
Satu minggu telah berlalu kepergian Aaron dan Erick yang kembali ke Jakarta setelah diperintahkan oleh Khayra. Sementara sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah Jennifer masih tetap tinggal di rumah keluarga Kusuma karena semakin menikmati momen merawat sang cucu yang semakin menggemaskan.
Apalagi berat badan cucunya semakin naik dan menandakan benar-benar terawat dengan baik meskipun sang Ibu sibuk bekerja di perusahaan.
Seperti pagi ini, Jennifer yang baru saja selesai menelpon sang suami untuk menanyakan tentang kabar dan hal-hal apa saja yang terjadi selama satu minggu belakangan ini pada putranya, keluar dari kamar karena sudah waktunya sarapan.
Rutinitasnya setiap hari di rumah keluarga Kusuma adalah mengawali dengan sarapan bersama Anindya. Ia bahkan tidak diizinkan untuk membantu pekerjaan apapun di rumah karena dilarang oleh gadis yang sangat ingin ia lihat segera menikah dengan putranya dan membesarkan cucu bersama-sama.
"Maaf karena terlambat dan membuatmu menunggu, Sayang." Jennifer saat ini baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah Anindya.
"Tidak apa-apa, Ma. Sekali-kali terlambat tidak masalah, bukan? Tapi tumben Mama terlambat. Padahal biasanya sudah berada di meja makan sebelum aku turun," ucap Khayra yang saat ini melayani wanita yang membuatnya bahagia karena tidak lagi kesepian tinggal di rumah besar keluarganya.
Ia bahkan sudah mengambilkan lauk serta sayuran, baru untuk dirinya sendiri. Ia bahkan saat ini mengerutkan kening begitu reaksi dari mertuanya berubah murung.
"Ada apa, Ma? Apakah ada masalah? Kenapa Mama tiba-tiba berubah murung seperti itu?" Khayra saat ini merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita yang disayanginya tersebut.
Bahkan seperti mempunyai feeling buruk dan membuatnya berpikir ada sesuatu yang terjadi. Hingga saat ia memasang indra pendengaran lebar-lebar, seketika menggigit bibir bawah bagian dalam untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya.
"Sebenarnya barusan menelpon suami untuk menanyakan keadaan Aaron. Aku benar-benar sangat khawatir karena di Jakarta ada Jasmine." Ia saat ini mengembuskan napas kasar untuk menormalkan perasaan yang berkecamuk.
Jennifer saat ini menggenggam erat telapak tangan Anindya dan menampilkan wajah penuh permohonan seperti seorang pengemis. "Kamu tahu kan jika dari dulu sangat menyukaimu dan menginginkanmu untuk menjadi menantuku."
Khayra mengerti ke mana arah pembicaraan dari ibu sosok pria yang membuatnya setiap hari tidak bisa tidur nyenyak karena jujur saja selalu memikirkan hal-hal negatif.
Ia merasa sangat yakin jika Aaron akan kembali pada Jasmine dan dengan mudah melupakannya serta putranya. "Biarkan tuan Aaron memilih kebahagiaannya sendiri, Ma."
"Jika memang ia merasa bahagia kembali pada nona Jasmine, itu berarti merupakan jalan paling terbaik. Semua sudah ditetapkan oleh yang lebih berkuasa karena manusia hanya bisa berencana."
"Jadi, meskipun Mama menginginkanku, jika Tuhan tidak berkehendak, tidak akan menjadi kenyataan. Biarkan saja air mengalir mengikuti alirannya tanpa kita bersusah payah mengalihkan alirannya menjadi tidak jelas." Khayra bahkan kembali tersenyum simpul untuk membuat aktingnya jauh lebih baik.
Padahal di dalam hati ingin mengumpat Aaron yang dianggap hanyalah seorang pria plin plan. 'Jadi, hanya ini effort seorang tuan Aaron setelah melamar, tapi kutolak. Dasar semua pria sama saja karena hanya menunjukkan di awal doang!"
'Giliran wanita bucin malah ditinggalkan. Selalu seperti itu konsepnya, kan?' gumam Khayra yang kini menyuapkan makanan ke dalam mulut dan mengunyahnya.
To be continued...