
Hari-hari telah berlalu dan kemudian berganti bulan. Bahkan musim kemarau kini telah berganti penghujan seperti pagi ini kala sosok pria yang berdiri di balkon ruangan kamar. Ia mengulurkan tangan untuk bisa merasakan dinginnya air hujan yang turun di pagi hari ini yang membuat mayoritas orang bergelut di bawah selimut karena cuaca yang mendukung dan hawa dingin menusuk tulang.
Pria yang tak lain adalah Aaron kini sibuk memanjakan mata melihat air hujan yang dari pukul enam pagi membasahi bumi dan menyejukkan penghuni bumi di sebagian daerah.
Apalagi ia melihat berita terbaru akibat hujan terus-menerus, ada daerah yang terkena banjir lahar dan mengakibatkan jembatan penghubung dua kota sampai hancur. Bahkan ia sudah menyuruh asisten pribadinya untuk memberikan sumbangan uang bagi beberapa korban yang terkenal dampaknya.
Kini, tangannya telah basah dan rasa sejuk menembus pori-pori kulitnya. Ia teringat akan momen di mana dulu masih bersikap ketus pada Anindya dan gadis itu mengatakan sangat suka melihat hujan.
"Apa dia dulu mengingat masa lalunya yang menyukai hujan? Kenapa aku dan keluargaku sama sekali tidak menyadarinya saat dia bilang sangat suka hujan dan ingin main hujan-hujanan ketika belum pulih sepenuhnya?" Aaron saat ini mengenang semua masa-masa kebersamaan dengan Anindya.
Ia bahkan sama sekali tidak pernah bisa melupakan bagaimana ekspresi wajah gadis yang merupakan ibu dari benihnya tersebut karena terlihat seperti sangat ingin main hujan-hujanan kala itu.
"Apa di Surabaya juga turun hujan? Ataukah terang? Aku ingin sekali mengetahui apa yang dilakukannya saat hari Minggu seperti ini. Meskipun sudah jelas jika dia pasti lebih suka menghabiskan waktu dengan Kenzie di hari libur, tapi aku ingin tahu apakah saat melihat hujan, ia main hujan-hujanan?" Aaron kini meraih ponsel miliknya di saku celana.
Ia berniat untuk menelpon sang ibu, tapi tidak ingin menanyakan keadaan Anindya. "Aku tanya tentang putraku saja. Sudah cukup lama aku tidak menelpon mama gara-gara egoku karena kesal pada Anindya."
"Aku pikir dia akan merasa kehilangan saat aku pergi dan sama sekali tidak menghubunginya, tapi yang ada malah dia makin cuek dan tidak ada kabar sama sekali." Ia kini menunggu panggilan diangkat oleh sang ibu dengan masih fokus menatap gemericik hujan yang turun dari langit gelap hari ini.
Hingga begitu detik berjalan yang menandakan panggilan mendapatkan tanggapan, ia seketika membulatkan mata begitu mendengar suara sosok wanita yang sangat dirindukan.
"Halo. Mama baru saja pergi ke toilet, jadi aku yang mengangkatnya karena ponsel ada di sebelahku." Khayra yang saat ini berada di teras rumah sambil melihat air hujan yang dari semalam turun dan hawa sejuk menembus pori-pori kulitnya, sehingga mengenakan sweater tebal.
Hingga saat ia asyik melihat hujan, baru menyadari jika ponsel ibu dari Aaron masih berada di atas meja, sebelah coklat panas yang tadi dibawakan oleh pelayan.
'Sebenarnya aku sangat malas mengangkat telponnya, tapi aku ingin tahu apakah dia sekarang bahagia bisa bertemu dengan nona Jasmine,' gumam Khayra yang kini tengah ragu membahas mengenai Jasmine yang sering datang ke perusahaan.
"Aku sama sekali tidak menyangka jika bisa berbicara denganmu setelah sekian purnama, Anindya," ucap Aaron yang tadinya ingin mencari tahu tentang apa yang dilakukan oleh Anindya saat ini.
Namun, ia benar-benar seperti bermimpi bisa berbicara secara langsung dengan Anindya dan kebetulan mendengar suara rintik hujan yang sama dari seberang telpon.
"Apa di Surabaya sekarang juga turun hujan?"
Khayra yang tadinya malas menanggapi, kini hanya menjawab singkat. "Iya, di sini hujan. Sepertinya di Jakarta juga turun hujan ...."
'Hujan CLBK,' lirih Khayra di dalam hati yang tidak ingin menunjukkan kebodohannya pada Aaron.
"Apa kamu tidak ingin hujan-hujanan sekarang? Bukankah kamu dulu pernah bilang suka hujan dan ingin main hujan ketika baru pulang dari Rumah Sakit? Main saja sekarang, biar aku temani dari sini karena sepertinya main hujan-hujanan sangat menyenangkan." Aaron yang sebenarnya menyembunyikan perasaan sebenarnya karena kini sibuk mengusap lengannya saat kedinginan.
"Lupakan itu karena aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. Aku sudah tidak suka main hujan-hujanan karena bukan anak kecil lagi," ucap Khayra yang kini menutup panggilan telepon sepihak karena melihat seseorang yang baru saja memasuki pintu gerbang utama rumahnya.
To be continued...