan ide Alex. Kebetulan ada kamar tamu di samping Kamarnya. Mereka berdua pun sama-sama melangkah ke kamar Albert dengan segala pikiran mesum di kepala mereka.


Aisyah mengalungkan tangannya di leher sang suami agar tidak terjatuh saat Alex mengangkatnya ke kamar utama. Kamar mereka yang sudah lama tak berpenghuni.


"Alex," panggil Aisyah pelan saat sang suami membawanya ke kamar mereka sendiri yang jaraknya cukup jauh.


"Hemm," jawab Alex kemudian mengecup bibir Istrinya lembut.


"Kamu bangun sayang?" tanya alex setelah melepaskan kecupannya.


"Hem," jawab Aisyah masih dengan suara pelan, sepertinya ia belum sadar sepenuhnya kalau ia sedang dalam gendongan suaminya yang bertubuh tinggi dan besar itu.


"Turunkan aku Alex, kamu pasti lelah membawaku ke sini," ujar Aisyah saat ia sadar kalau mereka berdua sudah sampai di kamar mereka berdua.


"Tidak sayang, kamu begitu ringan meskipun ada bayi di dalam perutmu," jawab Alex kemudian menurunkan tubuh istrinya itu dengan pelan di atas kasur empuk milik mereka.


Aisyah mengedarkan pandangannya ke segala arah di kamar itu. Kamar yang masih sama dengan beberapa bulan yang lalu yang ia tinggalkan karena bantuan seorang Antonio Cassano.


Aisyah menutup mulutnya karena tak percaya dengan penglihatannya.


Ada banyak ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai bentuk di dalam kamar itu.


"Alex, kamu yang membuat semua ini, untukku?" tanya Aisyah sembari meraih tangan suaminya untuk duduk di atas ranjang bersamanya.


"Oh, maafkan Aku Alex, aku sudah berprasangka buruk padamu. Maafkan aku, sayang," Aisyah bangun dari posisinya tadi, ia balas mengecup tangan suaminya.


"Aku pernah berpikir meninggalkanmu Alex karena kesal kau mengabaikanku, maafkan aku ya," lanjut Aisyah sembari kedua tangannya ia tangkupkan di sisi kiri dan kanan wajah Alex yang sangat tampan malam itu.


"Aku yang salah sayang, aku yang harusnya minta maaf dah bahkan bersujud di kakimu karena telah menyakiti hatimu. Maafkan aku ya?" ujar Alex kembali segera meraih bibir sang istri untuk dilumatnya pelan.


Ia ingin mengantarkan rasa cinta dan rindu yang begitu besar pada istrinya yang sedang mengandung itu.


Pria itu yakin istrinya pasti sangat menderita dengan perbuatannya selama ini yang ia anggap sebagai lelucon tetapi begitu melukai hati sang istri.


"Alex," Aisyah menarik nafas panjang berusaha mengumpulkan oksigen yang serasa habis dihisap oleh sang suami.


Sampai detik ini ia masih sering kewalahan mengimbangi gaya berciuman suaminya yang begitu memabukkan dan kadang membuatnya lemas dan kehabisan pasokan oksigen.


Alex kembali meraih bibir Istrinya lagi dan melabuhkan satu ciuman panas dan lama. Tengkuk Aisyah ditekannya semakin dalam dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya sibuk bergerilya mengelus lembut punggung istrinya.


"Aaaaaaaaakh," Aisyah mendessah tak kuat. Tangan Alex begitu memanjakan tubuhnya hingga ia merasa gelenyar aneh semakin berlomba didalam urat-urat syarafnya.


"Aisyah kamu cantik sekali sayang, aku mencintaimu Aisyah," suara Alex bergetar dan parau, hasratnya semakin tak bisa ia kendalikan, apalagi istrinya sudah sangat siap menyambutnya.


Perlahan tangannya membuka pakaian sang istri. Ia tak akan puas jika tidak skin to skin dengan perempuan yang sedang mengandung buah cinta mereka itu.


Mata Alex kembali berkilat penuh hasrat. Meskipun ia sudah makan roti isi daging tadi bersama Albert. Tetapi roti empuk, kenyal, dan putih yang sedang menantangnya kini membuatnya lapar dan haus secara bersamaan.


Dengan tak sabar ia melepaskan semua penghalang pada dirinya dan istrinya kemudian segera melabuhkan bibirnya di puncak roti empuk dan kenyal itu yang seakan minta untuk dijilat dan dihisap.


"Aaaakh, Alex,..." Aisyah mendessah dan menjambak rambut suaminya dengan keras. Permainan lidah suaminya pada miliknya membuatnya ingin memberontak nikmat.


"Panggil namaku sayang, aku akan buat kamu memohon Aisyah," bisik Alex pelan dikuping sang istri setelah melepaskan pucuk lembut pengantar signal ke tubuh sang istri.


"Alex, aaakkh," Aisyah kembali berteriak keras, ia sudah tak bisa lagi menahan suaranya kini. Kamar ini kedap suara. Dan tak ada Nikita maupun Danil di sini.


"Keluarkan saja sayang, aku suka..." bisik Alex lagi kemudian menghujani seluruh permukaan kulit istrinya dengan kecupan bahkan hisapan keras yang ia yakini pasti akan membekas keesokan harinya.


Pria itu tak peduli, toh Aisyah adalah miliknya dan tanda itu adalah tanda kepemilikan yang sah.


"Alex,...Plis, aku...tidak kuat..."


---Bersambung--


Hai readers tersayang, tarik nafas dan klik like dan komentar...kita cari yang dingin dulu, okey?


Kasih Votenya dong


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍