Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Penasaran



Pukul enam petang, Khayra yang sudah terlihat merias diri di depan cermin karena setengah jam lagi akan berangkat ke salah satu restoran dengan sang asisten.


Ia masih mengenakan kimono berwarna putih dan fokus pada wajahnya yang mulai mengaplikasikan bedak dan lipstik. Tidak ingin tampil berlebihan, ia hanya mengaplikasikan bedak tipis agar terkesan natural.


"Kira-kira seperti apa para rekan bisnis kakek? Apa mereka nanti tidak menyepelekan aku hanya anak tidak tahu apapun?" ujar Khayra yang saat ini baru selesai merias wajahnya dan bangkit berdiri dari kursi karena ingin mengambil pakaian formal miliknya di dalam koper.


Namun, saat hendak membungkuk mengambilnya, mengerutkan kening karena ia mendengar suara ketukan pintu dari luar dan membuatnya merasa aneh dan memastikan bahwa waktu masih belum saatnya berangkat karena sang asisten mengatakan pukul setengah tujuh.


"Apa om sudah datang? Tidak mungkin. Pasti orang lain. Ataukah itu adalah tuan Aaron?" Khayra masih bertanya-tanya dan tidak ingin sibuk dengan pemikiran, melangkahkan kaki jenjang yang menuju ke arah pintu dan merasa penasaran dengan siapa yang datang.


Saat pintu di hadapannya sudah terbuka lebar, ia mengerutkan kening karena melihat seorang pegawai hotel membawa sebuah kotak dan diberikan padanya.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Nona. Ada paket untuk Anda." Wanita wes seragam hitam yang baru saja mengulurkan kotak di tangannya, langsung membungkuk hormat untuk berpamitan.


Refleks Khayra yang merasa heran sekaligus penasaran dengan siapa yang memberikan kotak yang baru saja diterima, menghentikan wanita yang hampir saja pergi tersebut.


"Tunggu! Ini benar untukku? Tidak salah orang?" tanya Khayra yang saat ini merasa bingung karena tidak tahu siapa yang memberikan itu. "Siapa yang memberikan ini untukku?"


Sementara itu, wanita itu kini dengan mengulas senyuman menjawab singkat. "Dari tuan yang ada di kamar sebelah kiri, Nona. Saya tadi kebetulan baru dari sana dan sekalian meminta tolong untuk menyerahkan ini pada Anda agar dipakai di acara pertemuan. Saya permisi dulu karena harus kembali bekerja."


Kemudian berlalu pergi meninggalkan sosok wanita yang ada di hadapannya karena tidak ingin mendapatkan pertanyaan panjang lebar.


Kini, ia langsung masuk ke dalam karena berpikir jika waktu sudah semakin berjalan dan ia belum berganti pakaian. "Aku harus buru-buru!"


Saat berpikir harus segera mengganti kimono yang dipakainya, Khayra kini mengambil pakaian yang akan dipakai. Namun, saat ia hendak memakai setelan formal dengan lengan panjang berwarna peach, merasa penasaran dengan apa yang ada di kotak tersebut.


Refleks ia langsung membuka kotak yang sebelumnya ia taruh di atas ranjang. "Sebenarnya om memberikanku apa?"


Saat perlahan membuka kotak berwarna hitam tersebut, dengan berdebar-debar karena ditambah dengan rasa penasaran. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu melihat sesuatu yang berada di dalam kotak tersebut.


"Buat apa ini?" Ia pun langsung mengambilnya dan saat memperhatikan apa yang ada di tangannya, notifikasi ponsel yang ada di atas nakas.


"Siapa?" Kemudian ia berjalan mengambil benda pipi yang tadi ia taruh di sana.


Begitu melihat ada pesan dari sosok pria yang dicintai, seketika membuat wajahnya berbinar saat membacanya.


Setelah acaramu selesai, aku ada kejutan untukmu dan pasti kamu akan merasa sangat senang. Kamu harus bersabar sampai acara mu dengan teman-teman kakekmu itu selesai.


"Kali ini kejutan apa lagi yang direncanakannya? Bikin penasaran saja." ucap Khayra saat ini masih menatap ke arah sesuatu yang dipegangnya.


To be continued...