
Beberapa saat lalu, Aaron yang baru saja mengemudikan kendaraan meninggalkan garasi, menatap ke arah Anindya yang menurutnya berpenampilan sangat aneh.
Bahkan ia merasa seperti tidak asing dengan penampilan Anindya hari ini, tapi tetap tidak bisa mengingatnya. Apalagi saat ini pikirannya tengah kacau balau sampai hari ini.
"Apa yang dilakukan Anindya sebenarnya? Kenapa berpenampilan kampungan seperti itu saat akan berangkat ke kampus?" Baru saja ia menutup mulut, melihat sosok pria yang mengendarai motor sport berwarna hitam baru masuk ke dalam halaman.
"Jadi dia menyuruh Erick datang karena aku tidak ingin mengantarnya ke kampus? Pintar sekali dia memanfaatkan Erick karena kesal padaku. Padahal aku sangat yakin jika Anindya sebenarnya suka padaku, tapi sengaja memanfaatkan Erick untuk mencari perhatianku."
Aaron tetap mengemudikan mobilnya keluar dari area rumah tanpa berniat untuk menyapa Anindya dan juga Erick. Bahkan hanya sekilas ia memandang dan mengalihkan perhatian. Saat keluar dari pintu gerbang hitam menjulang tinggi itu, memijat pelipis dengan tangan kiri.
"Sial! Sampai sekarang aku bahkan tidak bisa melupakan pengkhianatan Jasmine sekaligus perkataan Anindya yang dengan polosnya tidak takut aku perkosa. Dua hal yang benar-benar mengganggu pikiranku." Aaron bahkan kini masih ingat bagaimana wajah polos seorang Anindya kala bersamanya di dalam kamar.
"Jika aku tetap berdekatan dengan Anindya, mungkin tidak bisa menahan diri dan bisa-bisa khilaf. Seperti ini jauh lebih baik. Dengan marah-marah padanya, pasti tidak akan membuat Anindya tahan dekat-dekat denganku," ucap Aaron yang kini kembali fokus mengemudi menuju ke perusahaan.
Sementara itu di tempat yang berbeda, yaitu toko helm dan kacamata, terlihat Anindya yang masih memegang pilihannya tengah mendapatkan tatapan tajam dari Erick yang barusan bertanya mengenai tentang perasaannya pada Aaron.
'*Aku tahu Erick adalah seorang pria yang baik dan memiliki perasaan padaku. Apa aku katakan saja yang sebenarnya tentang siapa aku dan juga mengenai perasaanku pada tuan Aaron?'
'Aku sebenarnya bersalah padanya karena memberikan sebuah harapan palsu*,' lirih Zea yang kini mendengar suara bariton dari Erick ketika memikirkan tentang jawaban atas pertanyaan dari pria tersebut.
"Anindya, malah melamun, sih! Apa susahnya jawab yes or no dari pertanyaanku barusan." Erick makin patah hati kala melihat pandangan kosong dari Anindya yang ia sudah bisa menebaknya jika ada perasaan istimewa untuk Aaron, tapi tetap saja berlagak bodoh.
Karena ia tetap ingin secara langsung mendengar dari bibir tipis dengan warna nude tersebut. Meskipun konsekuensinya adalah ia sakit hati, tetap saja ingin mendengar kejujuran Anindya.
"Sebentar." Anindya kini memilih untuk membayar kacamata pilihannya.
Refleks Erick menahan pergelangan tangan kanan Anindya. "Sudah kubilang biar aku yang membayarnya!" Kemudian langsung mengeluarkan dompet dan menatap ke arah kasir sambil memberikan uang seratus ribu. "Ini aja, Mbak."
"Iya, Mas," sahut sang kasir yang kini langsung mengambil uang kembalian.
Sementara itu, Zea hanya diam saja karena tidak ingin membuat Erick kesal. Ia hanya membiarkan pria di hadapannya melakukan apapun sesuka hati. Ia akhirnya mengambil kacamata pilihannya dan langsung memakainya.
Bukan kacamata bergaya yang membuatnya makin keren penampilannya, tapi menjadi kelihatan culun seperti saat SMA dulu dan menjadi korban bullying.
Kemudian Zea menatap ke arah sosok pria yang kini menatapnya tajam. "Aku akan mengatakan semuanya padamu, tapi aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini."
Meskipun gugup dan perasaan tidak enak kala melihat sikap serius Anindya, Erick langsung mengangguk perlahan. "Percayalah padaku karena aku adalah seorang pria yang bisa dipercaya. Sekarang katakan padaku semuanya."
Tanpa membuang waktu, kini Zea mulai menceritakan awal mula bisa berhubungan dengan keluarga Jonathan, termasuk masa lalunya sebagai seorang Zea karena ia benar-benar mempercayai Erick adalah seorang pria yang bisa dipercaya.
Ia berpikir bahwa jika Erick mengatakan tentang jati diri sebenarnya sebagai Zea pada keluarga Aaron, maka akan pergi dan berusaha hidup mandiri dengan mencari pekerjaan.
Sementara di sisi lain, Erick yang awalnya memasang telinga lebar-lebar, seketika membulatkan mata begitu mendengar semua cerita gadis di hadapannya tersebut dan sekaligus merasa shock.
"Jadi, seperti itulah yang sebenarnya, Erick. Jika kamu bertanya padaku apakah aku memiliki perasaan pada tuan Aaron, jawabannya ya." Zea bisa melihat raut wajah terkejut Erick berubah sendu.
"Aku sudah menyukainya saat pertama kali bertemu dulu ketika penampilanku masih kampungan dan sampai sekarang pun masih sama. Aku masih menyukai tuan Aaron." Zea mengakhiri ceritanya dengan perasaan bersalah begitu melihat wajah Erick lama-kelamaan redup.
Seolah menunjukkan kekecewaan luar biasa dan ia merasa bingung antara harus menghibur atau menyadarkan Erick agar tidak berharap padanya karena tidak bisa membalas cinta pria tersebut.
Erick yang kini merasa bingung harus menanggapi seperti apa, masih terdiam membisu. Bahkan ia menyadari jika tidak ada hal lebih buruk dari kejujuran gadis yang selama ini disukainya. Ia tersenyum miris dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Ternyata benar kata banyak orang. Bahwa lebih baik berbohong untuk kebaikan. Karena ternyata rasanya sesakit ini begitu mendengarmu mengatakan perasaanmu yang sebenarnya untuk Aaron. Itu berarti, sama sekali tidak ada sedikit pun perasaan untukku."
Erick kini tertawa terbahak-bahak sambil memalingkan wajah untuk menyembunyikan diri agar tidak ditatap oleh gadis yang ternyata bernama Zea, bukan Anindya.
Ia memalingkan wajah sambil berkacak pinggang untuk menormalkan perasaan kacau balau saat ini. "Mungkin aku sekarang mendapatkan sebuah karma dari umpatan para gadis yang kutolak selama ini."
To be continued...