
Zea seketika membulatkan mata begitu mendapat tatapan tajam dari pria yang membuatnya merasa terpesona saat berada di restoran. Bahkan merasa perkataan pria itu sangat konyol karena berpikir bahwa ia adalah saudara tiri hingga menyebutnya anak haram.
'Pria tampan ini benar-benar sangat keterlaluan jika menyebutku anak haram. Kenapa para pria tampan kaya raya selalu menyebalkan dan berlagak?'
Saat Zea hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan kekesalan kepada sosok pria di hadapannya tersebut tanpa bisa melakukan apapun, kini melihat wanita paruh baya yang tengah menjewer telinga putranya hingga meringis kesakitan.
Ia sebenarnya ingin tertawa melihat pria tampan yang berubah jelek karena menampilkan wajah kesakitan ketika mendapatkan sebuah hukuman dari sang ibu yang sudah mengomel, tapi menahan sekuat tenaga agar tidak terbahak.
"Dasar anak keterlaluan, kamu Aaron!" Jenny tidak menyangka jika putranya bisa berbicara seperti itu, sehingga meluapkan amarahnya dengan memberikan hukuman.
Refleks Aaron menahan tangan kaki itu agar melepaskan daun telinganya yang terasa panas sekaligus nyeri. "Aduh, Ma! Sakit! Lepasin!"
"Rasain! Ini adalah hukuman untukmu karena berani berprasangka buruk pada papamu yang bahkan merupakan pria bertanggung jawab dan paling setia. Mana mungkin papamu mempunyai anak dari wanita lain saat sangat mencintai Mama?"
Masih merasakan nyeri yang luar biasa pada telinganya, Aaron hanya fokus pada rasa sakit dan membuat sang ibu melepaskannya. "Maaf, Ma. Aku hanya bercanda."
"Lagian, Mama yang tidak langsung mengatakan siapa gadis ini." Aaron pun beralih menatap ke arah gadis yang saat ini terbaring di atas ranjang perawatan. "Hei, kau! Siapa kamu sebenarnya?"
Zea saat ini hanya mengerjakan mata ketika mendapat pertanyaan bernada ancaman dari pria yang menuju ke arahnya dan merasa bingung harus menjawab apa.
'Apa yang harus kukatakan pada pria yang bahkan tidak bisa mengingat bahwa aku adalah orang yang sama yang menumpahkan minuman ke pakaiannya. Ia sama sekali tidak berubah dari awal sampai akhir karena sangat arogan.'
Saat Zea menunjuk ke arah diri sendiri, kini berusaha untuk tidak membuat Aaron semakin kesakitan karena ulah ibu. "Sebenarnya aku adalah ...."
"Dia adalah putri Mama. Namanya Anindya," sahut Jenny yang ingin menghentikan pengakuan gadis yang tidak bisa mengingat tentang masa lalunya.
Kemudian ia memeluk erat setelah membungkukkan badan, agar bisa memperlihatkan kasih sayangnya pada gadis malang itu. Bahkan tanpa memperdulikan putranya yang pastinya akan berpikir hal yang sama seperti tuduhan semula.
Sementara itu, Aaron sebenarnya ingin kembali menuduh sang ibu memiliki anak haram dengan pria lain, tapi tidak bisa melakukannya karena berpikir bahwa akan mengalami hal yang sama dengan telinga terasa panas.
Jenny yang tadinya memeluk erat tubuh gadis di pelukan, kini kembali berdiri tegak setelah melepaskannya. Kemudian beralih menatap ke arah putranya yang hanya diam dan tidak menuduhnya seperti ketika berpikiran buruk pada sang ayah.
"Kenapa ekspresimu tidak seperti yang pertama tadi?" Jenny menatap ke arah putranya yang saat ini malah terlihat bersedekap dada dan membuatnya mengerutkan kening karena heran.
"Mama sepertinya ingin telingaku putus, ya? Hingga berharap aku kembali menuduh. Aku masih sayang telingaku," seru Aaron yang saat ini kembali ke mode datar dan memilih untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya dari sang ibu.
Hingga pemikirannya benar adanya begitu melihat wanita paruh baya sangat disayanginya tersebut malah tertawa dengan santai hingga membuatnya geleng-geleng kepala.
"Aaah ... kamu benar, Sayang. Ternyata putra Mama sangat cerdas dan kembali ke setelan pabrik." Jenny masih tidak bisa menghentikan tawanya karena merasa gemas kepada putranya yang selalu saja membuatnya bangga selama ini.
Aaron hanya diam saja karena tidak ingin merusak mood sang ibu yang seperti terlihat sangat bahagia hari ini dan tidak pernah dilihatnya.
"Sudahlah, Ma. Lebih baik jangan bertele-tele karena aku tidak bisa berlama-lama di sini. Putramu ini bahkan bukan pengangguran dan harus bekerja." Aaron kembali mengarahkan jari telunjuk ke arah gadis muda di atas ranjang tersebut.
"Cepat jelaskan padaku mengenai gadis ini, Ma." Aaron bahkan saat ini menatap intens manik kecoklatan gadis yang membuatnya memutar otak untuk mengingat pernah bertemu di mana.
Namun, tidak bisa menemukannya dan memilih untuk menunggu penjelasan dari sang ibu serta gadis yang seperti pernah dilihatnya tersebut. Hingga ia pun memasang telinga lebar begitu sang ibu membuka suara.
"Baiklah. Mama akan menjelaskan singkat mengenai siapa gadis ini," ucap Jenny yang boleh menceritakan kronologi kejadian saat sang suami menabrak gadis itu hingga kehilangan ingatan.
Sedangkan Zea memilih pasrah dan hanya diam mendengarkan. Sejujurnya ia merasa sangat iri dengan kedekatan antara ibu dan anak tersebut. Ia bahkan sudah kehilangan sang ibu cukup lama dan membuatnya merasa kesepian karena tidak bisa merasakan kasih sayang wanita yang telah melahirkannya.
'Papa, mama, Kenapa kalian berdua meninggalkanku di dunia ini. Kenapa tidak mengajakku bersama kalian? Aku benar-benar kesepian hidup di dunia ini tanpa kalian. Kenapa papa dan mama jahat padaku dengan pergi terlebih dahulu?'
Zea bahkan saat ini sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan bulir air mata. Namun, mencoba untuk tidak menangis tersedu-sedu dengan menahan sekuat tenaga perasaannya yang hancur.
To be continued...