
Beberapa saat lalu, Anindya hanya beberapa menit saja berada di bawah guyuran air hujan bersama dengan Erick karena sudah kedinginan dan tidak ingin berakhir demam. "Cepat mandi dan ganti bajumu, Erick. Jangan sampai kita sakit dan menularkan pada Kenzie. Kasihan putraku masih bayi harus merasakan demam."
Kemudian ia buru-buru berjalan masuk tanpa mendengarkan teriakan Erick karena ingin segera pergi mandi dan memakai baju hangat serta minum minuman yang bisa menghangatkan tubuhnya.
"Ayank, tunggu aku!" teriak Erick yang sebenarnya juga merasa kedinginan tadi. Apalagi dari dulu tidak pernah main hujan-hujanan saat pagi hari.
Cuaca hari ini yang sangat mendung gelap dan cuaca sangat dingin menusuk tulang benar-benar membuatnya gemetaran. Saat ia buru-buru masuk mengikuti langkah kaki Anindya, berpapasan dengan ibu Aaron.
"Pagi, Tan."
"Apa kamu datang ke sini berpamitan dengan orang tuamu? Awas saja jika tidak!" ancam Jennifer yang saat ini tengah menatap tajam Erik yang selalu saja datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Ia sebenarnya sangat tidak menyukai Erick yang selalu datang dan tidak pernah menyerah untuk mengejar Anindya. Padahal sudah mengetahui jika gadis itu telah memiliki buah hati dengan Aaron dan tidak kunjung menerima cintanya.
'Seandainya putraku seperti Erick yang tidak pernah menyerah, pasti bisa meluluhkan hati Anindya karena aku tahu jika dia pasti masih memiliki perasaan pada Aaron. Bahkan sudah cukup lama sering bersama dengan Erick pun tidak kunjung membuka hati.'
'Bukankah itu sudah menegaskan jika Anindya masih tetap mencintai Aaron karena belum membuka hati pada siapapun? Ia hanya beralasan ingin fokus pada pekerjaan, kuliah serta putranya. Padahal bisa melakukan itu meskipun sudah menikah,' gumam Jennifer yang saat ini melihat dari slengean seperti biasanya dengan menggaruk tekuk belakang.
Erick yang memang tidak berpamitan pada orang tuanya, kini hanya terkekeh dan memberikan simbol peace agar wanita di hadapannya tidak melapor pada sang ibu yang selalu cerewet menyuruhnya belajar dan fokus pada kuliah.
Ya, semenjak ia mengetahui jika Anindya telah memiliki seorang anak dari Aaron, tidak bisa fokus belajar karena merasa khawatir serta tidak percaya diri bisa mendapatkan gadis incarannya tersebut.
Dulu saja sangat susah mendapatkannya dan setelah mengetahui memiliki keturunan dari perbuatan pria yang tidak disukainya tersebut, membuatnya insecure.
Meskipun ia selalu mengatakan jika Anindya belum menikah dengan siapapun, tetap akan berjuang dan tidak akan pernah berhenti.
Selama beberapa hari di rumah, tetap tidak bisa fokus dan sangat merindukan Anindya, sehingga memilih untuk pergi ke Surabaya tanpa memberitahukan orang tua yang pasti akan melarangnya.
"Jangan bilang sama mama dan papa, ya Tan. Aku di sini cuma satu hari kok. Mumpung kuliah libur. Besok aku juga pulang." Erick yang menahan rasa dingin di tubuhnya dengan bibir membiru, kini sudah menyatukan telapak tangan.
Ia bahkan menampilkan wajah memelas agar permohonannya dikabulkan oleh wanita yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri tersebut. Apalagi selama ini berteman dengan sang ibu dan sering datang ke rumah.
Sementara itu, Jennifer saat ini hanya geleng-geleng kepala karena sudah menduga jika Erick selalu saja bandel dan tidak mau mendengarkan orang tua yang melarang untuk sering datang ke Surabaya karena mengganggu konsentrasi dalam kuliahnya.
Refleks ia langsung menjewer daun telinga Erick untuk memberikan pelajaran sebagai hukuman karena berani melawan orang tua.
"Dasar anak bandel! Bahkan mamamu menyuruhku untuk mengawasimu, tapi sekarang kau menyuruhku untuk berbohong padanya. Jika jadi aku, apa yang akan kau lakukan? Mau berada di pihak teman sendiri atau bocah bandel sepertimu?" Ia sebenarnya ingin tertawa melihat Erick meringis kesakitan karena perbuatannya.
Meskipun di dalam hati merasa iba karena melihat bibir tebal Erick membiru karena kedinginan. Namun, ia memang sengaja tetap memberikan sebuah hukuman agar tidak mengulangi lagi kesalahan karena berbohong pada orang tua.
"Aduuh ... sakit, Tante. Untuk sekarang ini, lebih baik Tante berpihak padaku karena aku benar-benar memohon dengan tulus, bukan?" Ia yang saat ini masih merasa nyeri luar biasa pada daun telinga ketika baru dilepaskan, seketika mengusapnya beberapa kali agar rasa sakit berkurang.
"Sakitnya," lirihnya sambil menatap ke arah wanita dengan raut wajah kesal tersebut. "Ini terakhir kalinya aku tidak mendengarkan orang tua, Tan. Nanti kalau mau datang ke sini, meminta izin dulu pada mama dan papa."
Saat Jennifer hanya geleng-geleng kepala menanggapi Erick, di saat bersamaan mendengar suara Anindya yang baru saja turun dari anak tangga.
"Erick, Kamu belum mandi juga? Cepat ke sana ke kamar tamu dan ganti pakaian setelah mandi. Ada pakaian kakek yang mungkin muat untukmu. Bukankah tasmu basah karena hujan dan pastinya bajumu juga demikian." Anindya bahkan sudah memakai sweater panjang dan celana jenis kulot.
Ia yang tadi merasa kedinginan, buru-buru mandi dan mengganti pakaian, lalu turun untuk menyuruh pelayan membuatkan minuman hangat. Namun, begitu melihat Erick masih berkutat dengan ibunya Aaron, sehingga merasa iba dan membuatnya ingin menolong.
"Tante baru saja memberikan hukuman padanya karena datang ke sini tanpa pamit pada orang tuanya. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk dan tidak ada yang tahu dia pergi? Pasti orang tuanya akan sangat bersedih, bukan?" Jennifer tidak ingin disalahkan oleh Anindya karena memberikan hukuman pada Erick.
"Iya ... iya, Tan. Ini adalah terakhir kalinya aku melakukannya. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Erick yang saat ini menggigil kedinginan sambil memeluk erat tubuhnya sendiri.
"Dingin sekali. Rasanya tubuhku seperti mau membeku. Aku mandi dulu, Tan. Ayank, aku ke kamar dulu," ucap Erick yang saat ini berjalan cepat menuju ke kamar yang biasa menjadi tempat persinggahannya ketika berada di rumah itu.
Anindya hanya mengangguk perlahan dan tidak ingin memarahi Erick karena merasa iba melihat bibir yang membiru serta tubuh menggigil kedinginan. Ia yang saat ini berniat untuk berbicara dengan ibunya Aaron, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara dering ponsel miliknya di saku celana.
Ia buru-buru menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari asisten pribadi sang kakek yang kini selalu membantunya dalam hal apapun yang berhubungan dengan perusahaan ataupun keluarga.
"Halo, Khayra. Ada sesuatu hal penting yang harus kusampaikan. Ini menyangkut perusahaan," yang saat ini tengah menatap ke arah laptop begitu melihat email yang baru saja dibaca.
"Iya, Om. Katakan saja. Memangnya ada apa? Sepertinya ada kabar penting," ucap Khayra yang saat ini masih menetap ke arah wanita di hadapannya yang belum beranjak dari sana.
Jennifer yang awalnya ingin pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat, tidak jadi melakukannya karena memilih untuk menyuruh pelayan yang tadi terlihat berjalan.
Ia merasa penasaran dengan pembicaraan dari Anindya yang sepertinya sangat serius dan berjalan mendekat agar bisa mendengarnya.
Jadi, agar gadis itu mengerti dan mempelajari semua hal yang berhubungan dengan investor tersebut agar mau menanamkan kembali modal yang selama ini cukup besar di perusahaan.
Khayra saat ini terdiam karena merasa sangat terkejut dengan keputusan tiba-tiba yang diambil oleh asisten.
Namun, ia tidak mungkin bisa menolak karena memang sudah menjadi tugasnya sebagai pemimpin perusahaan serta mengangkat nama sang kakek agar tidak terlihat buruk di depan para rekan bisnis serta investor maupun pemegang saham.
"Jam berapa pesawat berangkat ke New York, Om? Aku akan bersiap dan kira-kira berapa hari di sana karena tidak tega meninggalkan putraku terlalu lama," ucapnya sambil menatap ke arah wanita yang kini membulatkan mata begitu mendengar apa yang ia katakan.
"New York?" lirih Jennifer yang saat ini mendapatkan anggukan kepala dari Anindya bahwa apa yang didengarnya memang benar.
Bahkan di saat bersamaan mendengar suara dering ponsel miliknya dan begitu mengecek jika yang menelpon adalah putranya, tidak diangkat karena masih fokus pada Anindya.
"Cuma dua hari berada di New York karena tidak mungkin meninggalkan perusahaan cukup lama karena itu akan beresiko. Kamu sekarang pelajari semua informasi mengenai investor itu karena dia adalah seorang wanita yang sangat susah untuk ditaklukan." Ia bahkan mengirimkan semua informasi dan tidak ada yang.
"Namun, kakekmu dengan mudah membuatnya menanamkan modal sangat besar dan mengeliminasi banyak perusahaan." Berharap gadis itu benar-benar mempelajari semua informasi serta keinginan dari sang investor yang merupakan seorang wanita berusia 35 tahun.
Khayra yang saat ini mengerti, menganggukkan kepala seolah sang asisten bisa melihat apa yang dilakukannya. "Iya, Om. Aku akan mempelajarinya sekarang juga. Syukurlah jika cuma 2 hari di New York. Semoga misi kita sukses untuk membuat wanita itu percaya padaku."
Ia sebenarnya merasa sangat, tapi berpikir harus mencoba, agar tidak membuat sang kakek kecewa telah mempercayakan semuanya padanya.
"Aku akan berusaha dengan baik dan semaksimal mungkin, Om. Meskipun belum mengetahui seperti apa wanita itu, akan mempelajarinya terlebih dahulu." Anindya saat ini berjalan menuju ke ruang tamu dan diikuti oleh ibunya Aaron.
"Baiklah. Selamat berjuang, Nona Khayra. Anda harus optimis seperti tuan besar," ucap sang asisten yang saat ini mengakhiri panggilan telepon.
Sementara itu, Jennifer yang dari tadi mendengarkan, kini seketika duduk di samping Anindya. "Kamu fokus aja pada pekerjaanmu dan percayakan semua urusan rumah padaku, Sayang. Biar Mama yang menjaga Kenzie. Jadi, tidak perlu merasa khawatir. Oh iya, suamiku sekarang juga berada di New York."
"Benarkah, Ma? Nanti aku akan menyapanya ketika bertemu dengannya di sana. Nanti kirim saja nomor telepon papa. Aku serahkan semua urusan rumah serta Kenzie pada Mama." Ia yang saat ini berniat untuk membaca email dari sang asisten, tidak jadi melakukannya begitu melihat pelayan membawa 3 minuman hangat.
Sang pelayan baru saja ronde dan ditaruh di atas meja. "Silakan, Nona. Ini adalah wedang ronde kesukaan tuan besar. Anda pasti belum pernah mencoba minuman khas daerah ini, kan?" tanya pelayan yang masih belum pergi dan membawa nampan di tangan.
Khayra gini menatap ke arah minuman berwarna keemasan seperti teh, tapi ini agak terang dan memiliki beberapa isian yang membuatnya mengerutkan kening. "Iya, Bik. Aku emang belum pernah mencobanya selama tinggal di Jakarta."
Ia beralih menatap ke arah ibunya Aaron untuk bertanya. "Mama bagaimana? Apa pernah mencoba minum ini?"
Refleks Jennifer langsung menggelengkan kepala karena memang belum pernah mencobanya. "Mama biasanya hanya membuat susu dengan diberikan jahe yang digeprek jika membuat minuman hangat. Jadi, belum pernah merasakan minuman. Ayo, kita coba."
Saat ia berniat untuk mencicipinya setelah mengambil dari atas meja, di saat bersamaan melihat Erick yang sudah terlihat segar setelah mandi dan berganti pakaian orang tua. Melihat itu, seketika membuatnya tertawa karena penampilan Erick seperti orang zaman dulu.
"Astaga, dia seperti kakek-kakek," ucap Jennifer yang tidak jadi menikmati minumannya dan kembali menaruh di atas meja.
Begitu juga dengan Khayra ya saat ini menatap ke arah Erick yang memakai pakaian sang kakek. Ia bahkan menahan diri sekuat tenaga agar tidak terbahak karena sangat lucu melihat pria muda memakai pakaian orang tua.
"Salah sendiri dia malah hujan-hujanan dan membuat pakaian ganti basah." Akhirnya ia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut melihat Erick yang berjalan mendekat dengan mengerucutkan bibir karena kesal ketika ditertawakan.
"Terus ... terus tertawakan saja aku. Bahkan tadi sebenarnya tidak ingin keluar karena malu memakai pakaian yang membuatku seperti kakek-kakek, tapi di dalam dingin dan ingin minum minuman yang hangat." Ia melirik ke arah meja dan langsung mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
Ia menatap ke arah pelayan dan menunjuk ke arah mangkuk kecil di atas meja. "Itu apa?"
"Itu minuman untuk menghangatkan tubuh, Tuan Erick. Nikmati saja. Mumpung masih hangat." Sang pelayan kemudian membungkuk hormat sebelum berlalu pergi karena tidak ingin mengganggu tiga orang itu.
Erick saat ini tersenyum dan tidak sabar untuk menikmatinya, sehingga langsung meraih mangkuk kecil berisi sesuatu yang sangat asing baginya. "Apa namanya ini?"
"Wedang ronde. Rasakan saja karena aku pun belum pernah mencobanya." Khayra yang tidak ingin terus mengejek penampilan Erick saat memakai pakaian dari sang kakek, kini juga tidak sabar ingin merasakannya.
Ia menoleh ke arah wanita paruh baya di sebelahnya yang malah asyik dengan ponsel dan tidak jadi mencoba wedang ronde.
Jennifer yang saat ini mengirimkan pesan pada putranya begitu mengingat jika tadi mendapatkan telepon dan membaca pesan. Akhirnya mengabarkan apa yang tadi didengar.
"Mama kabari dulu Aaron. Bahwa kamu besok akan pergi ke New York menemui investor dan mungkin bisa bertemu dengan papanya." Kemudian langsung memencet tombol kirim dan menaruh kembali ke dalam saku rok panjang yang dikenakan.
Sementara itu, Khayra hanya diam tidak berkomentar apapun karena tidak ingin membahas Aaron. Ia saat ini lebih fokus menikmati minuman untuk menghangatkan tubuhnya.
"Apa, New York?" Erick yang tadinya menikmati minuman dengan rasa khas jahe tersebut seketika tersedak begitu mendengar perkataan dari ibunya Aaron.
To be continued...