
Malam hari, Aaron baru tiba di Jakarta dan saat ini sudah menginjak pukul 8 malam. Ia yang baru saja membuka pintu rumah, bisa melihat orang tuanya saat ini telah duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Kini, ia langsung menghampiri orang tuanya yang sepertinya sudah menunggu kepulangannya.
"Papa, Mama," ucap Aaron yang saat ini menghampiri orang tua dan berniat untuk menyampaikan apa yang diketahui mengenai Zea dari pria yang tadi pagi berbicara dengannya.
"Duduklah! Kami sudah menunggu kepulanganmu dari tadi karena ingin bicara mengenai hal penting tentang Zea." Jennifer yang memang sengaja tidak berniat untuk tidur awal karena sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri tersebut.
Ia sangat yakin jika putranya telah melakukan sesuatu hal yang buruk pada Zea, sehingga sampai memilih pergi tanpa pamit padanya.
Sementara itu, Jonathan memang membiarkan sang istri membuka suara dan bertanya karena tadi wanita itu memintanya untuk diam saja mendengarkan. Jika hal yang buruk atau ia bertengkar dengan putranya, baru boleh membuka suara untuk melerai.
Tentu saja ia tidak bisa diam jika mengetahui putranya berbuat jahat pada Zea dan pasti akan menghukum dengan hukuman yang pantas.
Sementara itu, Aaron yang saat ini menuruti perintah dari sang ibu yang terlihat dingin dan membuatnya mengerutkan kening karena melihat sikap aneh wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Iya, Ma." Ia berniat untuk menunggu apa yang disampaikan oleh ibunya, baru menceritakan tentang dia yang ternyata memiliki seorang kakek dan pulang bersamanya entah ke mana rimbanya.
Jennifer kini menatap ke arah putranya dengan tatapan menyelidik penuh kecurigaan dan mencari kejujuran di mata Aaron. "Kamu tahu kan bahwa Erick sudah menceritakan semuanya pada kami?"
Aaron menganggukkan kepala dan langsung menyahut, "Ya, Ma. Lalu?"
"Lalu? Reaksimu hanya itu?" Jennifer sudah berubah sangat kesal melihat putranya yang seperti tidak peka dengan apa yang disampaikan olehnya.
Hingga ia yang saat ini berniat untuk bangkit dari sofa dan menjewer putranya, tangannya ditahan oleh sang suami dan membuatnya menoleh.
"Jangan mengandalkan emosi dan lebih baik jelaskan pada Aaron karena sepertinya dia sangat lelah dan tidak bisa langsung membaca apa yang kau inginkan!" Jonathan tidak ingin terjadi perdebatan sebelum semuanya jelas, jadi mencoba untuk menghentikan sang istri yang selalu saja tidak bisa menahan amarahnya.
Meskipun sebenarnya ia tahu bahwa para wanita mayoritas seperti itu karena sering tidak bisa mengendalikan emosi dengan mengomel tidak jelas karena kesal, tapi berusaha untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut putra dan Zea agar cepat selesai dan mendapatkan jalan keluar.
Jennifer yang saat ini dikuasai oleh amarah dan ingin meluapkannya pada putranya dengan menjewer telinga, akhirnya menormalkan dari napas memburu yang saat ini dirasakan.
Hingga ia pun mendengar suara bariton dari putranya yang membuatnya seketika memicingkan mata karena kabar yang mengejutkan.
"Sebenarnya apa yang sebenarnya Mama ingin sampaikan padaku? Aku pun juga ingin menyampaikan kabar tentang Zea yang ternyata pergi bersama kakeknya." Aaron yang sudah tidak sabar ingin melihat reaksi orang tuanya mengenai apa yang diketahui olehnya.
Hingga ia pun saat ini berpikir bahwa membutuhkan bantuan dari sang ayah untuk mencari tahu. Pemikiran bijak dari sang ayah yang selalu menyelesaikan masalah apapun dan hal itu tidak bisa dimiliki olehnya karena selalu mengandalkan emosi seperti sang ibu.
"Kakek? Apa maksudmu? Dari mana kau mengetahui jika Zea pergi bersama kakeknya?" Lagi-lagi Jennifer yang membulatkan mata karena mendengar informasi yang tidak pernah terpikirkan.
Bahkan saat berbicara dengan Erick pun, tidak ada hal yang mengacu pada keluarga Zea karena mengetahui bahwa orang tuanya sudah meninggal dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi.
"Bukankah Zea adalah gadis yatim piatu dan selama ini tinggal bersama ibu tiri serta kakak tirinya yang kejam dan menjualnya pada orang hanya untuk mendapatkan uang?" Ia menoleh ke arah sang suami yang juga berekspresi sama sepertinya.
Kemudian Aaron mulai menceritakan pembicaraannya tadi pagi bersama dengan pria pemilik hamparan sawah luas di depan rumah Zea. "Jadi, seperti itu ceritanya, Pa, Ma. Aku tadi sudah memberikan kartu namaku dan berharap jika pria itu dihubungi oleh kakeknya Zea, langsung menghubungiku agar aku bisa segera mencari tahu informasi mengenai itu."
Pasangan suami istri paruh baya tersebut kini saling bersitatap dan bernapas lega karena saat ini sedikit menemukan titik terang. Mereka sama-sama berpikir Zea tidak pergi sendiri ataupun diculik oleh orang jahat.
"Syukurlah. Paling tidak, Zea saat ini bersama dengan keluarganya yang pasti menjaganya dengan baik." Jennifer benar-benar merasa lega karena kekhawatirannya tidak lagi membuatnya tersiksa rasa bersalah.
"Iya, kamu benar, Sayang. Zea saat ini aman dan pastinya berada di tempat yang nyaman karena tidak bersama dengan orang-orang jahat seperti ibu tiri dan kakak tirinya itu." Jonathan sependapat dengan sang istri yang kini merasa lega karena sudah tidak dipenuhi pikiran buruk mengenai gadis yatim piatu malang itu.
Tentu saja hal itu sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Aaron karena tujuannya mengatakan hal itu bukan untuk hidup tenang setelah mengetahui jika Zea bersama dengan sang kakek.
"Tapi meskipun begitu, bukankah kita harus mencari tahu tentang keberadaan Zea? Aku tetap tidak tenang sebelum melihatnya, Pa, Ma. Aku harus mencarinya, meskipun jelas-jelas ia saat ini tengah bersama dengan kakeknya." Aaron saat ini menatap ke arah sang ayah dan berpikir untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan.
"Apa Papa tidak punya ide untuk mencari tahu keberadaan Zea? Oh ya, aku lupa untuk memberitahu tentang perihal nomor ponsel Zea. Pasti ada lokasi terakhirnya. Kalian dapat nomor Zea dari Erick, bukan? Aku tadi pagi mau mintanya dan tidak dikasih. Bahkan cecunguk itu kembali memblokirku." Raut wajah Aaron berubah memerah jika mengingat tentang pria yang sangat tidak disukainya tersebut.
Hingga ia merasa sangat kesal atas tanggapan dari sang ibu yang sepertinya malah mendukung Erick daripada putra sendiri.
"Sukurin! Seharusnya kau tahu apa alasan Erick memblokirmu." Jennifer yang saat ini belum menemukan jawaban yang diinginkan, menatap tajam putranya agar menjawab pertanyaannya.
"Sekarang katakan apa yang kau lakukan pada Zea, Aaron? Kenapa gadis malang yang sudah tidak punya orang tua itu ingin pergi tanpa berpamitan dan menangis saat ditanya oleh Erick? Mama sangat yakin jika kau telah melakukan sesuatu yang buruk pada Zea. Sekarang, jujurlah pada kami tentang hal itu!"
Jennifer yang baru saja menutup mulut, kini mendengar suara dari sang suami yang juga memberikan sebuah ultimatum pada putranya agar tidak berbohong dan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Papa dan Mama sangat yakin jika penyebab Zea pergi adalah dirimu karena dengan kami sama sekali tidak ada masalah. Jadi, katakan hal yang kau lakukan pada Zea!" seru Jonathan saat ini menatap ke arah putranya yang berubah pucat dan makin membuatnya yakin ada sesuatu hal yang terjadi.
Sementara di sisi lain, Aaron yang awalnya memang berencana untuk menceritakan semua hal yang dilakukan pada malam sebelum Zea pergi, mendadak berubah menjadi pecundang yang khawatir jika mendapatkan kemurkaan dari orang tuanya.
Ia bahkan saat ini menelan saliva dengan kasar ketika mendapatkan tatapan tajam dari orang tuanya yang masih tidak mengalihkan perhatian darinya.
'Padahal aku berencana untuk jujur pada orang tuaku mengenai perbuatanku yang telah memperkosa Zea karena efek mabuk, tapi ternyata berbeda posisinya saat aku ditanya seperti ini. Apa papa akan menghajarku habis-habisan dan mama akan menjaga telingaku hingga putus?'
Mendadak nyali Aaron seketika tumpul dan kebingungan untuk memulai bercerita tentang malam yang membuatnya merenggut kesucian gadis malam yang sudah kehilangan orang tua dan berpura-pura kehilangan ingatan hanya demi bisa hidup tenang.
Namun, semuanya malah ia hancurkan dan membuat gadis itu pergi dari rumah secara diam-diam. Aaron kini berdehem sejenak sebelum membuka suara untuk menceritakan kejadian di malam nahas itu.
"Jadi, begini cerita sebenarnya, Pa, Ma. Malam itu ...."
To be continued....