
"Sebenarnya aku ... ah tidak. Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke rumah hari ini sebelum kembali ke Jakarta. Aku tidak akan merahasiakan apapun darimu. Kamu harus mengetahui semua hal yang berhubungan denganku," ucap Khayra yang saat ini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya.
"Dua jam lagi sudah saatnya jam pulang kantor. Apa kamu mau menunggu atau kembali ke hotel?" Khayra yang saat ini tengah menunggu jawaban dari Erick, melihat pria itu seketika tersenyum padanya.
Seolah hal yang baru saja diucapkannya membuat mood pria itu menjadi lebih baik.
"Benarkah? Kamu mau mengajakku ke rumahmu? Tentu saja aku ingin sekali datang ke rumahmu yang merupakan cucu tunggal konglomerat di kota ini. Pasti rumahmu bak istana," sahut Erick yang saat ini merasa sangat bahagia sekaligus senang karena ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kejutan dari Zea.
Mendapatkan kepercayaan dari gadis itu sangatlah susah dan sekarang sudah mendapatkannya, jadi tidak akan pernah disia-siakan. "Aku akan menunggu. Dua jam tidak berarti bagiku. Bahkan setahun saja aku masih menunggumu, apalagi hanya dua jam."
"Apa perlu aku membantumu agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaanmu? Aah ... aku tidak sepintar Ayang dan pasti akan terlihat bego di depanmu. Aku berikan semangat saja," ucap Erick yang saat ini mengangkat tangan kanan ke atas untuk memberikan sebuah semangat.
Khayra hanya tertawa melihat seorang Erick yang selengek'an telah kembali dan akhirnya ia hanya mengangkat ibu jari untuk mengiyakan. Kemudian melanjutkan fokus pada pekerjaannya.
'Erick ... Erick, sebenarnya sangat mudah untuk mengembalikan mood-mu, tapi perasaanku tidak bisa kukendalikan dengan mudah. Aku butuh waktu untuk semuanya karena tidak ingin memaksakan diri dan berakhir menyesali keputusanku,' gumam Khayra yang saat ini tengah menatap ke arah laptop.
Ia pun kembali fokus bekerja dan berpikir ingin segera pulang. Rencananya hari ini akan ke Rumah Sakit malam hari karena ingin mengajak Erick pulang ke rumah terlebih dahulu. Apalagi hari ini tidak ada jadwal kuliah, sehingga membuatnya sedikit longgar waktunya.
Jika di ruangan kerja Khayra kini berubah hening karena Erick hanya diam menatap wanita itu bekerja dan berharap bisa segera selesai, sedangkan di tempat berbeda, yaitu rumah keluarga Kusuma terlihat sangat ramai karena baru saja terjadi keributan besar.
Beberapa saat lalu, Aaron sudah kembali ke rumah keluarga Kusuma dan tadi langsung disuruh makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaan.
Jadi, Aaron mengajak sang ibu agar makan bersama dan saat ini tengah menikmati makanannya di ruang makan khusus para pekerja yang berada di bagian belakang.
Saat Jennifer berbicara lirih agar tidak ad yang mendengar, kini mendekatkan kursinya agar lebih dekat duduk di sebelah putranya. Kemudian ia berbisik di dekat daun telinga Aaron.
"Apa yang terjadi tadi? Kenapa Anindya memanggilmu ke kantor? Apa terjadi sesuatu?" Kemudian kembali makanan ke dalam mulut sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya. Ia benar-benar sangat penasaran apa yang dilakukan oleh Anindya pada putranya.
Aaron yang saat ini tengah mengunyah makanan, seketika tersenyum senang begitu mengingat tentang kejadian di depan lift yang belum diceritakan pada sang ibu.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Cepat katakan!" Jennifer bahkan saat ini sudah mencubit pinggang kokoh putranya karena sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang membuat Aaron terlihat bahagia seperti itu.
Apalagi ini adalah pertama kali melihat putranya sebahagia itu karena sudah lama tidak melihat senyuman setelah kejadian ketika Anindya pergi tanpa pamit.
Aaron yang saat ini masih senyum-senyum sendiri karena merasa sangat senang mengingat perbuatannya tadi yang berhasil membuat Anindya tidak berkutik dan menikmati apa yang dilakukannya, ini mendekatkan diri untuk berbisik di dekat daun telinga sang ibu.
"Aku tadi mencium Anindya dan dia hanya diam saja, Ma," lirih Aaron yang saat ini memastikan tidak ada yang mendengar suaranya.
Jennifer yang saat ini seketika membulatkan mata karena merasa sangat terkejut atas apa yang tidak pernah terpikirkan olehnya, langsung berteriak, "Apa?"
"Astaga!" Refleks Aaron langsung membungkam mulut sang ibu karena menimbulkan suara gaduh di ruang makan tersebut.
Bahkan menatap tajam agar sang ibu tidak membuat kecurigaan pada semua orang yang ada di sana. "Jangan berteriak seperti itu!"
Jennifer yang saat ini menganggukkan kepala agar putranya melepaskan mulutnya yang masih dibungkam dan menyadari kebodohannya karena berteriak di rumah orang lain.
"Lupa." Jennifer saat ini kembali berbisik di dekat daun telinga putranya. "Bagaimana ceritanya?"
Meskipun rasa bahwa perbuatannya sangat konyol karena dari tadi berbisik-bisik ketika berbicara, tapi karena harus berhati-hati dan tidak ingin ada yang mendengar, sehingga membuatnya tidak mempedulikan hal itu.
Hingga ia ketika mengerucutkan bibir begitu mendengar jawaban dari putranya yang malah membuatnya sangat kesal dan tidak sabar.
"Ceritanya sangat panjang. Nanti saja aku ceritakan saat pulang." Aaron yang baru saja menutup mulut, merasa sangat terkejut mendengar suara seorang wanita yang merupakan baby sitter.
"Dasar wanita tua tidak tahu malu! Apa kau tidak mengingat umur saat menggoda pria yang usianya berada jauh di bawahmu?" sarkas sang babysitter yang tadi berniat untuk mengambil air minum sekaligus mengecek apa yang dilakukan oleh pria yang membuatnya tertarik.
Namun, begitu melihat jika interaksi antara pria dan wanita yang berbeda jauh usianya tersebut sangat menyakiti pandangannya, membuatnya berpikir untuk menyadarkan agar tidak berbuat hal-hal yang tidak sopan di rumah itu.
"Ini bukan tempat mesum yang bisa dijadikan tempat untuk bermesraan. Aku akan melaporkan perbuatanmu pada nona muda nanti agar tidak boleh datang ke sini lagi." Saat ia meluapkan segenap perasaan yang penuh dengan amarah, semakin bertambah kesal karena melihat wanita itu seperti tidak takut ketahuan olehnya.
Jennifer yang saat ini sudah tidak bisa menahan emosi melihat tingkah menyebalkan dari wanita di hadapannya, sehingga buru-buru bangkit berdiri dari kursi karena ingin memberikan pelajaran.
"Kau harus diajari sopan santun pada orang tua!" sarkas Jennifer yang saat ini berniat untuk menarik rambut wanita itu.
"Aku akan merobek mulutmu dan juga membuat rambutmu bocah agar tidak berlagak dan bisa sedikit berbicara sopan pada orang yang lebih tua!" teriak Jennifer yang saat ini sudah dikuasai oleh angkara murka karena menyebut masalah umur.
Apalagi cuma wanita sangat sensitif jika membahas tentang masalah umur dan ia ingin memberikan pelajaran pada wanita itu agar tidak selalu menghinanya seperti seorang wanita yang gatal dengan pria muda dan membuatnya tidak punya harga diri.
"Lepaskan, wanita tua! Aku akan membunuhmu jika kau tidak melepaskanku!" teriak wanita yang saat ini meringis menahan rasa nyeri pada kulit kepala karena rambutnya ditarik sangat kencang.
"Tidak akan pernah kau berubah botak!" Jennifer tidak ingin kalah saing berteriak karena saat ini yang dipedulikan hanyalah ingin memberikan sebuah pelajaran pada wanita di hadapannya tersebut.
Aaron saat ini menggantikan perbuatan sang ibu dengan menahan tangan, tapi gagal karena malah menarik sangat kuat rambut sang baby sitter. "Hentikan, jangan seperti ini! Kita di sini bekerja, mencari masalah."
"Wanita ini yang membuat masalah, jadi harus dihabisin sekalian!" Saat Jennifer baru saja menutup mulut, mendengar suara dari sosok wanita yang tak lain adalah kepala pelayan.
"Ada apa ribut-ribut? Hentikan pertikaian kalian!" Kepala pelayan yang tadi mendapatkan laporan dari pelayan yang lain, seketika memeriksa dan ingin menghentikan ulah dari dua wanita berbeda usia tersebut yang saling menyerang.
Bahkan melihat pria yang berprofesi sebagai terapis tersebut tengah berusaha untuk menghentikan, tetapi gagal dan membuatnya turun tangan sendiri dengan berteriak sangat kencang dan suaranya menggema di ruang makan tersebut.
"Berhenti atau aku akan memanggil polisi untuk menghukum kalian?" teriaknya dengan menatap tajam ke arah dua wanita yang kini terlihat sangat berantakan penampilannya karena saling menyerang.
Aaron yang saat ini memijat pelipis karena melihat ulah dari sang ibu yang tidak bisa mengendalikan emosi pada sang baby sitter yang dianggap sangat keterlaluan karena salah paham dengan interaksinya.
Ia yang tidak ingin diusir dari rumah dan akhirnya tidak bisa bertemu dengan putranya, berusaha untuk menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman. "Sebenarnya dia salah paham dengan menganggap bahwa rekan kerjaku ini ada hubungan denganku, sehingga tadi menghina dan membuat temanku ini merasa tersinggung."
"Padahal aku sudah menganggapnya sebagai seorang ibu dan dia juga menganggapku seperti putra kandungnya sendiri. Jadi, kami memang sangat akrab dan berhubungan dengan baik, tapi malah mendapatkan kesalahpahaman dengan dituduh berbuat mesum di rumah ini." Kemudian ia menunjuk ke arah sang baby sitter agar mendapatkan hukuman.
"Bukankah dia perlu diberikan sebuah pelajaran untuk menghormati orang yang lebih tua? Apalagi tadi menghina rekan kerjaku ini dan membuatnya merasa seperti orang yang sangat buruk. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, tapi seorang wanita akan murka jika dihina atau difitnah sesuatu hal yang tidak pernah dilakukan."
Aaron yang saat ini tidak ingin terlihat membela sepihak, kemudian menatap ke arah sang ibu dan menatap tajam. "Kamu pun tidak boleh berbuat kasar berada di rumah pelanggan karena sangat tidak baik untuk kelangsungan pekerjaanmu."
"Bagaimana jika kau dipecat dari pekerjaan dan tidak bisa menghidupi keluargamu?" Aaron bahkan terlihat sangat meyakinkan ketika berakting di hadapan semua orang yang saat ini berkumpul di ruang makan.
Sementara itu, Jennifer sebenarnya ingin sekali menertawakan putranya yang berakting sangat totalitas, tapi tidak ingin mengacaukan semuanya, sehingga saat ini menundukkan kepala agar terlihat menyesali perbuatannya.
"Maaf karena aku tadi tidak bisa menahan diri ketika dihina sebagai wanita murahan. Padahal aku selama ini banting tulang untuk mencari pekerjaan halal demi menghidupi keluarga." Jennifer yang baru saja berakting totalitas seperti putranya, kembali murka karena mendengar sang baby sitter yang menghinanya.
"Jangan mempercayai wanita ini karena aku tahu bagaimana pandangannya tadi ketika berbisik di dekat telinga pria ini. Dia benar-benar seperti seorang wanita penggoda yang sangat gatal dan mungkin haus belaian akan seorang pria," sarkas kacang baby sitter yang ingin semua orang mengetahui bagaimana sebenarnya wanita di hadapannya tersebut sangatlah licik.
Refleks Aaron dan sang ibu menatap ke arah kepala pelayan agar menilai sendiri siapa yang benar dan yang salah.
"Lebih baik Anda memutuskan apa yang harus kami lakukan. Kami akan pergi dari sini jika memang dikhawatirkan berbuat mesum di sini," ucap Jennifer yang saat ini mewakili putranya untuk berkomentar atas tujuan dari wanita yang dianggap sangat terobsesi mendapatkan Aaron, sehingga tidak rela dekat dengan wanita manapun.
Saat ini kepala pelayan yang geleng-geleng kepala dan memijat pelipis melihat perdebatan antara dua terapis dan juga sang baby sitter. "Baiklah. Aku sudah mengerti duduk perkaranya dan sepertinya ini harus diselesaikan secara kekeluargaan tanpa kekerasan."
"Nanti sore nona akan menemui kalian dan aku akan melaporkan apa yang terjadi hari ini. Jadi, tidak bisa memutuskan secara sepihak karena sudah ada tanda tangan mengenai kontrak kerja sebagai terapis untuk tuan Kenzie." Kemudian mengibaskan tangannya untuk memberikan perintah.
"Lebih baik kalian lanjutkan pekerjaan masing-masing dan Jangan bertengkar lagi karena jika sampai melakukannya akan benar-benar diusir dari rumah ini tanpa pikir panjang." Kemudian ia berlalu pergi sambil menarik tangan sang baby sitter agar ikut dengannya karena ingin berbicara empat mata.
Aaron dan sang ibu kini kembali bersitatap dan tersenyum menyeringai karena sama-sama merasa puas bisa memberikan pelajaran pada wanita itu yang dianggap sangat menyebalkan.
Sebenarnya mereka ingin membahas tentang wanita itu yang baru saja diberikan hukuman, tapi khawatir dituduh lagi tengah bermesraan hanya karena berbisik-bisik ketika berbicara, mengurungkan niat dan kembali melanjutkan ritual makan.
"Lebih baik cepat habiskan makanannya dan kita kembali bekerja," ucap Aaron yang saat ini kembali mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di ruang makan berukuran sedang tersebut.
"Baiklah," tahu Jennifer yang saat ini mengikuti pergerakan dari putranya dan melanjutkan makan dengan menghabiskan makanan yang ada di diatas piring.
Berbeda dengan yang saat ini tengah terjadi di halaman samping rumah. Kepala pelayan saat ini menatap tajam wanita yang ada di hadapannya. "Kamu biasanya tidak pernah membuat ulah ketika bekerja. Kenapa sekarang membuat ulah dengan menuduh hal yang konyol pada wanita itu?"
"Aku benar-benar sangat yakin jika dia sangat menyukai pria itu. Aku bisa melihat tatapannya seperti seorang wanita penggoda," ucapnya dengan raut wajah penuh kekesalan karena tidak ada yang perduli atau pun percaya pada ucapannya.
To be continued...