
Satu minggu kemudian...
Semenjak Aaron makin galau karena ditinggalkan oleh Jasmine dan juga selalu terngiang-ngiang perkataan Anindya, ia lebih sering menghabiskan waktu di Club malam dan minum-minuman beralkohol.
Meski minuman yang dibeli bukan sembarangan karena memiliki harga yang tidak murah dan menguras kantong, Aaron bahkan sama sekali tidak memperdulikan itu.
Ia bahkan tidak memperdulikan nasihat dari sang ayah dan ibunya yang setiap hari melarang agar tidak mabuk-mabukan hanya gara-gara masalah Jasmine.
Namun, sejujurnya bukan hanya tentang wanita itu yang membuatnya frustasi, tapi juga sosok gadis yang dengan sangat percaya diri mengganggu otaknya, yaitu Anindya.
Seperti hari ini, Aaron saat ini berada di salah satu Club malam. Hari ini ada salah satu temannya yang ulang tahun dan mengundangnya. Tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali meneguk minuman keras untuk menghilangkan beban berat pikiran walau hanya sejenak.
Kini, ia sudah menghabiskan satu botol minuman dan mendengar suara bariton dari beberapa sahabatnya yang seolah ingin menghiburnya.
"Aaron, lupakan wanita itu. Di dunia ini masih banyak wanita yang bisa kamu jadikan istri. Jadi, jangan selalu menyiksa diri dengan melampiaskan pada minuman beralkohol." Pria dengan rambut cepak yang kini duduk di sebelah Aaron, menepuk bahu kokoh sahabat baiknya tersebut.
Sementara itu, beberapa yang lain juga ikut-ikutan menyahut dengan memberikan semangat untuk Aaron agar kembali seperti dulu, tidak suka menyentuh minuman keras.
Berbeda dengan Aaron yang saat ini hanya tertawa kecil karena merasa jika semua orang tidak tahu perasaannya yang sebenarnya. Ia kini menatap ke arah botol kaca kosong di hadapannya.
"Kalian tahu apa, haah! Kalian semua tidak tahu apapun yang saat ini kurasakan! Hanya minuman ini yang bisa menenangkan aku," sarkas Aaron yang kini kembali menuangkan wiski ke dalam gelas berisi potongan es batu.
Sementara itu, beberapa teman yang lain kini saling bersitatap karena sama-sama bingung apa yang harus dilakukan pada sahabatnya yang terlihat sudah mabuk. Hingga salah satu menyahut karena tidak ingin terlibat masalah jika sampai orang tua Aaron marah pada mereka.
"Sebaiknya antar Aaron pulang sekarang sebelum dia mabuk berat. Bisa dihajar kita nanti sama papanya," sahut Rendi yang hari ini berulang tahun dan tidak menyangka malah Aaron dari tadi asyik minum.
Hingga salah satu dari mereka bangkit berdiri karena memang paling takut pada ayah Aaron yang sangat tegas. "Biar aku saja yang mengantarnya pulang," sahut Beny yang kini langsung menghampiri sahabatnya yang baru saja meneguk satu gelas minuman beralkohol hingga habis.
"Ya, kamu saja karena selama ini om Jonathan paling menyukaimu," sahut pria dengan kemeja berwarna hitam di sudut sebelah kiri.
Tanpa membuang waktu, Beny kini langsung mengajak Aaron pulang dengan membantu berdiri. "Bro, ayo pulang. Papamu baru menelponku dan menyuruh untuk mengantarmu pulang."
"Benarkah? Kenapa tidak menelponku langsung? Aneh sekali. Aku telpon papa saja." Aaron berniat untuk mengambil ponsel di saku celana, tapi tangannya ditahan oleh sahabatnya.
"Tidak perlu karena sekarang kamu sudah ditunggu di rumah oleh orang tuamu. Lebih baik kita cepat pulang karena ini juga sudah larut malam." Beny sengaja melarang karena takut ketahuan menipu sahabatnya.
"Baiklah kalau begitu. Teman-teman, aku pulang dulu karena papaku menyuruhku pulang!" Aaron melambaikan tangan pada beberapa sahabat yang juga membalas ucapan perpisahannya.
"Oke, Brother," teriak beberapa pria yang ada di private room tersebut dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang parah hati hingga melampiaskan pada minuman beralkohol.
Sementara itu, Beny kini sudah membawa kunci mobil milik Aaron setelah tadi memintanya dan langsung mengantarkan ke rumah sahabatnya tersebut.
Hingga setengah jam kemudian, ia sudah tiba di rumah megah milik keluarga besar Aaron dan disambut oleh security yang tadi membukakan pintu gerbang. "Tolong bantu Aaron masuk karena takutnya dia tiba-tiba pingsan."
Saat security hendak mengiyakan dan membantu, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara bariton dari sang majikan yang mengibaskan tangannya.
"Aku bisa sendiri!" Tanpa memperdulikan apapun, Aaron kini berjalan menuju ke arah pintu utama dengan sempoyongan.
Hingga begitu hendak menaiki anak tangga, mendengar suara gadis yang membuatnya merasa tersiksa akhir-akhir ini.
"Tuan Aaron, Anda mabuk-mabukan lagi?" Zea yang tadi merasa haus dan mengambil air di dapur karena di kamar habis, saat hendak kembali, melihat sosok pria yang akhir-akhir ini bersikap buruk padanya.
Ia langsung bergerak cepat untuk membantu karena khawatir pria itu malah jatuh tergelincir di anak tangga karena efek mabuk.
Aaron yang saat ini hanya diam membiarkan Anindya membantunya saat berjalan menuju ke lantai dua. Meskipun saat ini pikirannya kembali mengingat tentang perkataan gadis itu di hotel.
'Apa bocil ini benar-benar tidak takut jika aku benar-benar memperkosanya?' gumam Aaron yang kini merasa kepalanya sangat pusing dan begitu tiba di dalam kamar, tanpa sengaja ia yang melihat ranjang miliknya, langsung menjatuhkan tubuhnya dan menarik gadis itu.
Hingga ia jatuh di atas tubuh Anindya. Namun, wajah Jasmine kini terlihat di matanya dan membuatnya langsung mengumpat. "Jasmine, kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku padamu, hah?"
Aaron yang merasa sangat marah karena melihat bayangan Jasmine, kini langsung bergerak mengincar bibir sensual yang seolah melambai untuk disesap ketika hendak menjelaskan sesuatu.
Bahkan sempat mendengar sekilas jika suara lirih itu bukan dari Jasmine, tapi Anindya yang mengatakan bahwa ia salah sangka. Hingga ia pun tersadar jika sosok wanita yang berada dalam kuasanya tersebut adalah Anindya, bukan Jasmine.
'Anindya, ini semua salahmu. Kamu yang memancingku melakukan ini. Aku akan menuruti keinginanmu sekarang,' gumam Aaron yang dengan sadar merenggut kesucian gadis yang bahkan sama sekali tidak berteriak karena perbuatannya.
To be continued...