Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Berpikiran positif



Saat ini, Jennifer dan Jonathan tengah berada di dalam mobil yang saja meninggalkan area rumah keluarga Erick.


Jonathan yang dari tadi mendengarkan cerita Erik mengenai kepergian Anindya yang ternyata memiliki nama asli Zea Sadiya itu kini menoleh ke arah sang istri. "Sayang, Apa kamu masih mengingat cerita Erick tadi yang mengatakan penyebab kepergian Zea masih tidak diketahui, tapi ditebak adalah ulah Aaron."


Jennifer yang sebenarnya tadi juga merasakan hal sama, tapi masih fokus untuk mencari jalan keluar daripada penyebab Zea pergi. Begitu sang suami membahasnya, sehingga mulai berpikir tentang apa yang dilakukan oleh Aaron hingga membuat gadis itu pergi.


"Menurutmu, kira-kira apa yang dilakukan oleh Aaron pada Zea sampai memilih kabur secara diam-diam dan saat ditanya oleh Erick malah menangis sampai tidak mau cerita?" Dari tadi hal yang mengganjal di pikirannya adalah itu dan tidak tahu apa yang dilakukan putranya pada gadis malang yatim piatu tersebut.


Sampai ia pun kini mendengar suara bariton dari sang suami yang membahas putranya. "Semenjak Aaron kembali dari puncak, sikapnya sangat keras pada Anindya ... ah, Zea ya nama sebenarnya."


Jonathan menepuk jidat kala menyadari kesalahan saat menyebut nama gadis yang sudah tidak memiliki orang tua tersebut. "Apakah Aaron melakukan kekerasan pada Zea? Aku khawatir Zea yang sangat sensitif hatinya sebagai seorang wanita sudah tidak kuat menghadapi sikap Aaron yang selalu kasar dan memarahinya."


Ia terdiam kala memikirkan kemungkinan itu dan sekilas menoleh ke arah sang istri yang seperti mempertimbangkan perkataannya. "Kamu sebagai seorang perempuan bagaimana menyikapi sikap pria seperti putra kita?"


Saat ini, Jennifer hanya diam karena jujur saja ia tidak akan kuat jika terus menerus mendapatkan sikap kasar dari seorang pria dan pastinya akan melakukan hal sama seperti Zea.


"Iya, aku pun akan pergi jika tidak betah menghadapi sikapmu yang kasar dan tidak menjaga perasaanku. Memang anak itu keterlaluan dan selalu saja bikin repot semenjak Zea tinggal di rumah kita. Sikapnya kembali seperti awal-awal dulu pada Zea." Meskipun begitu, tetap saja merasa ragu sebelum mendengar sendiri dari mulut putranya.


Ia kini mengeluarkan ponsel karena berniat untuk menelpon putranya yang berada di rumah keluarga Zea.


"Kamu menelpon siapa, Sayang? Aaron?" tanya Jonathan yang saat ini ingin menghentikan sang istri karena berpikir jika bicara di telepon tidaklah efektif dan tidak menyelesaikan masalah.


"Iya. Aku tidak akan bisa tidur jika tidak bertanya pada Aaron." Jennifer membuka panggilan telpon dan berniat untuk memencet tombol hijau, tapi menoleh ke arah sang suami ketika berbicara dengannya.


"Jangan! Lebih baik kita tunggu Aaron pulang ke rumah dan langsung menginterogasinya agar bisa berbicara jujur seperti Erick tadi. Bukankah selama ini Erick selalu berbohong jika ditelpon? Itu juga berlaku pada putra kita jika kita memberondong dengan banyak pertanyaan mengenai Zea." Ia saat ini berhenti di lampu merah dan melihat sang istri kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.


Ia benar-benar merasa sangat lega karena sang istri mau menuruti perintahnya dengan tidak bertanya pada putranya melalui telpon.


"Iya, kamu benar, Sayang. Baiklah. Aku akan bersabar untuk tidak menelpon Aaron dan menunggu ia pulang ke Jakarta. Namun, saat melihat putra kita yang kebingungan mencari Zea, aku sangat yakin jika dia memiliki perasaan lebih."


Jonathan seketika menganggukkan kepala karena sebagai sesama pria yang sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan tentang masalah asmara, membenarkan tebakan dari sang istri.


"Sepertinya putra kita memang memiliki perasaan lebih pada Zea, tapi semenjak Jasmine pergi di hari pernikahan, ia lebih fokus pada perasaannya yang terluka dan meluapkan pada gadis tidak bersalah yang malang itu."


"Apakah jika dulu aku tidak memintanya untuk selalu melayani Aaron yang patah hati karena Jasmine, apakah Zea masih tetap berada di rumah kita?" Jennifer mengembuskan napas kasar yang mewakili penyesalan luar biasa ketika memikirkan kesalahannya yang berniat untuk menjodohkan Zea dengan Aaron.


Hingga ia mengerti bahwa sang suami saat ini hanya ingin menghiburnya dan tidak menyalahkan perbuatannya.


"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan dan tidak perlu menyesali semua yang telah terjadi karena yang paling penting adalah memperbaiki masalah agar bisa segera selesai." Pria yang kini masih fokus mengemudikan kendaraan memasuki kompleks perumahan mewah yang menjadi tempat tinggalnya, sekilas menoleh ke arah sang istri yang terlihat sangat muram.


Hingga ia yang saat ini langsung masuk ke dalam area rumah begitu pintu gerbang dibuka oleh security, kembali menghibur sang istri agar tidak terlalu menyalahkan diri sendiri dan fokus untuk mencari keberadaan Zea.


"Semoga Zea segera ditemukan begitu kita melaporkan pada polisi. Lebih baik kamu telpon Aaron besok pagi saja karena mungkin malam ini sudah kelelahan dan tertidur. Katakan padanya untuk melaporkan Zea yang hilang di area Jogja." Ia kini membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.


"Kita tidak mungkin melaporkan di Jakarta karena hilang di Jogja." Begitu berjalan masuk ke dalam rumah bersama sang istri.


Sementara itu, Jennifer kini hanya berharap gadis yang diharapkan bisa menjadi menantu di keluarganya itu akan segera ditemukan dan kembali tinggal di sana lagi.


"Iya. Saat nanti Zea kembali ke rumah ini, aku akan lebih menyayanginya setelah mengetahui jika ia adalah anak yatim piatu yang disiksa oleh ibu tirinya. Sayangnya kita tidak tahu siapa ibu tirinya dan di mana rumah yang sebenarnya." Ia mengepalkan tangan dengan wajahmu merah karena sangat marah membayangkan ibu tiri yang menyiksa gadis semanis itu.


Jonathan yang sudah tahu ke mana arah pikiran dari sang istri, kini hanya geleng-geleng kepala. "Memangnya jika mengetahuinya, kamu akan menarik rambut wanita jahat yang menjadi ibu tiri Zea?"


"Tidak hanya itu karena aku akan menjebloskan ibu dan anak yang telah menjual Zea hanya demi uang. Nasib baik dulu Zea berhasil kabur meskipun harus menjalani perawatan di rumah sakit karena kecelakaan saat kamu tabrak malam itu." Jennifer berpikir bahwa itu merupakan sebuah jalan dari Tuhan untuk menyelamatkan anak yatim piatu itu.


Hingga suara bariton dari sang suami membuatnya berkaca-kaca karena merasa sangat iba pada nasib ia yang masih belia, tapi sudah harus merasakan pahitnya kehidupan.


"Semua itu sudah diatur oleh yang kuasa dan aku yakin jika Zea akan tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan hebat suatu saat nanti setelah berhasil menaklukkan semua masalah yang menimpanya." Ia kini memeluk tubuh sang istri agar tidak melanjutkan tangisnya.


"Berdoa saja agar di manapun Zea berada, akan baik-baik saja. Lebih baik kita berpikir positif dan beristirahat. Besok pagi-pagi sekali hubungi Aaron karena aku yakin dia masih belum berniat pulang ke Jakarta karena tinggal di rumah keluarga Zea."


Sang istri yang saat ini berjalan menaiki anak tangga, mencoba untuk tidak menangis karena suaranya hanya akan membuat gaduh di keheningan malam. "Iya, aku akan berusaha untuk berpikir positif bahwa saat ini ia baik-baik saja di suatu tempat."


To be continued...