Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Lancarkan semua usahaku



Keesokan harinya, Khayra yang sudah bersiap dengan menarik koper berukuran sedang miliknya keluar dari kamar dan ditemani oleh Jennifer tengah menggendong putranya untuk mengantarkan ke halaman.


Saat keluar, langsung dibantu oleh pelayan ketika menuruni anak tangga dan langsung memasukkan ke dalam mobil milik asisten pribadi yang datang menjemput untuk berangkat bersama ke bandara.


"Hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai di tempat tujuan, Sayang." Jennifer saat ini mencium pipi kiri kanan Anindya sambil mengusap lengannya. "Oh ya, salam juga jika bertemu dengan papamu di New York sana."


Jennifer masih menyimpan rahasia rapat-rapat mengenai Aaron yang juga akan berangkat pukul 09.00 WIB. Sementara Anindya berangkat dari Surabaya pukul 08.00 WIB.


Hanya berselang satu jam saja dan pastinya tidak terlalu lama mereka bisa bertemu setelah tiba di New York.


'Semoga kalian pulang dengan membawa kabar baik. Aku benar-benar sangat berharap jika Aaron bisa meluluhkan hati Anindya ketika berada di New York,' gumam Jennifer yang saat ini melihat Anindya mencium putranya sebagai salam perpisahan.


Anindya melihat bagaimana wajah ibunya Aaron yang jelas-jelas menipunya. Bahkan ia juga berpura-pura seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun saat ini karena memang menyembunyikan fakta jika ia sudah tahu dari Erick tentang Aaron yang akan datang ke New York.


'Mama ... mama, kita kedua bahkan sedang menjalankan peran masing-masing untuk saling menipu,' gumam Khayra yang saat ini melanjutkan aktingnya untuk tersenyum pada wanita yang baru saja menipunya.


"Iya, Ma. Terima kasih doanya. Jagoan Mama harus pinter sama Nenek, ya. Jangan rewel saat Mama tidak ada. Mama sayang Kenzie." Khayra tadinya tidak berniat untuk pergi dengan tangisan karena berpikir bahwa hanya akan berada di New York selama 2 hari.


Namun, ketika berpamitan dengan putranya yang pertama kali akan ditinggal pergi, ia benar-benar tidak kuasa menahan guling air mata yang sudah menghiasi pipinya.


Ia bahkan tidak bisa berhenti mencium putranya yang sangat disayangi. "Mama sayang Kenzie," lirihnya dengan berurai air mata dan mengusap pipi gembil bayinya yang terlihat lebih gemuk dari sebelumnya.


Jennifer bisa mengerti bagaimana perasaan dari seorang ibu yang meninggalkan putranya untuk pertama kali. Ia kini mengusap lengan Anindya.


"Cuma dua hari dan nanti saat kembali, jangan lupa oleh-olehnya untuk cucuku yang paling tampan ini. Pasti ada banyak pakaian serta pernak-pernik untuknya di New York sana." Ia berusaha untuk menguraikan suasana penuh kesedihan yang melanda.


Bahkan saat ini bisa melihat jika bayi berusia 3 bulan tersebut yang biasanya tidur pulas di jam-jam segitu, tapi tidak untuk hari ini karena terlihat mata beningnya yang terbuka lebar.


Seolah ingin mengantarkan sang ibu yang akan pergi selama dua hari, jadi tidak tidur.


"Lihatlah, cucuku bahkan sangat pintar karena ingin mengantarkanmu pergi. Jadi, jangan bersedih karena Kenzie akan baik-baik saja bersama kami di sini. Iya, kan, Cucuku?" Jennifer bahkan merasa sangat gemas pada cucunya dan beberapa kali mencium pipi gembil itu.


Khayra saat ini hanya tersenyum dengan penuh haru ketika melihat interaksi antara sang nenek dengan cucunya. "Iya, Ma. Aku padahal tadi tidak semelow ini lho. Tapi saat melihat wajah putraku yang dua hari tidak akan kulihat secara langsung selama di New York, rasanya benar-benar membuat hatiku tidak nyaman."


Ia kembali mengusap pipi putih putranya dan terakhir kali menciumnya sebelum masuk dalam mobil. "Mama berangkat dulu, ya Sayang. Jagoan Mama pasti nanti dibelikan oleh-oleh yang banyak."


Kemudian berani mengusap lengan wanita di hadapannya untuk berpamitan untuk terakhir kali. "Aku titip putraku, Ma. Aku berangkat sekarang."


Dengan membuka kaca mobil setelah masuk ke dalam dan duduk di sebelah sang asisten, masih tidak mengalihkan pandangan pada putranya yang digendong oleh wanita yang disayanginya.


Ia kini melambaikan tangannya, lalu tersenyum simpul dan kali ini tidak lagi berurai air mata karena berpikir hanya akan bersedih jika mengingat perpisahan di antara mereka.


"Daaah ... Kenzie. Bye, Ma!" ucapnya begitu mobil mulai maju menuju ke arah pintu gerbang dan keluar dari area rumah lantai 5 tersebut.


Sementara itu, Jennifer yang saat ini masih menggendong cucunya, juga tersenyum dan melambaikan tangan begitu melihat kepergian Anindya.


"Aku harus mengabarkan ini pada Aaron," ucapnya dengan mengambil ponsel dan langsung memijat kontak putranya.


Begitu sambungan telepon diangkat oleh putranya, mendengar suara putranya yang sangat bersemangat hari ini.


"Halo, Ma. Sepertinya Anindya sudah berangkat ke bandara, ya? Aku saat ini juga sedang bersiap-siap. Sebentar lagi akan berangkat ke bandara daripada terjebak macet dan berisiko ketinggalan tiket pesawat," ucapnya yang kini tengah menarik koper miliknya keluar dari kamar.


Aaron bahkan ingin berangkat awal karena tidak bisa tidur nyenyak semalam ketika membayangkan bisa berduaan dengan Anindya tanpa orang yang mengganggu, seperti Erick.


"Iya, kamu benar. Lebih baik berangkat awal daripada terjebak macet. Anindya dan asistennya pergi satu jam sebelum keberangkatan karena jarak antara rumah dengan bandara tidak terlalu jauh. Jadi, antara perjalanan dan boarding tidak masalah." Ia mencium bau yang tidak nyaman dan mengetahui jika saat ini cucunya pup.


"Kamu berangkat saja sekarang dan hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai di tujuan dan bisa membawa kabar baik untuk Mama. Mama mau mengganti Pampers Kenzie karena sepertinya dia pup." Ia pun pacaran masuk ke dalam menuju ruangan kamar yang ada di lantai 1.


"Aamiin. Iya, Ma. Cium sayang dari jauh untuk putraku," ucap Aaron ingin melakukan video call agar bisa melihat putranya, tapi karena sang ibu sudah mematikan sambungan telepon, sehingga mengurungkannya.


Ia pun kini berjalan menuruni anak tangga dengan wajah berbinar dan bersemangat. "Sayang, aku datang. Aku akan memberikan kejutan untukmu. Semoga kamu suka dan tersentuh saat menerimanya."


Dengan berjalan ke arah pintu utama, ia sudah disambut oleh sang supir yang ini membantunya mengangkat koper dan dimasukkan ke dalam bagasi.


Kemudian masuk ke dalam mobil yang kini langsung melaju meninggalkan area rumah menuju ke bandara.


'Ya Allah, lancarkanlah semua usahaku untuk mencuri hatinya. Aku benar-benar berharap jika pulang dari New York, besok bisa memilikinya,' gumam Aaron yang saat ini memakai kaos polos berwarna putih dan bawahan celana panjang hitam.


Bahkan di bagian dada, tersemat kacamata hitam yang kini mulai dipakainya.


To be continued...