
Zea pasrah saat pekerja salon memoles make up di wajahnya. Ia tidak bisa melayangkan protes atau ia akan mendapat omelan dari sang kakak. Pasrah. Lagi-lagi Zea harus melakukan itu.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di salon, pegawai yang menangani Zea menghela napas lega. Tugasnya sudah selesai dengan baik dan ia cukup puas dengan hasil karyanya tersebut.
“Ini beneran aku, Kak?” tanya Zea pada Aurora. Gadis itu kagum pada pantulan dirinya di depan cermin. Ia masih tidak percaya jika wanita itu adalah dia.
“Lo tuh sebenarnya emang cantik, Zea. Cuman emang lo nya aja yang malas ngerawat diri. Kalau udah gini, gue yakin lu bakal dapat kerjaan dan banyak dapat duit,” ucap Aurora.
“Beneran, Kak?” tanya Zea dengan polos pada sang kakak. Matanya berbinar mendengar ucapan wanita itu.
Aurora hanya mengangguk menanggapi pertanyaan adiknya. Setelah membayar semua biaya perawatan mereka, Aurora mengajak Zea menuju sebuah Mall di mana biasa wanita itu berbelanja bersama sang mama.
“Harus banget, ya, Kak kita belanja di sini? Pasti barangnya mahal-mahal. Aku enggak punya uang, Kak,” cicit Zea sesaat setelah mereka turun dari taksi.
“Tenang aja, gue yang bakal traktir lo.” Aurora segera menggandeng tangan Zea dan mengajak gadis itu masuk ke dalam Mall.
Udara sejuk di dalam Mall menyeruak menusuk kulit Zea. Ia mengimbangi langkah sang kakak yang berjalan di sampingnya. Jika saja Zea belum pergi ke salon, ia tidak akan percaya diri untuk masuk ke tempat itu.
Zea mengamati orang-orang yang ada di sana. Penampilan mereka begitu menarik. Gadis itu menatap pakaian yang ia kenakan. Kembali rasa percaya diri itu menciut. Diliriknya Aurora yang berjalan dengan anggun.
“Ayo!” tiba-tiba wanita itu menarik tangan Zea masuk ke sebuah butik yang menjual pakaian wanita.
Setelah memilih beberapa pakaian, pilihan Aurora jatuh pada sebuah dress berwarna hitam dengan panjang selutut.
Ragu Zea ingin mencoba pakaian tersebut. Pasalnya, pakaian itu terbuka di bagian leher dan jika Zea memakainya, tentu akan menampakkan leher jenjangnya.
Setelah terlibat perdebatan kecil, Zea pun tetap mengikuti keinginan sang kakak. Arora terlihat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan ia segera mengajak Zea untuk pergi dari sana.
“Kak, kita ngapain ke sini?” tanya Zea saat taksi yang mengantar berhenti di sebuah hotel berbintang.
“Gue capek pengen istirahat. Kan gue udah bilang hari ini kita harus memanjakan diri.
“Akhirnya gue bisa rebahan juga,” imbuh Aurora yang sudah mengempaskan tubuhnya di atas kasur empuk tersebut.
“Kita istirahat dulu di sini. Pokoknya malam ini, kita akan nginep di sini, tapi lo jangan bilang-bilang sama mama, ya,” imbuh Aurora bersandiwara.
Zea hanya mengangguk pasrah. Meskipun dalam benaknya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.
Ia percaya jika sang kakak akan mengatakan jika akan memberitahu informasi tentang pekerjaan yang akan diberikan.
Karena rasa lelah dan kantuk yang mendera, Zea pun ikut terlelap di samping sang kakak yang sudah memejamkan mata.
Suara napas teratur kini terdengar memenuhi ruangan kamar hotel bintang lima itu dan terlihat dua gadis tengah terbaring di atas ranjang king size.
Setelah berpura-pura tertidur, kini Aurora perlahan membuka mata tanpa pergerakan karena ingin memastikan apakah adik tirinya itu sudah tertidur pulas atau belum.
Begitu ia melihat wajah pulas Zea, ingin memastikan dengan tangan mengerakkan tangan di depan wajah adik tirinya dan setelah dirasa aman, ia perlahan bergerak untuk turun dari ranjang dan mengendap-endap keluar seperti seorang pencuri karena tidak ingin ketahuan.
'Selamat tinggal, adikku tersayang. Kamu telah membuat kami kaya,' gumam Aurora yang tersenyum menyeringai begitu berada di luar ruangan kamar hotel dan langsung menghubungi sang ibu bahwa rencananya telah berhasil.
Beberapa jam kemudian, sebuah pergerakan pada ranjang membuat Zea membuka mata. Ia tidak tahu sudah berapa lama terlelap.
“Kak, udah jam berapa ini?” ucap Zea sembari mengerjap dan seketika membulatkan mata begitu melihat seorang pria tak dikenal.
“Siapa kamu?” teriaknya kemudian.
Bukan sang kakak yang ia dapati di sana, melainkan seorang pria paruh baya bertubuh gemuk sedang menatap tajam dengan seringai di sudut bibirnya.
Pria itu menatap liar Zea. Seperti seorang predator yang akan melahap mangsanya.
To be continued...