
Saat ini, Zea masuk ke dalam ruangan kamar yang ditempati oleh Aaron selamat tinggal di penginapan. Tadi setelah ia memutuskan untuk ikut naik motor pulang ke Jakarta bersama dengan Aaron, menyuruh pasangan suami istri tersebut pulang terlebih dahulu dan tidak mengkhawatirkan keadaan putra mereka yang akan diawasi olehnya.
Jadi, ia mengikuti Aaron saat masuk ke dalam kamar karena mengatakan akan berkemas sebelum pulang. Hingga ia merasa sangat terkejut begitu melihat banyaknya botol minuman keras di atas meja.
"Tuan Aaron, Anda setiap hari minum minuman beralkohol di dalam kamar? Seandainya tuan dan nyonya tahu Anda seperti ini, sudah dipastikan akan diberikan hukuman. Jangan menyiksa diri Anda dengan minuman haram itu, Tuan Aaron. Itu hanya akan berdampak buruk bagi tubuh Anda." Zea masih berusaha untuk membuat Aaron tidak kembali pada barang-barang haram tersebut.
Meskipun ia tahu bahwa yang dialami oleh Aaron sangat berat dan berakhir melarikan diri pada minuman keras, Zea tetap merasa khawatir jika terus-menerus seperti itu, adalah organ dalam pria tersebut akan rusak.
Apalagi ia tahu jika kinerja organ dalam seperti ginjal jantung dan yang lainnya akan terganggu akibat minuman keras. Saat Zea berniat untuk terus menasehati pria yang saat ini memasukkan pakaian ke dalam tas, beneran saliva dengan kasar begitu mendengar suara bariton penuh ketegasan dari Aaron.
"Diam atau aku akan meninggalkanmu di sini sendirian agar tersesat dan tidak bisa pulang ke Jakarta," sarkas Aaron dengan menatap tajam pada sosok gadis mungil yang berdiri di dekat meja penuh dengan botol minuman keras tersebut.
Zea seketika menggigit kuku ibu jarinya karena tidak berani lagi untuk mengungkapkan ada protes ataupun menasehati pria yang sudah mengeluarkan taringnya untuk mengumpat dan memarahinya habis-habisan.
"Maaf, Tuan Aaron. Aku ingin pulang ke Jakarta bersama Anda," sahut Zea yang saat ini berinisiatif untuk membersihkan botol-botol yang sudah kosong di atas meja tersebut.
Namun, laki-laki apa yang dilakukannya mendapatkan nada protes dari Aaron dan membuatnya merasa bingung.
"Stop! Apa yang kau lakukan sebenarnya? Jangan melakukan apapun atau menyentuh barang-barang itu. Biarkan para pelayan yang membereskannya karena aku sudah membayar mahal untuk bisa tinggal di sini selama dua minggu." Aaron memang berencana untuk menenangkan diri di sana selama 2 minggu.
Namun, rencananya gagal karena orang tuanya yang terlalu peduli pada keadaannya dan memilih untuk menjemputnya sebelum ia memutuskan untuk pulang.
Zea yang saat ini mengerti bahwa pria tersebut akan pulang setelah menenangkan diri selama 2 minggu, karena pemikiran keluarga serta dirinya jauh lebih buruk karena berpikir jika pria itu tidak pulang selamanya.
"Syukurlah Anda memutuskan untuk kembali ke rumah setelah dua minggu. Meskipun saat ini semuanya gagal karena tuan dan nyonya sudah datang menjemput."
"Itu tandanya Anda memiliki orang tua yang sangat menyayangi dan rela melakukan apapun untuk menyelamatkan putranya, agar tidak semakin larut dalam kesedihan dengan hidup sendiri di tempat asing." Zea akhirnya hanya berdiri diam sambil mengamati semua pergerakan Aaron karena tidak diizinkan membantu.
Sementara itu, Aaron yang membenarkan perkataan dari Anindya karena berpikir bahwa saat ini gadis itu ikut andil dalam kepulangannya. Apalagi tadi sempat marah ketika Anindya menyebutkan nama wanita yang pernah sangat dicintainya.
"Aku tahu bahwa papa dan mama sangat menyayangiku karena merupakan putra satu-satunya, tapi salahkah aku ingin sedangkan diri selama 2 minggu? Bahkan aku pergi bukan selama satu bulan," ungkap Aaron dengan nada protes sambil menatap kesal pada Anindya yang ia ketahui tidak bersalah, tetapi menjadi luapan kekesalannya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia malah mendapatkan sebuah kalimat ejekan dari gadis mungil yang hanya dianggap anak kecil itu. "Dasar bodoh! Seharusnya Anda sangat bangga sekaligus bahagia memiliki orang tua hebat yang sangat menyayangi dan mengkhawatirkan putranya."
"Atau Anda ingin menjadi sepertiku yang tidak tahu di mana keberadaan orang tua karena mengalami amnesia?" sarkas Zea yang saat ini ingin menyadarkan sosok pria di hadapannya tersebut agar tidak selalu menyalahkan orang tua yang mengungkapkan kasih sayang pada putranya.
Di sisi lain, Aaron sama sekali tidak pernah menyangka jika hari ini akan mendapatkan kemurkaan dari Anindya yang terlihat berapi-api ketika meluapkan amarah padanya.
Bahkan saat ini ia tertawa sambil bertepuk tangan saat menanggapi kemurkaan gadis itu yang dianggap sangat berani saat hanya berdua di dalam ruangan kamar.
"Wah ... luar biasa! Ternyata kamu berani juga melawanku, Bocil! Apa kau sama sekali tidak takut aku bisa melakukan apapun padamu sekarang juga di dalam ruangan kamar yang bahkan tidak ada siapapun di sini?" Aaron bahkan mengarahkan tatapan tajam untuk membuat gadis itu takut padanya karena berani menaikkan nada suara berbicara.
Karena mengetahui bahwa Aaron adalah seorang pria yang baik dan tidak akan pernah menyakitinya, kini Zea langsung menggelengkan kepala.
"Tidak. Aku sama sekali tidak takut pada Anda karena percaya bahwa Tuan Aaron adalah seorang pria yang baik. Memangnya apa yang ingin Anda lakukan padaku? Mau memperkosa aku? Jika benar, aku tinggal mengatakan pada tuan dan nyonya dan meminta pertanggungjawaban." Zea sebenarnya sangat gugup ketika berbicara seperti itu di depan pria yang dicintai.
Namun, karena kepercayaannya melebihi apapun pada pria itu, sehingga membuatnya merasa yakin bahwa Aaron tidak akan pernah melakukan hal buruk padanya.
Hingga ia tidak berkedip menatap sosok pria yang saat ini tertawa terbahak-bahak dan membuatnya sangat lega sekaligus senang karena Aaron kembali seperti dulu lagi.
"Anindya ... Anindya, kenapa ada gadis polos sepertimu di dunia ini. Bisa-bisanya kamu percaya diri aku akan memperkosamu dan tinggal meminta pertanggungjawaban dariku agar dinikahi, begitu yang ada di pikiranmu, bukan?" Aaron saat ini memegangi perutnya karena sibuk menertawakan perkataan dari Anindya.
"Biarin! Tinggal minta dinikahi setelah dinikmati, bukankah itu adalah sebuah hal yang wajar?" sahut Anindya dengan wajah polos mengungkapkan apa yang saat ini ada di pikirannya.
Sementara itu, Aaron sudah tidak bisa lagi menahan rasa gemasnya pada gadis mungil itu dan berjalan cepat menyentil kening Anindya saat mengerucutkan bibir sambil meringis kesakitan.
"Dasar bocil! Memangnya tahu apa kamu soal menikmati? Memangnya kamu makanan, bisa dinikmati?" Aaron untuk saat ini kembali melanjutkan pekerjaannya untuk mengambil beberapa barang yang ada di meja rias dan dimasukkan ke dalam tas.
Bahkan ada ponsel yang tadi baru saja dimasukkan ke dalam satu jaketnya. Hingga ia bisa mendengar suara Anindya yang menanggapi kalimat ejekannya dan sama sekali tidak diperdulikan karena ia melanjutkan pekerjaannya untuk memastikan tidak ada yang terlupa belum keluar dari kamar hotel.
"Aku bukan makanan, tapi kata orang-orang yang sudah menikah, istri tidak boleh dibiarkan menganggur dan harus dinikmati sepuasnya, tapi entahlah. Kenapa bisa disebut menikmati, memangnya makanan, apa!" ucap Zea yang kini berpikir bahwa apa yang saat ini diungkapkan juga membuatnya merasa pusing.
"Berisik sekali! Sudah, diamlah! Atau aku akan benar-benar menunjukkan cara menikmati!" sarkas Aaron yang kini baru selesai berkemas dan langsung berjalan keluar dari ruangan.
Karena tidak ingin ditinggalkan, Zea seketika berteriak, "Tuan Aaron, tunggu! Jangan tinggalkan aku!"
Zea saat ini sedikit berlari untuk mengejar langkah kaki panjang pria yang sudah memakai tas ransel tersebut. Ia sebenarnya merasa sangat senang karena bisa melihat Aaron yang sesungguhnya karena selalu mengejeknya serta bersikap arogan.
'Akhirnya tuan Aaron kembali seperti semula. Aku lebih menyukai tuan Aaron yang sangat cerewet dan selalu mengejekku daripada seperti yang kutemui di depan hotel tadi. Tadi, tuan Aaron seperti berubah menjadi orang lain karena sama sekali tidak berbicara, seperti tidak ada gairah untuk mengeluarkan suara.'
Zea saat ini sudah masuk ke dalam lift bersama dengan Aaron dan ia mengingat sesuatu hal.
'Oh iya, aku kan tidak ada helm? Apa dari puncak ke Jakarta tidak memakai helm? Bisa masuk angin aku nanti. Lebih baik nanti aku mau minta tuan Aaron untuk berhenti di toko helm. Nasib baik aku tadi membawa uang di dalam dompet untuk jaga-jaga.'
Lamunan Zea seketika buyar begitu mendengar suara bariton Aaron dan membuatnya menatap ke arah tiang yang saat ini bertanya padanya.
Zea hanya menjalankan kepala karena tidak ini mengungkapkan apa yang ada di pikirannya sebelum melihat toko helm. Ia tak ingin dianggap memanfaatkan Aaron untuk membelikan helm lagi.
Aaron yang kini melihat pintu kotak puisi tersebut terbuka, menanyakan apa yang disembunyikan oleh gadis itu. Kemudian ia langkah keluar ke arah lobi hotel dan berjalan menuju parkiran.
Kebetulan ia melihat seorang cleaning service yang sedang membuang sampah, sehingga langsung menghampirinya. "Permisi, apa aku boleh minta tolong?"
Sementara itu, wanita berseragam biru yang saat ini tengah memisahkan beberapa sampah di tempatnya masing-masing saat membuangnya, langsung menganggukkan kepala tanda menyetujui apa yang diinginkan oleh pria itu.
"Iya, Tuan. Meminta tolong apa?"
"Apa mbak bekerja dengan naik motor?"
"Iya."
"Apakah saya boleh membeli helm Anda karena sepupuku yang tadi naik mobil, kini tidak membawa helm dan kami harus kembali ke Jakarta hari ini." Aaron tidak tega jika Anindya tidak memakai helm dan terkena angin selama dalam perjalanan menuju ke kota.
Jadi, tadi sekilas memiliki ide begitu melihat wanita yang merupakan cleaning service tersebut.
Kini, wanita yang saat ini melihat ke arah gadis di dekat motor sport, mengerti apa yang diinginkan oleh pria tersebut.
"Tapi helm saya jelek, Mas. Mana mungkin saya menjualnya." Masih merasa bingung harus memberikan nominal berapa untuk menjual helm yang dianggap sangat jelek dan pastinya tidak ada harganya.
Namun, ia juga butuh uang untuk membeli helm lagi jika sampai miliknya dibawa. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu melihat pria di hadapannya tersebut mengeluarkan dompet dan juga mengambil uang beberapa lembaran merah.
"Kalau begitu, helm Mbak jual pada saya. Ini uangnya, jadi Mbak bisa membeli lagi yang baru. Tidak masalah helm-nya jelek karena itu lebih baik daripada tidak memakainya." Aaron yang ingin segera kembali ke Jakarta, kini melihat Anindya berdiri di sebelah motor dengan tatapan penuh pertanyaan dan tidak berani mendekat.
"Mas, ini terlalu banyak." Masih tidak percaya mendapatkan beberapa lembar uang berwarna merah yang sudah berada di tangannya.
"Tidak masalah. Oh ya, mana helm-nya?" Aaron sama sekali tidak memperdulikan kebingungan dari wanita itu ketika menerima uang darinya.
Karena merasa mendapatkan sebuah keberuntungan, langsung menuju ke arah motor matic berwarna merah miliknya dan ada helm yang digantung di spion. "Itu, ambil saja, Tuan. Sekali lagi terima kasih karena sudah membayar mahal helm saya yang tidak seberapa harganya."
Aaron ketika menganggukkan kepala dan mengambil helm yang ditunjukkan oleh wanita tersebut. Kemudian ia langsung memberikan pada Anindya yang setia menunggu.
"Pakai ini!" Aaron saat ini menatap penampilan Anindya yang memakai setelan panjang berwarna abu-abu. "Kebetulan sekali kamu tidak memakai gaun seperti biasanya saat ke sini. Apa kamu sudah berpikir ingin pulang bersamaku naik motor?" Aaron yang melihat Anindya kesusahan untuk mengaitkan helm, sehingga langsung membantunya.
Sementara itu, Zea yang saat ini merasa gugup ketika berada di posisi yang dekat dengan Aaron, kemeja untuk menatap ke arah atas dibantu mengaitkan helm yang terasa macet.
"Sebenarnya semuanya kebetulan karena memakai asal pakaian ini dan sama sekali tidak berpikir untuk pulang bersama Anda naik motor. Bahkan sepanjang perjalanan tadi bertanya-tanya apakah Anda mau pulang atau tetap di sini."
Zea bahkan selama dalam perjalanan tadi sibuk mengkhawatirkan jika pria tersebut tidak mau pulang, apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mau pulang? Apa kamu akan menemaniku di sini?" tanya Aaron yang saat ini masih fokus mengaitkan helm sebelum berangkat. "Aah ... macet seperti ini? Ternyata benar apa yang dikatakan wanita itu jika helmnya tidak seberapa untuk dijual. Ternyata seburuk ini."
Di sisi lain, Zea berpikir jika apa yang dikatakan oleh Aaron mungkin akan dilakukan. "Sepertinya aku memang akan menemani Anda di sini untuk menjaga agar tidak berbuat macam-macam saat patah hati."
"Sepertinya akan sangat menyenangkan karena aku bisa mengerjaimu setiap hari." Hingga beberapa saat kemudian, ia merasa sangat lega itu berhasil memasangkan pengait helm tersebut. "Akhirnya bisa juga."
Zea kini memastikan apakah pengait itu rapat dan tidak akan terbang, sehingga bisa melindungi kepalanya. "Syukurlah kalau bisa. Memangnya tuan Aaron mengerjai seperti apa? Aku tidak paham."
Aaron kini beranjak naik ke atas motor dan tidak berniat untuk mengatakan hal yang ada di pikirannya karena yang mengungkapkan di dalam hati. 'Mengerjaimu saat tidur dengan memperkosamu.'
Karena tadi mengingat perkataan dari Anindya yang mengatakan menikmati, sehingga semenjak saat itu membuat otaknya travelling. Bahkan ketika gadis itu mengatakan tidak keberatan untuk diperkosa dan akan menuntut pertanggungjawaban untuk dinikahi, sehingga dari tadi tidak bisa melupakannya.
'Dasar anak kecil menyebalkan karena malah membuat otakku saat ini travelling ke mana-mana. Gara-gara tadi mengatakan tidak takut kuperkosa, malah membuatku membayangkan bisa melucuti pakaian Anindya dan melemparnya ke lantai serta membantunya di atas ranjang dan menikmati tubuhnya.'
Aaron menggelengkan kepala sambil mengerjapkan mata beberapa kali, agar tidak travelling memikirkan sesuatu hal yang lihat di otaknya saat ini gara-gara perkataan dari gadis yang dianggapnya hanyalah seorang anak kecil semata.
'Pergi dari otakku saat ini, pikiran mesum?' umpat Aaron yang saat ini tengah berusaha untuk menghilangkan sesuatu yang menguasai pikirannya.
Bahkan saat ini ia merasakan saat Anindya naik ke atas motor dan langsung memeluk erat perutnya, sehingga seketika menelan ludah dengan kasar.
"Ayo, kita berangkat sekarang, Tuan Aaron!" teriak Anindya yang sangat suka duduk di boncengannya motor sport milik Aaron karena bisa memeluk erat tubuh pria itu.
Ia bahkan sangat senang bisa mengulangi momen-momen indah bersama dengan pria yang sangat dicintai tersebut.
Berbeda dengan apanya saat ini dirasakan oleh Aaron ketika tubuhnya memanas hanya dengan dipeluk erat oleh Anindya.
'Sialan! Gadis ini berhasil membuatku ***** dengan kata-katanya yang polos!' umpat Aaron di dalam hati dan menyembunyikan apa yang saat ini dirasakan karena tidak ingin ketahuan bergairah hanya dengan mendapatkan pelukan dari Anindya.
To be continued...