
"Cemburu? Aku?" sarkas Aaron yang saat ini menunjuk ke arah diri sendiri dan seketika tertawa terbahak-bahak karena merasa apa yang baru saja ditanyakan oleh sahabatnya sangatlah konyol.
Refleks Aaron langsung mengarahkan tinju ringan pada sosok sahabatnya. "Sepertinya kau mendadak hilang ingatan jika aku mempunyai seorang kekasih berprofesi sebagai model dan pastinya sangat cantik."
Di sisi berbeda, Sandy yang tadi sempat diberitahu tentang siapa sosok gadis belia yang hilang ingatan itu, masih belum yakin akan tanggapan dari Aaron.
"Aku tidak amnesia seperti gadis yang kamu bawa kemari itu karena saat ini hanya ingin hidup tenang tanpa ada gangguan lainnya. Hanya saja, kita sama-sama pria, Bro. Jadi, pasti tahu seperti apa ekspresi orang suka dan tidak."
Sandy tidak menjelaskan dengan detail karena berpikir jika sahabatnya akan mengerti pemikirannya barusan. "Kamu bisa berbohong pada orang lain, tapi tidak padaku."
Kemudian Sandy memilih untuk pergi meninggalkan sahabatnya setelah menepuk pundak kokoh Aaron karena berpikir jika percuma saja berdebat dengan orang yang tidak akan pernah mau mengaku.
'Seharusnya akulah yang kesal padanya, tapi ini malah sebaliknya. Dasar pria serakah! Jika memang gadis itu sama sekali tidak berarti baginya, kenapa harus repot-repot mengurusinya?'
"Konyol," sahut Sandy yang sering datang ke rumah sahabatnya yang memang sangat keras kepala dan tidak pernah mau mengakui menjadi seorang anak terhina.
"Berpikir jika sang sahabat adalah orang yang baik dan tidak akan pernah tersinggung karena mode malas.
Saat Sandy berjalan pergi, kini Aaron sendirian dan merasa sikapnya itu terlalu berlebihan, tapi geleng-geleng kepala. "Biarkan saja dia kesal padaku."
Begitu melihat kopi hitam pekat di atas meja yang baru saja dibuatkan oleh sang perawat, pasti mengingat sesuatu yang ada di dalam dompet sang kekasih.
"Aku sama sekali tidak cemburu, tapi iba pada nasib Anindya. Apalagi sebentar lagi aku akan menikah dan Sandy tidak akan pernah bisa mengejekku lagi." Aaron kini mendaratkan tubuhnya di kursi dan menyeruput minuman yang masih mengepulkan asap tersebut.
Situasi berbeda kini dirasakan oleh Zea yang sangat serius mengerjakan dan menyelesaikan hanya dalam hitungan menit.
Bahkan ia berpura-pura masih mengerjakan begitu pria yang merupakan guru telah datang dan membuatnya menoleh ke arah pintu keluar.
"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya Sandy yang kini membungkuk dan melihat ke arah layar laptop untuk memeriksa.
"Sudah!" jawab Zea yang merasa sudah tidak ada lagi yang ditutupi dan yakin jika sebentar lagi Aaron akan datang."
Hingga ia pun menyadari jika pria yang dipikirkan olehnya tiba-tiba datang dan langsung mendekat. Bukan untuk membungkukkan badan agar bisa menyamakan posisi di atas meja, tapi langsung mengambil laptop dan membawanya pergi.
'Suka sekali mencuri kesempatan dalam kesempitan!' sarkas Aaron yang tadi tidak sabar menunggu sampai Anindya selesai.
"Aaron, tunggu! Astaga, anak ini!" Sandy semakin bertambah kesal saat fokus menilai tapi malah laptop dirampas. "Drama apa lagi yang akan kamu ciptakan?"
Ia pun mulai berjalan menuju ke arah taman belakang dan menunggu sampai Sandy datang karena tidak mungkin memberikan nilai di depan Anindya.
"Periksa di sini saja agar gadis itu tidak tahu!" sarkas Aaron yang kini mengembalikan laptop di atas meja dekat taman belakang dan tersenyum pada pria yang baru saja datang dan kembali meninju lengannya.
To be continued...