Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Apa kau suka padaku?



Zea yang dari tadi senyum-senyum sendiri karena merasa sangat senang atas apa yang baru saja diungkapkan oleh pria di hadapannya. Bahkan ia merasa pujian itu membuatnya terbang ke awang-awang karena saking bahagianya.


Wanita mana yang tidak merasa senang sekaligus bahagia saat mendapatkan pujian dari pria yang disukai, sehingga Zea tidak bisa menyembunyikan perasaannya hari ini.


Hingga ia mendengar perkataan wanita yang ada di hadapannya juga mendukung apa yang dikatakan putranya.


"Kamu benar, Aaron. Anindya memang sangat cantik dan bisa dibilang wajahnya ini sangat cute. Wajah seperti inilah yang biasanya akan awet muda. Itu lho, seperti artis Korea cantik dan imut yang sangat awet muda. Aah ... aku lupa namanya."


Jenny ingin menunjukkan pada putranya tentang artis awet muda yang sangat disukainya, sehingga langsung mengambil ponsel miliknya dan membuka mesin pencarian.


Begitu menemukan artis Korea yang sangat mirip dengan Anindya, seketika ditunjukkan pada putranya. "Ini, Sayang. Bukankah wajah Anindya mirip dengan artis ini?"


Aaron kini menatap ke arah ponsel sang ibu yang menunjuk artis ternama sangat terkenal. Refleks ia tertawa terbahak-bahak mengetahuinya dan menunjuk ke arah benda pipih tersebut.


"Jang Na-ra? Astaga, Mama ... Mama. Kalau Anindya secantik wanita berusia 42 tahun ini, pasti sudah menjadi artis dan tidak akan berkeliaran sendiri di jalanan saat malam." Aaron jadi ingat perkataan sang ayah saat menabrak gadis itu.


Kini, ia menatap ke arah Anindya dan berjalan mendekat untuk bisa mengamati lebih dekat. "Sepertinya Mama harus melihat lebih dekat agar tidak terlalu memujinya."


Kemudian Aaron tersenyum menyeringai saat wajah yang tadinya berbinar itu berubah sangat masam.


"Kenapa? Sepertinya kamu tidak terima aku tidak mendukung Mama." Aaron tersenyum smirk melihat sosok wanita di hadapannya hanya diam saja.


"Iya ... iya, Tuan Aaron. Saya jelek dan tidak cantik." Zea hanya menjawab singkat dan beralih ke arah para pegawai butik. "Saya ingin berganti pakaian, Mbak."


Karena tidak mungkin ganti sendiri, Zea kini meminta dibantu pegawai butik, tapi saat berjalan, tidak melanjutkan langkah kakinya karena dipanggil. Bahkan ia sangat kesal saat difoto oleh Aaron hanya digunakan sebagai bahan ejekan.


"Anindya, tunggu! Aku belum mengambil fotomu. Aku ingin mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Nanti kamu juga bisa menyimpannya setelah kukirimkan." Jenny kini berlari kecil untuk menyusul Zea dan langsung menyuruh gadis itu berakting tersenyum seperti pengantin bahagia.


Meskipun kesal, Zea tidak ingin membuat perasaan sosok wanita yang terlihat sangat bahagia itu. Hingga ia pun mulai berakting tersenyum untuk menunjukkan kebahagiaannya dan membiarkan jepretan kamera pada ponsel berkali-kali mengambil gambarnya.


Sementara itu, Aaron kini hanya geleng-geleng kepala melihat sikap sang ibu yang terlihat sangat berlebihan. "Setelah mengambil gambar bocil ini, nanti bandingkan fotonya dengan artis Korea itu, Ma."


"Kalau perlu, Anindya suruh lihat dan membandingkannya," sahut Aaron yang kini mengusap perutnya karena cacing-cacing di perut telah berbunyi. "Tumben jam segini aku sudah kelaparan."


Aaron kini mengusap perutnya, ia pun kini bisa mendengar obrolan ibunya serta gadis itu yang seperti menyindirnya.


"Sepertinya dia lapar karena menahan kesal pada calon istrinya, sehingga banyak membakar kalori dan membuatnya melampiaskan kekesalan padamu, Anindya." Jenny kini mengirimkan semua foto yang tadi diambilnya.


"Aku sudah mengirim fotonya ke nomormu, Sayang." Kemudian ia berjalan mendekati Anindya dan menunjukkan gambar yang tadi diambil.


"Lihatlah! Kamu sangat cantik seperti peri, Sayang."


"Terima kasih, Nyonya Jenny." Zea refleks memeluk erat tubuh wanita yang sangat disayanginya tersebut. "Anda sama persis seperti ibuku yang sangat baik dan penyayang."


Jenny kini membalas pelukan itu dan mengusap lembut bagian belakang bahu Anindya. "Kamu boleh memanggilku mama jika merindukan ibumu. Jika nanti kamu sudah ingat semuanya, jangan lupakan aku."


Zea refleks menggelengkan kepalanya. Bukan berarti ia tidak ingin memanggil ibu, tapi poin terakhir lah yang membuatnya merasa bersalah. "Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melupakan Nyonya."


"Aku tidak bisa memanggil mama karena takut jika ibu kandungku marah padaku. Meskipun hanya sementara, tapi aku ingin menjaga perasaan ibuku. Anda bisa mengerti, kan?" Zea kini menatap ke arah sosok wanita yang terlihat sangat keibuan itu hanya tersenyum simpul padanya.


"Iya, aku mengerti dan memahaminya, Sayang. Jangan terlalu memikirkan perkataanku tadi. Coba lihat artis ini. Bukankah ini sangat mirip sepertimu?" tanya Jenny yang kini menunjukkan artis favoritnya.


Bahkan ia melirik ke arah putranya yang saat ini masih duduk di sofa dan terlihat sibuk dengan ponsel yang telah hancur karena dibanting ketika marah. Tentu saja untuk mengambil SIM card karena akan membeli ponsel baru.


Sementara itu, Zea kini ingin mengetahui pendapat Aaron yang tadi tertawa terbahak-bahak menanggapi perkataan sang ibu. Hingga ia pun mengerjapkan mata karena disamakan dengan artis yang sangat cantik.


"Nyonya terlalu berlebihan. Pantas saja tuan Aaron tadi tertawa. Ternyata benar apa yang dikatakan. Bahwa aku sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dengan artis cantik ini." Zea memang tahu artis itu karena sering menonton drama Korea.


Bahkan bisa dibilang ia sangat hafal dengan nama-nama tokoh utama pria. Sementara untuk tokoh utama wanita, hanya beberapa saja yang dihafalnya.


Namun, saat ingin menjelaskan, Jenny tidak jadi membuka suara karena sang putra kini sudah berteriak dan membuatnya menoleh.


"Hei, bocil! Cepat ganti gaunnya. Aku lapar." Aaron bahkan tidak memperdulikan sang ibu saat memerintah. Hingga ia pun beralih menatap ke arah wanita yang sangat disayanginya. "Kita harus pergi sebelum Jasmine datang ke butik, Ma."


"Aku ingin memberikan dia pelajaran! Kita makan siang di restoran favorit kita saja. Tapi sebelum itu, kita mampir beli ponsel dulu." Aaron berniat untuk tidak mengaktifkan nomornya dulu karena berpikir jika nanti Jasmine akan menelpon.


'Kita lihat di sini, siapa yang akan menang,' gumam Aaron yang kini bangkit berdiri dari posisinya.


"Aku tunggu di mobil, Ma." Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu dan gadis itu, Aaron sudah melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar.


Di sisi lain, dua wanita yang hanya diam saja, kini saling bersitatap.


"Lebih baik sekarang aku ganti dulu, Nyonya. Kasihan tuan Aaron kelaparan." Zea sebenarnya merasa kesal sekaligus senang begitu mengetahui jika pria itu bertengkar dengan sang kekasih.


Entah mengapa ia berharap jika pernikahan mereka gagal karena salah satu tidak bisa menahan amarahnya.


"Baiklah, kamu ganti pakaian dulu." Jenny kini memberikan kode pada dua pegawai butik itu untuk membantu Anindya.


Ia yang merasa lelah berdiri terlalu lama karena memiliki darah rendah, kini berjalan menuju ke arah tempat duduk dan mendaratkan tubuhnya di sana.


Selama menunggu, ia melihat-lihat foto-foto yang barusan diambil. "Jika dilihat-lihat, Anindya sangat manis. Kenapa aku lebih menyukainya daripada Jasmine yang sangat keras kepala itu," ucap Jenny yang kini tengah membandingkan antara calon istri putranya dengan gadis yang ditabrak suami.


Bahkan meskipun berkali-kali berpikir, tetap saja ia merasa jika Anindya yang disukainya. Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu pada putranya dan hanya memendam sendiri.


"Anindya jauh lebih sopan daripada Jasmine yang kekanakan itu. Bahkan ia tidak lebih muda dari Anindya, tapi sifatnya seperti anak-anak dan tidak pernah bisa dewasa."


Saat ini, ia melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Tak terasa sudah hampir jam 12. Semoga Jasmine terlambat dan tidak bisa bertemu dengan putraku yang selalu diremehkan."


Hingga ia pun merasa lega begitu melihat Anindya sudah terlihat berjalan ke arahnya. "Ayo, Sayang. Cepat pergi dari sini. Oh iya, kamu ke mobil dulu. Mama mau ke kasir dulu."


"Iya, Ma." Zea yang sebenarnya ingin tahu mengenai apa yang dibeli wanita itu saat hendak ke kasir, kini mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar. "Perasaan nyonya tidak beli apa-apa. Atau jangan-jangan membeli gaun pengantin itu?"


Refleks ia menggelengkan kepalanya karena berpikir jika itu tidak mungkin dilakukan. "Aah ... tidak mungkin. Percaya diri sekali aku karena berpikir nyonya akan membeli gaun pengantin yang tadi kucoba. Lagipula aku tidak menikah."


Saat Zea berjalan menuju ke parkiran, ia melihat sosok pria yang saat ini tengah berada di balik kemudi dan menatap ke arahnya. Tentu saja ditatap seperti itu oleh pria yang disukai membuat Zea gugup dan kebingungan.


Ingin sekali ia berbalik badan dan kek aku ke butik, tapi ragu melakukannya. Akhirnya ia terpaksa kembali melangkah dengan menormalkan perasaannya yang sangat tidak keruan ditatap oleh pria di dalam mobil.


'Kenapa tuan Aaron melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?' Zea tadi sudah bercermin sebelum keluar.


Jadi, sangat yakin jika tidak ada yang salah dengan penampilannya. Hingga ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.


"Kenapa sendiri? Mama ngapain masih di dalam butik?" Aaron yang tadi merasa bosan menunggu di mobil, hendak keluar.


Namun, tidak jadi melakukannya begitu melihat Anindya. Hingga ia terus melihat gadis yang tidak keluar bersama sang ibu dan membuatnya merasa heran.


"Nyonya tadi bilang ingin ke kasir dulu, Tuan Aaron." Zea menjawab singkat karena ia tadi memang tidak sempat bertanya.


Saat Aaron menoleh ke arah belakang, di mana gadis yang dianggapnya masih anak-anak itu tadi seperti sangat kebingungan dan malu saat ditatap olehnya.


"Kenapa kamu tadi terlihat sangat gugup? Apa kamu suka padaku?" tanya Aaron yang merasa yakin begitu melihat gerak-gerik gadis belia itu sama persis dengan para wanita polos yang menyukainya di kantor.


Bahwa ada banyak staf perempuan di kantor yang sengaja menggodanya untuk mencari perhatian darinya. Ada juga staf perempuan pemalu dan polos yang menyukainya, menunjukkan sikap yang sama seperti Anindya. Jadi, ingin memastikannya sendiri agar mengetahui jawabannya.


To be continued...