Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Momen yang pernah dilewati



Saat ini, Khaysila bisa mendengar suara bariton Erick yang sibuk mengungkapkan nada protes. Bahkan ia merasa jika pria itu sama sekali tidak pernah berubah dari dulu.


Begitu Erick diam setelah memberondong dengan banyak pertanyaan, kini ia yang membuka suara untuk mengetahui jawaban atas apa yang sangat menggangunya.


"Erick, jawab aku dengan jujur. Dari mana kamu mendapatkan nomor ini? Tidak banyak orang tahu nomorku ini dan benar-benar sangat terkejut karena kamu bisa mengetahuinya." Masih menatap ke arah lorong Rumah Sakit.


'Bahkan pria itu tidak mengetahui nomorku, tapi bagaimana bisa Erick dengan mudah langsung mendapatkannya?' gumamnya yang kini memasang indra pendengaran lebar-lebar agar tidak semakin penasaran.


Erick pun mulai menjelaskan tentang semuanya setelah ia mengetahui tentang jati diri Zea. Namun, ia sengaja tidak mengatakan jika hari ini akan menyusul ke Surabaya setelah tadi Aaron telah mengirimkan kode booking tiket pesawat.


Hanya saja, ia harus melaju dari Jakarta ke Bandung karena penerbangan dari sana kata Aaron tadi. 'Aku akan memberikan sebuah kejutan pada Zea dan ingin menyuruhnya sekalian memilih antara aku dan Aaron.'


'Kami harus bersikap dewasa dan tidak seperti anak kecil memperebutkan mainan karena Zea lah yang berhak untuk mengambil keputusan. Apakah Zea akan memilih Aaron atau aku,' gumam Erick yang saat ini sibuk memikirkan tentang berbagai hal mengenai Zea yang telah berganti nama menjadi Khaysila.


Di sisi lain, kini Khaysila yang bisa mengerti setelah mendengar penjelasan panjang lebar jika nomornya didapat setelah meretas ponsel sang kakek. Ia memang sering mendengar akan hal itu, tapi baru kali ini mengetahui secara langsung.


"Ternyata kamu sangat jenius, Erick. Bahkan aku sama sekali tidak menyangka jika otakmu bisa berpikir sejauh itu. Maaf karena tidak pernah memberikan kabar tentangku karena itu adalah perintah dari kakekku. Ia hanya ingin melindungiku dari orang-orang jahat, sehingga menyembunyikan aku."


Kemudian ia menjelaskan tentang perihal kekacauan di Perusahaan gara-gara wakil presiden direktur meminta uang dalam jumlah cukup besar.


Jadi, refleks langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu Erick berbicara.


"Apa ada yang salah, Dokter?" tanya Khaysila tengah menatap ke arah perawat serta dokter.


"Masih belum ada perkembangan, Nona. Anda harus bersabar dan berdoa," sahut sang dokter yang mengatakan hasil dari pemeriksaan barusan.


Kemudian berlalu pergi meninggalkan gadis mungil itu.


Khaysila yang sebenarnya ingin mengungkapkan sesuatu, tidak jadi melakukannya dan bertekad untuk melakukan segala cara demi kesembuhan sang kakek.


Namun, ia sadar tidak bisa melakukannya sendirian karena tidak ada keluarga lain. Ia pun kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah ruangan ICU.


"Kakek tega sekali membiarkan aku sendirian menjalani tugas berat yang bahkan belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku harus mengurus putraku, mengurus perusahaan dan memberikan pengobatan terbaik untuk Kakek."


"Aku tidak akan pernah mengecewakan kakek. Percayalah padaku." Ia kini kembali berkaca-kaca bola matanya saat mengingat semua momen yang pernah dilewatinya dari awal kabur sampai bisa ke titik sekarang ini.


To be continued...