Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Melakukan tes



Aaron yang baru saja membaringkan tubuh malaikat kecil itu ke atas ranjang berukuran luas yang sudah dihias semenarik mungkin untuk bayi yang ditebaknya merupakan putra dari Anindya, ia saat ini mendengar suara dari kepala pelayan.


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Mas-nya," ucap wanita paruh baya yang saat ini berpikir untuk membicarakan sesuatu hal tentang bayi agar jika nanti menangis lagi, tidak kebingungan dan menyuruh baby sitter menerapkan apa yang diarahkan terapis bayi itu.


Sementara itu, Aaron yang saat ini ingin mencari sesuatu hal mengenai Anindya menikah dengan siapa, kini berbicara. "Bolehkah saya menumpang ke toilet sebentar?"


"Tentu saja. Kamar mandi ada di sebelah kiri," sahut kepala pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah keluarga besar Kusuma dan saat ini menunjukkan arah sebelah kirinya.


Aaron langsung menganggukkan kepala. "Terima kasih. Kemudian melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam kamar mandi.


Tadinya ia berpikir akan disuruh ke kamar mandi lain yang ada di luar ruangan kamar agar bisa mencari foto pernikahan Anindya dengan bapak dari bayi yang tadi digendongnya. Namun, saat ini merasa kecewa di dalam kamar mandi karena tidak bisa mencari tahu apa yang ingin diketahuinya.


'Kira-kira bagaimana caranya mengetahui siapa pria yang sudah menikah dengan Anindya hingga melahirkan bayi itu?" Aaron saat ini memeras otaknya untuk memikirkan beberapa kemungkinan mengenai Anindya.


"Dua bulan," lirih Aaron yang saat ini menghitung apa yang ada di pikirannya begitu mengingat saat Anindya menolak mentah-mentah lamarannya bukan karena sudah menikah dan lebih memilih Erick.


Kini, ia menghitung mundur bulan dan membulatkan mata begitu mengetahui sesuatu hal yang ada di pikirannya saat ini. Ia pun saat ini lebih memastikan dengan cara membuka mesin pencarian dan mencari tahu sesuatu hal mengenai


kehamilan seorang wanita tepatnya berapa bulan.


Refleks ia memegangi degup jantungnya yang tidak beraturan karena saat ini merasa sesuatu hal yang sangat menggetarkan sanubari begitu pikirannya mengarah pada ayah dari bayi itu tak lain adalah dirinya sendiri.


Bahkan ia masih memegangi dadanya untuk menormalkan perasaan tidak karuan dan mengingat bagaimana wajah bayi itu yang sangat mirip dengan Anindya.


'Jika aku menghitung mundur kepergian Anindya dan usia bayi itu, sangat pas dengan apa yang kulakukan karena di mesin pencarian menunjukkan jika kehamilan dihitung lebih awal beberapa minggu dan tepat sekali ketika dia pergi dari rumah,' gumam Aaron yang saat ini pura-pura memencet tombol pada closet.


Hingga ia tidak ingin membuat curiga pelayan yang menunggunya dan kini melangkahkan kakinya keluar. Ia langsung disapa oleh baby sitter yang menyuruh untuk menuju ke ruang tamu.


"Kepala apa yang sudah menunggu Anda, Mas," ucap wanita yang sudah bekerja 1 tahun sebagai baby sitter, meski di rumah itu baru satu bulan ini.


Ia yang terpesona pada wajah rupawan pria di hadapannya tersebut, berusaha untuk mencari perhatiannya dengan mengulas senyuman semanis mungkin. Namun, merasa sangat kecewa karena tidak mendapatkan senyuman balik karena hanya menganggukkan kepala dan berjalan keluar tanpa menunggunya.


'Wah ... mas itu cuek sekali padaku. Apa dia sama sekali tidak tahu jika aku tersenyum padanya? Paling tidak, dia harusnya tersenyum balik sebagai bentuk kesopanan,' gumamnya dengan wajah merengut dan bibir mengerucut karena kesal sekaligus kecewa usahanya sama sekali tidak ditanggapi.


Namun, sama sekali tidak menemukan apapun karena yang ada hanyalah foto besar dari kakek dan Anindya sendiri yang dipajang di ruang tamu. Ia saat ini menatap ke arah dinding yang dihiasi dengan foto Anindya dan terlihat cantik.


Ia yang mengarahkan jari telunjuk pada dinding dihiasi foto keluarga tersebut, membuka suara untuk bertanya pada wanita paruh baya tersebut. "Jadi, itu adalah mommy dari baby?"


Kepala pelayan yang saat ini mengikuti arah telunjuk pria yang baru saja datang tersebut, hanya menganggukkan kepala.. Hingga ia kembali mendapatkan pertanyaan yang membuatnya tidak bisa menjawab.


"Kenapa tidak ada daddy si baby? Lalu di mana daddy-nya?" tanya Aaron yang masih fokus menatap ke arah foto cantik wanita yang menolak lamarannya.


Namun, ia merasa aneh karena pertanyaannya sama sekali tidak dijawab ataupun diperdulikan. Berpikir jika apa yang ada di otaknya benar begitu mendengar suara wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


"Silakan duduk, Mas. Saya ingin membicarakan mengenai apa saja yang alat terapis untuk baby. Saya akan membelinya agar baby tenang dan tidak rewel lagi setiap hari. Jadi, untuk berjaga-jaga selain penjelasan Mas tadi." Ia yang tidak suka saat pria yang baru saja mendaratkan tubuh di atas sofa tersebut mengulik tentang hal-hal bersifat privasi.


Jadi, sama sekali tidak menanggapi karena tidak ingin muncul berita di media sosial. Ia berniat untuk memberikan sejumlah uang agar tidak terbongkar rahasia mengenai putri dari majikannya yang memang selama ini disembunyikan dari umum demi menjaga nama baik keluarga besar Kusuma yang selalu diincar oleh para saingan bisnis yang berusaha untuk menghancurkan.


Aaron yang tadi sudah mengantongi dasar-dasar terapis dan juga alat-alat yang dilihatnya di toko, seketika menjelaskan. Beberapa saat kemudian, ia kembali mempunyai ide di kepalanya.


"Jadi, saya biasa datang ke rumah untuk melakukan terapis bayi dan membawa alat yang ingin dibeli. Apalagi tidak mungkin sering membawa keluar baby saat masih berusia beberapa bulan, bukan. Jadi, perusahaan memiliki inisiatif seperti ini untuk mengarahkan terapis door to door untuk memudahkan pelanggan yang memiliki bayi."


Aaron kemudian berdiri dan menunjukkan beberapa alat terapi yang tadi sudah disimpan olehnya dan sudah ada harganya di sana, jadi tidak perlu susah payah untuk menjelaskan pada kepala pelayan yang benar-benar mempercayai semua perkataannya.


"Anda bisa memilihnya, jadi nanti atau besok akan membawanya ke sini. Bahkan jika bersedia, juga akan melakukan terapis pada baby setiap hari," ucap Aaron yang saat ini menyerahkan ponselnya dan sangat yakin jika ia adalah ayah biologis dari bayi yang tadi berhasil ditenangkan.


Jadi, berharap wanita itu setuju agar ia bisa setiap hari datang setelah Anindya berangkat ke perusahaan. Jadi, ia mengurungkan niat untuk menemui Anindya nanti malam karena ingin terus bertemu dengan bayi yang diyakininya adalah darah dagingnya.


'Aku harus menceritakan ini semua pada mama. Pasti mama akan semakin bahagia dan jika benar mau datang ke sini, pasti akan ikut menyamar karena ingin bertemu dengan cucunya. Mama, aku akhirnya bisa memenuhi keinginanmu untuk menimang cucu,' gumam Aaron yang saat ini terdiam saat membayangkan reaksi dari sang ibu yang pastinya akan sangat bahagia.


Ia bahkan berpikir bisa bertemu darah dagingnya setiap hari tanpa sepengetahuan Anindya dan akan mengungkapkan semuanya setelah berhasil memastikan sendiri karena berniat untuk melakukan tes DNA.


To be continued...