Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menebus kesalahan



Satu minggu lalu di Surabaya...


Sosok pria paruh baya berusia 65 tahunan yang berada di dalam ruangan kerja, kini tengah berbicara dengan pria muda di hadapannya. "Apa kamu membawa kabar baik untukku setelah cukup lama tidak berhasil mencari tahu keberadaan cucuku?"


Refleks pria yang berprofesi sebagai seorang detektif itu kini menyerahkan map coklat berisi beberapa informasi penting sekaligus foto-foto yang diinginkan orang itu.


Bahwa pria paruh baya di hadapannya itu memiliki banyak uang dan bisa membayar mahal atas keberhasilannya mencari cucu perempuan yang selama ini tidak diinginkan.


"Saya sudah menemukan keberadaan cucu Anda, Tuan. Semuanya terjawab di amplop itu karena jika diceritakan, akan membutuhkan banyak waktu. Putri Anda sudah meninggal saat cucu Anda masih kecil dan akhirnya menantu menikah lagi."


Saat sang detektif baru saja menutup mulut, melihat kemurkaan pria paruh baya tersebut yang melemparkan sebuah buku ke lantai.


"Pria berengsek itu benar-benar tidak berguna! Seandainya putriku tidak menikah dengan pria miskin sepertinya, mana mungkin meninggal muda dan cucuku hidup dengan ibu tiri." Pria bernama Candra Kusuma.


Pria paruh baya yang merupakan salah satu konglomerat di Surabaya karena memiliki banyak bisnis properti di seluruh Indonesia tersebut merupakan ayah dari Amara Putri Kusuma yang telah diusirnya karena mencintai pria yang tidak sederajat dan memilih untuk menikah setelah pergi.


Selama bertahun-tahun ia menunggu putrinya kembali dan meminta maaf padanya. Dulu ia sangat yakin dan percaya diri jika putrinya akan kembali karena terbiasa hidup mewah dan tidak akan tahan hidup menderita dengan suami.


Namun, hingga 20 tahun, ia tidak kunjung melihat putrinya kembali. Hingga satu bulan lalu divonis penyakit kanker hati oleh dokter. Ia berpikir harus menemukan keberadaan putri dan cucunya sebelum meninggalkan dunia agar bisa mencantumkan nama ahli waris di surat wasiatnya.


Kini, ia membuka amplop coklat di atas meja dan membaca semua informasi mengenai kehidupan putrinya yang ternyata hidup bahagia dengan seorang pria miskin yang sangat dibenci dan ternyata sudah meninggal.


Mulai dari foto-foto kebersamaan mereka hingga memiliki anak dan melihat jika cucunya sudah remaja. Ia mengusap foto gadis dengan rambut dikepang dua dan memakai kaca mata besar bersama sang ayah.


"Jadi, ini cucuku?"


Bahkan ia mulai menceritakan garis besar dari masalah gadis bernama yang dipanggil Zea itu.


"Jadi, cucuku bernama Zea Sadiya? Bahkan Abraham Bramasta itu telah merebut putriku satu-satunya dan sekarang memberikan nama jelek pada cucuku." Candra Kusuma yang dari dulu sudah menyiapkan nama untuk cucu-cucunya saat putrinya menikah, kini membuka laci dan mengambil sebuah buku catatan.


Ia membuka beberapa halaman dan membaca lagi nama yang dulu dipikirnya bisa diberikan jika mempunyai cucu perempuan maupun laki-laki.


"Bahkan aku sudah menyimpan nama cucu perempuan ini selama bertahun-tahun. Aku akan mengganti nama Zea Sadiya dengan Khayra Fazila Farhana. Saat cucuku kubawa ke Surabaya, dia akan memulai hidup baru sebagai satu-satunya ahli waris Kusuma Grup."


Candra Kusuma kini masih menatap foto cucunya yang diketahui saat ini tinggal di kampung halaman menantunya, yaitu di Jogja.


"Aku akan menjemput cucuku di Jogja," ucap Candra Kusuma yang tidak ingin membuang waktu lagi karena tidak bisa memprediksi sampai berapa lama bisa bertahan hidup di dunia.


'Aku akan langsung menuliskan surat wasiat agar cucuku bisa mendapatkan semuanya. Putriku, maafkan ayah karena sangat egois selama ini. Ayah kini sudah mendapatkan karma karena mengusirmu dulu dengan hidup menderita sendirian.'


'Ayah akan menebus dosa padamu dengan membuat cucuku hidup layak dan mendapatkan apa yang menjadi haknya,' gumam Candra Kusuma yang berencana akan berangkat ke Jogja besok pagi.


Ia kini menatap ke arah sang detektif dan mengambil ponsel miliknya. "Aku akan mentransfer bayaranmu. Terima kasih karena telah menemukan cucuku. Aku akan membuat cucuku hidup layak dan membalaskan dendam pada siapapun yang membuatnya menderita."


Wajah sang detektif seketika berbinar kala di otaknya saat ini tengah memikirkan pundi-pundi uang yang akan menambah saldo di rekeningnya. "Terima kasih, Tuan Candra. Jika membutuhkan bantuan, bisa menghubungi saya lagi."


"Kalau begitu, saya permisi, Tuan Candra." Membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan tersebut setelah melihat pria paruh baya itu mengangukkan kepala.


To be continued...