Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Memanfaatkan Erick



Zea ini membulatkan matanya begitu melihat sang kakek yang baru saja menunjukkan foto dari kartu nama Aaron. "Kakek? Dari mana mendapatkan foto kartu nama itu?"


Ia merasa bingung apa hubungan dari pertanyaannya dengan foto yang merupakan kartu nama dari pria yang ingin dilupakan. 'Kenapa kakek bisa mengetahui tentang tuan Aaron? Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang disembunyikan oleh kakek dariku?'


Kini, berbagai macam pertanyaan menari-nari di pikiran Zea saat ini dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga sang kakek bertanya mengenai Aaron. Ia benar-benar dibuat bingung oleh sang kakek yang seperti menyimpan rahasia darinya.


"Jawab saja pertanyaan Kakek, Cucuku. Siapa pria bernama Aaron? Jujur pada Kakek, apa yang dilakukannya padamu?" Candra Kusuma saat ini tidak bisa bersabar untuk mendengar tentang perihal pria yang telah menghamili cucunya.


Namun, ia seperti melihat bahwa cucunya tidak mau menceritakan dan ingin menutupi perbuatan pria itu.


"Kakek, dia adalah putra dari pasangan suami istri baik hati yang menolongku setelah kabur dari ibu dan kakak tiri. Aku selama ini tinggal bersama mereka dan pastinya Kakek sudah mengetahuinya, bukan?" Zea benar-benar bingung harus menjelaskan karena tidak mungkin mengatakan jika Aaron telah merenggut kesuciannya.


Sementara itu, Candra Kusuma yang saat ini tidak mendapatkan kejujuran dari cucunya, akhirnya sudah tidak bisa bersabar dan ingin mengatakan secara langsung mengenai pembicaraannya dengan sang dokter.


"Cucuku, Kakek benar-benar memintamu untuk berbicara jujur mengenai pria itu karena tadi sudah berbicara dengan dokter yang memeriksamu bahwa kemungkinan besar kamu saat ini tengah mengandung 6 minggu."


Meski berat mengatakan hal yang sebenarnya membuat cucunya membulatkan mata sambil membekap mulut karena efek terkejut, kini seketika menggenggam erat telapak tangan gadis yang kini seketika berkaca-kaca bola matanya.


"Tidak! Itu tidak mungkin! Tuan Aaron hanya melakukannya sekali dan itu karena efek mabuk," lirih Zea dengan suara serak menahan gejolak di hatinya yang membuatnya serasa sesak napas saat ini.


"Jadi, pria bernama Aaron ini memperkosamu karena mabuk? Dasar bajingan!" sarkas Candra Kusuma yang saat ini melepaskan genggaman tangannya dari cucunya.


Karena berniat untuk menelpon nomor pria yang telah menghamili cucu kesayangannya. "Aku benar-benar akan menghabisinya karena telah menyakitimu."


Sementara itu, Zea yang tidak ingin sang kakek melakukan itu, refleks bangkit dari posisinya yang tadinya terlentang dan langsung merebut ponsel tersebut. Ia saat ini seketika menggelengkan kepala dan tidak menyetujui hal yang dilakukan oleh pria paruh baya tersebut.


"Tidak, Kek!" lirih Zea yang mencoba untuk menyembunyikan ponsel sang kakek di belakang tubuhnya. Berharap tidak melanjutkan rencananya untuk menghubungi pria yang ingin ia hindari.


Refleks Candra Kusuma mengulurkan tangannya karena merasa kesal pada cucunya yang mencoba untuk menghentikannya. "Cepat kembalikan ponsel Kakek!"


Zea hanya menggelengkan kepala dan menangis tersedu-sedu. Bahkan saat ini tidak memperdulikan bulir air mata yang sudah membasahi pipinya. "Jangan hubungi tuan Aaron!"


Mendengar suara serak menyayat hati dari cucu kesayangannya, tentu saja membuatnya tidak tega. "Sayang, apa maksudmu? Kenapa Kakek tidak boleh menghubungi bajingan yang telah menghamilimu?"


"Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahimu. kamu sekarang hamil dan dia harus bertanggung jawab." Tidak habis pikir dengan perbuatan cucunya yang masih terus menggelengkan kepala dan tidak mengizinkannya untuk meminta ponsel, benar-benar membuatnya pusing.


"Tidak, Kek. Jangan menghubungi tuan Aaron dan memintanya untuk bertanggung jawab padaku. Dia sama sekali tidak mencintaiku dan hanya mencintai wanita lain. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa move on dari kekasihnya yang telah kabur di hari pernikahan. Aku benar-benar sangat membencinya, Kek!"


"Tidak bisa begitu, Sayang. Kamu tetap harus menikah agar ayah dari janin yang kamu kandung itu mendapatkan status dari ayah biologisnya. Jadi, mau tidak mau, pria itu harus tetap bertanggung jawab untuk menikahimu." Candra Kusuma berpikir bahwa cucunya masih terlalu muda untuk bisa berpikiran bijak.


Jadi, bisa mengerti jika saat ini cucunya tengah emosi sekaligus shock dengan kenyataan yang menimpanya. Namun, ia benar-benar berpikir bahwa jalan terbaik adalah tetap menikahkan cucunya dengan pria itu.


Namun, kini ia melihat wajah cucunya berubah memerah dan dikuasai oleh amarah.


Zea masih tetap ada pendiriannya karena sangat membenci Aaron ketika mengingat saat pria itu melakukannya. "Tidak, Kek. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintaiku.


Bahkan saat melakukannya, dia menyebut nama wanita itu. Aku tidak ingin hidup dengan pria yang dibayang-bayangi oleh wanita dari masa lalunya yang tidak bisa dilupakan." Ia kini menghapus kasar kulit kesedihan di wajahnya dan kembali membuka suara untuk membuat kakek mengurungkan niat dan tidak memaksanya.


"Seumur hidup bagiku terlalu lama untuk menghabiskan seluruh sisa waktu bersama pria yang tidak pernah mencintaiku. Bukankah Kakek punya banyak uang? Jadi, aku tidak perlu khawatir membesarkannya sendiri tanpa suami." Zea terdiam sejenak karena terpikirkan sesuatu dan langsung diungkapkan pada sang kakek.


"Atau singkirkan saja ini dari perutku jika Kakek malu mempunyai cucu yang hamil diluar nikah." Zea benar-benar merasa sangat shock dengan kenyataan yang menimpanya saat ini.


Ia sama sekali tidak menyangka jika perbuatan yang dilakukan tanpa sadar bisa menciptakan kehidupan baru di rahimnya. Saat ini, mempunyai pikiran untuk membalas dendam pada Aaron dengan tidak menampakkan diri dan memberitahu ada darah dagingnya yang sedang dikandung.


'Aku sangat membenci Tuhan Aaron dan tidak akan pernah menemuinya. Ini adalah hukuman untuknya karena hanya mencintai nona Jasmine,' gumam Zea yang saat ini merasakan pelukan dari sang kakek.


Ia tahu jika hati sang kakek hancur melihatnya seperti ini, tapi ia tidak ingin menghabiskan seluruh hidupnya dengan pria yang bahkan masih terus memanggil nama mantan kekasih yang bahkan sudah berkhianat.


Sementara itu, Candra Kusuma yang saat ini tidak tega melihat cucunya sampai berkata jika ia malu, sehingga kini mengusap lembut punggung dengan rambut panjang tergerai di bawah bahu tersebut.


"Jangan berbicara seperti itu, Cucuku. Saat ini, kamu adalah dunia Kakek. Mana mungkin Kakek malu memiliki cucu luar biasa sepertimu, Sayang. Kakek akan melakukan apapun yang kamu inginkan dan tidak akan pernah memaksa jika kamu tidak menginginkannya."


Saat ia masih mencoba untuk menenangkan cucunya yang hancur hari ini, seketika mengingat sosok pria yang dulu terlihat sangat mencintai Zea. Kini, ia refleks menarik diri dan mencoba untuk berbicara dengan cucunya.


"Sayang, bukankah pria yang selalu memanggilmu ayang itu sangat mencintaimu? Sepertinya dia akan sangat senang bisa menikahimu. Bagaimana jika kakek menghubunginya dan bertanya apakah dia mau menikahimu setelah mengetahui bahwa kamu hamil?"


Candra Kusuma sangat yakin jika cinta pria bernama Erick itu tulus pada cucunya dan tidak akan mempermasalahkan jika saat ini Zea tengah hamil.


"Kakek sangat yakin jika pria itu akan langsung senang mendapatkan tawaran emas ini," ucapnya yang kini menatap ke arah cucunya yang membulatkan mata atas apa yang baru saja diungkapkan.


"Apa, Kek? Kakek ingin meminta Erick menikahiku saat aku sedang hamil benih tuan Aaron?" Zea benar-benar makin shock karena tidak pernah terpikirkan hal itu dipikirannya saat ini karena saran dari sang kakek terdengar seperti memanfaatkan Erick.


To be continued...