
Di sisi lain, Aaron yang tadinya berniat untuk membuka mulut menanggapi dan mengungkapkan ada protes agar sang ibu tidak mengacaukan usahanya untuk mengambil hati Anindya, gagal melakukannya setelah mendengar sambungan telepon terputus.
"Mama ... mama, tidak pernah berubah karena selalu saja berbuat sesuka hati. Jika nanti mama malah mengacaukan rencanaku, aku akan gagal menikahi Anindya bagaimana." Kembali ia memijat pelipis dan saat ini merasa jika sang ibu tidak akan bisa dihentikan ketika menginginkan sesuatu.
Setelah berbicara dengan sang ibu dan mendapatkan informasi mengenai kesukaan Anindya, Aaron saat ini berjalan masuk ke dalam dan mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.
Ia kini sudah berbaring di atas ranjang dan melihat lihat aplikasi makanan pesan antar karena merasa sangat lapar dan sekalian mencari tahu tentang toko donat paling enak di kota Surabaya.
Aaron saat ini fokus menatap ke arah ponsel miliknya sambil scroll makanan khas Surabaya yang ingin dicoba. Hingga ia yang merasa sangat penasaran dengan sesuatu yang baru saja dilihatnya, seketika membuatnya menelan air liur karena sangat lapar dan membayangkan makanan itu pasti sangat enak.
"Ini pasti sangat enak," ucap Aaron yang tidak jadi memesan karena makanan jenis itu lebih enak dimakan di tempat. "Harus panas-panas menikmatinya."
Rawon adalah salah satu makanan populer yang bisa Anda jumpai hampir di seluruh kota di Indonesia. Meskipun makanan khas Surabaya yang satu ini mudah ditemui, Anda tetap tidak boleh melewatkan nikmatnya rawon surabaya!
"Ini adalah makanan khas yang jarang ditemui. Apalagi Rawon Surabaya punya ciri khas yang membedakannya dengan rawon jenis lainnya dan terkenal akan kuahnya yang berwarna hitam pekat dengan irisan daging yang empuk."
Aaron saat ini membaca tentang makanan yang didominasi dengan warna hitam yang ada pada rawon berasal dari bumbu atau rempah yang digunakan, seperti biji keluak, jahe, bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan cabai.
"Lebih baik aku langsung ke tempat ini saja daripada diam di hotel karena akan sangat bosan," ucap Aaron yang memilih untuk bangkit dari ranjang king size.
Saat ia berjalan menyusuri lorong hotel menuju ke arah lift, memikirkan sesuatu hal dan membuatnya berbicara lirih. "Aku pun harus menemui kakek Anindya. Meskipun kakeknya saat ini koma, aku harus meminta restunya agar bisa menikahi Anindya."
Aaron berencana untuk pergi ke rumah sakit setelah makan makanan khas dari kota Surabaya, yaitu Rawon Surabaya. Ia yang saat ini sudah berada di dalam pintu kotak besi tersebut, kini mendengar suara dering ponsel miliknya.
Hingga ia pun kini merasa sangat senang begitu melihat yang menghubungi adalah cleaning service yang tadi disuruh untuk mencari informasi tentang tempat tinggal Anindya.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.
"Halo, Tuan Aaron. Saya baru saja mendapatkan alamat lengkap dari rumah presdir. Anda akan merahasiakan hal ini agar saya tidak dipecat dari perusahaan, kan?" seru pria yang berbicara dengan sangat lirih ketika berada di salah satu warung makan.
Ia tadi sengaja menjauh dari rekan lain dengan makan di tempat berbeda dan tidak ada orang yang sama bekerja di perusahaan Kusuma. Namun, tetap berbicara lirih agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraannya di telepon.
"Tentu saja. Aku tidak mungkin membuka rahasia ini dan tenang saja karena jika kamu dipecat dari perusahaan, bisa bekerja di perusahaanku yang ada di Jakarta. Tapi aku menjamin jika rahasia Ini aman dan kamu tidak akan dipecat gara-gara memberikan informasi padaku," ucap Aaron yang saat ini tidak sabar menunggu hal yang ingin diketahui.
Kini, embusan napas lega terdengar sangat jelas dan membuat pria tersebut langsung mengatakan alamat yang diketahui dari salah satu temannya yang sudah bekerja lama di perusahaan.
"Jika kamu memiliki rekening, kirimkan nomornya agar lebih mudah dan tidak perlu bersusah payah untuk menemuiku. Aku akan langsung mentransfer uang untukmu." Aaron bahkan saat ini sudah membaca alamat dan langsung mengetik pada pencarian.
Hingga ia berniat untuk terlebih dahulu memeriksa dan melihat tempat tinggal Anindya sebelum makan. 'Aku ingin tahu seperti apa tempat tinggalnya dia setelah dibawa kakeknya ke kota ini.'
"Baik, Tuan. Saya memang mempunyai nomor rekening dan akan langsung mengirimkan pada Anda. Sekali lagi terima kasih," ucapnya yang langsung mematikan sambungan telepon setelah mendengar suara dari pria di seberang telepon.
Hingga beberapa saat kemudian Aaron sudah memesan taksi untuk mengantarkannya ke alamat yang menjadi tempat tinggal Anindya. Ia sengaja menahan rasa lapar karena ingin terlebih dahulu pergi ke rumah gadis itu.
"Entah apa yang membuatku ingin segera datang ke tempat tinggal Anindya. Padahal jelas-jelas aku sudah tahu jika Anindya tidak ada di rumah sekarang karena sibuk bekerja dan nanti ke rumah sakit untuk menjenguk sang kakek." Meskipun merasa sangat aneh dengan apa yang dirasakan, tetap saja ia ingin pergi ke sana.
Beberapa saat kemudian, taksi yang dipesan Aaron telah tiba di lobi perusahaan dan langsung masuk ke dalam dengan duduk di sebelah sopir karena ingin sekalian bertanya tentang salah satu kota besar di Jawa Timur tersebut.
Ada banyak hal yang ditanyakannya karena berpikir harus mengetahui informasi mengenai kota itu untuk bisa mengimbangi Anindya jika suatu saat nanti dimaafkan dan diterima lamarannya.
Hingga setengah jam kemudian, ia pun mendengar suara bariton dari sang supir yang menatap ke arahnya. "Ini rumahnya, Tuan. Berhenti di depan rumah atau agak jauh?"
Aaron yang saat ini bisa melihat rumah megah istana dengan lantai 5 yang jauh lebih besar dari rumah keluarganya, membuatnya mengerjapkan mata dan serasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Berhenti di sini saja." Aaron menyuruh menepikan kendaraan di sebelah kanan rumah megah itu. "Wah ... ternyata benar jika kakek Anindya merupakan salah satu konglomerat di kota ini." Saat ia baru saja menutup mulut, samar-samar mendengar suara dari dalam.
Ia seperti mendengar suara tangisan bayi dari dalam dan dan menatap ke arah sang sopir. "Apa Anda mendengar suara tangisan bayi? Atau hanya telingaku saja yang error?"
Sang supir yang kini memasang telinga lebar-lebar untuk memastikan agar tidak salah menjawab pertanyaan dari penumpang, beberapa saat kemudian menganggukkan kepala untuk membenarkan.
"Iya, Tuan. Sepertinya di dalam ada bayi yang sedang menangis," ucap sang supir yang saat ini menoleh ke arah lihat di sebelahnya.
"Bayi?" Aaron saat ini terdiam karena tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya ragu sekaligus bingung.
'Siapa bayi itu? Bukankah rumah ini hanya dihuni oleh Anindya dan para pelayan karena merupakan cucu tunggal? Apalagi sang kakek saat ini berada di rumah sakit dan orang tua Anindya juga sudah meninggal dua-duanya,' gumam Aaron yang saat ini merasa ada banyak pertanyaan di pikirannya.
To be continued...