Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Akan kuhabisi



Pukul 7 malam, Aaron kini sudah memasuki daerah yang tak lain alamat yang dikirimkan oleh sang ayah. Ia tadi langsung naik taksi dari bandara dan kebetulan lokasi rumah gadis yang sangat ingin segera diajaknya pulang itu berada cukup jauh.


Ia saat ini menatap ke arah supir taksi untuk menanyakan kira-kira masih jauh atau tidak karena tadi pria di balik kemudi itu berkata lokasinya di depan sana.


"Mana rumahnya, Pak? Nanti salah jalur, lagi! Lebih baik bertanya pada orang di sekitar sini daripada salah." Meskipun ia tahu jika supir memiliki pengetahuan banyak mengenai alamat, tetap saja membuatnya merasa sangat ragu karena ketidaksabarannya ingin segera bertemu Anindya.


"Sabar, Mas. Sebentar lagi juga tiba. Memang lokasinya masuk gang dan saya tidak mungkin mengemudikan dengan kecepatan tinggi, bisa-bisa dilempar pentungan nanti sama para warga sekitar."


"Makanya belum sampai dari tadi karena beda mengemudi di jalan raya." Sang supir hanya melirik sekilas ke arah sosok pria yang duduk di belakang tersebut.


Sementara itu, Aaron yang merasa jika waktu berjalan lebih lambat saat detik-detik pertemuan dengan Anindya, hanya bisa mengembuskan napas kasar dan mempercayai apa kata sang supir.


Meskipun dalam hati mengeluh dan membuatnya hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati. 'Anindya, aku datang. Hari ini aku akan menjemputmu pulang. Aku tidak akan mengizinkanmu menolak untuk pulang ke Jakarta.'


Aaron kini masih diam mengamati area perkampungan dengan padat penduduk yang saat ini dilalui. Bahkan bisa melihat ada banyak orang yang mengobrol di area depan rumah yang pintunya terbuka lebar dan lampu jalanan tidak terlalu terang.


Berbeda dengan suasana kota Jakarta yang mayoritas orang selalu menutup pintu 24 jam dan selalu beristirahat di dalam rumah ketika malam menjelang karena sudah lelah beraktivitas seharian ketika bekerja.


Namun, ia seketika mengerutkan kening kala rumah-rumah yang tadi padat sudah diganti dengan hamparan sawah luas dan jalanan sangat sepi.


Hanya ada beberapa rumah saja yang terlihat dan ia makin memicingkan mata kala taksi berhenti tepat di depan rumah dengan area luas yang depannya adalah hamparan sawah.


"Kenapa berhenti?" Aaron yang tidak yakin jika selama pergi dari rumahnya, Anindya tinggal di rumah yang berada jauh dari lainnya. Bahkan rumah di sekitar bisa dihitung.


"Ya ini alamat yang Mas tunjukkan tadi. Jadi, rumahnya itu!" ujar sang supir yang kini makin heran dengan respon dari penumpangnya. "Sepertinya Mas baru pertama kali ke sini, ya."


Aaron yang kini membulatkan mata karena merasa sangat khawatir pada Anindya yang ternyata tinggal di salah satu rumah jauh dari pemukiman warga lain, ingin sekali mengumpat Erick.


Namun, ia menunda umpatannya karena berpikir jika segera bertemu dengan Anindya jauh lebih penting. "Ya, aku memang baru pertama kali ke sini untuk menjemput gadis nakal yang pergi tanpa pesan."


Kemudian Aaron mengambil dua lembar uang dari dompetnya dan memberikan pada sang supir. "Terima kasih. Kembaliannya ambil saja."


"Wah ... terima kasih, Tuan." Sang supir kini melihat penumpang turun dan langsung membunyikan klakson sebelum pergi.


Aaron hanya mengangguk perlahan dan kini menatap rumah satu lantai dengan bangunan kuno yang terlihat sangat terawat. "Dasar bocil! Bisa-bisanya dia tinggal di tempat sepi seperti ini sendirian."


"Awas saja, aku akan memberikan dia hukuman! Aah ... tapi aku tidak boleh membuatnya kesal dan marah padaku karena jika nanti kabur lagi, gimana!" Aaron menekuk jidat karena berubah menjadi sangat bodoh kala menghadapi seorang Anindya yang membuatnya tidak pernah bisa melupakannya.


Kini, ia yang sudah tiba di depan pintu, segera mengangkat tangan untuk mengetuknya tanpa bersuara karena khawatir jika Anindya takut padanya jika memanggil.


"Mencari siapa, Mas?" tanya sosok wanita paruh baya yang dipercaya untuk mengurus rumah.


Aaron seketika berbalik badan dan langsung mengungkapkan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman atau pun dicurigai oleh wanita yang berjalan mendekat dan kini berdiri di hadapannya.


"Ehm ... itu, Bu. Saya Aaron dari Jakarta ingin mencari gadis yang tinggal di sini. Apa dia ada di dalam?" tanya Aaron yang mengerutkan kening karena mendengar jawaban dari wanita itu.


"Oh ... maksud Masnya mbak Zea? Sayang sekali, tadi mbak Zea sudah pergi dan mempercayakan rumah ini pada saya untuk diurus dan juga mencarikan orang yang mau mengontrak."


"Sepertinya mbak Zea sudah tidak berencana pulang ke sini lagi." Wanita yang baru saja menutup mulut itu kini melihat raut wajah keheranan dari pria muda nan tampan tersebut.


Aaron yang merasa telah ditipu oleh supir taksi karena berhenti di rumah yang salah, kini langsung menunjukkan ponselnya. "Ini benar alamatnya, kan Bu? Atau saya salah?"


Ia berpikir salah rumah karena gadis yang dicarinya bukan bernama Zea, kini makin bingung kala wanita itu membenarkan alamatnya.


"Ya, memang ini alamatnya. Mas tidak salah, tapi sayangnya mbak Zea-nya sudah tidak tinggal di sini lagi." Baru saja menutup mulut, ia dibingungkan dengan pertanyaan pria muda itu saat menunjukkan sebuah gambar dari ponsel.


"Apa yang tinggal di rumah ini adalah gadis di foto ini?" Aaron merasa jika ada yang tidak beres dan Anindya menyamar dengan merubah nama agar bisa menghilangkan jejak.


Jadi, ingin kembali memastikannya sendiri secara langsung. Hingga ia kembali melihat anggukan kepala dari sosok wanita dengan mengenakan terusan panjang motif bunga-bunga itu.


"Iya, ini mbak Zea. Mas tidak percaya sama saya? Sampai berkali-kali bertanya?" Dengan wajah kesal, ia semakin malas untuk menjawab pertanyaan pria itu.


Hingga ia mengerti alasan sikap aneh pria itu yang menceritakan sesuatu mengenai gadis yang tinggal di sana selama beberapa minggu ini.


"Bukan, Bu. Tolong maafkan saya karena hanya ingin memastikan jika gadis yang Anda maksud benar-benar yang saya cari. Karena gadis di foto ini bernama Anindya, bukan Zea."


"Jadi, gadis bernama Zea yang saya tahu adalah Anindya ini sudah pergi dari sini? Apa Anda tahu pergi ke mana?" Aaron berbicara dengan nada lemah karena seolah energinya langsung terkuras habis kala mengetahui jika Anindya sudah pergi.


"Ya, mbak Zea sudah pergi tadi, tapi tidak tahu ke mana karena saat kutanya, tidak mau menjawab. Memangnya Mas ini siapanya mbak Zea? Nggak mungkin pacarnya karena semalam ada ayangnya mbak Zea datang dan baru pulang sore tadi ke Jakarta." Menatap dengan tatapan menyelidik dan penuh rasa ingin tahu.


Tentu saja saat ini Aaron tahu siapa yang dimaksud oleh wanita itu. 'Berengsek! Pasti Erick yang melakukannya! Dia pasti membawa Anindya kabur lagi.'


Refleks Aaron mencari kontak Erick dan berniat untuk menelpon meskipun tahu jika pria itu tengah memblokir nomornya, tapi tetap berusaha.


'Akan kuhabisi kau, Erick!' umpat Aaron yang hanya bisa menahan kemurkaan di dalam hati karena tidak mungkin berteriak malam-malam di kampung orang.


To be continued...