Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Bebas



Jasmine saat ini masih berakting dengan sang perias pengantin dan begitu selesai, mendengar sang ibu berbicara setelah sebelumnya bangkit berdiri dari sofa.


"Kalau begitu kamu ganti kebaya dulu, biar Mama memanggil pihak keluarga yang mungkin sudah ada di ballroom hotel. Sekalian memanggil papamu juga yang ingin melihatmu memakai kebaya sebelum Aaron," ucap wanita paruh baya dengan kemeja berwarna merah tersebut.


Jasmine sudah tahu jika sang ayah selalu cemburu pada Aaron. Ia sadar jika perkataan orang-orang benar. Bahwa cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Karena itulah sang ayah ingin melihatnya untuk pertama kali sebelum Aaron.


'Papa tidak tahu kalau Aaron tidak akan pernah melihatku memakai kebaya pengantin hari ini. Hanya papa yang bisa melihatnya karena aku akan berangkat ke Paris sebentar lagi,' gumam Jasmine yang kini mengangukkan kepala tanda mengerti.


Ia kini mengangukkan kepala tanda mengerti. "Iya, Ma. Aku akan ganti kebaya dulu." Kemudian beralih menatap ke arah wanita di hadapannya. "Ayo, bantu aku."


"Baik, Nona." Berjalan menuju ke arah ruangan ganti dan berharap wanita paruh baya tersebut segera keluar dari kamar hotel.


Sementara itu, sang ibu yang baru saja melihat putrinya masuk ke dalam ruangan ganti, kini berjalan menuju ke arah pintu keluar dan langsung ke lift untuk ke ballroom hotel.


Sebenarnya ia bisa saja menelpon sang suami agar naik ke atas, tapi berpikir bahwa akan menyapa beberapa keluarga yang sudah datang, sehingga membuatnya turun sebagai bentuk penghormatan pada beberapa keluarga.


Sementara di sisi lain, Jasmine dan sang perias pengantin tersebut langsung buru-buru beraksi begitu mendengar pintu terbuka.


"Kamu keluar untuk mengecek apakah ada orang yang datang ke sini. Tidak ada yang datang ke sini sebelum kita keluar. Pastikan itu dan aku akan buru-buru mengganti pakaian karena harus langsung berangkat ke bandara." Jasmine bahkan saat ini sudah melepaskan pakaian di depan perias itu dan tanpa malu menyisakan bra serta ****** ***** saja.


Berpikir sama-sama wanita dan tidak perlu malu karena harus buru-buru saat dikejar waktu. Berpikir Jangan sampai ada yang datang sebelum ia selesai mengganti pakaian.


"Baik, Nona. Saya akan berjaga di luar dan membawakan tas Anda. Jadi, kita bisa langsung keluar nanti melalui pintu darurat karena jika naik lift akan beresiko untuk bertemu dengan beberapa keluarga Anda maupun pihak pengantin pria," ucap wanita yang saat ini langsung berjalan keluar untuk mengecek keadaan di sekitar ruangan kamar hotel tersebut.


Jasmine membenarkan perkataan dari wanita yang baru saja menghilang di balik pintu ruangan ganti. "Tidak masalah. Aku akan berjalan menuruni anak tangga agar tidak bertemu dengan orang-orang."


"Semoga semuanya berjalan lancar dan tidak ketahuan sebelum aku meninggalkan hotel." Jasmine bahkan bergerak cepat untuk mengganti pakaian serba hitam karena akan langsung ke bandara.


Bahkan saat ini ia memakai pakaian panjang dengan Hoodie berwarna hitam serta masker untuk menutupi wajahnya agar tidak ada yang mengenali dirinya.


Nasib baik ada penutup kepala yang bisa digunakan untuk menutupi rambutnya yang tadi sudah dibentuk oleh perias tersebut menggunakan hair spray.


"Nanti bisa jadi dalam mobil aku membersihkan hair spray agar tidak memancing perhatian banyak orang saat melihat rambutku." Kemudian ia berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar dan menemui wanita yang masih berdiri di dekat pintu.


"Bagaimana? Masih belum ada orang yang datang ke sini, bukan?" Jasmine sedikit melongok ke depan pintu dan suasana lenggang membuatnya merasa lega sambil memegangi dadanya yang dari tadi berdetak sangat kencang melebihi batas normal.


"Iya, Nona. Aman. Lebih baik sekarang kita cepat pergi dari sini sebelum ada yang datang." Perias wanita tersebut segera menggandeng tangan sang pengantin wanita dan membawa kabur melalui pintu darurat.


Jasmine saat ini merasa jantungnya seperti hendak melompat dari tempatnya ketika hendak kabur dari pernikahan. "Astaga! Ternyata seperti ini yang dialami para tokoh di film ketika kabur dari pernikahan."


Sementara itu, perias pengantin tersebut tengah menuruni anak tangga sambil menelpon sang kekasih untuk memastikan apakah sudah tiba di lokasi yang tadi dikatakan.


"Saya saat ini juga benar-benar sangat gugup, Nona karena baru pertama kali ini membantu pengantin kabur dari pernikahan. Jika sampai ketahuan, mungkin akan dijebloskan ke penjara. Jadi, setelah ini, saya juga akan kabur dan menghilang dari Jakarta karena uang dari Anda sudah cukup untuk membuka usaha di kampung."


Wanita tersebut yang menunggu panggilan telepon diangkat oleh sang kekasih, mendengar suara bariton dari seberang sana.


"Halo, Sayang. Aku sudah ada di bawah. Kapan kamu turun?"


"Syukurlah kamu sudah di sana. Aku saat ini sedang menuju ke sana melalui anak tangga darurat. Tunggu aku karena mungkin beberapa menit lagi sampai," ujar wanita yang saat ini tengah menatap ke arah sosok pengantin yang kabur tersebut.


"Baiklah, aku tunggu kamu di sini, Sayang."


"Oke, Sayang." Kemudian wanita tersebut mematikan sambungan telpon dan berjalan dengan napas terengah-engah saat menuruni anak tangga. "Anda tidak capek, Nona?"


Saat ini, Jasmine yang menahan rasa capek, kini hanya tertawa mendengar pertanyaan konyol dari pria tersebut. "Capek lah! Kamu pikir aku robot, apa! Kita bahkan menuruni sepuluh anak tangga ini, kakiku serasa mau patah saja sekarang."


"Tapi aku harus kuat dan tidak pingsan agar bisa segera pergi dari sini." Jasmine yang saat ini ngos-ngosan, tetap melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang tinggal dua lagi.


"Iya, Nona. Tinggal dua lantai lagi. Nasib baik kita turun, bukan naik. Mungkin kalau naik, sudah pingsan seperti yang Anda katakan. Oh ya, Nona, sebenernya apa alasan Anda kabur dari pernikahan ini? Bukankah calon suami Anda merupakan seorang pria hebat yang merupakan idaman para wanita?"


Meskipun terkesan lancang, tapi ia sangat penasaran dengan apa yang menjadi alasan dari wanita tersebut memilih kabur di hari pernikahan.


"Aku tidak bisa mengatakannya karena alasannya sangat privasi," sahut Jasmine yang tidak ingin rencananya diketahui oleh pihak keluarga dan juga Aaron.


Ia berpikir jika Aaron tidak boleh tahu hari ini agar ia bisa kabur. Meskipun ia sudah menuliskan surat dan menjelaskan semuanya di sana, tapi tidak ingin wanita itu mengetahuinya.


'Jika sampai wanita ini tahu dan tertangkap oleh keluargaku, pasti diinterogasi dan semua orang tahu jika aku pergi ke Paris hari ini.'


"Baiklah, Nona. Anda tidak perlu mengatakannya." Kemudian membuka pintu darurat yang menghubungkan dengan anak tangga terakhir di lantai dasar. "Akhirnya kita sampai Nona."


Jasmine saat ini benar-benar lega karena sudah berhasil menuruni anak tangga dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Bahkan ia masih menormalkan deru napas memburu dan mencari jalan menuju ke arah pintu belakang yang tadi dikatakan oleh salah satu staf hotel yang disuap olehnya.


Hingga begitu ia menemukannya, langsung berjalan cepat ke sana dan menuju ke arah pintu keluar dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir rapi di sana.


'Akhirnya aku bebas!'


To be continued...