
"Tidak!" teriak Zea dengan wajah pucat penuh ketakutan begitu melihat pria dengan perut buncit tersebut menghambur ke arahnya dan ia berusaha untuk menghindar dengan berlari menjauh, tapi tidak bisa melakukannya karena pergelangan tangan ditahan sangat kuat.
"Lepaskan aku!" teriak Zea yang saat ini berusaha untuk mengempeskan tangan agar terlepas dari kuasa pria tua yang membuatnya sangat takut dan merasa jijik.
Sementara itu, pria dengan kepala botak tersebut tersenyum menyeringai dan merasa sangat bersemangat ketika gadis muda incarannya berusaha untuk melarikan diri dan membuatnya malah semakin bergairah.
"Mana mungkin aku melepaskanmu setelah mengeluarkan banyak uang untuk membelimu, Sayang. Aku sangat suka dengan darah perawan dan hari ini juga akan mendapatkannya darimu."
Kemudian ia langsung mengempaskan tubuh gadis perawan yang ingin segera di unboxing karena gairah sudah bangkit hanya dengan melihat wajah ketakutan itu.
Ia selama ini menyukai momen seperti ini karena mendapatkan penolakan malah membuatnya sangat bersemangat untuk menaklukkan dan lebih menyukai bercinta dengan menggunakan paksaan serta kekerasan.
Meskipun menyadari bahwa itu adalah ketidaknormalan yang dimiliki, tapi sama sekali tidak merasa khawatir pada kesehatannya karena selama ini bisa memenuhi keinginannya.
Kini, ia mengempaskan tubuh gadis perawan yang terlihat sangat takut padanya tersebut ke atas ranjang. Kemudian tidak membuang waktu langsung menindih agar tidak kabur dari kuasanya.
"Nikmati saja semuanya hari ini, Sayang karena aku akan membuatmu mendesah dan merintih serta mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah kau rasakan."
Tanpa menunggu jawaban dari gadis dengan wajah penuh ketakutan di bawahnya karena sudah bangkit gairahnya, ingin segera membungkam bibir sensual merah jambu itu.
Namun, merasa sangat kesal begitu melihat gadis itu secepat kilat memalingkan wajahnya.
Sementara itu, Zea yang saat ini segera menghindari agar pria di atasnya tidak berhasil menciumnya, segera mendorong sekuat tenaga karena berpikir bahwa tenaga pria tua yang bahkan seumuran kakek-kakek itu tidak akan sekuat tenaga pria muda.
"Menyingkirlah dariku, pria tua bangka! Kau bahkan sudah bau tanah dan sangat menjijikkan!" teriak Zea yang kini bangkit dari ranjang begitu pria itu terjungkal dengan posisi miring dan ia tidak membuang waktu karena langsung mengambil sesuatu di atas nakas dan digunakan untuk memukul kepala.
Zea membekap mulut karena merasa sangat terkejut atas perbuatannya sendiri. "Apa pria tua itu mati?"
Sebenarnya ia ingin memastikan apakah pria itu masih bernapas atau tidak, tapi menyadari jika benar apa yang ditakutkan, akan ditangkap polisi dan berakhir di penjara.
"Tidak! Aku harus segera kabur dari sini!" ujar Zea yang kini mengambil tas selempang miliknya dan berjalan menuju ke arah pintu.
Begitu membuka pintu, Zea kini tengah menoleh ke kanan kiri sebelum keluar dari kamar hotel. Nasib baik suasana di luar area kamar hotel sangat sepi, sehingga ia pun segera berjalan cepat menuju lift.
Begitu berada di dalam ruangan kotak besi tersebut, Zea masih ketakutan jika sampai ada orang-orang dari pria tua itu mengejarnya.
"Ibu dan kak Aurora harus bertanggungjawab karena aku akan melaporkan mereka kepada polisi. Tega-teganya mereka menjualku pada pria tua itu. Mereka sangat jahat dan bukan manusia!" Zea berpura-pura berjalan seperti biasa saat keluar dari lobi hotel.
Begitu berada di jalan raya, seketika berlari karena benar-benar sangat ketakutan jika ada yang menangkapnya karena membuat pria tua itu terkapar dengan darah keluar dari kepala.
Namun, saat pikirannya dipenuhi ketakutan dan berniat menyeberang, ia membulatkan kedua mata begitu melihat sorot lampu dari mobil yang melaju ke arahnya.
Zea berteriak saat mobil tersebut melaju dan ia langsung menutup kedua mata saat tubuhnya terhempas ke aspal setelah ditabrak oleh kendaraan itu.
"Ayah, aku ikut bersamamu," lirih Zea yang saat ini perlahan memejamkan kedua matanya begitu kesadarannya menghilang.
To be continued...