Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 196 EMHD



Dengan wajah gembira Juan dan Jenny Peminov melangkah dengan cepat menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit.


Mereka berdua baru saja mendengar kabar dari Omar sang menantu kalau putri mereka telah melahirkan dengan selamat dua orang bayi kembar yang lucu dan sehat.


"Kita akan langsung mendapatkan 2 orang cucu sayang," ujar Juan dengan senyum lebar diwajahnya.


"Iya Juan, aku akan merawatnya dengan sangat baik kalau ayahnya menginginkannya," jawab Jenny dengan pandangan mata berbinar. Membayangkan apartemennya akan ramai dengan dua bayi yang sangat lucu dan tampan pasti akan sangat menyenangkan.


"Aku tidak akan kesepian lagi tinggal di Apartemen kalau kamu pergi bekerja,"


"Jangan terlalu berharap, kamu tahu Omar kan, belum tentu ia mau mengizinkan bayi-bayi itu tinggal bersama dengan kita."


"Iya kamu betul Juan, Omar itu sangat posesif. Anna saja dilarang keluar rumah kecuali bersamanya. Padahal kan putriku juga bosan tinggal di rumah." gerutu Jenny dengan wajah berubah sedih.


"Hey jangan bersedih. Bersyukurlah karena putrimu dilimpahi banyak cinta oleh suaminya. Dan juga sekarang ia sudah selamat."


"Iya Juan aku mengerti."


"Apa kamu tahu, kalau semalam Omar datang mencari Anna di Apartemen kita, Jenny." ujar Juan sembari terus menyusuri jalan-jalan panjang yang terasa begitu jauh di dalam kompleks Rumah Sakit itu.


"Hah? memangnya apa yang terjadi? kenapa bisa Anna tidak berada di rumahnya padahal waktu sudah larut."


"Ya mana aku tahu, aku kan juga baru pulang kerja dan langsung tidur bersamamu." jawab Juan sembari mengangkat kedua bahunya. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Nah ini pasti ruangannya," ujar Jenny sembari mengetuk pintu ruang perawatan itu kemudian mendorongnya pelan.


"Assalamualaikum," sapanya saat melihat ada banyak orang di dalam ruangan itu. Besannya juga Ada di sana. Mohammad Yusuf dan juga Sarah. Aisyah istri dari mantan Bosnya Anna juga sedang berdiri disamping Anna.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Ibu, ayah, kemarilah, kalian sudah memiliki cucu." panggil Anna pada kedua orangtuanya yang tiba-tiba tampak canggung dan berdiri saja di depan pintu.


"Ah iya, bagaimana kabarmu nak," ujar Jenny kemudian menghampiri putrinya setelah menyapa dan berbasa-basi dengan keluarga Omar.


Anna yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit itu tersenyum pada ibunya.


"Ibu,"


"Iya sayang, selamat ya kamu sudah menjadi ibu,"


"Iya ibu, dan kamu sudah menjadi nenek sekarang. Cucumu langsung 2 orang, lihatlah, mereka rakus sekali menghissap susunya padahal airnya belum ada, hehehe" ujar Anna meringis.


Setiap putranya itu menghissap pu*tingnya ia merasa sangat perih tapi berusaha ia tahan.


"Sebentar lagi pasti ada sayang, yang penting kamu makan sayur dan kacang-kacangan." ujar Jenny sembari mengangkat sebuah wadah yang berisi sayuran dan kacang.


"Lihat, apa yang ibu bawa untukmu, kamu bisa langsung memakannya sayang." lanjut Jenny dengan wajah berbinar bahagia.


"Oh ibu terima kasih banyak, aku sayang padamu." Anna tersenyum kemudian mengecup tangan ibunya lembut.


Aisyah dan bibi Sarah saling berpandangan kemudian melanjutkan dengan saling berpelukan. Mereka sangat gembira dengan kedekatan Anna dan ibunya.


"Dimana suamimu sayang?" tanya Jenny setelah menyaksikan sendiri putrinya itu menghabiskan semua makanan yang ia bawa.


"Kak Omar sedang mengurus sesuatu di Kantornya bibi," kali ini Aisyah yang menjawab.


"Oh, iya," jawab Jenny singkat. Matanya langsung tertumbuk pada perut perempuan cantik itu.


"Kamu sedang hamil juga sayang?" tanyanya pada Aisyah.


"Alhamdulillah, berarti keluarga kita akan bertambah lagi dengan bayi-bayi lucu."


"Aku pasti senang sekali kalau Anna mau memberikan putra-putrinya untuk aku rawat di apartemenku." ujar Jenny dengan senyum diwajahnya.


Rupanya niat Jenny untuk mengambil bayi-bayi itu masih ada di dalam hatinya.


"Ibu, kenapa berkata seperti itu?" tanya Anna dengan wajah berubah tak suka.


"Kamu kan masih bisa mencetak lagi sayang, hehehehe, seperti nyonya Smith ini. Danil masih kecil dia sudah hamil lagi." semua orang tertawa kecuali Anna.


Bayangan mempertaruhkan nyawa semalaman membuatnya ingin beristirahat dulu untuk mencetak bayi baru.


Sementara itu Omar sedang mengurus pemecatan Elena sebagai perawat di Rumah Sakit itu.


Beberapa anggota kepolisian sedang meminta keterangannya tentang masalah semalam yang melibatkan keluarganya dan juga Elena Ivanov.


Setelah urusannya selesai, ia pun kembali ke ruang perawatan sang istri untuk memeriksa keadaannya.


Rupanya semua orang sudah pulang yang tinggal hanya Jenny ibunya Anna.


"Omar, kamu lama sekali," ujar Anna dengan suara merajuk manja. Dokter itu hanya tersenyum kemudian mengecup bibir Istrinya lembut.


"Apa ada masalah?" tanya Anna karena Omar hanya diam.


"Tidak sayang, semuanya baik-baik saja, bagaimana baby twins apa sudah berhasil menyusu?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.


Ia tak mau kalau masalah semalam masih menyisakan masalah baru dan akan membuat istrinya jadi terganggu.


"Belum," jawab Anna sembari mengerucutkan bibirnya.


"Aku akan memberikan pijatan pada payu*daramu, dan itu termasuk membantu agar ASI cepat berproduksi." ujar Omar yang langsung membuat ibu mertuanya terbatuk-batuk.


"Eh, ibu aku lupa kalau kamu ada di sini. Maafkan aku," ujar Omar dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tidak apa lakukan saja tapi di kamar mandi. Takutnya bayi-bayi kalian melihatnya." jawab Jenny santai.


"Ibu..." Anna tersenyum malu dibuatnya. Sedangkan Omar berusaha tidak perduli.


"Kita lakukan dikamar mandi sayang, dan aku yang akan jadi sampelnya, okey?" bisik Omar yang membuat Anna merona merah.


"Astagfirullah, Omar!" Anna memukul lengan suaminya pelan.


🍁


Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit dan kondisi Anna juga sudah pulih begitupun baby twinsnya, mereka pun bersiap untuk pulang ke rumah.


Tetapi masalahnya adalah semua anggota keluarga meminta Anna pulang ke rumah besar Smith karena ada banyak keluarga yang menantikan mereka di sana. Tetapi Omar seperti biasa tak setuju jika itu terjadi.


"Kak Omar, ayolah." ujar Aisyah dengan pandangan mata tajam pada kakaknya. Perempuan itu bersama suaminya sedang ada di ruangan itu untuk menjemput ibu dan bayi-bayinya pulang


"Baiklah, kami akan ikut bersama kalian," putus Omar akhirnya. Mereka pun pulang ke rumah besar milik keluarga Smith.


Dan benar adanya, kedatangan mereka disambut dengan suka cita oleh semua keluarga besar Smith di rumah besar itu. Ada dua kamar luas yang disiapkan untuk keluarga kecil itu.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍