Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak akan pernah kehilangan akal



"Pegangan yang kuat agar tidak jatuh!" ucap Erick begitu naik ke motornya dan merasa kesal kala gadis yang duduk di belakang tidak berpegangan erat.


Apalagi saat ia melirik ke belakang, melihat Anindya malah berpegangan pada body motornya. Tentu saja itu merupakan hal yang merendahkan harga dirinya kala ada seorang gadis yang seolah tidak mau memeluknya ketika dibonceng.


Apalagi selama ini ada banyak gadis yang bermimpi ingin dibonceng dengan motor sport yang dianggap paling keren di kalangan wanita saat Sunmori. Berpikir jika sampai Anindya seperti itu terus dan dilihat oleh para anak motor lain, tentu saja akan diejek habis-habisan.


'Tidak! Aku tidak ingin ada yang melihat Anindya seperti ini. Ini akan benar-benar merendahkan harga diriku sebagai seorang pria populer di kampus,' gumam Erick yang masih menunggu itikad baik dari Zea agar segera memeluknya dengan erat.


"Kalau kamu belum berpegangan, aku tidak akan berangkat karena jika sampai kamu terjatuh nanti, yang disalahkan adalah aku." Erick masih mencoba untuk membuat Anindya yang masih terlihat ragu dan tidak bergerak sedikit pun untuk berpegangan padanya.


Sementara itu, Zea yang tadinya merasa tidak nyaman jika berpegangan pada Erick karena khawatir akanembuat pria itu berpikir macam-macam padanya, yaitu menyukainya.


Hingga ia pun kini mengerti kekhawatiran Erick jika sampai disalahkan oleh keluarga Jonathan. Apalagi tadi Aaron benar-benar tidak bersahabat saat memberikan sebuah ultimatum.


"Baiklah. Aku akan berpegangan agar tidak terjatuh." Akhirnya ia memilih menuruti perintah Erick dan berpegangan pada kedua sisi pinggang pria yang masih menoleh ke belakang.


Namun, ia berpegangan tidak seperti yang dilakukan pada Aaron semalam dengan memeluk erat perut sixpack pria yang sangat dipujanya tersebut.


"Ayo, kita berangkat! Aku ingin segera melihat bagaimana para anak motor Sunmori." Zea bahkan menepuk pundak kokoh pria di hadapannya agar segera menjalankan motornya.


Sebenarnya Erick tidak puas dengan apa yang saat ini dilakukan oleh Anindya yang seolah merasa jijik untuk berpegangan seutuhnya padanya, tapi karena sadar jika waktu semakin berjalan, sehingga membuatnya berpikir jika akan terlambat datang ke acara.


"Baiklah. Kita berangkat sekarang!" Saat hendak menyalakan mesin motor, indra pendengaran menangkap suara dering ponsel miliknya dan sudah bisa menebak siapa yang menghubungi.


"Sebentar, ini pasti teman-temanku. Kemarin bilang akan menunggu di dekat pos yang ada di persimpangan jalan menuju ke area puncak." Kemudian ia menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Halo, Bro. Sekarang kami sudah ada di dekat pos. Kau ada di mana?"


Tentu saja karena ingin melihat terus sosok Anindya yang sangat imut dan menggemaskan. Hingga ia seketika terkekeh geli ketika bersitatap dengan gadis itu yang ternyata tengah melihat semua perbuatannya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku dan yang lainnnya akan menunggu!" sahut pria di seberang telpon dan mematikan panggilan.


Saat Erick hendak memasukkan kembali ponsel pada tas kecil miliknya, mendengar suara bernada kekesalan dari Anindya yang mengungkapkan nada protes.


"Kembalikan spion itu seperti semula! Bukankah spion motor digunakan untuk melihat ke arah kendaraan di belakang? Bukan melihat wanita yang dibonceng," sarkas Zea dengan bibir mengerucut ketika meluapkan kekesalannya.


Ia sama sekali tidak suka jika sampai Erick terlalu memperhatikannya, sehingga malah akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan.


"Seharusnya kamu tahu jika seorang pria menghadapkan spion pada cewek yang duduk di belakang, itu tandanya sangat cantik." Karena tidak ingin membuat kesal, akhirnya ia kini menurutinya dan menyalakan mesin motor.


'Seandainya dia tahu penampilanku yang dulu, pasti melirik saja sangat jijik. Uang memang benar-benar bisa merubah segalanya. Termasuk penampilanku yang cupu jadi berubah cantik seperti kata orang-orang,' gumam Zea yang merasa sangat terkejut ketika motor tiba-tiba melaju dengan cepat.


Hingga ia yang hampir jatuh, refleks melingkarkan tangannya pada perut di balik Hoodie berwarna hitam tersebut.


"Astaga! Kenapa tiba-tiba menambah gas? Aku hampir jatuh, tahu!" teriak Zea dengan membuka penutup helm dengan sarung kelinci berwarna pink yang kini menjadi salah satu benda favoritnya.


Ia benar-benar sangat senang memakai helm itu karena khusus dipilihkan oleh pria yang sangat dicintai.


"Maaf. Itu karena kita sudah ditunggu oleh banyak orang. Aku tidak ingin membuat mereka menunggu terlalu lama." Meskipun tadi sengaja dan semua yang dikatakan hanyalah sebuah alasan, Erick seketika tersenyum menyeringai saat berpikir jika ia akhirnya berhasil membuat gadis itu memeluknya sangat erat.


'Para lelaki tidak akan pernah kehilangan akal, Sayang. Hanya masalah berpegangan saja itu merupakan sebuah hal kecil untukku. Aku akan membuktikan hebatnya seorang Erick yang selama ini menjadi idaman para wanita,' gumamnya di dalam hati.


To be continued...