
Sementara itu, Jasmine yang terpaksa melakukan perintah dari Aaron meskipun di dalam hati tidak berhenti mengumpat dan menahan rasa dingin yang menusuk tulang.
'Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Aaron? Kenapa dia berubah konyol seperti ini? Hujan-hujanan, memangnya ia adalah anak kecil? Bahkan menyuruhku untuk mengikuti kegilaannya,' sarkas Jasmine yang saat ini melakukan hal sama dengan Aaron, yaitu merentangkan kedua tangan sambil mendongak ke atas setelah memejamkan mata agar air hujan tidak masuk ke dalam matanya.
Berbeda dengan sosok pelayan yang saat ini sudah melakukan tugasnya seperti yang diperintahkan oleh majikan. Ia sudah merekam majikan dan wanita yang diketahui mantan kekasih dan sebenarnya membuatnya heran, tapi masih fokus untuk merekam.
Meskipun di dalam pikirannya sangat heran karena melihat majikannya kini seperti menjalin hubungan lagi dengan wanita yang telah pergi di hari pernikahan.
'Wah ... jika tuan Aaron benar-benar kembali pada wanita itu, mungkin akan kembali patah hati suatu saat nanti. nona Jasmine memang sangat cantik dan pantas untuk dikagumi oleh seluruh pria yang ada di dunia ini, tapi tidak cocok dijadikan pendamping hidup,' gumamnya sambil mengakhiri rekamannya.
Ia bahkan sudah merekam tiga video dari sudut yang berbeda agar nanti dipilih yang paling bagus. Hingga ia melihat majikannya kini berbalik badan dan memberikan kode dengan mata, apakah sudah berhasil merekam.
Refleks ia mengangkat jempol ketika menganggukkan kepalanya.
Aaron yang saat ini tersenyum menyeringai karena sudah tidak sabar untuk mengirimkan ke sang ibu agar ditunjukkan pada Anindya, kini mengibaskan tangan karena tidak ingin perbuatan dari pelayannya diketahui oleh Jasmine.
Hingga saat pelayan menuruti perintah dan menghilang di balik pintu, ia kini menoleh ke arah wanita yang dianggap sangat bodoh karena mau menuruti perintahnya.
Ia akan sebenarnya tengah menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak ketika wanita yang sangat dibencinya itu percaya pada kebohongannya. 'Kau adalah seorang model internasional, tapi kenapa bisa sebodoh ini?'
Aaron yang saat ini sudah mendapatkan apa yang diinginkan, kini membuka suara untuk kembali memberikan perintah. "Sudah. Buka matamu."
Jasmine yang dari tadi menahan rasa dingin di tubuhnya, seketika membuka mata setelah menurunkan pandangan dan beralih menatap ke arah Aaron.
"Sudah? Kenapa cepat sekali? Apa kamu sudah puas main hujan-hujannya?" Jasmine beberapa kali mengusap wajahnya yang terkena air hujan.
Ia yang selama ini sangat lemah imunnya, berpikir jika nanti pasti akan demam dan flu. Apalagi jika lama-lama main hujan-hujanan seperti keinginan Aaron.
"Ya, aku sudah puas. Sekarang pulanglah!" Kemudian Aaron berbalik badan dan berjalan menuju ke arah samping rumah.
Ia bahkan bisa mendengar suara Jasmine yang berteriak, tapi sama sekali tidak diperdulikan olehnya karena jujur saja ingin segera pergi mandi dan menikmati kopi panas sambil mengirimkan pesan pada sang ibu.
"Aaron, tunggu!" teriak Jasmine yang saat ini sangat marah sekaligus kesal karena merasa bingung dengan pria yang sudah berjalan menjauh.
Ia yang tidak terima dengan perbuatan Aaron padanya, seketika berlari mengejar dan langsung menahan pergelangan tangan pria itu, sehingga kini berhenti.
Jasmine berusaha untuk menahan diri agar tidak terlihat murka dan masih menjaga tekanan suara. "Aaron, sebenarnya apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba menyuruhku datang dan langsung mengajak hujan-hujanan sebentar, lalu mengusir? Apa saat ini kamu ingin membalas dendam padaku?"
Refleks Jasmine menggelengkan kepala karena tidak ingin Aaron kesal dan menyembunyikan perasaan sebenarnya. Bahkan ini adalah pertama kali ia merasakan jika pria yang sampai sekarang bertahta di hatinya tersebut ternyata bisa sangat menyebalkan.
"Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tidak menyuruhku untuk mandi di sini dan berganti pakaian? Kita takkan bisa mengobrol sambil minum kopi di dalam, bukan?" Merasa jika ia seperti seorang pengemis, bahkan tidak diperdulikan oleh Jasmine karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah bisa kembali menjalin hubungan dengan Aaron.
Hingga ia seperti mendapat hujaman tombak tajam pada jantungnya ketika indra pendengaran menangkap suara bariton pria yang membuatnya serasa tidak punya muka.
"Aku ingin sedikit membalas dendam padamu atas perbuatan di masa lalu. Bukankah ini tidak seberapa sakitnya dibandingkan perbuatanmu yang pergi di hari pernikahan dan mempermalukanku serta keluarga besar Jonathan?" sarkas Aaron yang saat ini tidak bisa mengendalikan diri untuk menahan amarah ketika mengingat masa lalu kelam.
Jasmine yang tadinya merasa sangat marah sekaligus kesal, seketika menelan saliva begitu mendapatkan sebuah tatapan tajam penuh kebencian.
"Aaron, bukankah aku sudah beberapa kali meminta maaf padamu? Aku dulu memang bersalah dan tidak memperdulikan perasaanmu serta nama baik keluargamu karena lebih mementingkan karir, tapi sekarang aku ingin menebusnya karena benar-benar menyesal." Jasmine bahkan saat ini menyatukan telapak tangan dengan wajah memelas.
Bahkan tidak memperdulikan tubuhnya yang sangat kedinginan. Ia bahkan saat ini menggigil karena kulitnya seperti membeku akibat hujan-hujanan di pagi hari.
Namun, tidak mendapatkan apa yang diharapkan karena lagi-lagi mendapatkan jawaban sinis dari Aaron.
"Aku juga minta maaf padamu karena tidak memikirkan akibat dari perbuatanku padamu. Tapi aku akan bertanggungjawab dengan membawakanmu obat agar tidak sakit nanti. Tunggu di sini sebentar!" Sebenarnya Aaron hanya ingin menipu Jasmine agar bisa segera kabur.
Ia buru-buru berjalan cepat menuju pintu samping rumah dan tentu saja tidak akan kembali keluar menemui Jasmine. Kebetulan di dapur bertemu dengan pelayan yang tadi disuruhnya untuk merekamnya.
"Ini, ponsel Anda, Tuan. Ada 3 video, agar punya pilihan untuk mencari paling terbaik." Ia yang mengulurkan ponsel, kini melihat tubuh basah kuyup serta bibir membiru yang gemetar. "Lebih baik segera mandi dan memakai baju hangat, Tuan Aaron. Saya akan membuatkan minuman hangat."
Aaron yang sudah tidak sabar ingin mengirimkan pada sang ibu, kini tidak memperdulikan saran pelayan karena kini langsung mengirimkan 3 video itu.
Bahkan sama sekali tidak diedit karena berpikir jika itu tidaklah penting. Hingga ia yang mengingat sesuatu, seketika menepuk jidat. "Oh ya, cepat ambilkan obat untuk demam dan flu, lalu berikan pada wanita itu. Aku mau mandi."
Senyuman mengembang kini mewakili perasaan senang Aaron yang berjalan menuju ke arah anak tangga. Tanpa memperdulikan pelayan yang nanti repot mengepel karena masuk dalam keadaan basah kuyup, ia menuju ke kamar.
Di sisi lain, pelayan kini tengah garuk-garuk kepala karena dibuat bingung oleh majikannya. "Apa mau tuan Aaron sebenarnya? Jadi, hanya ingin hujan-hujanan sebentar dengan nona Jasmine dan merekamnya, lalu menyuruhnya pulang?"
Ia kini melihat ke arah jendela samping rumah dan seperti yang dipikirkan, masih ada wanita dengan gaun merah yang sudah basah kuyup masih menunggu.
"Apakah ini bisa disebut dengan hukum tabur tuai?" gumamnya sambil buru-buru berjalan menuju ke kotak obat dan melaksanakan perintah dari majikannya.
To be continued...