Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Lemah



Dua minggu lebih telah berlalu semenjak Zea dirawat di rumah sakit dan hari ini diperbolehkan untuk pulang. Zea dijemput oleh pasangan suami yang menurutnya sangat baik hati itu karena memperlakukannya seperti keluarga sendiri.


Ia merasa jika pasangan suami istri itu memperlakukannya seperti anak kandung sendiri dan membuatnya merasa seperti mempunyai orang tua. Namun, tidak membuatnya ingin memanfaatkan itu karena ia sudah cukup banyak mendapatkan kebaikan dari pasangan suami istri tersebut.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini mobil mewah berwarna hitam yang membawa tiga orang itu sudah tiba di rumah keluarga besar Jonathan.


Zea bahkan tidak berkedip menatap rumah megah dengan lahan sangat luas yang kanan kirinya ada tanaman hias terawat. Terbiasa hidup sederhana karena berasal dari keluarga biasa dan rumah kecil, tentu saja Zea merasa sangat kagum pada megahnya rumah di hadapannya.


Ia sama sekali tidak pernah menyangka akan tinggal di rumah mewah itu dan diperlakukan sangat baik oleh pasangan suami istri paruh baya tersebut. Kini, Zea keluar dari mobil dan berjalan mengikuti langkah kaki wanita yang selalu tersenyum manis padanya.


"Ayo, masuk, Anindya. Anggap seperti rumah sendiri. Aku akan menunjukkan kamarmu yang sudah dibersihkan oleh pelayan," ucap Jenny yang kini membuka pintu utama dan langsung disapa dengan penuh hormat beberapa pelayan yang mengucapkan salam.


Sementara itu, Jonathan yang saat ini tengah menatap pelayan, mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Apa Aaron belum pulang dari kantor, Baik? Katanya tadi dalam perjalanan pulang. Kenapa belum sampai?"


"Belum, Tuan Jonathan. Mungkin terkena macet," sahut sang pelayan yang kini membantu mengangkat tas kecil berisi beberapa barang gadis muda yang akan tinggal di sana sesuai dengan informasi yang diberikan majikan.


Zea yang hanya diam sambil beberapa kali mengangguk perlahan untuk menyetujui apapun perkataan maupun perintah dari pria dan wanita yang dipanggilnya tuan serta nyonya.


Sebenarnya ia disuruh memanggil papa dan mama agar lebih dekat, tapi merasa tidak enak. Ia benar-benar tidak nyaman jika menyamakan posisinya dengan para orang kaya yang bahkan tidak sederajat dengannya.


Zea beralasan tidak mau karena tidak ingin terbiasa dan nanti merasa kehilangan jika ingatannya kembali dan akan pergi. Hingga ia pun merasa lega ketika mereka tidak memaksanya untuk menyetujui dan menyuruhnya untuk bersikap sesuai dengan rasa nyaman.


'Aku tidak akan hanya makan tidur di sini dan memanfaatkan kebaikan tuan dan nyonya. Aku nanti akan membantu pekerjaan para pelayan di sini setelah benar-benar pulih,' gumam Zea yang memilih untuk mengungkapkannya nanti.


Karena mengetahui jika pasangan suami istri itu tidak akan pernah menyetujui jika mengatakannya sekarang. Selain itu, ia sebenarnya merasa sangat tidak nyaman pada putra pasangan suami istri itu yang sangat datar dan terlihat tidak menyukainya.


Jadi, begitu mengetahui jika Aaron belum pulang, merasa sangat lega karena tidak bertemu sekarang. Ia saat ini ingin bersembunyi di dalam kamar dan beristirahat karena kepalanya pusing jika berdiri terlalu lama.


"Apa saya boleh ke kamar sekarang untuk beristirahat, Nyonya Jenny?" Zea hanya memegangi kepala yang terasa pusing tanpa mengeluhkan rasanya karena merasa sangat tidak enak.


Refleks Jenny mengangguk perlahan dan meminta maaf karena membuat gadis itu tidak langsung beristirahat.


"Tentu saja, Sayang. Ayo, ikut aku. Kamu tidak boleh naik turun anak tangga karena ada lift di sudut sana." Sambil menunjuk ke arah sebelah kiri anak tangga.


Sementara itu, Zea berjalan mengekor di belakang dan di saat bersamaan mendengar suara bariton dari pria yang ingin ia hindari ternyata pulang dan jika kata orang-orang zaman dulu, mengatakan jika orang yang dibicarakan datang, bisa dibilang panjang umur.


"Aku pulang," ucap Aaron yang berjalan sambil menenteng tas kerja dan menyapa sang ayah. Ia bahkan bisa melihat siluet gadis yang akan sementara tinggal di rumahnya sampai ingatannya kembali.


Entah mengapa ia tidak suka dengan gadis itu karena berpikir mencari keuntungan dengan berpura-pura amnesia. Namun, ia tidak mungkin mengungkapkan itu pada orang tuanya yang selalu dihantui rasa bersalah.


"Kebetulan sekali ada yang ingin kubicarakan denganmu, Aaron," sahut Jonathan yang ingin berbicara empat mata dengan putranya dan menunjuk ke arah sofa di ruang tamu luas itu.


Sementara itu, Zea yang tadi sudah masuk ke dalam lift dan beberapa saat kemudian tertutup, kini menoleh ke arah wanita cantik di sebelahnya.


"Tuan Aaron baru saja pulang, Nyonya Jenny. Maaf karena saya tidak menyapa tuan Aaron terlebih dulu."


Sebagai seorang wanita yang ingin sekali mempunyai anak perempuan, Jenny sebenarnya merasa kecewa dengan keputusan gadis muda itu. Ia benar-benar risih mendengar suara Anindya yang memanggilnya nyonya.


Padahal ia sangat ingin gadis itu memanggilnya mama seperti yang dilakukan oleh Aaron, tapi tidak mau dan berusaha untuk memaklumi perasaan gadis itu.


"Tidak apa-apa. Kamu perlu banyak beristirahat agar bisa segera pulih. Nanti tidak perlu turun saat makan malam. Biar pelayan yang mengantarkan. Oh ya, aku sampai lupa hal penting." Menepuk jidat karena baru mengingat sesuatu.


Sementara Zea hanya mengerutkan kening karena merasa heran dan berusaha untuk menghentikan perbuatan wanita yang sangat dihormatinya tersebut.


"Melupakan apa, Nyonya Jenny? Jangan memukul diri sendiri seperti itu, Nyonya."


"Aku lupa bilang pada Aaron agar membelikanmu ponsel baru. Biar nanti memudahkanmu untuk berkomunikasi dengan kami apabila membutuhkan sesuatu ketika tidak lagi bersama seperti ini. Contohnya saat para pria bekerja dan aku pergi menemui teman-teman, jadi kamu tidak perlu bingung nanti."


Refleks Zea merasa jika itu tidak penting baginya. Ia tidak ingin terlalu banyak berhutang budi pada keluarga besar Jonathan karena takut tidak bisa membalas kebaikan mereka.


Padahal sedang berusaha untuk menata hati dan juga fisiknya sebelum membalaskan dendam pada dua wanita yang merupakan ibu dan anak itu karena telah menjualnya.


Namun, penolakannya sama sekali tidak disambut dengan baik oleh wanita yang terlihat masih sangat cantik meskipun sudah tidak lagi muda itu.


"Sudah, jangan menolak dan terima saja semuanya karena ini juga untuk berkomunikasi. Apalagi di zaman modern seperti saat ini mana ada orang yang tidak memegang ponsel. Jadi, kamu juga harus memilikinya, Anindya."


Jenny mengusap lembut lengan Anindya dan kini sudah menunjukkan tempat tinggal gadis itu setelah membuka pintu ruangan kamar berukuran cukup luas dengan berbagai macam furniture lengkap di dalamnya.


Bahkan semua interior dari desain ruangan kamar itu sengaja dirubah dan membayar orang untuk membuat tempat itu seperti keinginannya. Jenny ingin memberikan semua yang terbaik seperti menganggap bahwa Anindya adalah putrinya dalam versi dewasa.


Bahkan saat ini terlihat warna cerah yang mendominasi ruangan kamar tersebut dan menunjukkan semuanya pada Anindya. "Semoga kamu senang dengan desain dan interior ruangan kamar ini, Anindya."


Zea benar-benar terkesima melihat ruangan kamar yang dianggap berukuran 4 kali lipat dari kamarnya. Bagaimana mungkin ia tidak merasa betah jika ruangan itu benar-benar sangat nyaman untuk ditempati.


Apalagi ranjang yang menjadi tempat istirahatnya benar-benar terlihat sangat besar serta sudah dipastikan empuk dan nyaman. "Nyonya, apa ini tidak berlebihan?"


"Kamar ini terlalu bagus, Nyonya Jenny."


"Biasa saja, Anindya. Semoga kamu senang dan betah tinggal di sini selama masih amnesia. Beristirahatlah dan biarkan bibik membereskan semuanya. Kamu tidak perlu berbuat apapun, jadi harus banyak istirahat karena belum pulih sepenuhnya."


Jenny saat ini mengulas senyuman sebelum beranjak pergi. "Aku akan menemui putraku dulu. Oh ya, ada beberapa pakaian yang berada di lemari karena aku sudah membelinya untukmu. Semoga kamu cocok memakainya."


"Terima kasih, Nyonya Jenny." Zea bahkan sedikit membungkuk untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada wanita yang berjalan keluar dari pintu.


Bahkan ia mendapatkan panggilan dari pelayan yang dianggapnya tidak pantas untuknya. Padahal posisi mereka sebenarnya sama, yaitu berasal dari kasta rendahan.


"Saya akan membereskan barang-barang yang ada di dalam tas ini, Nona Anindya." Pelayan wanita paruh baya yang yang sudah bekerja lama di rumah keluarga Jonathan tersebut bergerak membuka tas dan menaruh beberapa barang di tempatnya.


Zea sebenarnya benar-benar tidak nyaman, tapi tidak ingin mengungkapkan ada protes dan membiarkan wanita paruh baya tersebut melakukan apapun sesuka hati.


"Kalau begitu, saya akan beristirahat dulu, Bik."


"Iya, Nona. Silakan."


Zea yang saat ini langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar yang dicat berwarna pink, membuatnya merasa seperti mendadak berubah seperti seorang wanita feminim.


Ia kini mengingat semua hal mengenai nasibnya yang awalnya malang, kini berubah menjadi seperti seorang Cinderella karena tinggal di rumah megah bersama orang-orang baik yang menganggapnya seperti keluarga sendiri.


'Terima kasih, Tuhan karena masih melindungiku sampai sekarang. Bahkan saat berada di hotel, berpikir hidupku akan hancur dan tidak akan selamat dari pria tua itu. Alhamdulillah ternyata semua doa-doaku Engkau dengar dengan masih memberiku kesempatan untuk hidup dengan baik seperti ini.'


Zea benar-benar sangat menyesal karena barang-barangnya sudah tidak tersisa dan semua kenangan dari foto-foto yang ada di ponselnya sudah tidak ada.


Kenangan dari sang ayah yang memenuhi galeri ponsel miliknya dan membuatnya saat ini berurai air mata. 'Papa, meskipun aku tidak menyimpan foto-fotomu saat ini, tapi akan selalu menyimpannya di dalam hati dan tidak akan pernah melupakannya.'


'Papa pasti saat ini bahagia bukan bisa bertemu dengan mama di surga? Aku saat ini sudah bisa menerima kepergianmu, pa. Mama sudah lama menunggumu di sana. Aku akan membuat kalian merasa bangga padaku saat melihat dari surga sana.'


'Aku berjanji akan hidup dengan baik tanpa kalian,' gumam Zea yang saat ini memejamkan mata dan bergerak untuk memunggungi pelayan yang sibuk berkemas agar tidak melihatnya ketika wajahnya sudah bersimbah air mata.


Bahkan meskipun ia berusaha untuk tetap kuat, tetap saja tidak bisa memungkiri bahwa hanyalah seorang perempuan yang sangat lemah dan selalu menangis ketika mengingat orang tuanya yang sudah tidak ada lagi di dunia.


Perasaan membuncah dirasakan Zea dan membuatnya merasa sesak saat menahan kesedihan. Hingga saat ia mendengar suara pelayan yang berpamitan karena sudah selesai berkemas, membuatnya merasa lega karena berpikir bisa menangis sepuas hati di dalam kamar.


Memang selama ini ia tidak pernah menunjukkan kesedihan yang dirasakan ada orang lain karena tidak ingin dianggap sangat lemah. Jadi, begitu berada di dalam kamar sendirian, seketika Zea menangis tersedu-sedu dan menutupi wajahnya dengan bantal agar suaranya tidak didengar dari luar.


To be continued...