
Jonathan baru bisa pulang setelah pelayan datang ke rumah sakit dan diperintahkannya untuk menjaga gadis muda yang ditabraknya. Ia menyuruh pelayan segera mengabarkan mengenai keadaan gadis itu jika sadar dari pengaruh obat bius setelah dioperasi.
Berharap tidak ada hal buruk dari gadis muda itu karena akan merasa berdosa jika sampai dampak dari kesalahannya membuat korban mengalami luka parah.
Keesokan harinya, Jonathan pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah sakit bersama sang istri setelah pelayan yang diperintahkan untuk menunggu mengabarkan jika gadis yang ditabraknya telah sadar.
Awalnya, ia menceritakan mengenai kemalangan yang dialami oleh gadis yang ditabraknya dan saat ini mendapatkan dukungan penuh dari sang istri agar bertanggung jawab dengan merawat korban sampai sembuh.
Meskipun kalau menceritakan pada putra mereka mengenai gadis malang itu karena ada banyak pertimbangan yang mereka pikirkan. Apalagi masih belum jelas bagaimana nasib dari korban tanpa tanda pengenal serta tidak diketahui sanak keluarga.
Saat ini, Jonathan dan Jennifer melangkah masuk ke dalam ruangan VIP yang menjadi tempat perawatan gadis malang itu.
Keduanya bisa melihat jika gadis itu saat ini menatap kedatangan mereka dengan wajah bingung.
Jonathan dan sang istri saat ini berjalan mendekati ranjang perawatan setelah memberikan kode pada pelayan agar keluar karena ingin berbicara tanpa diketahui oleh orang lain.
Kini, ia memberikan kode pada sang istri agar membuka suara karena berpikir akan jauh lebih baik jika sama-sama wanita. Bahkan sebelumnya sudah berbisik di dekat daun telinga wanita yang sangat dicintainya tersebut.
"Jangan lupa tanyakan hal penting mengenai keluarganya karena ia tidak mau berbicara dengan sang dokter serta perawat," ucap Jonathan yang sudah mendapatkan laporan mengenai pasien yang sudah sadar, tapi tidak mau membuka mulut sama sekali.
"Baiklah ... baiklah! Kamu diam saja," sahut Jenifer yang kini bisa mengerti jika sang suami tengah diliputi kekhawatiran karena telah mencelakai anak gadis orang.
Apalagi berpikir jika orang tuanya nanti pasti akan kebingungan mencari, jadi bisa merasakan bagaimana rasanya mengkhawatirkan keadaan putrinya.
Namun, ia merasa bingung karena pertanyaannya sama sekali tidak ditanggapi. "Nak, siapa namamu? Aku harus memberitahu kedua orang tuamu agar tidak mengkhawatirkan keadaanmu."
Sementara itu, Jonathan saat ini hanya mengamati tatapan kosong dari gadis muda yang masih menutup rapat bibir dan sama sekali tidak berekspresi ketika ditanya oleh sang istri.
Ia memang belum sempat bertemu dengan dokter karena datang terlalu awal, jadi belum bisa banyak bertanya mengenai perkembangan pasien yang ditabraknya tersebut.
'Apa yang saat ini dipikirkan oleh gadis ini? Kenapa seperti terlihat bingung? Ia juga tidak bisu, kan?' gumam Jonathan yang masih belum mengalihkan perhatian dari gadis di atas ranjang dengan beberapa alat penunjang kesehatan tersebut.
Sementara itu, Zea yang dari tadi hanya diam setelah tersadar, menyadari bahwa ia berada di rumah sakit dan membuatnya mengingat-ingat sesuatu mengenai kejadian yang menjadi penyebab berada di sana.
Hingga ia mengingat tentang kejadian saat berlari menyeberang dan akhirnya tertabrak. Hingga begitu mendengar wanita yang datang dan bertanya padanya dan menyebutkan tentang orang tuanya, membuatnya menyadari bahwa ia sekarang hanya sebatang kara karena tidak punya siapa-siapa lagi.
Meskipun masih ada ibu tiri dan kakak tirinya, Zea sudah menganggapnya mati dan tidak ingin bertemu mereka. Zea kini menatap intens wajah wanita yang sudah tidak lagi muda itu, tapi terlihat masih sangat cantik.
"Apa Anda tahu siapa aku? Kenapa aku tidak bisa ingat apapun? Siapa namaku?" tanya Zea yang saat ini memilih untuk membuang semua hal tentang dirinya dan ingin menjadi orang baru dengan memulai sebuah kebohongan.
'Aku tidak ingin menjadi Zea—si gadis cupu dan culun yang sangat bodoh dan mudah ditipu. Lebih baik aku menipu demi keselamatanku daripada ditipu dan berada dalam bahaya,' gumam Zea yang tiba-tiba memutuskan untuk menjadi orang lain dengan alasan hilang ingatan.
To be continued...