
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" sarkas Jennifer yang ini benar-benar sangat marah begitu mendengar cerita dari putranya yang baru saja menyelesaikan penjelasannya mengenai malam sebelum gadis yang dianggap sebagai putrinya sendiri itu pergi tanpa pamit.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika hal seperti itu dilakukan oleh putranya pada seorang gadis polos seperti Zea yang membutuhkan perlindungan karena sudah tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini.
"Kau benar-benar seorang pria berengsek dan bajingan, Aaron!" teriak Jennifer yang memerah wajahnya dan suaranya benar-benar membelah keheningan di malam itu.
Ia bahkan saat ini tidak bisa menahan amarah yang memuncak di dalam hatinya dan seketika bangkit berdiri dari posisinya untuk mendekati putranya yang masih duduk di hadapannya.
Kemudian langsung mengangkat tangannya dan memberikan sebuah hukuman dengan menampar pipi sebelah kiri putranya.
"Hukuman ini tidak bisa menebus perbuatanmu yang telah menyakiti gadis polos seperti Zea. Apalagi dia adalah seorang gadis yatim piatu yang membutuhkan perlindungan, tapi malah kau rusak dengan alasan mabuk!"
Bahkan ia merasakan telapak tangannya sangat panas ketika berhasil mendaratkan sebuah tamparan di pipi dengan rahang tegas itu. Sebagai seorang wanita, ia bisa merasakan seperti apa kehancuran gadis belia itu saat diperkosa oleh putranya.
Ia yang saat ini melihat putranya hanya diam saja dan menunduk seperti orang yang menyesali perbuatan, masih ditatap dengan tajam penuh amarah.
"Mama membesarkanmu dengan baik dan penuh kasih sayang agar menjadi seorang pria yang tidak pernah menyakiti perasaan wanita. Tapi apa ini? Kau bahkan sudah menyakiti seorang gadis yatim piatu polos seperti Zea yang sama sekali tidak bersalah itu." Ia bahkan memarahi putranya dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Memang selama ini ia sangat berharap putranya menikahi Zea karena berpikir bahwa gadis itu adalah gadis yang baik dan cocok menjadi menantu, tapi tidak pernah menyangka jika Aaron telah melakukan hal bejat.
"Kau sama seperti orang-orang yang dibilang bejat. Jika kau besar dari keluarga broken home, mungkin perbuatanmu masih bisa sedikit dimaklumi, tapi kami bahkan memberikan semua yang terbaik untukmu agar menjadi seorang pria yang bertanggung jawab."
Masih dengan suara yang sangat lantang dan tidak memperdulikan perbuatannya yang membuat semua orang di rumah itu mendengarkan, Jennifer kali ini tidak bisa menahan amarahnya dan kembali memberikan sebuah hukuman.
Ia kembali mengangkat tangan dan menjawab daun telinga putranya untuk meluapkan perasaan bergejolak dari rasa bersalah yang seolah membakarnya habis-habisan.
"Aarooon!" teriak Jennifer yang saat ini bahkan sudah memutar telinga putranya dan tidak memperdulikan suara kesakitan itu.
Ia bahkan seperti orang yang kesetanan karena membayangkan bagaimana rasanya hancur saat menjadi Zea yang diperkosa oleh putranya. "Jika kau ingin ***, kenapa tidak menikahinya terlebih dahulu, pria berengsek!"
Aaron yang sebenarnya dari tadi sudah menduga akan mendapatkan hukuman dari orang tuanya, kini benar-benar merasakan kesakitan luar biasa pada daun telinganya yang diputar sangat kuat oleh sang ibu.
"Aduh, Ma, sakiiit! Aku memang bersalah, Ma. Makanya aku setiap hari berusaha untuk mencari keberadaan cea dan ingin bertanggung jawab padanya dengan menikahinya," lirih Aaron dengan wajah yang memerah karena menahan kesakitan akibat perbuatan sang ibu yang tidak memperdulikan Apa yang dirasakan saat ini.
Sementara itu, sang ibu tetapi tidak memperdulikan apa yang baru saja diungkapkan oleh putranya karena berpikir hanyalah merupakan sebuah pembelaan diri semata.
"Rasa sakitmu ini tidak jauh lebih sakit dari luka yang kau berikan pada Zea. Kau tahu itu?" sarkas Jennifer yang saat ini masih tidak melepaskan kuasanya dari telinga putranya.
"Iya, Ma. Aku tahu itu, tapi jangan membuatku kehilangan telinga dan menjadi orang cacat. Aku akan menemukan dia dengan melakukan apapun. Aku akan bertanggung jawab dengan menikahinya, Ma. Aku sangat mencintai, Zea!" teriak Aaron yang saat ini sudah tidak kuat lagi menahan rasa kesakitan dari telinganya yang seperti mau putus.
Ia akhirnya berbicara jujur agar sang ibu mengerti bagaimana perasaan sebenarnya pada Zea. Apalagi ia tahu bahwa wanita yang telah melahirkannya tersebut sangat menyukai gadis itu. Bahkan selalu saja menginginkannya untuk menikahi Zea dan menjadikannya menantu.
Berharap dengan berbicara jujur, bisa lepas dari hukuman sang ibu yang benar-benar membuat telinganya seperti mau putus saja. Usahanya tidaklah sia-sia karena sang ibu yang sangat terkejut pada kalimat terakhir darinya, kini telah membebaskan telinganya.
Jennifer yang dari tadi sangat marah pada putranya, seketika terkejut begitu mengetahui bahwa Aaron ternyata mempunyai perasaan pada Zea. "Apa katamu?"
Ia benar-benar tidak percaya karena selama ini mengetahui jika putranya tergila-gila dengan Jasmine dan putus asa hingga mampu melakukan setelah wanita itu kabur di hari pernikahan.
"Apa aku sedang ingin melindungi telingamu dengan berbicara omong kosong di depan Mama?" sarkasnya dengan menatap tajam ke arah putranya yang dianggap tengah berbohong.
Namun, ia saat ini melihat putranya yang tengah meringis kesakitan sambil memegangi telinga, seketika menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan tuduhan darinya.
"Aku benar-benar jujur dari dalam hatiku, Ma. Aku baru menyadari perasaanku setelah pulang dari Puncak. Saat kalian meninggalkanku di hotel dan Zea pulang bersamaku, saat itulah aku tidak pernah bisa menghilangkan pikiran tentang gadis itu." Aaron benar-benar merasakan sakit luar biasa pada daun telinganya.
Ia mulai menceritakan kejadian di puncak ketika Zea dengan sangat percaya diri dan tidak takut padanya jika diperkosanya. Hal yang membuatnya tidak pernah bisa tenang semenjak saat itu dan ingin sekali melakukannya.
"Aku bahkan setiap hari mencoba untuk menghindar dari Zea agar gadis itu tidak selalu mendekatiku karena aku berpikir perasaanku hanyalah sebuah nafsu semata. Ternyata aku sangat mencintainya dan menyadari semuanya begitu dia pergi. Aku sangat mencintai Zea dan tidak ingin kehilangannya, Ma."
Aaron benar-benar mengungkapkan Apa yang dirasakan agar sang ibu mengerti bagaimana perasaannya pada gadis yang membuatnya merasa kehilangan.
"Aku tidak rela Zea dimiliki oleh siapapun dan hanya aku yang boleh menikahinya." Aaron kini beralih pada sang ayah yang dari tadi malah seperti penonton melihat sebuah pertunjukan karena tidak menghentikan ulah sang ibu yang memberikan hukuman luar biasa pada telinganya.
"Pa, tolong bantu aku cari di mana keberadaan Zea, agar aku bisa menikahinya untuk bertanggung jawab setelah memperkosanya." Aaron yang baru saja menutup mulut, kini merasakan pukulan pada lengannya karena sang ibu kembali mengumpat dan memberikan hukuman.
"Tentu saja kau harus menikahinya untuk bertanggung jawab karena tidak mungkin orang lain yang melakukannya. Bagaimana kalau perbuatanmu membuat gadis malang itu hamil? Bukankah gadis yang masih polos itu akan hidup menderita jika hamil tanpa suami?" Jennifer saat ini beralih menatap ke arah sang suami meskipun belum puas memberikan hukuman pada putranya.
"Lakukan apapun untuk bisa menemukan Zea. Putriku harus bisa ditemukan dan kita nikahkan mereka secepatnya!" Ia benar-benar berharap dan menggantungkan semuanya pada sang suami yang dari tadi bahkan belum membuka suara.
To be continued...