Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Permohonan maaf



Saat ini, Aaron dan Erick sudah berada di dalam pesawat yang baru saja lepas landas dari Bandung menuju ke Surabaya. Keduanya bahkan tidak berbicara sepatah kata pun karena sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Aaron yang tadi berbicara dengan orang tuanya dan menceritakan tentang gadis yang sudah 3 kali berganti nama itu, menyuruhnya untuk langsung melamar. Bahkan ia juga memikirkan itu, jadi langsung setuju.


Hingga ia pun tadi membeli cincin sebelum berangkat ke bandara dan merahasiakannya dari sosok pria yang mempunyai usia lebih muda darinya itu.


'Semoga Anindya ... ah Zea yang sudah mengganti nama menjadi Khaysila menerimaku. Aku sebenarnya khawatir jika dia menolakku. Meskipun sebenarnya aku tahu jika dia suka padaku, tapi rasa percaya diri yang dulu kurasakan seketika musnah begitu mengetahui jati dirinya.'


Aaron masih diam membisu sambil sibuk memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk yang ditakutkan. Namun, ia tetap pada pendiriannya agar mengetahui apa keputusan gadis yang satu tahun lalu diperkosanya.


Sementara di sisi berbeda, yaitu Erick yang dari tadi memikirkan tentang wanita yang di telpon berbicara sangat datar padanya, mengerti jika keadaan gadis itu memang berada dalam fase terberat.


'Zea atau pun Khaysila tetaplah gadis yang sama. Seorang gadis yang berhasil membuatku hanya menginginkannya seorang. Tapi mendengar ia berbicara tadi, sepertinya tidak tepat jika membahas mengenai hubungan yang lebih dari teman.'


Erick yang saat ini menoleh ke arah Aaron, masih memikirkan tentang gadis yang sama-sama dicintai. Ia merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Aaron ketika pertama kali bertemu dengan Zea.


"Apa kalimat pertama yang akan kau katakan pada Zea? Bukan aku ingin menjiplak kata-katamu, tapi hanya ingin sekedar tahu. Jujur aku saat ini benar-benar sangat bingung begitu mengetahui bahwa sesungguhnya dia adalah cucu dari seorang konglomerat dan pastinya akan mewarisi semua peninggalan sang kakek."


Erick yang saat ini tidak bermaksud untuk mendoakan kakek Zea meninggal, tapi berpikir jika sedang berbicara fakta. Bahwa usia tidak ada yang tahu dan bisa kapan saja berakhir karena sudah ditentukan.


Namun, wajahnya berubah masam begitu melihat ekspresi dari Aaron yang membuatnya ingin sekali meninju wajah pria yang menjadi satu-satunya saingan dalam mendapatkan hati seorang wanita.


"Rahasia! Aku tidak akan memberitahumu. Apalagi kita tidak sedekat itu karena sudah memutuskan untuk bersaing secara sportif. Jadi, jangan coba-coba untuk berencana mencurangiku." Aaron sangat yakin jika yang ada di otak Erick adalah ingin menjiplak kata-katanya.


Jadi, berpikir bahwa ia sangat bodoh jika mengatakannya. 'Jika aku bilang akan melamar, pasti dia akan ikut-ikutan. Enak saja. Aku tidak sebodoh itu, Erick.'


"Baiklah baiklah! Aku tidak akan bertanya lagi padamu karena tidak percaya padaku." Kemudian ia pun mengalihkan perhatian dari Aaron dan berpikir tentang apa yang akan dilakukan.


'Aku tidak akan membahas tentang kehidupan pribadi dan fokus menghiburnya. Terserah apa yang akan dikatakan oleh Aaron,' gumam Erick yang kini menatap ke arah jam tangan mahal miliknya.


Kemudian berbicara tanpa menatap ke arah Aaron. "Sebenarnya aku ingin langsung ke Rumah Sakit untuk menemui Zea, tapi berubah pikiran. Besok pagi saja aku ke Rumah Sakit."


Refleks Erick menoleh ke arah Aaron dan tersenyum menyeringai dan membalas dendam. "Rahasia!"


"Sialan!" sarkas Aaron yang merasa berubah jadi bodoh di dekat Erick karena berhasil membalas dendam padanya.


Erick hanya tertawa melihat raut wajah memerah Aaron. "Memangnya hanya kamu yang bisa main rahasia-rahasia seperti anak kecil? Aku juga bisa. Aku akan sportif saat merebut hati ayang."


"Jangan panggil ayang saat kau saja bukan kekasihnya! Rasanya gendang telingaku jadi rusak mendengarnya." Aaron bahkan kini langsung menutup kedua daun telinganya.


Semakin ingin mengerjai Aaron, kini Erick mendekatkan wajahnya saat menatap. "Terserah aku mau panggil ayang. Lagipula aku manggil ayang pakai mulut sendiri. Yang bersangkutan saja sama sekali tidak melarang. Lalu, mana mungkin aku akan mendengarkan laranganmu."


Ia tersenyum puas karena berhasil membuat Aaron kesal dan usahanya untuk membalas dendam terwujud. "Ayang ... ayang, aku datang."


'Panas-panas sekalian,' gumam Erick yang saat ini sangat puas karena berhasil membuat wajah Aaron memerah.


Refleks Aaron bergerak membungkam mulut Erick karena benar-benar sangat tidak suka mendengar suara pria yang selalu menguji kesabarannya. "Diam aku bilang! Atau aku akan membungkam mulutmu dengan sepatuku!"


Suara Aaron yang sangat keras berhasil membuat beberapa penumpang yang ada di sebelahnya menoleh dan menegurnya.


"Hei, ini pesawat, bukan tempat adu jotos! Kalau mau berdebat maupun berkelahi, di luar sana. Sekalian setor nyawa!" sarkas seorang pria berusia 30 tahunan yang baru saja membuka kaca mata hitamnya.


Erick yang kini mengempaskan tangan Aaron karena ingin menanggapi dan begitu berhasil, membuatnya mengangukkan kepala. "Maaf karena telah membuat keributan." Kemudian menoleh ke arah Aaron. "Cepat minta maaf!"


Aaron yang sebenarnya masih sangat kesal pada Erick, tidak bisa menolak dan terpaksa mengakui kesalahannya. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang kulakukan."


Namun, permohonan maaf dari keduanya hanya ditanggapi sinis dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jadi, ia makin kesal karena untuk kesekian kalinya menahan marah.


To be continued...