
Sandy kini mengangguk perlahan dan mengulurkan tangan pada gadis belia yang berdiri di hadapannya. "Aku Sandy. Namamu siapa, gadis kecil?" Sambil mengusap kepala gadis yang memiliki postur tubuh mungil tersebut.
Bahkan ia selama ini seolah terbiasa melakukan hal menggemaskan pada beberapa muridnya. Baik itu laki-laki atau perempuan, tapi jarang juga lawan jenis yang membuatnya seperti itu.
Ia lebih dekat dengan murid laki-laki karena selama ini memang menjaga jarak dari murid perempuan karena tidak ingin dianggap sebagai seorang guru yang genit.
Refleks ia langsung mengangkat tangannya dari kepala gadis mungil itu setelah mendapatkan tatapan tajam dari sosok sahabatnya.
Bahkan ia langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, seperti penjahat yang ditangkap oleh polisi. "Maafkan aku karena ini refleks."
Zea yang tadinya merasa penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Aaron untuk memperkenalkannya pada sahabat pria itu, kini seolah bimbang dengan apa yang harus dilakukan.
"Tidak apa-apa karena memang faktanya begitu. Bahkan aku dikatain terus duduk karena terlihat pendek saat berdiri." Zea berbicara sambil menatap kesal sosok pria yang berdiri di sebelahnya malah menertawakannya.
'*Apa yang sebaiknya kulakukan jika teman tuan Aaron mulai mengetesku? Apakah perlu aku berpura-pura tidak bisa menjawab apapun agar terlihat bodoh?'
'Atau aku tunjukkan saja kemampuanku karena tidak ingin tuan Aaron merasa ilfil saat mengetahui aku sangat bodoh*,' gumam Zea yang kini ingin sekali mengikat bibir pria yang selalu tertawa kala menyapa para anggota fans.
Aaron yang tadi sangat senang melihat Anindya mengingat selalu perkataannya ketika mengejek, kini melirik ke arah sahabatnya. "Kamu bisa lihat, kan?"
"Bahwa ia berdiri itu sama saja dengan kita duduk. Bisa-bisanya Tuhan menciptakan gadis pendek macam ini." Tentu saja ia kembali terbahak karena makin gemas pada Anindya yang malah langsung mencubit lengannya.
Bahkan saat ini ia berpikir jika sosok pria di sebelahnya tidak kalah tampannya dengan Aaron, tapi sangat sopan. Apalagi sudah menjadi guru, sehingga berpikir bahwa yang terjadi saat ini sudah dirancang oleh pria itu.
"Apa katamu? Polos dan baik hati?" tanya Aaron yang selalu dibuat kesal karena Anindya kembali kesal dan membuatnya berpikir jika waktu semakin larut dan ia tidak ingin mendapatkan amukan dari sosok sang ibu.
Zea sebenarnya berniat untuk membuat Aaron tidak lagi memanggil seperti tadi, jadi kini memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya aku mau di tes seperti apa? Kenapa aku jadi gugup seperti ini?" Zea sengaja berhenti karena berpikir akan mendapatkan jawaban, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Sandy yang tidak ingin melihat perdebatan mereka yang tak kunjung selesai, refleks ia langsung menarik pergelangan tangan kiri agar ikut bersamanya.
Ia bahkan sudah menyiapkan semua hal yang berhubungan dengan gadis malang itu dan sesekali membuatnya berpikir jika sebentar lagi akan terjawab tentang pertanyaan dari Aaron yang sangat penasaran.
Zea saat ini hanya mengerjapkan mata dan beralih menatap ke arah pria itu dan membuatnya merasa seperti akan diajak ke tempat menegangkan.
"Aku tidak yakin bisa mengerjakan apapun karena hilang ingatan," lirih Zea pada pria yang masih terus menggandengnya masuk ke ruang tamu.
To be continued...