
Sang supir yang tadinya fokus mengemudi, benar-benar sangat terkejut begitu majikan menyuruh untuk tiba-tiba berhenti. Nasib baik saat ini posisi mereka sudah berada di area yang tidak terlalu ramai dan bisa menghentikan kendaraan di pinggir jalan.
Hal serupa juga dirasakan oleh Candra Kusuma yang merasa sangat terkejut ketika tiba-tiba cucunya menyuruh untuk berhenti dan ia langsung beranjak turun karena sangat mengkhawatirkan keadaan gadis yang tengah berjongkok sambil muntah-muntah.
Refleks ia memijat tengkuk belakang cucunya sambil sedikit membungkuk. "Cucuku, apa yang terjadi? Kamu tidak enak badan? Kita pernah di rumah sakit untuk memeriksa keadaanmu agar di cek oleh dokter."
Ia benar-benar sangat khawatir pada cucunya yang saat ini terlihat sangat pucat setelah muntah-muntah. Bahkan kini mendengar suara dari sang sopir yang mengulurkan botol air minum milik cucunya karena ke mana-mana selalu membawanya.
"Ini, Tuan." Sang supir berinisiatif mengambil botol milik sang nona muda agar berkumur untuk membersihkan sisa muntah-muntah.
"Terima kasih." Candra Kusuma kini berjongkok di sebelah cucunya cara mengulurkan botol air minum di tangannya. "Minum, Cucuku."
Sementara itu, Zea yang saat ini merasa sangat lemas setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya sampai tenggorokan terasa pahit, seketika menerima botol air minum dan berkumur untuk membersihkan mulutnya.
Kemudian langsung meneguk air minum untuk menghilangkan rasa pahit di tenggorokan akibat muntah-muntah. Hingga ia yang tidak ingin membuat sang kakek merasa jijik melihat dengan muntahannya karena ikut berjongkok di sebelahnya, seketika bangkit berdiri setelah menyiramnya dengan air.
"Aku tidak apa-apa, Kek. Ini hanya masuk angin karena tadi makan sedikit saat sarapan. Mungkin karena itu, aku jadi masuk angin. Apalagi terkena dinginnya AC di rumah sakit. Jadi makin memperparah." Ia yang merasa pusing, kini memijat pelipis.
Ia benar-benar merasa sangat pusing ketika berdiri dan menatap sang kakek yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. "Ayo, kembali ke dalam mobil dan kita pulang ke rumah, Kek."
Karena melihat wajah pucat cucunya, Candra Kusuma sama sekali tidak sependapat. Ia kini menatap ke arah sang supir yang masih berdiri di belakang mobil.
"Kita kembali ke Rumah Sakit sekarang." Kemudian beralih menatap ke arah cucunya. "Kakek tidak ingin kamu menganggap sepele penyakit dan berakhir sama denganku. Jadi, saat masih mendapatkan sebuah gejala, harus segera diperiksakan agar mengetahui apa yang diderita."
Ia saat ini melihat sang supir buru-buru membuka pintu mobil untuk cucunya setelah mengiyakan perintahnya. "Masuklah. Kita ke Rumah Sakit sekarang."
Karena mengetahui seperti apa sifat dari sang kakek yang jika mengeluarkan perintah dengan tegas tidak akan bisa dibantah, sehingga kini memilih pasrah karena berpikir tidak ada pilihan lain. Ia pun kini masuk ke dalam mobil dan bersandar karena merasa kepalanya berat.
Sementara itu, Candra Kusuma yang merasa ada yang tidak beres pada cucunya, kini mengingat sesuatu hal, yaitu putrinya yang dulu. Ia duduk di sebelah cucunya dan melihat jika wajahnya makin pucat.
Namun, tidak bertanya karena hanya sibuk pada pikirannya sendiri saat mengingat masa lalu. 'Tidak mungkin.'
Ia mencoba untuk tidak membenarkan pikirannya saat ini yang mengingat kejadian sama dialami oleh putrinya dulu saat hamil dengan pria yang merupakan teman kuliah putrinya.
Memang pria yang dicintai putrinya itu bisa masuk ke kampus bergengsi karena mendapatkan beasiswa atas prestasinya semasa SMA. Hal itulah yang membuat cucunya memiliki gen dari sang ayah yang jenius.
'Tidak mungkin cucuku hamil seperti putriku. Muntah-muntah tanpa sebab selalu mengingatkan aku pada kejadian masa lalu yang membuatku murka dan berakhir mengusir putriku. Jika benar, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi dengan menyalahkan cucuku. Mungkin ini adalah takdir dan cucuku harus menjalaninya.'
Zea yang dari tadi bersandar pada jok mobil, merasa aneh dengan keheningan yang tercipta di dalam ruangan yang ada dalam kendaraan mewah yang melaju menuju ke Rumah Sakit. Kini, ia menoleh ke arah sang kakek yang seperti melamun memikirkan sesuatu.
Refleks ia menggerakkan lengan sang kakek yang seperti terkejut dengan perbuatannya. "Kakek! Apa yang kakek pikirkan? Aku benar-benar tidak apa-apa dan hanya masuk angin. Jadi, jangan berpikiran negatif dan berpikir aku memiliki penyakit kronis seperti Kakek."
Zea saat ini mencoba untuk tersenyum simpul agar sang kakek tidak khawatir padanya. Bahkan berusaha untuk menyembunyikan rasa pusing di kepalanya dengan mengulas senyuman semanis mungkin.
Sementara itu, Candra Kusuma yang seperti merasakan Dejavu, masih belum bisa tenang sebelum dokter memeriksa cucunya dan memastikan apakah kekhawatirannya benar atau salah. Namun, ia berarti untuk tersenyum pada cucunya dengan tujuan untuk menghibur gadis kecil itu.
"Iya, Kakek tahu itu. Mungkin kamu hanya masuk angin seperti katamu, tapi sebelum dokter yang mengatakan pada Kakek, tetap tidak bisa tenang. Apapun hasilnya nanti, Kakek akan selalu di sisimu, Sayang." Ia mengusap punggung tangan dengan jemari lentik itu untuk memberikan suntikan semangat agar sang cucu tidak merasa syok nanti.
Melihat sikap polos dari sang cucu yang seperti tidak mengetahui keadaannya saat ini karena berpikir hanya masuk angin biasa, ia berusaha untuk memberikan semangat agar Zea tidak takut.
Zea sebenarnya merasa sangat aneh dengan perkataan dari sang kakek, tapi karena rasa pusing yang semakin menjadi di kepalanya dan perutnya masih terasa seperti diaduk-aduk, sehingga hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
Ia tidak ingin lagi membuka mulut karena khawatir akan kembali muntah dan mengotori mobil mahal itu.
'Sebenarnya ada apa dengan perutku? Apa aku salah makan? Sampai terasa mual begini? Perasaan tadi hanya makan nasi goreng udang. Tidak ada yang salah dengan menunya. Atau bumbu untuk menggoreng nasi sudah kadaluarsa? Lebih baik aku nanti bertanya pada pelayan yang ada di rumah.'
Zea kini beralih menatap ke arah sebelah kanan dan melihat beberapa kendaraan yang melintas memenuhi badan jalan raya. Ia ingin mengalihkan pikiran yang seperti dipenuhi oleh kekhawatiran akan muntah lagi.
Setelah 15 menit kemudian, kini kendaraan mewah berwarna hitam itu sudah berbelok ke arah Rumah Sakit terbesar di Surabaya.
Kini, Candra Kusuma langsung menyuruh pada sang sopir untuk ke unit gawat darurat dan meminta perawat untuk membawakan kursi roda karena tidak ingin cucunya pingsan saat berjalan.
"Kakek tidak perlu berlebihan karena aku bisa berjalan," ucap Zea yang saat ini merasa sikap sang kakek seperti sangat over protektif padanya.
Berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Candra Kusuma karena dulu melihat putrinya tiba-tiba pingsan ketika berada di rumah. Jadi, merasa khawatir cucunya akan mengalami hal yang sama.
"Sudah, menurut saja pada Kakek." Kemudian berjalan keluar begitu tiba di depan ruangan IGD.
Zea yang merasa sikap sang kakek sangat aneh hari ini karena terlalu berlebihan memperlakukannya, terpaksa menurut saja karena tidak ingin membuat pria paruh baya tersebut kesal dan marah.
To be continued...