
Dua minggu telah berlalu dan hari ini adalah tepat hari pernikahan seorang pengusaha muda sukses yang merupakan satu-satunya ahli waris keluarga Jonathan. Pukul tujuh pagi, Aaron sudah berangkat ke hotel karena pada pukul sembilan pagi akan dilakukan ijab qobul dan langsung dilanjutkan resepsi pernikahan.
Itu karena memang ingin acara segera selesai dan tidak menunggu hingga malam hari. Berharap malam hari bisa beristirahat dan tidak terlalu capek karena menerima banyak tamu.
Aaron baru saja keluar dari mobil setelah diantar oleh sang supir. Ia yang tadi baru menelpon Jasmine untuk menghilangkan kegugupan karena beberapa jam lagi akan mengucapkan kalimat ijab qobul.
Berharap calon istri memberikan sebuah semangat untuknya agar tidak terus menerus gugup saat melakukan ijab qobul nanti. Saat ini, Aaron berjalan menuju ke arah lobi hotel dan langsung ke kamar yang telah khusus di booking.
Meskipun bukan kamar pengantin karena hanya dipakai sebagai tempat persinggahan sementara untuknya sebelum bertemu dengan calon istri.
Beberapa saat kemudian, ia masuk ke dalam ruangan kamar dan sangat terkejut ketika melihat Anindya berada di sana bersama beberapa orang dari WO yang menyiapkan beberapa pakaian untuk acara ijab qobul serta resepsi.
"Kenapa kamu di sini, Anindya? Aku pikir kamu tadi masih tidur." Aaron yang baru masuk ke dalam ruangan kamar, masih melihat dua wanita itu membuka koper berisi pakaian serta alat untuk merias.
Sementara itu, Zea yang memang sudah bangun lebih awal karena semalam sudah disuruh oleh ibu dari pria itu agar menemani perias di dalam kamar.
Tentu saja agar tidak membiarkan calon pengantin pria berduaan dengan perias di dalam kamar hotel, jadi menyuruhnya untuk menjadi pelindung dari fitnah maupun hal-hal yang dilarang agama.
Ia pun kini berbisik di dekat daun telinga pria itu setelah berjalan mendekat. "Nyonya Jennifer khawatir perias itu berbuat macam-macam pada Anda, Tuan Aaron. Jadi, saya di sini adalah pelindung Anda agar tidak diperkosa oleh wanita lain."
Zea sebenarnya merasa sangat konyol saat mengatakan hal sinopsis dikatakan oleh wanita paruh baya yang merupakan ibu dari pria di hadapannya tersebut. Namun, ingin pria itu tidak salah paham padanya karena seperti menjadi seorang mata-mata karena mengikuti di dalam kamar.
"Jadi, saya disuruh nyonya untuk menemani Anda tadi. Bahkan sebenarnya dari semalam saya sudah tidur di sini atas perintah dari Nyonya." Zea menunjuk ke arah tas miliknya yang berisi pakaian untuk acara pernikahan nanti.
Sementara itu, Aaron menggelengkan kepala begitu mengetahui pemikiran dari sang ibu yang dianggap sangat konyol.
Namun, karena suasana hatinya hari ini sangat senang ketika bahagia akan berubah status menjadi seorang suami dari wanita yang sangat dicintai, tidak mengungkapkan nada protes pada Anindya yang tidak bersalah karena hanya mematuhi perintah dari sang ibu.
"Baiklah. Lakukan apapun sesuai dengan perintah mama. Meskipun itu sangatlah tidak mungkin aku membiarkan diriku ternoda di hari pernikahan," lirih Aaron yang membalas bisikan dari Anindya.
Nasib baik mereka yang akan meriasnya berada di dalam kamar mandi dan tidak mendengar pembicaraan mereka. Ia tadi sudah mandi dari rumah dan sekarang hanya perlu dirias saja.
Zea terkekeh geli mendengar kalimat terakhir yang baru saja diungkapkan oleh calon pengantin pria yang sebenarnya melihatnya patah hati hari ini.
Ia dari semalam bahkan tidak bisa tidur di kamar ganti itu seorang diri karena selalu mengingat jika hari ini pria yang dicintai akan melepas status lajang. Sebenarnya ia ingin menangis karena cintanya akan karam dalam beberapa jam ke depan, tapi tidak ingin ketahuan oleh pria di hadapannya tersebut.
Apalagi jika wajahnya sembab dan mata memerah saat hari pernikahan, pasti akan membuat banyak orang curiga padanya, khususnya pengantin pria tersebut.
Zea berakting menjadi orang lain yang merasa bahagia dengan pernikahan hari ini. Ia kini mengulurkan tangannya itu menunggu hingga pria itu membalasnya.
"Apa?" Aaron memicingkan mata melihat Anindya menggantung tangannya dan akhirnya ia membalasnya.
"Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untuk Anda." Zea benar-benar berakting secara totalitas ketika tersenyum begitu pria yang selama ini disukainya disebut menjabat tangannya.
"Selamat menempuh hidup baru bersama dengan nona Jasmine. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah dan selalu bahagia hingga kakek nenek serta segera dikarunia momongan." Zea tahu jika ucapannya sangat klise dan selalu dikatakan oleh orang-orang pada pengantin.
Namun, tidak tahu ucapan apa lagi yang cocok selain itu. Jadi, memilih untuk mengatakan hal yang umum dikatakan oleh mayoritas orang ketika mengucapkan selamat pada pengantin pria maupun wanita.
Aaron yang saat ini tersenyum simpul mendapatkan ucapan pertama dari Anindya. Ia merasa gemas ketika gadis kecil itu seolah bersikap dewasa di depannya, di matanya tetaplah gadis kecil.
"Aamiin. Rasanya sangat aneh mendengarmu berbicara seperti seorang wanita dewasa, tapi aku sangat menghargainya. Terima kasih doa tulusnya, Bocil." Kemudian Aaron mengacak rambut hitam berkilat Anindya sambil tersenyum salah melihat gadis di hadapannya tersebut mengerucutkan bibir.
Zea saat ini merapikan rambutnya yang kacau karena perbuatan Aaron. Ia sebenarnya juga akan dirias saat acara pernikahan, tapi tidak ingin terlalu menor agar terlihat natural.
Jadi, setelah Aaron selesai dirias, dirimu yang akan dirias tipis-tipis agar tidak terlihat pucat. Sementara untuk pihak keluarga sudah dirias di rumah keluarga Jonathan.
Sementara mempelai pengantin wanita ada di ruangan presidential suite room yang ada di lantai 10, sedangkan ia dan pengantin pria ada di lantai 5. Sengaja terpisah karena Aaron memang tidak boleh bertemu dengan pengantin wanita sebelum acara ijab kabul dimulai.
"Silakan duduk, Tuan Aaron. Saya akan merias Anda," ucap wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci tangan sebelum merias pengantin pria.
Aaron kini jalan ke arah coklat dan membiarkan wanita itu segera menyelesaikan tugasnya.
Sementara Anindya saat ini merasa sangat senang sekaligus bersedih karena bisa melihat pemandangan pengantin pria yang dirias sebelum acara ijab qobul.
Ia saat ini duduk di atas ranjang sambil tidak berkedip mata ke arah Aaron yang dirias. 'Tuan Aaron, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk membuang rasa cintaku setelah Anda menjadi suami sah nona Jasmine hari ini.'
'Jadi, aku akan memuaskan diriku untuk melihat Anda terakhir kali dengan penuh rasa cinta.' Zea hanya bisa terkeluh kesah di dalam hati sambil tidak berkedip menatap ke arah sosok pria yang terlihat memejamkan mata ketika dirias.
Hingga ia merasa terganggu dengan suara dari ponsel miliknya yang ada di saku bawahannya. Saat melihat siapa yang menghubungi, mengembuskan napas kasar begitu mengetahui jika Erick yang menelpon.
'Astaga! Dia selalu saja merusak suasana, baik di kampus maupun di rumah.' Zea terpaksa menggeser tombol hijau ke atas karena tidak ingin suara dering ponselnya mengganggu.
Setelah mengucapkan salam, Zea berbicara sinis dan ketus agar pria di seberang telepon menyadari jika ia tidak suka diganggu.
"Ada apa?"
"Ketus sekali, Ayang. Aku sengaja menelponmu pagi-pagi untuk bertanya apakah kamu sudah berada di hotel yang akan menjadi lokasi pernikahan Aaron? Kebetulan hari ini aku ada acara di hotel itu dan ingin menemui sebelum acara dimulai," ucap Erick yang hari ini mendapatkan sebuah undangan untuk mewakili kampus.
Sementara itu, Zea yang sudah dari dulu marah pada Erick saat menyebutnya ayang, sehingga kembali mengumpat dengan kesan.
"Apa kau tidak bisa merubah tampilan mengembalikan itu saat tidak ada para anak kampus? Aku benar-benar geli mendengarmu memanggilku seperti itu. Ya, aku sudah berada di kamar hotel bersama dengan tuan Aaron yang dirias."
Zea yang tadi berbicara di telpon sambil masih menatap ke arah Aaron, melihatnya itu seketika membuka mata dan bersitatap dengannya.
Zea bisa melihat raut wajah kesal ketika Aaron mengetahui bahwa ia sedang berbicara dengan Erick yang tidak pernah disukai pria itu. Namun, karena tidak ingin membuat suasana hati pengantin pria buruk, sehingga memilih berjalan keluar dari ruangan kamar.
Tentu saja untuk sekuat hati mengumpat pria di seberang telepon sama yang ternyata berada di hotel yang sama dengannya. Ia tadi memberikan kode pada Aaron bahwa ia akan keluar sebentar.
Itu karena tidak ingin Erick menuju ke sana dan kemungkinan bisa berakhir bertengkar dengan Aaron, sehingga memilih untuk menemui pria itu saja.
"Buat apa kamu ingin menemui Erick?" tanya Aaron yang ingin tahu alasan Anindya pergi.
"Ada acara kampus yang diadakan di hotel ini, Tuan Aaron. Jadi, Erick ingin bertemu denganku karena sudah berbicara dengan beberapa teman-temannya akan menemuiku terlebih dahulu." Kemudian tanpa menunggu tanggapan dari Aaron, ia berlalu pergi.
Namun, saat membuka pintu, mendengar suara bariton dari pria yang menyadarkannya akan tugasnya hari ini.
"Bukankah kamu mendapatkan tugas dari mama? Apa kamu lupa?" teriak Aaron yang merasa harus menghentikan Anindya untuk pergi agar tidak meninggalkannya menemui Erick begitu mengingat tugas yang diberikan oleh sang mama.
Anindya yang tadinya hendak melangkah keluar dari kamar hotel, menepuk jidat begitu menyadari kesalahan. Akhirnya ia memilih untuk menghubungkannya pergi dari sana dan tetap menemani pengantin pria yang tengah dirias itu.
"Aku tidak bisa pergi ke sana untuk menemuimu, Erick."
"Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk menemuiku karena akulah yang akan ke sana. Aku tadi sudah bertanya pada resepsionis dan saat ini berada di dalam lift menuju ke sana. Aku ingin menyerahkan sesuatu padamu," ucap Erick dengan tersenyum simpul begitu pintu kotak besi di hadapannya terbuka dan ia melangkahkan kakinya untuk mencari ruangan yang dihuni oleh pengantin pria.
Di sisi lain, Zea yang saat ini masih berada di dekat pintu, mengerutkan kening dan menunggu hingga mendengar suara Erick dari luar.
Hingga beberapa saat kemudian mendengar pintu yang diketuk dari luar dan sudah menduga jika itu adalah Erick.
Zea pun tidak ingin membuka waktu dan langsung membuka pintu di hadapanmu. Seperti dugaannya, kini ia melihat dari sudah berpenampilan rapi menggunakan setelan jas berwarna hitam.
Bahkan saat ini ia akui jika pria yang merupakan seniornya di kampus tersebut terlihat sangat tampan. "Rasanya sangat aneh melihatmu berpenampilan tadi seperti ini."
Sementara itu, Erick hanya tertawa melihat ekspresi wajah menggemaskan yang selalu terlihat dari Anindya. "Kenapa tidak mengakui saja jika aku terlihat sangat tampan?"
Kemudian Erick meraih sesuatu dari saku jasnya dan memberikan sebuah kotak kecil. "Pakai ini nanti saat menghadiri pernikahan Aaron karena aku akan datang bersama beberapa teman setelah acara kampus usai. Biar kita terlihat serasi."
Anindya yang saat ini mengerutkan kening ketika melihat kotak kecil berwarna biru di tangan dengan buku-buku kuat itu. "Itu apa?"
"Bukalah!" seru Erick yang saat ini hanya tersenyum dan tidak ingin mengatakan apa yang dibawanya.
Karena merasa penasaran dan jika Erick berlebihan, tidak akan menerimanya. Kini, ia membuka kotak kecil tersebut dan melihat ada terus dengan inisial E, sehingga membuatnya merasa aneh.
"Ini?" Zea tidak melanjutkan perkataannya begitu mendengar suara bariton dari pria yang menuju ke arah jas dengan dengan inisial 'A'.
"Aku juga memakainya dan ini merupakan inisial namamu, jadi kamu harus memakainya nanti saat acara pernikahan, oke!" Kemudian Erick selalu pergi meninggalkan Anindya sebelum gadis itu mengungkapkan nada protes atau menolak perintahnya.
Bahkan ia hanya melambaikan tangan ketika mendengar suara panggilan dari Anindya yang berteriak memanggil namanya.
'Kamu tidak akan bisa menolak apa yang kuperintahkan, ayang,' rumah Erick yang saat ini sudah masuk ke dalam lift.
Sementara di depan pintu, Anindya masih menatap ke arah kotak berisi bros dengan inisial nama Erick tersebut. Selalu tidak bisa berkutik atas perintah dari pria yang sudah menghilang di balik pintu lift, kini ia kembali berjalan masuk ke dalam ruangan kamar.
Hingga begitu berada di dalam kamar, mendengar suara bariton dari Aaron yang seolah mengungkapkan rasa ingin tahu.
"Apa yang dilakukan Erick di sini?" Aaron sebenarnya tadi ingin keluar untuk melihat apa yang dilakukan Erick, tapi tidak jadi melakukannya karena khawatir riasannya tidak kunjung selesai.
Kini, Zea menunjukkan kotak kecil yang berada di tangannya. "Erick kita hanya ingin memberikan sebuah bros, Tuan Aaron. Tidak penting."
Zea tidak menyebutkan jika Bros tersebut adalah inisial nama Erick karena tidak ingin melihat ekspresi marah dari wajah Aaron. Ia merasa lega ketika pria itu tidak lagi bertanya setelahmenjelaskan.
Hingga beberapa saat kemudian, wanita yang merupakan perias dari salah satu yang MUA itu telah menyelesaikan tugasnya.
"Sudah selesai, Tuan. Anda bisa mengganti pakaian dengan setelan yang akan digunakan untuk ijab qobul hari ini," ucap wanita hanya saat ini beralih membawa kotak rias mendekati sosok wanita di atas ranjang.
"Sekarang giliran Anda, Nona."
Zea hanya menganggukkan kepala dan membiarkan wanita itu merias tipis wajahnya. 'Aku sudah tidak sabar melihat tuan Aaron memakai pakaian adat untuk acara ijab qobul.'
Aaron kini berjalan menuju ke ruang ganti dengan membawa pakaian yang sudah disiapkan. Hingga ia pun tidak membuang waktu dan memakai pakaian untuk ijab qobul yang akan dilakukan setengah jam lagi.
Sementara di luar ruang ganti, Zea yang saat ini masih dirias, mendengar suara dering ponsel yang berada di atas meja. Ponsel itu adalah milik Aaron dan saat ia ingin membiarkan karena tidak berani mengangkatnya, mendengar suara teriakan dari ruang ganti.
"Angkat telponnya, Anindya! Aku masih berganti pakaian!" teriak Aaron dari dalam ruang ganti.
"Baik, Tuan!" Anindya berteriak sambil memberikan kode pada wanita yang meriasnya agar menghentikan sejenak dan bangkit berdiri dari posisinya, lalu menggeser tombol hijau ke atas begitu melihat kontak ibu mertua.
Ia bahkan belum membuka suara, tapi sudah mendengar suara dari wanita di seberang telepon yang terdengar sangat panik dan membuatnya membulatkan mata.
To be continued...