
Maribell saat ini bisa melihat raut wajah yang tadinya dipenuhi oleh kekhawatiran tersebut sedikit berubah bercahaya begitu ia mengungkapkan apa yang ada di pikirannya dan sudah disampaikan pada pria yang ada di sebelah kanannya.
"Sebaiknya cepat urus semuanya karena lebih cepat lebih baik dan kakekmu bisa mendapatkan perawatan terbaik di sini. Aku sudah menyarankan rumah sakit terbaik yang ada di sini dan mengatakan pada asistenmu tadi saat kamu sibuk menjalin kasih di dalam ruangan." Melirik sekilas ke arah sosok pria yang dari tadi masih memeluk pundak Khayra untuk memberikan suntikan semangat.
Maribell bahkan saat ini ingin sekali melemparkan garpu di tangannya karena merasa sikap pria itu sangatlah lebay dan membuatnya merasa iri melihat seorang wanita dicintai begitu besar.
Apalagi ia pernah mengalami hal yang buruk dari sang kekasih karena masalah perselingkuhan dan membuatnya sampai sekarang tidak bisa membuka hati. Ia tidak mempercayai perkataan semua pria yang selama ini bersikap manis padanya.
Apalagi ada banyak pria lajang yang mengincarnya untuk dijadikan istri, tapi sama sekali tidak membuatnya tertarik untuk mengakhiri statusnya yang masih single.
Ia berpikir tidak akan bisa bebas seperti ini karena pasti akan dikekang oleh seorang pria jika sudah menjadi suaminya. Itulah salah satu alasan ia tidak ingin menjalin hubungan kasih dengan pria manapun untuk sekarang karena ingin fokus pada karir yang sedang meroket.
Apalagi ia selama ini menjadi incaran banyak perusahaan untuk berinvestasi karena memang ia berfokus pada beberapa perusahaan yang bisa menawarkan keuntungan besar untuknya.
"Apa kau akan terus pamer dengan sikap sok perhatianmu itu di depanku dan tidak menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja?" sindir Maribell yang saat ini menatap sinis pada sosok pria yang menurutnya sangat berlebihan ketika menunjukkan perhatian di depan orang lain.
Sementara itu, Aaron yang tadinya sama sekali tidak memperdulikan ada protes dan raut wajah tidak suka dari sang investor, tapi tidak bisa melanjutkan perbuatannya yang menunjukkan rasa khawatirnya pada Anindya.
Anindya yang tadinya diliputi oleh kesedihan karena memikirkan keadaan sang kakek yang sampai sekarang belum sadar juga meskipun sudah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terbaik yang ada di Surabaya, seketika menyadari perbuatan Aaron yang dari tadi memeluknya, begitu mendengar suara wanita itu.
Refleks ia langsung mengempaskan tangan dengan buku-buku kuat itu dari pundaknya. "Apa yang kau lakukan? Cepat kembali ke kursi dan nikmati makananmu!"
Khayra benar-benar menutupi kebodohannya karena bisa tidak menyadari dan malah merasa nyaman atas perbuatan Aaron yang perhatian padanya dan mengungkapkan kekhawatiran dengan cara memeluknya.
'Malu sekali rasanya diajak oleh nona Maribell. Tuan Aaron memang tadi refleks karena mengkhawatirkanku dan aku pun juga tidak sadar karena diliputi oleh kesedihan. Bisa-bisanya kami malah pamer kemesraan di depan orang lain dan tidak menyadarinya,' gumam Khayra yang saat ini menghilangkan kegugupan yang dirasakan dengan cara menikmati makanan yang dipesan.
Ia melirik sekilas ke arah pria yang bahkan memesan yang sama dengannya, mulai dari makanan utama, minuman serta dessert.
"Kenapa memesan makanan yang sama? Apa kau seorang plagiat yang tidak bisa berkreatif sendiri?" ejek Khayra yang sebenarnya merasa senang dengan apapun yang dilakukan Aaron hari ini, tapi tidak bisa mengakuinya karena malu di depan orang lain.
"Suka-suka aku karena itu adalah hakku dan tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain, termasuk nona Maribell sekali pun." Aaron membalas perkataan sini dari dua wanita yang dianggap saling menyerang untuk memojokkannya dan membuatnya merasa kesal.
Ia bahkan menatap kesal pada sang investor yang membuat Anindya menyadari perbuatannya yang ingin menghibur. 'Pasti dia merasa iri pada Anindya, sehingga mengejekku habis-habisan. Menyebalkan sekali,' gumam Aaron yang saat ini tidak bisa lagi menahan rasa lapar di perutnya karena tadi belum sempat sarapan.
Bahkan ia harus berlarian karena mengejar waktu hanya demi bisa tidak terlambat pada acara pertemuan dengan sang investor yang merupakan wanita arogan itu.
Ia melihat Anindya saat ini memotong makanan yang dipesannya. Saat melihat jika gadis itu sedikit kesusahan, sehingga refleks memotong makanan di piringnya agar mudah dinikmati.
Kemudian ia langsung mengangkat piring tersebut dan memindahkannya di hadapan Anindya. "Makan ini saja karena sudah ku potongkan."
Lalu mengambil piring milik Anindya yang masih belum selesai dipotong-potong makanannya. Saat ia baru saja selesai untuk melakukan hal serupa dan menyuapkan ke dalam mulut, tidak jadi melakukannya karena mendengar ejekan dari wanita yang berada di sebelah kanannya tersebut.
"Bisa tidak kau tidak bersikap sok perhatian di depanku? Aku benar-benar muak melihatnya!" sarkas Maribell yang tidak ingin nafsu makannya menghilang jika melihat keromantisan dari pasangan kekasih di hadapannya yang membuatnya sangat iri, tapi tidak mau menjalani hubungan dengan siapapun.
Saat Khayra baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan perasaan berbunga-bunga karena senang ketika mendapatkan bantuan yang bersifat romantis dari Aaron, seketika terdiam karena merasa tidak enak pada wanita yang saat ini baru saja mengumpat mereka.
'Pasti wanita itu memiliki pengalaman buruk menjalin hubungan dengan seorang pria, sehingga tidak suka melihat apapun yang dilakukan oleh pasangan kekasih,' gumam Khayra yang saat ini merasa suasana di ruangan tersebut berubah mencekam penuh keheningan.
'Padahal aku benar-benar sangat menyukai momen momen seperti ini karena tuan Aaron benar-benar menunjukkan perhatiannya padaku dengan melakukan hal-hal kecil yang bersifat romantis dan membuatku merasa seperti seorang wanita yang paling dicintai di dunia ini.'
Khayra yang saat ini sibuk dengan pemikirannya sendiri dan tidak berani berkomentar apapun, seketika mencubit paha pria yang duduk di sebelah kanannya karena menanggapi sang investor yang bersikap sinis karena melihat mereka.
"Jika tidak suka melihat apa yang kulakukan, buang saja matamu!" sarkas Aaron yang saat ini langsung mengarahkan garpu pada makanan dan langsung menyuapkannya ke dalam mulut.
Ia bahkan tidak peduli wanita itu akan marah padanya dan mencoretnya dari daftar klien bisnis karena jujur saja sangat muat melihat sikap arogannya.
Dengan melampiaskan pada makanan yang saat ini dikunyah, bahkan tidak peduli dengan rasa nyeri pada pahanya yang baru saja mendapatkan hukuman dari gadis di sebelahnya tersebut.
Ingin sekali ia kembali mengumpat, tapi tidak jadi melakukannya karena mendapatkan tatapan tajam dari Anindya yang membuatnya akhirnya dia m dan tidak melanjutkan umpatannya pada sang investor yang masih diam dan belum meledakkan amarah dengan melemparkan piring ke lantai.
'Aku saat ini menunggu wanita itu melemparkan piring makanannya ke lantai agar dia tidak jadi makan sekalian,' gumam Aaron yang saat ini masih mendapatkan tatapan tajam dari Anindya.
Ia justru malah senang ketika gadis itu bersikap biasa padanya dengan menatapnya tajam. Tidak seperti biasanya yang selalu saja menghindar dari tatapannya karena malu, tapi kali ini berbeda dan juga masih mengarahkan cubitan pada paha serta pinggangnya agar diam dan tidak lagi mengomel seperti seorang perempuan.
Khayra benar-benar tidak habis pikir dengan sikap kekanakan pria yang tengah terpancing emosi hanya gara-gara ejekan dari sang investor. Ia pun berbicara lirik agar pria itu tidak kembali bersikap seperti anak kecil yang emosi dan ingin bertengkar ketika ada yang menyulut amarahnya.
Ia bahkan mengarahkan jari telunjuk pada bibirnya untuk memberikan kode agar Aaron diam dan tidak melanjutkan umpatan. "Ini meja makan, jadi jangan banyak berbicara tidak sopan pada nona Maribell?"
Saat ia berniat untuk memohon maaf atas perbuatan dari Aaron yang berbicara sangat kasar, Khayra kini beralih menatap ke arah sang investor. Namun, saat ia berniat untuk membuka mulut mengungkapkan penyesalan dan permintaan maaf, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara tawa dari wanita yang berada tak jauh dari tempat duduknya.
Jika selama ini orang-orang yang ditemui selalu bersikap baik dan manis tanpa cela sedikitpun, tapi ini adalah pertama kalinya mendengar seorang pria mengumpatnya dengan berani tanpa merasa takut jika ia akan memutuskan hubungan bisnis jika berani bermasalah dengannya.
Kemudian ia seketika tertawa terbahak-bahak karena berpikir jika pria di hadapannya tersebut adalah seorang pria langka dan tidaklah munafik seperti yang kebanyakan ia temui.
"Wah ... baru kali ini aku tertawa lepas seperti ini hanya gara-gara umpatanmu. Apa kau bilang tadi? Menyuruhku membuang biji mataku karena tidak suka melihatmu menunjukkan keromantisan? Sepertinya itu bisa digunakan untuk melawan orang-orang yang suka mencari masalah.
Aaron yang tadi tidak bisa mengendalikan amarahnya dan berbicara asal untuk mengumpat, awalnya merasa heran ketika sang investor malah tertawa dan tidak marah sama sekali dengan apa yang ia lakukan.
Hingga ia menyadari jika wanita itu selama ini hanya melihat topeng kepalsuan dari orang lain dan akhirnya bersikap sinis karena berpikir semua orang bersikap sama dengan menunjukkan kemunafikan, bukan sifat asli sepertinya.
"Bukannya kau yang suka mencari masalah? Tadi kau yang tidak suka melihatku mengungkapkan perhatianku pada calon istri, padahal itu merupakan sebuah hal yang wajar dilakukan, bukan? Lalu, siapa di sini yang merupakan pencari masalah?" Kemudian Aaron mengarahkan jari telunjuknya pada wanita di hadapannya tersebut.
"Kau lah wanita pembuat masalah itu karena tidak suka melihat orang lain senang. Iri, ya? Atau panas? Kalau menjadi seperti calon istriku, kurangi sikap aroganmu itu agar mendapatkan pasangan yang bisa menjadikanmu ratu." Aaron pun kini menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut tanpa memperdulikan jika saat ini kakinya diinjak untuk kesekian kali oleh Anindya.
Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan itu karena yang dipikirkan hanyalah ingin membuat sang investor tidak mengganggunya ketika mengungkapkan perhatian serta kasih sayang pada Anindya.
Khayra sudah tidak tahu lagi cara untuk menghentikan Aaron agar tidak bersikap kekanak-kanakan dengan menanggapi kemurkaan sang investor tersebut. Bahkan meskipun sudah memberikan sebuah hukuman untuk sebuah kode, tetap saja membuatnya kesal karena tidak bisa menghentikannya.
'Astaga, kenapa tuan Aaron bersikap seperti anak kecil? Seharusnya menghormati wanita ini agar tidak kesal. Bagaimana jika nanti malam membatalkan investasi di perusahaan kakek? Usahaku pasti akan sia-sia dan membuat kakek kecewa serta malu,' gumam Khayra yang saat ini masih mencoba untuk menghentikan Aaron agar bersikap lebih sopan dan tidak mengandalkan emosi.
Namy, ia merasa jika pria itu benar-benar tidak mudah untuk dinasehati dengan kode mata tajam. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh sang investor.
Aaron hanya mengendikkan bahu pada Anindya karena tidak ingin mengambil pusing atas apa yang dipikirkan sang investor. Ia bahkan siap untuk melawan wanita itu jika ingin berdebat karena berpikir tidak ada yang salah dengan yang dilakukannya.
'Aku bahkan hanya ingin menunjukkan perhatianku pada wanita yang kucintai, lalu kenapa dia sewot seperti cemburu karena tidak laku. Dasar perawan tua. Mungkin jika dia adalah orang Indonesia dan tinggal di kampung, pasti sudah sering diejek perawan tua yang tidak laku,' gumam Aaron yang sebenarnya ingin sekali tertawa ketika membayangkan wanita itu diejek para tetangga jika tidak laku.
Meskipun merupakan seorang wanita hebat yang memiliki banyak uang sekalipun, tetap akan kalah dengan kekuatan para tetangga yang suka ghibah dan berkomentar tentang hidup orang lain.
Namun, ia seketika membulatkan mata ketika indera pendengaran menangkap suara sang investor yang menurutnya sangat tidak masuk akal dan membuatnya ingin memastikan sekali lagi jika apa yang didengarnya benar.
"Sepertinya semua yang kau katakan benar dan sialnya aku tidak bisa mengelak. Aku suka gayamu, Aaron. Baiklah. Aku akan berinvestasi juga di perusahaan Jonathan selain perusahaan Kusuma. Beri aku keuntungan agar uangku semakin banyak," sahut Maribell yang saat ini selera makannya bertambah.
Ia segera menikmati makanan yang dipesan dengan lahap dan berbeda dari biasanya yang hanya makan beberapa suap saja. Entah mengapa ia hari ini merasa sangat senang bisa melihat ekspresi orang yang bersikap apa adanya di depannya tanpa ada kemunafikan.
Hingga ia saat ini terkekeh dan tidak menjawab apa yang baru saja didengarnya.
"Apa? Kau yang bahkan tadi tidak tertarik dengan berinvestasi di perusahaanku, kini tiba-tiba berubah pikiran? Apa kau sedang salah makan atau kepalamu saat ini sedang blank?" Aaron bahkan saat ini berpikir jika apa yang didengarnya salah dan wanita itu juga salah berbicara.
Hingga ia meringis kesakitan begitu pahanya kembali dicubit sangat kuat oleh Anindya dan membuatnya menoleh. "Astaga! Kenapa sekarang hobimu mencubitku, Baby? Apa kamu pikir itu tidak sakit? Atau kamu ingin mencobanya agar bisa merasakannya?"
Aaron saat ini berniat untuk mencubit paha Anindya, meskipun itu hanya untuk menakuti saja agar tidak mengulanginya. Hingga ia kembali mendapatkan umpatan dan tatapan tajam.
"Awas saja jika berani. Jangan berani untuk menemuiku lagi! Cepat berterima kasih pada nona Maribell karena mau berinvestasi pada perusahaanmu. Ekspresi dan tanggapan macam apa itu saat mendapatkan sebuah kebaikan dari orang lain malah mengejek."
"Apa kau mau dipukul dengan ini?" sarkas Khayra yang saat ini mengarahkan garpu pada kepala Aaron untuk mengungkapkan kekesalannya.
Sementara itu, Aaron saat ini hanya terkekeh melihat gadis yang selama ini dingin padanya karena marah, sekarang seolah kembali seperti semula. Refleks ia saat ini mengarahkan cubitan lembut pada pipi putih itu untuk meluapkan kebahagiaannya ketika melihat Anindya kembali.
Bersikap seperti dulu, tidak lagi dingin dan tidak mau berbicara padanya sangatlah menyiksa dan membuatnya ingin selalu berteriak untuk meluapkan amarah karena tersiksa dengan sikap sinis gadis itu.
Sekarang semuanya sudah kembali seperti semula dan membuatnya bisa bernapas lega karena akhirnya hubungannya dengan Anindya perlahan mulai bisa diperbaiki ketika gadis itu membuka hati.
Membuka hati dengan sikapnya yang kini sudah tidak dingin seperti dulu, menurutnya sangat cukup dan membuatnya akan berusaha untuk semakin meyakinkan gadis itu agar mau menerima dan mempercayainya bisa menjadi suami yang baik serta ayah untuk Kenzie.
"Baiklah, Baby. Aku berterima kasih pada Nona maribel karena mau berinvestasi di perusahaan Jonathan Grup." Kemudian ia bangkit berdiri dari kursi dan membungkuk hormat untuk mematuhi perintah dari Anindya.
Namun, baru saja ia berniat untuk membuka suara, merasa tertampar dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Lebih baik kau diam daripada aku muak melihatmu berterima kasih," sarkas Maribell yang sebenarnya saat ini ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah pria yang berdiri di hadapannya sudah sangat memerah karena dikuasai oleh amarah, tapi tidak bisa mengungkapkannya padanya karena dilarang oleh sang kekasih.
'Rasakan kekuatan para wanita yang tidak bisa membuatmu berkutik,' sarkas Maribell yang saat ini sangat puas bisa mengerjai pria yang dianggap arogan sepertinya.
'Bahkan saat menatap pria itu, aku serasa melihat diri sendiri dalam versi laki-laki dan pasti orang yang melihatnya akan sangat,' gumam Maribell yang saat ini menyuapkan satu sendok makan dan mengunyahnya untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya yang ingin tertawa terbahak-bahak.
To be continued...