Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Pembicaraan para orang dewasa



Jenny seketika melepaskan tangannya yang berada di daun telinga putranya begitu melihat raut wajah penuh permohonan dari gadis muda yang sudah dianggapnya seperti putri sendiri tersebut.


Kemudian beralih menatap ke arah putranya agar menyadari kesalahan dan tidak mengulangi untuk kesekian kali karena merasa iba pada gadis yang seperti merasa tengah diusir dari rumah.


"Lain kali jangan membahas tentang hal itu lagi jika tidak ingin mendapatkan hukuman dari Mama. Kamu fokus saja pada rencana pernikahan yang sebentar lagi akan dilakukan. Oh ya, apakah hari ini jadi melakukan fitting gaun pengantin di butik milik teman Mama?"


Zea merasa sangat terkejut begitu mengetahui bahwa pria yang sempat membuatnya terpesona tersebut ternyata akan menikah. Entah mengapa begitu mengetahui hal itu, seketika perasaannya tidak karuan dan seperti merasa kecewa.


Padahal ia sama sekali tidak punya hubungan apapun dan mengetahui bahwa pria dengan paras rupawan tersebut tidak akan pernah meliriknya. Apalagi mengetahui bahwa status sosial di antara mereka sangat berbeda.


'Ternyata tuan Aaron sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi akan menikah? Rasanya aku seperti pepatah 'pungguk merindukan bulan' karena mengharap sesuatu yang tidak mungkin bisa kumiliki.'


Jujur saja ketika pertama kali melihat Aaron di restoran dan membuatnya terpesona, sehingga melakukan kesalahan dan berakhir dipecat. Ia merasa jika pria itu sangat tampan dan mempesona bagi siapapun wanita yang menatapnya.


Termasuk dirinya yang benar-benar membuatnya tidak berkutik dan tidak bisa menolak pesona dari seorang putra konglomerat itu. Apalagi saat berhadapan dengan pria itu, membuat degup jantungnya berdetak sangat cepat.


Hingga kini ia bisa melihat bahwa pria yang saat ini masih mengusap daun telinga sambil meringis kesakitan, membenarkan perkataan sang ibu dengan menjelaskan mengenai calon istri.


"Mama selalu saja menganggapku seperti anak kecil dengan menjewerku seperti ini. Padahal sudah tahu bahwa sebentar lagi aku akan menikah. Jika nanti Jasmine sudah tinggal di sini, Mama tidak boleh mempermalukanku seperti ini di depannya."


Aaron saat ini sangat kesal karena sang ibu selalu saja membela Anindya. Jika Anindya adalah seorang laki-laki, pasti sudah membuatnya babak belur.


Namun, karena yang dianggap saingannya adalah seorang perempuan dan masih kecil, membuatnya tidak bisa melakukan apapun dan harus menerima dengan lapang dada.


"Aku janji tidak akan mengungkitnya lagi. Apa Mama sudah puas sekarang?" Aaron yang saat ini terlihat masam wajahnya, kini memilih untuk mengambil kopi yang tadi dibuatkan oleh pelayan dan mungkin sudah tidak lagi panas dan bisa langsung diminum.


Hingga ia pun menyeruput kopi yang membuatnya merasa mood booster kembali baik karena berpikir bahwa nanti siang, akan fitting gaun pengantin bersama sang kekasih.


Sebenarnya ia sudah mengatur jadwal untuk fitting gaun pengantin seminggu yang lalu, tapi jadwal sang kekasih selalu padat dan tidak bisa. Hingga hari ini baru memiliki waktu luang karena hanya ada pemotretan di sore hari.


Bahkan ia sudah sangat tidak sabar ingin melihat sang kekasih mengenakan gaun pengantin dan membayangkan pasti akan terlihat sangat cantik.


Tidak bisa dipungkiri bahwa Aaron jatuh cinta pada Jasmine pertama kali saat melihat wanita itu di studio pemotretan. Ia bertemu dengan sang kekasih ketika Jasmine tengah melakukan pemotretan.


Ia merupakan rekan bisnis dari pemilik sebuah PH yang menaungi beberapa artis dan juga model. Jadi, tidak sengaja bertemu dengan Jasmine dan langsung mengajaknya untuk menjalin hubungan.


Karena ia adalah tipe pria yang tidak suka berbasa-basi dan langsung mengungkapkan apa yang diinginkan. Apalagi sangat percaya diri karena memiliki semua hal yang diimpikan oleh para wanita dan membuatnya yakin jika Jasmine tidak akan pernah menolaknya.


Benar saja apa yang dipikirkannya karena Jasmine sama sekali tidak menolaknya dan bersedia untuk menjadi kekasihnya saat itu juga karena memang tidak mempunyai pasangan.


Tentu saja Aaron mendapatkan applause dari banyak orang atas sikap gentleman yang dilakukannya ketika mengajak Jasmine berkencan di depan banyak staf dan kru di studio pemotretan.


Hal itu tidak akan pernah bisa dilupakannya karena merupakan sebuah hal gila yang pernah dilakukan. Bahwa ia mengajak kencan seorang wanita ketika baru pertama kali bertemu karena terpesona dengan kecantikan Jasmine.


Apalagi semua hal yang ada di dalam diri Jasmine merupakan ciri-ciri idaman para pria. Hingga sifat ceria yang dimiliki wanita itu membuat hidupnya lebih berwarna dan selalu merasa lebih bersemangat dalam menjalani apapun.


Jadi, tidak ingin kehilangan wanita yang sangat diidam-idamkan itu untuk menjadi istri dan memutuskan menikahinya setelah 2 tahun menjalin hubungan. Ia tidak ingin berlama-lama menjalin hubungan karena khawatir akan kandas di tengah jalan dan gagal memiliki Jasmine yang ingin dijadikan istri.


Apalagi hubungan percintaan yang sangat lama, menurutnya akan membuat pasangan bosan dan ia tidak ingin itu terjadi karena ingin mengikat Jasmine melalui pernikahan yang tidak mungkin bisa berpisah tanpa ia menyetujuinya.


Saat ini, Jenny bisa melihat raut wajah penuh kebahagiaan dari putranya saat membahas mengenai fitting gaun pengantin dan membuatnya ikut merasa bahagia serta tersenyum simpul.


"Wah ... anak Mama ternyata sudah dewasa dan akan menikah. Padahal semua kenanganmu dari kecil masih diingat Mama dan seperti baru terjadi kemarin saja. Tapi Mama benar-benar sangat senang karena sebentar lagi akan menimang cucu."


"Kamu tidak usah menunda memiliki keturunan karena akan lebih baik jika memiliki anak saat masih muda. Jadi, saat nanti anakmu remaja, kamu belum terlalu tua. Bahkan Jasmine pun akan masih terlihat cantik dan muda seperti kakak beradik dengan anaknya."


Saat Aaron menyeruput kopinya, ia seketika tersedak hingga membuat tenggorokannya panas. Apalagi ia belum berpikir sampai jauh ke sana karena mengetahui bahwa pekerjaan sang kekasih adalah seorang model yang pastinya sangat menjaga bentuk tubuh.


'Bahkan untuk menikahinya saja membutuhkan banyak kesabaran demi membuatnya setuju. Jika aku tidak mengancam, mana mungkin ia mau menikah. Apalagi ini harus punya anak, pasti hal yang dipikirkan hanyalah tentang karirnya.'


"Tisu, Tuan Aaron," sahut Zea yang langsung bergerak cepat.


Aaron kini mengusap tenggorokan yang terasa panas akibat tersedak tadi. Hingga ia melihat gadis yang berada di sampingnya memberikan sebuah tisu dan langsung diterimanya karena bibirnya basah akibat tersedak kopi.


Kini, ia pun membersihkan bibirnya dan merasakan sebuah tepukan berkali-kali dari sang ibu demi menormalkan napasnya akibat tersedak tadi.


"Hati-hati, Aaron! Makanya bismillah dulu sebelum makan dan minum." Jenny kini mengurangi tekanan pada tepukan di punggung putranya begitu melihat sudah tidak lagi batuk.


"Lagian, Mama sih! Kenapa pakai bahas keturunan segala saat kami saja belum menikah. Beda lagi kalau kami sudah menikah berbulan-bulan, pantes aja Mama bilang gitu. Lagipula Jasmine pasti masih punya kontrak dengan beberapa perusahaan dan tidak mungkin bisa dibatalkan."


Aaron tidak ingin masalah anak membuat hubungan dengan Jasmine nanti renggang atau pun mengalami masalah.


Apalagi mengetahui jika Jasmine sangat menyukai pekerjaan yang ditekuni karena memang menjadi cita-cita semenjak remaja. Jadi, saat ia mendapatkan persetujuan dari Jasmine yang setuju menikah saja sudah bersyukur.


"Mengenai masalah keturunan, kami belum membahasnya karena aku bisa memahami apa yang dipikirkan oleh Jasmine, Ma. Jadi, biarkan kami menjalani pernikahan dulu untuk menyatukan dua hati yang pasti punya banyak perbedaan."


Aaron berharap jika sang ibu tidak ikut campur dalam urusan rumah tangganya suatu saat nanti karena terobsesi ingin segera memiliki cucu. "Biarkan kami saling memahami dulu setelah menikah, agar tidak ada masalah dalam rumah tangga."


Jika Aaron berusaha untuk membuat sang ibu mengerti, di sisi lain, ada sosok gadis yang tengah menahan perasaan terluka karena kehilangan.


Sosok wanita yang tak lain adalah Zea, kini berpikir jika ia pasti akan merasa sangat terluka dan sakit hati melihat pria yang disukai bermesraan dengan sang istri.


'Padahal aku sangat menyukai tuan Aaron dan sebenarnya merasa sangat senang bisa bertemu dengannya lagi. Bahkan tidak menyangka jika ia merupakan putra dari tuan Jonathan dan nyonya Jenny.'


'Aku berpikir bahwa tuan Aaron adalah cinta pertamaku, tapi ternyata hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan semata,' gumam Zea yang kini mencoba untuk menormalkan perasaannya dengan minum susu coklat hangat.


Ia hanya mendengarkan obrolan dari para orang dewasa yang sebenarnya tidak pantas didengarkan karena membahas mengenai masalah keturunan.


Namun, ia merasa sangat tertarik dengan pembicaraan itu karena ingin mengetahui seperti apa sosok wanita yang akan dinikahi oleh pria yang membuatnya kagum itu.


Bahkan ia ingin sekali melihat wanita beruntung yang bisa mendapatkan pria setampan dan memiliki segalanya seperti Aaron.


Mungkin ia akan menjadi satu-satunya wanita paling berharga dan bahagia jika memiliki seorang suami tampan, tubuh proporsional, mapan dan berasal dari keluarga berada.


Namun, Zea merasa bahwa harapannya tidak akan bisa digapai jika menginginkan seorang pria seperti Aaron. Apalagi posisinya saat ini sama sekali tidak mempunyai orang tua yang sudah meninggal.


Bahkan tempat tinggal saja tidak punya dan membuatnya lontang-lantung seperti orang hilang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika keluar dari rumah itu dan hidup mandiri di luaran sana.


Apalagi mengetahui bahwa kehidupan di Jakarta sangat berat dan susah. Ia bahkan dipecat dari pekerjaan hanya karena melakukan kesalahan kecil akibat pria arogan itu. Namun, tetap saja tidak bisa membuang rasa sukanya pada pria setampan Aaron.


'Pasti calon istri tuan Aaron sangat cantik dan merasa sangat bahagia bisa menikah dengan pria yang menjadi idaman para wanita. Beruntung sekali wanita itu. Semoga suatu saat nanti aku mendapatkan seorang suami yang sangat mencintaiku.'


Zea menyadari bahwa harapannya terlalu besar saat usianya saja bahkan masih 19 tahun, tapi sudah memikirkan memiliki suami dan membuatnya seketika menepuk jidat.


Hingga perbuatannya membuat 3 orang itu menatap ke arahnya dan bertanya.


"Anindya, apa yang kamu lakukan, Sayang? Kenapa menepuk jidat seperti itu?" tanya Jenny dan sang suami membenarkan pertanyaannya untuk bertanya.


Sementara Aaron saat ini hanya memicingkan mata dan langsung menyahut, "Sepertinya kepalamu pusing karena efek pembicaraan kami saat membahas keturunan yang tidak bisa dikejar oleh otakmu karena masih bocil, ya!"


Kemudian Aaron beralih menatap ke arah sang ibu untuk memberikan sebuah ultimatum. "Lain kali jangan membahas masalah 18 tahun ke atas di hadapan bocil ini, Ma!"


To be continued...