
"Apa Erick sudah pergi, Zea?" tanya Jennifer yang baru saja mengirimkan pesan pada putranya mengenai ia belum sempat katanya pada gadis itu mengenai alamat hotel agar sama.
Khayra yang pertama kali melihat putranya masih tidur pulas, kini menganggukkan kepala untuk membenarkan. "Mungkin dia akan menginap di hotel, Ma. Tapi aku tadi tidak bertanya padanya karena marah sekaligus kesal."
"Aku mau berkemas dulu, Ma." Ia perjalanan menuju ke arah ruangan ganti untuk mengambil koper dan membawa beberapa pakaian ganti.
Jennifer yang masih merasa penasaran dengan pembicaraan antara Anindya dengan Erick saat mengusirnya, sehingga bangkit dari ranjang dan berjalan mengikuti gadis itu.
"Wajar saja jika kamu marah padanya karena memang perbuatan Erick sangat keterlaluan. Apalagi tadi kamu sedang menyusui Kenzie. Padahal ruangan paling nyaman dan aman hanyalah kamar, tadi Erick benar-benar membuatku seperti jantungan dan langsung menutupi tubuhmu agar tidak terlihat olehnya."
Ia yang saat ini melihat Anindya membuka koper dan memilih pakaian, kini menyarankan beberapa pakaian hangat agar tidak kedinginan di sana karena cuaca sangat berbeda dengan di Indonesia yang identik dengan musim kemarau. Meskipun sekarang sudah bercampur dengan cuaca dingin di beberapa kota.
"Iya, Mama benar. Aku pun sangat terkejut dan benar-benar marah tadi. Makanya langsung mengusir dan berhasil membuatnya pergi." Ia saat ini mengambil pakaian yang dipilih oleh mertuanya dan memasukkan ke dalam koper.
Ia berpikir waktu 2 hari sangat singkat dan tidak perlu membawa pakaian ganti banyak-banyak. Baju formal berwarna hitam kini dipilihnya karena tadi mengetahui jika warna favorit dari investor itu adalah hitam, sehingga ingin menyamakannya.
"Ngomong-ngomong, nanti kamu menginap di hotel mana? Siapa tahu hotel yang sama dengan suamiku," ucapnya yang kini mulai beraksi untuk mencari tahu sesuai dengan perintah dari putranya yang ingin menginap di hotel sama.
Refleks Khayra yang belum berpikir ke arah sana karena tadi sibuk dengan semua hal yang berhubungan dengan investor tersebut sudah dipelajarinya. Bahkan ia juga menghafal beberapa percakapan dengan bahasa luar agar nanti fasih ketika bertemu dengan wanita itu.
"Aku belum bertanya tentang masalah hotel karena berpikir akan bersedia menginap di manapun berada." Ia tak kan kini sudah menyiapkan pakaian untuk berangkat ke bandara besok.
Dengan memilih setelan berwarna hitam putih dengan blazer, ia pun kini menggantungnya di barisan paling depan agar memudahkannya mengambil saat besok dikenakan.
Sementara itu, Jennifer yang tidak pantang menyerah dan ingin tahu, ini masih berusaha untuk membujuk agar gadis itu mau bertanya pada sang asisten.
"Kamu besok berarti pergi bersama dengan asisten kakekmu, ya?"
"Iya, Ma."
"Tanyakan saja mengenai nama hotelnya. Suamiku tadi bertanya tadi."
"Baiklah. Aku akan bertanya sekarang." Meskipun dengan pertanyaan itu, Khayra yang sama sekali tidak ingin membantah karena takut membuat wanita di hadapannya tersebut kecewa.
Kini, ia mengirimkan pesan pada asisten pribadi sang kakek mengenai nama hotel tempat mereka menginap. "Kita tunggu balasan dulu, Ma."
"Iya. Oh ya, jangan lupa belikan mama oleh-oleh, ya. Parfum saja karena kebetulan sudah mau habis." Ia saat ini sengaja mengalihkan kecurigaan Anindya agar tidak berpikir macam-macam padanya.
Padahal dari dulu tidak suka meminta hadiah dari orang lain, tapi sekarang demi putranya, akan melakukan segala cara untuk menyatukan mereka.
Kini, Anindya sudah selesai berkemas dan memasukkan beberapa dokumen penting yang tadi diambil dalam brankas sang kakek.
Kini, membawa koper berukuran sedang tersebut keluar dan menaruh di sudut ruangan agar tidak terlupa. Ia kini keroncongan karena memang belum makan.
"Mama tadi belum makan, kan? Ayo, kita turun makan siang. Kenzie nanti biar dijaga oleh baby sitter." Saat ia pekerjaan menuju ke arah pintu keluar bersama dengan wanita itu, kini mendengar notifikasi masuk dan berpikir jika itu adalah dari asisten yang membalas pesannya barusan.
"Sepertinya ini jawaban dari pertanyaanku, Ma." Ia langsung membuka pesan dan membacanya.
Tidak tahu daerah New York dan juga mengenai hotel, ia pun menyerahkan ponsel miliknya pada wanita itu. "Susah dibaca, Ma. Mungkin Mama tahu hotelnya."
Refleks Jennifer yang kini berjalan keluar dari pintu, langsung membaca nama hotelnya. "Sebentar, aku tanyakan dulu padahal suami apakah mengetahuinya. Juga, apakah lokasinya jauh dari tempat menginap di New York."
Ia kemudian mengembalikan ponsel Anindya yang kini sudah berjalan menuruni anak tangga. Sementara ia langsung mengirimkan pesan pada putranya untuk memberitahukan mengenai hotel tempat menginap gadis itu.
Bukan seperti yang dikatakannya tadi bahwa akan menanyakan pada sang suami.
Sekarang suruh papamu untuk booking kamar di hotel itu. Kalau bisa, di lantai yang sama atau bersebelahan dengan Anindya.
Kemudian mengirimkan pesan tersebut pada putranya dan langsung dibaca serta dibalas.
Oke, Ma. Oh ya, tadi aku baru saja mengerjai Erick yang pamer padaku memakai baju kakeknya Anindya. Akhirnya aku katakan saja jika besok pergi ke New York dan akan menemui Anindya di sana.
Jennifer yang merasa jika putranya sangat kekanakan karena meladeni Erik dan mengatakan hal yang sebenarnya. 'Dasar bodoh! Bagaimana jika sampai Erick bertanya pada Anindya? Pasti akan kacau,' gumamnya yang saat ini berpikir untuk meminjam ponsel milik gadis itu agar tidak membaca pesan dari Erick.
Namun, merasa ragu karena tidak tahu alasan apa yang tepat untuk meminjamnya lama. 'Aaah ... biarkan saja karena yang nanti merasakan dampaknya adalah Aaron.'
Lamunannya seketika musnah begitu tubuhnya ditahan oleh Anindya ketika hampir menabrak dinding di ruangan makan.
"Mama, hati-hati! Mama sedang memikirkan apa memangnya?" Khayra kini melindungi kening wanita itu yang hampir saja menabrak dinding ketika menatap kosong saat memasuki ruang makan.
Jennifer yang tergagap dan terkejut karena hampir saja kejedot dinding. "Bisa-bisanya aku malah hampir menabrak dinding. Tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Kalian pasti seperti sedang mengalami reuni jika nanti bertemu di New York. Apalagi sudah lama tidak bertemu, kan?"
Awalnya Khayra rasa sangat aneh melihat wanita itu melamun ketika berjalan. Hingga ia maklumi karena berpikir jika saat ini tengah merasa tidak percaya bisa bertemu di luar negeri.
"Pasti Mama iri karena kami akan bertemu di New York, kan? Papa Jonathan pasti sangat merindukanku karena memang sudah cukup lama tidak bertemu. Semoga nanti kami tidak sama-sama menangis terharu karena bisa bertemu di luar negeri karena urusan bisnis." Ia terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri.
Hingga disambut dengan pembenaran dari wanita yang sudah mendaratkan tubuh di atas kursi.
"Iya, sebenarnya aku benar-benar iri karena ingin sekali pergi bersama kalian dan liburan di sana, tapi kasihan nanti Kenzie hanya bersama dengan baby sitter. Aku lebih mementingkan cucuku daripada liburan karena sudah sering melakukannya. Kamu nikmati berada di New York dengan menganggapnya bekerja sekaligus liburan."
Ia Anindya dan menepuk ringan dengan gadis itu. "Kunjungi tempat-tempat wisata sebelum pulang nanti dan jangan pikirkan atau mengkhawatirkan Kenzie karena aman bersamaku."
Ia sebenarnya ingin cepat-cepat pulang agar bisa kembali melihat putranya yang menjadi pusat dunianya, tapi khawatir jika dianggap tidak mempercayai wanita itu, sehingga saat ini hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Baiklah, Ma. Mungkin hanya akan mengunjungi beberapa saja. Kira-kira yang paling terkenal di sana apa, ya?" Ia berniat untuk mencari tahu di media sosial.
"Nanti saja tanyakan pada papamu saat sudah berada di sana. Sekarang kita makan dulu karena sudah sangat lapar," ucapnya yang saat ini mengambil nasi untuk Anindya terlebih dahulu.
"Ma, seharusnya aku yang melayani, bukan malah sebaliknya. Aku selalu merasa seperti durhaka pada orang tua karena sudah menganggap Mama seperti ibu kandung sendiri." Khayra sebenarnya sudah melarang wanita itu untuk melayaninya, tapi sama sekali tidak didengarkan dan selalu terjadi perdebatan di meja makan.
Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan agar Anindya segera menjadi menantunya dengan menerima Aaron, tapi tidak ingin mengubah mood baik dari gadis itu menjadi buruk.
"Sudah dimakan saja dan jangan membahas hal itu karena Mama melakukan ini juga sangat menyayangimu seperti putri kandung sendiri." Ia pun mengambil nasi setelah membuka piring dan menambahkan beberapa sayur serta lauk pauk yang terhidang di atas meja makan.
"Menu sayur asem dengan pepes pindang adalah menu kesukaan kakek, Ma. Mama suka atau tidak? Aku tidak pernah melihat menu ini di meja makan dulu ketika tinggal di sana." Khayra kini menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulut dan mengunyahnya.
Hingga ia mengetahui kenyataan baru mengenai sesuatu tentang Aaron.
"Sebenarnya dulu pelayan di rumah pernah memasak seperti ini, tapi Aaron tidak menyukai sayur asem katanya rasanya seperti makan jeruk limau, asam. Bahkan bisa dibilang sangat membenci sayur itu."
"Sepertinya kebalikan dari kakekmu dan mereka mungkin akan bertengkar di meja makan jika makan bersama karena memiliki selera berbeda dalam makanan. Kalau Mama sangat menyukainya, tapi karena Aaron tidak, sehingga tidak menyuruh pelayan untuk memasak." Ia emang tidak ingin membuat mood putranya berubah buruk di meja makan.
Jadi, selalu menghidangkan apa yang disukai oleh putra dan suaminya. Sementara ia jika ingin makan sesuatu yang diingini, menyuruh pelayan memasak sedikit dan menikmati sendiri saat jam makan siang karena memang suami serta putranya berada di kantor.
"Padahal sayur asem sangat segar dan banyak vitamin karena isiannya aneka sayuran," ucap Khayra yang saat ini tengah mengunyah makanan setelah berbicara.
Biasanya ia selalu kesepian ketika makan di meja makan karena terkadang menyuruh kepala pelayan untuk menemaninya. Begitu ada ibunya Aaron tinggal bersamanya, membuatnya merasa senang dan seperti saat ini mengobrol ketika menikmati makanan.
"Berarti kita mempunyai selera yang sama, Sayang. Makanya dari pertama bertemu denganmu dulu di rumah sakit, sudah sangat menyukaimu. Bahkan aku berpikir pasti akan sangat senang memiliki anak perempuan sepertimu. Seandainya saja kalian benar-benar bersatu, mungkin Mama sangat bahagia." Ia seketika membekap mulut begitu menyadari ratu aja Anindya berubah murung.
"Maaf. Lupakan dan jangan diambil hati perkataanku tadi. Itu hanyalah refleks semata." Saat ia mengalihkan pandangannya dengan menikmati makanan, kini kembali menatap gadis dengan raut wajah muram tersebut.
"Apa Mama menganggapku sangat keras kepala karena tidak kunjung menerima tuan Aaron?" Khayra bahkan saat ini meletakkan sendok di tangan ke atas piring dan menatap intens wanita di hadapannya untuk mencari tahu jawabannya.
Sementara Jennifer yang sebenarnya ingin langsung mengiyakan pertanyaan dari Anindya, tidak bisa melakukannya karena khawatir akan membuat gadis itu tertekan. Padahal harus fokus pada pekerjaan, jadi hanya tertawa untuk mengalihkan perhatian.
"Kamu berhak memilih pasangan yang sesuai dengan kriteriamu karena yang hidup bersama seumur hidup adalah kamu sendiri, bukan Mama." Ia merasa seperti seorang wanita bijak, padahal aslinya jauh dari kata itu dan kembali melanjutkan menghibur gadis itu.
"Jadi, meskipun Mama sangat menginginkanmu menjadi menantu, tidak bisa memaksa karena tidak ingin kamu hidup menderita jika hidup berdasarkan terpaksa."
Saat ini Khayra terdiam karena memang itulah yang dirasakan dan sangat respect pada wanita yang sudah dianggap seperti ibu sendiri tersebut.
"Ya, Mama benar. Aku tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Apalagi sekarang ada banyak hal yang harus ku kerjakan. Aku pun harus fokus dengan semuanya. Lagipula, siapa tahu sebentar lagi tuan Aaron menikah dengan nona Jasmine karena masih mencintainya. Aku mungkin hanyalah pelampiasannya saat kecewa."
Mendadak nafsu makannya kini telah hilang, sehingga saat ini berpikir jika tidak akan bisa makan lagi ketika mengingat tentang wanita yang dicintai oleh Aaron.
Kemudian beranjak berdiri setelah menggeser kursi dan menaruh piring ke wastafel setelah membuang sisa makanan di kotak sampah.
Bahkan ia sudah bergerak untuk mencuci piring untuk menghilangkan kekesalannya ketika memikirkan jika Aaron setiap hari bertemu dengan Jasmine di kantor.
'Pasti saat ini mereka sedang berduaan,' gumamnya sambil terus mencuci tangannya setelah membilas piring dan menaruh di tempatnya.
Jennifer saat ini semakin merasa bersalah pada Anindya pernah khawatir kembali berbicara hal-hal yang membuat gadis itu bad mood hingga tidak nafsu makan, sehingga memilih untuk diam saja dan melanjutkan ritual makannya.
'Seharusnya aku tadi tidak mengatakan itu padanya. Jadi seperti ini kan jadinya,' gumamnya dengan terus merutuki diri sendiri yang bodoh.
Ia bahkan tadi tidak menunjukkan video yang dikirimkan oleh Aaron padanya karena berpikir akan membuat Anindya semakin hilang respect dan membenci putranya.
'Aaron benar-benar adalah pria yang tidak peka karena malah berniat untuk memanas-manasi Anindya agar cemburu. Malah nanti yang ada sudah tidak bisa lagi bertemu karena Anindya membencinya. Sepertinya aku dan putraku sama-sama bodoh.'
Saat ia larut dalam pikirannya yang sibuk menyalahkan diri sendiri serta putranya, kini mendengar suara dari ponsel Anindya. Berpikir ada hal penting, sehingga ingin mendengarkan.
Anindya yang kebetulan baru selesai mencuci piring dan berniat untuk mengambil air minum di meja makan, ini tidak jadi melakukannya dan mengambil ponsel serta mengangkatnya.
"Iya, Om."
"Kamu harus mempelajari email yang kukirim agar bisa menjadi pertimbangan wanita itu untuk menjadi investor di perusahaan Kusuma. Apalagi kita mendapatkan saingan bisnis yang juga mengincar investor itu."
Khayra yang sebenarnya merasa tidak percaya diri karena memang belum mempunyai pengalaman sama sekali di bidang bisnis dan harus berhadapan langsung dengan investor, kini makin dipusingkan dengan perkataan dari sang asisten.
Ia mendaratkan tubuhnya di kursi dan menuangkan air minum. "Sekarang tugasku makin berat, ya Om. Sepertinya saingan bisnis itu adalah pengusaha sukses juga seperti kakek."
"Iya, Anda benar Nona karena itu adalah salah satu perusahaan besar di Jakarta, yaitu Jonathan Grup." Sang asisten yang baru saja menutup mulut, merasa terkejut dengan respon dari Khayra.
"Apa?" Khayra yang membulatkan mata karena merasa syok dengan apa yang didengarnya, kini menatap ke arah sosok wanita yang merupakan istri dari pemilik perusahaan tersebut.
'Kali ini apa lagi yang harus kuhadapi? Kenapa malah jadi serumit ini?' gumamnya yang saat ini merasa bingung harus melakukan apa begitu mengetahui kenyataan yang baru saja diketahui dari asisten pribadi yang akan menemani yang pergi ke New York.
To be continued...