Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Rasa ingin tahu Erick



Tentu saja bukan itu yang Aaron inginkan dari Anindya karena meminta maaf agar ia bisa melanjutkan keinginannya untuk melamar sebagai sebuah bentuk pertanggungjawaban. Jadi ia kini menatap ke arah sosok gadis yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Tidak mungkin aku melakukan itu karena harus bertanggungjawab padamu atas perbuatanku dulu. Jadi, sebelum melakukannya, harus minta maaf terlebih dahulu," seru Aaron yang saat ini tidak mau lagi bertele-tele di hadapan Anindya.


Kini, ia langsung mengambil kotak kecil dari saku celana dan langsung menunjukkan di hadapan gadis yang selama ini berhasil membuat hidupnya tidak tenang. Jadi, ia yang masih pada posisi berjongkok, mengungkapkan semua yang ada di hatinya.


"Anindya, menikahlah denganku. Setelah hari itu, aku tidak pernah hidup tenang dan selalu tersiksa rasa bersalah padamu. Aku ingin kamu menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku kelak. Bahkan mama dan papa sudah bermimpi semenjak lama ingin kamu menjadi menantunya." Berharap Anindya tersentuh dengan ketulusan yang dimiliki.


Sementara itu, Anindya yang saat ini membulatkan matanya, menganggap bahwa apa yang dilihatnya bagaikan sebuah mimpi semu. Padahal dulu ia sangat menginginkan hal itu dari Aaron, tapi sekarang sama sekali tidak tersentuh hatinya.


Meskipun Aaron masih berlutut di bawah kakinya sambil mengulurkan kotak cincin yang berkilauan itu, tetap saja tidak membuatnya merasa terharu dan dengan mudah menerimanya.


Apalagi saat ini yang ada di pikirannya malah wanita yang pernah disebut oleh Aaron saat ia diperkosa dulu.


'Pasti dia tidak akan seperti ini saat wanita itu kembali. Dia pasti akan bimbang dan endingnya kembali pada nona Jasmine, lalu aku akhirnya kembali tersakiti seperti dulu. Aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama dengan menjadi Anindya yang bodoh karena mencintainya,' gumamnya di dalam hati saat memikirkan bagaimana cara untuk membuat Aaron tidak mempengaruhi hatinya.


Hingga ia yang belum berkomentar apapun, kini melihat Erick yang bangkit berdiri dari posisi awal dan menatapnya dengan tatapan aneh.


"Aku sangat yakin jika kamu tidak semudah itu menerima lamaran pria arogan ini, Zea. Apalagi penyebab kamu dulu kabur dan meminta tolong padaku karena si berengsek ini telah membuatmu sakit hati," ucap Erick yang sebenarnya tengah berdebar dan khawatir jika sampai gadis itu menerima lamaran.


Ia berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya agar tidak terlihat lemah dan menganggap jika lawan melihatnya, pasti akan semakin gencar menghancurkan mentalnya.


"Namun, jika kamu menerima lamaran Aaron, aku tidak mungkin bisa menghalangimu lagi karena itu adalah hakmu." Erick kini mencoba untuk mencari tahu bagaimana sosok gadis yang selama ini disukainya tersebut menanggapi lamaran Aaron.


Namun, ia sama sekali tidak bisa menebak apa yang saat ini ada di pikiran Zea karena pancaran mata gadis itu sangat berbeda jauh dari yang dulu. Jika dulu gadis itu bisa ceria dan cengeng di depannya, tapi sekarang terlihat sangat sinis dan aura kejam terlihat.


'Di saat beban berat yang harus kupikul, dia malah melamarku, sedangkan Erick seolah bisa memahami situasiku saat ini karena tidak menyaingi dengan melakukan hal sama,' lirih Khaysila yang saat ini mempunyai jawaban atas lamaran dari pria yang masih belum beranjak berdiri dari tadi.


Sebenarnya ia tahu jika Aaron pastinya merasa sangat pegal kakinya karena dari tadi berlutut saat masih menunggu jawabannya. Jadi, ia tidak membuang waktu dan langsung membuka suara.


"Aku tidak bisa menerima lamaranmu karena menyukai pria lain dan pria itu adalah Erick. Jika aku ingin menikah, hanya ingin dengannya," ucap Khaysila yang saat ini beralih menatap ke arah Erick.


"Apaaa? Coba katakan sekali lagi, Ayang?" teriak Erick dengan raut wajah penuh rasa terkejut. Bahkan ia sama sekali tidak memikirkan hal itu karena mengetahui jika Zea tidak pernah mau menerimanya karena memiliki perasaan pada Aaron.


Pengakuan yang sangat mengejutkan dari Zea sama sekali tidak dipercaya oleh Aaron karena ia yakin jika gadis itu hanya ingin membalas dendam padanya, sehingga saat ini langsung bangkit berdiri dan berjalan mendekat.


Kemudian langsung menahan kedua sisi tangan Zea dan menatapnya sangat tajam. "Jadi ini jawabanmu untuk membalas dendam padamu? Apa kamu pikir Erick akan terus memujamu begitu mengetahui yang sebenarnya?"


Khaysila yang sama sekali tidak takut akan ancaman dari sosok pria yang dulu membuatnya tergila-gila, kini berpikir jika Erick pergi setelah tahu ia diperkosa Aaron, menganggap itu adalah hal lumrah dan tidak akan menyalahkan.


"Katakan apa yang kamu maksud dengan kejadian sebenarnya!" seru Erick yang dari dulu sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Aaron pada Zea.


Merasa punya kesempatan bagus untuk memisahkan Erick dari Anindya, kini Aaron tidak membuang waktu untuk segera mengungkapkan semuanya.


"Sebenarnya aku dulu telah ...."


To be continued...