Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Usaha berhasil



Aaron baru saja selesai meeting di salah satu restoran dan ia kini terlihat masuk ke dalam mobil untuk mengganti pakaian dengan yang lebih santai karena tadi memakai setelan formal.


Apalagi sebelumnya sudah menghubungi Anindya untuk mengirimkan lokasi yang akan menjadi acara sunmori, segera menjemput setelah selesai meeting.


Bahkan tadi juga menghubungi sopir agar membawa motor sport miliknya ke restoran dan membawa pulang mobil. Ia tadinya ingin naik motor sport saat berangkat ke restoran, karena susah untuk membawa pakaian ganti, sehingga membuatnya naik mobil dan menyuruh sopir pergi ke restoran.


Hingga ia pun kini sudah selesai berganti pakaian dan menunggu sopir tiba di restoran. Kini, Aaron berjalan keluar dari mobil dan memilih untuk menelpon Anindya.


Saat panggilan telpon darinya tersambung, mengerutkan kening karena tidak kunjung diangkat oleh Anindya. Hingga ia pun mengerutkan kening saat panggilan tidak terjawab.


"Ke mana dia? Apa dia memakai mode getar pada ponselnya?" Saat Aaron berniat untuk kembali menelpon, tidak jadi melakukannya ketika sang sopir sudah tiba mengendarai motor sport miliknya.


Ia seketika melambaikan tangan dan yang sopir berhenti tepat di hadapannya.


"Maaf terlambat, Tuan Aaron." Pria berusia 40 tahunan itu seketika turun dari motor dan membungkuk hormat pada majikan.


Aaron saat ini hanya menggelengkan kepala karena tidak terlalu lama menunggu. "Tidak. Aku juga baru keluar dari restoran karena meeting baru selesai."


Kemudian Aaron memberikan kunci mobil pada sang sopir. "Oh iya, helm-ku." Menepuk jidat karena melupakan hal penting yang harus dipakai saat mengendarai motor.


"Biar saya ambilkan, Tuan." Sang supir tidak menunggu sang majikan menanggapi karena langsung buru-buru berjalan menuju ke arah mobil dan membukanya, lalu meletakkan helm miliknya ke dalam mobil.


Hingga ia pun saat ini langsung berjalan menuju ke arah sang majikan yang sudah menunggu, pelindung kepala tersebut. "Hati-hati di jalan, Tuan Aaron."


Aaron yang tidak ingin membuang waktu karena takut terlambat menjemput Anindya, sehingga langsung melakukan kepala tanda setuju.


"Terima kasih," ucap Aaron yang langsung naik ke atas motornya dan menyalakan starter serta menginjak pedal gas serta kopling.


Kemudian motor sport itu melaju meninggalkan area restoran membelah kemacetan kota Jakarta menuju ke arah puncak yang membutuhkan waktu hampir 2 sampai 3 jam dengan kecepatan rata-rata.


Sementara pria yang menjadi sopir di keluarga Jonathan itu kita masuk ke dalam mobil begitu pria dengan menggunakan jaket kulit berwarna hitam serta celana sobek-sobek tersebut sudah menghilang dari pandangan.


Selama dalam perjalanan menuju ke arah puncak yang ia ketahui merupakan area kebun teh, Aaron diliputi berbagai macam pertanyaan mengenai Anindya yang tadi dihubungi, tapi tidak menjawab telepon darinya.


"Kira-kira ada di mana dia tadi saat Aku menelpon? Apa tidak membawa ponsel dan meninggalkan di satu tempat?" tanya Aaron dengan rasa khawatir pada sosok gadis yang membuatnya selalu saja berlebihan dalam menyikapi apapun yang berhubungan dengan Anindya yang tengah mengalami amnesia.


"Bagaimana jika Erick memanfaatkan amnesia yang diderita oleh Anindya dengan melakukan hal buruk?" Saat Aaron sibuk dengan pemikirannya sambil fokus melajukan kendaraan dengan beberapa kali mendahului kendaraan roda empat serta motor-motor yang lain.


Hingga ia pun berhenti di lampu merah dan dari ponsel miliknya berbunyi. "Apa Anindya yang menelponku?"


Karena tidak ingin merasa penasaran, refleks langsung mengangkat panggilan dan benar saja setelah melihat nama di ponsel miliknya, Anindya.


"Halo."


Aaron yang sangat hafal dengan suara dari seberang telepon, memicingkan mata dan merasa kesal. "Kenapa kau yang menelpon? Di mana Anindya?"


Sementara itu, seseorang yang berada di seberang telepon adalah Erick tadi mendengar suara dering ponsel yang ada di dalam tas selempang milik Anindya.


Awalnya ia sama sekali tidak berniat untuk membuka tas ataupun mencari tahu siapa yang menghubungi gadis itu.


Namun, lama kelamaan merasa penasaran dan begitu panggilan mati, langsung mengeceknya dan melihat Aaron yang menelpon, sehingga berinisiatif untuk melakukan panggilan dan bertanya apa yang diinginkan pria itu.


"Maaf, Brother. Anindya saat ini tengah pergi ke toilet dan menitipkan tas padaku. Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan pada Anindya? Nanti aku akan menyampaikan padanya setelah kembali dari toilet."


Saat Erick baru saja menutup mulut, ia memicingkan mata karena sambungan telepon malah terputus. "Sialan! Dasar dia arogan yang tidak tahu sopan santun."


"Bukannya dia adalah pria dewasa yang harusnya bijak menanggapi sesuatu? Tapi ini seolah tidak mempunyai adab ketika berbicara dengan seseorang." Erick yang saat ini bangkit berdiri dari alas tempat duduk di rerumputan, memilih untuk membawa tas selempang itu dengan memakainya.


Itu karena melihat lambaian tangan dari sahabatnya yang meminta untuk datang menghampiri. "Ada apa?"


"Acara sebentar lagi dimulai! Itu durian yang kamu dan yang lain bawa, membuat beberapa anak motor lain ngences. Apalagi harum dari raja buah telah membuat banyak orang pengen," ucap laki-laki dengan memakai Hoodie berwarna merah.


"Ia pasti akan terlihat sangat lucu karena sibuk mengendus bau dari harum durian." Saat ia berbicara dengan sahabatnya, mendapatkan sebuah kode dan refleks langsung menoleh ke belakang.


Ia melihat sosok gadis mungil menurunnya sangat menggemaskan, sehingga ingin memilikinya dan dipamerkan pada para cewek-cewek yang mengincarnya.


Bahwa seleranya adalah yang seperti Anindya, wajah baby face yang pastinya akan awet muda. Refleks ia melambaikan tangan dan tersenyum pada Anindya yang berjalan mendekat.


Namun, begitu melihat gadis yang semakin mendekat tersebut tertawa tanpa sebab, membuatnya memicingkan mata karena merasa heran.


"Kenapa tertawa? Kamu menertawakan siapa? Kamu sudah tidak sakit perut lagi, kan?" tanya Erick yang kini masih menunggu apa penyebab Anindya tertawa mengejek.


Sementara di sisi lain, Anindya yang sebenarnya tadi sangat malu karena tiba-tiba sakit perut, pergi sendiri setelah diberitahu di mana toilet. Hingga ia pun ingin tertawa terbahak-bahak melihat seorang pria keren seperti Erick memakai tas selempang miliknya seperti seorang perempuan.


"Astaga!" Kemudian mengarahkan jari telunjuk pada tas miliknya yang dipakai oleh pria dengan postur tubuh tinggi tegap tersebut. "Itu lho! Memangnya kamu tidak malu, apa memakai tas perempuan?" Zea mengingat sang ayah yang dulu sering membawakan tas ibunya ketika berbelanja.


Hingga ia merasa seperti mengingat kenangan yang berhubungan dengan orang tuanya yang sudah meninggal.


Erick yang masih bersikap santai, menunjukkan kepala dan melihat tas selempang milik gadis di hadapannya tersebut. "Aaah ... jadi ini yang membuatmu tertawa serenyah itu?"


"Bahkan aku bisa melihatmu tertawa lepas seperti tidak punya beban di pundakmu. Mana mungkin aku malu membawa tas milik ayang."


"Iiish ... ayang?" seru Anindya yang mengerucutkan bibir dan mengeluarkan tangan untuk meminta tas miliknya. "Jangan buat orang salah paham. Sini, kembalikan tasnya!"


Tanpa pikir panjang, Erick seketika menggelengkan kepala tanda tidak setuju karena ia ingin terus melihat senyuman merekah dari bibir Anindya saat ia memakai tas selempang tersebut.


"Tidak, biar aku yang bawa agar semua orang tahu bahwa kamu adalah kekasihku. Atau kamu ingin digodain banyak anak motor?" sarkas Erick yang saat ini tengah menatap menelisik ke arah sosok gadis mungil di hadapannya tersebut.


Tentu saja sama sekali tidak terpikirkan oleh Zea jika ia ingin menggoda para pria dengan mengaku single, meskipun kenyataannya adalah demikian.


Akhirnya ia memilih mengalah dan membiarkan Erick berbuat sesuka hati. "Baiklah. Terserah kamu saja kalau begitu."


Saat Anindya baru saja selesai berbicara, mendengar suara dari loudspeaker. Ia melihat ke arah panggung dan ada seorang pria tengah melakukan sambutan pada semua yang datang.


Hingga ia pun menatap ke arah Erick. "Acaranya akan dimulai. Ayo, kita ke sana. Aku ingin melihat apa saja acaranya."


Karena berhasil mengelabui gadis kecil itu, Erick seketika tersenyum. 'Ternyata gampang sekali mengelabuhi seorang Anindya. Aku harus memanfaatkan kesempatan saat bersamanya sebelum pria arogan itu datang menjemput.'


'Apa dia sudah dalam perjalanan menuju ke sini? Sialan, tadi aku belum selesai berbicara dan malah langsung dimatikan teleponnya,' sarkas Erick yang kini berjalan masih siang dengan Anindya dan reflek langsung menggenggam erat telapak tangan gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan?" sarkas Zea yang merasa sangat kesal dan terkejut karena tiba-tiba Erick menggandeng tangannya.


"Biar semua orang yakin bahwa kita adalah sepasang kekasih. Karena para anak motor gampang curiga," ucap Erick yang saat ini mengarahkan kode mata ke beberapa anak motor yang nongkrong di kanan kiri.


Anindya yang awalnya ingin mengempaskan tangan Erick, mengikuti arah pandang pria itu dan merasa sangat risi dengan pandangan dari beberapa anak motor lainnya.


"Apa mereka tidak pernah melihat perempuan? Kenapa pada melihat kita?" tanya Zea dengan suara lirih dan kesal karena menjadi pusat perhatian.


Ia takkan bisa melihat beberapa perempuan yang datang bersama dengan kekasih ataupun naik motor sendiri. Namun, tidak menjadi pusat perhatian dan membuatnya merasa sangat aneh.


"Itu karena kamu terlalu cantik dan membuat mereka semua terpesona." Erick sebenarnya sudah mengerahkan beberapa teman-temannya untuk merancang semuanya agar para anak motor lain menatap Anindya dan dirinya.


Hingga rencananya telah berhasil, sehingga gadis itu tidak lagi mengungkapkan protes atas semua perbuatannya.


"Dasar gombal! Aku sangat yakin jika bukan itu alasannya." Anindya yang tidak ingin menjadi pusat perhatian terus-menerus, sehingga membiarkan tangannya digandeng oleh Erick menuju ke dekat panggung untuk berbaur dengan yang lainnya.


"Nah, begitu baru cocok!" sahut Erick dengan tersenyum menyeringai karena merasa sangat senang kala usahanya berhasil.


To be continued...