
Sementara itu, Khayra yang merasa sangat malu sekaligus kikuk berada hanya berdua dengan Aaron di kamar hotel dengan penampilannya yang hanya mengenakan kemeja tanpa lengan.
Apalagi kalimat vulgar yang tadi dikatakan Aaron membuatnya merasa sangat malu sekaligus kesal. Ia berusaha menormalkan perasaannya yang kacau balau berada di dekat seorang pria tampan dengan senyuman manis yang berhasil menjungkirbalikkan hatinya. Apalagi tatapan iris tajam berkilau itu berhasil menembus jantungnya.
Masih belum mengeluarkan suara, ia ingin mendengar apa yang ingin disampaikan oleh Aaron, tapi pertanyaan yang ditujukan padanya, seketika membuatnya tergagap untuk menjawab.
Dengan posisi kaki menyilang dan bersandar di punggung sofa sambil bersedekap di dada, Aaron kini ingin membuat wanita yang meremehkan ketulusannya menghambur ke arahnya dan mempercayai bahwa ia sangat mencintainya.
"Bagaimana? Kita selesaikan masalah kita secara baik-baik atau dengan dibumbui ancaman?"
"Itu ...." Khayra masih merasa sangat kebingungan untuk menjawab dan terdengar suaranya bergetar karena gugup.
"Rilex, Baby. Aku tidak akan memakanmu, tenanglah. Jangan menganggap aku seperti seekor binatang buas yang akan memangsamu."
Tanpa menunggu jawaban dari Anindya, refleks Aaron bergeser dari posisinya untuk semakin mendekati sosok wanita yang duduk di bagian paling tepi dan menatapnya dengan tidak berkedip serta terkekeh geli melihat raut wajah kebingungan saat tidak bisa menghindarinya.
Khayra yang merasa posisinya terlalu dekat dengan Aaron saat tiba-tiba berpindah di sebelahnya, berniat untuk menggeser tubuhnya, tapi saat menyadari sudah tidak ada stand, tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya akan terjungkal ke lantai jika bergeser.
"Aku akan berbicara, tapi sangat tidak nyaman pada posisi seperti ini. Tolong agak bergeser ke sana!" Mengibaskan tangan agar Aaron segera menjauh karena perasannya saat ini benar-benar sangat gelisah berada pada jarak seintim itu.
Meskipun hanya beberapa centi saja karena ia merasa kesusahan untuk menjauhi wanita yang jelas-jelas dipujanya.
"Baiklah, aku sudah bergeser. Tadi aku hanya ingin mengetahui perasaanmu. Jika kamu gugup saat kita berdekatan, sudah dipastikan kamu memiliki perasaan padaku."
Sebenarnya ia ingin mengedipkan mata begitu mengungkapkan apa yang ada di otaknya, tetapi tidak jadi melakukannya karena takut jika Anindya akan menganggapnya hanyalah seorang pria penggoda dan terlihat seperti bukanlah seorang pria baik-baik.
'Jaga sikapmu, Aaron. Jangan bertindak gegabah dan seenak jidat seperti biasa karena malah akan membuat Anindya ilfil padamu.'
Meskipun masih merasa sangat tidak nyaman karena jarak di antara mereka berdua sangat dekat, Khayra ingin Aaron segera mengatakan keinginannya.
"Aku ingin tidak ada yang dirugikan dari kesalahanku. Sepertinya aku harus mengambil keputusan ini. Jadi, lebih baik kita menikah saja," ucap Aaron yang saat ini masih memulai pembukaan dari lamarannya.
Memang ini bukan lamaran yang sesungguhnya, tapi tetap saja ingin cepat bergerak daripada membuang-buang waktu cukup lama, sehingga mengungkapkan pada gadis yang dianggapnya akan takluk dengan sebuah ancaman.
'Aku mendapatkan ide untuk mengancammu gara-gara mengenal wanita arogan yang malah mau berinvestasi di perusahaanku saat aku bersikap kasar padanya. Jadi, tiba-tiba berpikir ingin mengancammu,' gumam Aaron yang saat ini menunggu keputusan Anindya.
To be continued....